SENI MEMAKNAI KETIDAKCUKUPAN

meminta-660x330Dalam banyak hal kita dianjurkan untuk selalu merasa cukup, atau Qanaah. Berpuas dengan apa yang ada. Tetapi ternyata belakangan saya baru mengerti bahwa ada seninya juga untuk “merasa tidak cukup”.

Salah satu hal yang kita harus memiliki mentalitas tidak cukup adalah mengenai ilmu. Satu-satunya yang Rasulullah disuruh meminta tambahan atasnya –alias merasa tidak cukup- adalah ilmu. :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS Thâhâ: 114).

Kepada ilmu, harus memiliki mentalitas merasa tidak cukup. Mungkin makna ini sebangun dengan perintah pertama yaitu untuk IQRO BISMIRABBIKA.

Jika sepanjang kehidupan kita ini adalah menjalankan perintah IQRO BISMIRABBIKA, maka sepanjang hidup sebenarnya belajar.

Dan jika keseluruhan ciptaan yang tergelar di alam ini adalah cara Tuhan menceritakan diriNya, maka berarti juga bahwa proses belajar kita -belajar apa saja- di alam ini  tidak bisa dilepaskan dari makna yang spiritual itu.

Belajar apapun saja, berarti memahami bagaimana cara DIA menceritakan diriNya.

Karena DIA ingin dikenali, maka dia menciptakan alam. Berarti untuk “mengakrabi”Nya, kita harus belajar dan memahami alam dan segala isinya. Karena alam dan segala ilmu apapun yang menyingkap alam, tak lebih tak kurang adalah media DIA bercerita. Dan semakin-makin kita harus merasa tak cukup dan meminta tambahan ilmu yang bermanfaat.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang rekan dari China, kami berbincang banyak hal. Sedikit saja kami berbincang tentang pekerjaan kantor, sisanya saya mendengarkan dia berbincang tentang sejarah.

Penguasaannya akan sejarah begitu memukau. Dan saya baru tersadar bahwa saya tak banyak tahu tentang itu. Bagaimana kaitannya antara history perang dunia-dunia, dan hubungannya dengan cara pandang masyarakat pada waktu itu. Tentang sistem pengaturan negara-negara.  Dan bagaimana orang-orang bijak sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan telah menjadi juru tulis dan sekaligus guru bagi zamannya. Dan dari sana saya melihat plot besar bagaimana Tuhan memperjalankan manusia menjadi semakin tinggi pemahamannya dari waktu ke waktu sepanjang zaman. Dari ilmu sejarah yang dulu saya benci waktu SMA.

Ternyata, belajar apapun saja, jika diletakkan dalam konteks memahami dan menyaksikan pengaturanNya di alam semesta ini; menjadi menarik.

Dan ketertarikan yang besar itu menimbulkan sikap merasa tidak cukup. Karena yang di-tidakcukupi ini adalah info-info tentang bagaimana Tuhan mengatur alam semesta, maka rasa tidak cukup yang tepat ini pada ujungnya berubah menjadi adab.

Baru saya paham. Merasa tidak punya cukup ilmu, adalah adab kepada Tuhan.

Satu hal lainnya yang kita harus memiliki sikap merasa tak cukup adalah mengenai amal. Tetapi dalam hal ini ada satu pemaknaan baru yang menarik.

Dahulu, saya memaknai rasa tidak cukup terhadap amal ini dengan pemaknaan kuantitas. Amal saya tidak cukup banyak, maka marilah memperbanyak amal sebanyak-banyaknya.

Belakangan, setelah mencermati kajian para arifin, saya baru paham bahwa mereka memaknai rasa tidak cukup itu dengan pemaknaan kualitas. Bahwa amal mereka tidak pernah mencapai kualitas yang baik. Meski mereka lakukan sebanyak-banyaknya.

Semakin seseorang itu arif, semakin dia mencapai tingkat awareness yang tinggi terhadap gerak-gerik fikiran dan perasaannya sendiri, semakin dia menyadari bahwa amalnya tidak pernah cukup baik.

Puncak dari sikap menyadari bahwa amal yang diperbuat kita tidaklah pernah cukup baik, menimbulkan kesadaran bahwa selamanya dalam urusan amal ini manusia tidak akan mencapai kecukupan. Maka biarlah dicukupi oleh Tuhan.

Rupanya orang yang dicukupi oleh Tuhan inilah yang dimaksud dengan orang-orang yang Mukhlas. Diikhlaskan oleh Tuhan.

Pada tingkat pertama, kita akan berusaha belajar banyak dan beramal banyak. Tetapi dalam belajar dan beramal yang kita lakukan itu kita masih merasakan proses belajar dan beramal itu sebagai bentuk “mencukupi” Tuhan. Mengikhlaskan untuk Tuhan.

Pada tingkat berikutnya, seiring dengan pendewasaan kearifan seseorang dia akan menyadari seni “ketidakcukupan” itu. Bahwa ilmunya tak pernah cukup, dan amal yang diperbuatnya sebenarnya tak pernah mencukupi Tuhan. Penerimaan akan fakta ini, dan integrasi kesadaran akan fakta ketidakcukupan itu akan membentuk adab. Memang tak akan pernah cukup, maka marilah belajar dan beramal dalam mentalitas meminta agar dicukupi oleh Tuhan.

image sources taken from this link.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s