SENI MENYIBAK KEINDAHAN

sawahPersahabatan dengan rekan-rekan terdekat di SMA dulu, begitu membekas bagi saya. Sulit saya melupakan persahabatan kental itu. Setiap hari selalu sepulang sekolah menyempatkan diri “ngeriung” di rumah salah seorang sahabat dalam rangka belajar kelompok. Belajar kelompok itu hanya judulnya saja, tetapi intinya adalah menghabiskan nasi di rumah teman, lauk sambal, ngerumpi tentang segala hal dari yang remeh temeh sampai yang berat, dan mengumpulkan semangat untuk besoknya melakukan hal serupa kembali.

Tapi kalau masihlah ingin disebut belajar kelompok, saya rasa itu tetap bisa diterima. Karena setelah berbilang tahun barulah saya mengerti bahwa mencerap hikmah dari kehidupan keseharian itu juga tak bisa dilepaskan dari konteks belajar.

Memasuki masa kuliah, sebenarnya saya menyangsikan bahwa pertemanan sekental di masa SMA itu bisa saya temukan lagi. Tetapi ternyata teman-teman yang dekat dan menyemangati itu pun terserak-serak dimana-mana dengan warnanya yang berbeda pula. Sehingga cerita pertemanan yang klasik itu pun kembali tergelar. Tentang berjibaku dengan tugas-tugas kampus, tentang bersama-sama menyiapkan sebuah kepanitiaan, tentang disiksa bersama-sama rekan satu angkatan saat ospek, tentang senasib sepenanggungan dalam tugas kuliah di lapangan antah berantah yang dingin, ndeso, penuh terasering sawah, orang-orang yang sopan dan lugu, dan kami yang sibuk berberat-berat mengangkuti sampel-sampel batu di dalam tas carrier besar. Semuanya begitu membekas.

Dan ternyata setelah saya merenungkan ulang, banyak fragmen-fragmen persahabatan yang rupanya begitu membekas, bahkan sejak saya masih SD. Dan semuanya menorehkan pelajaran sendiri-sendiri yang seperti puzzle, acak, tetapi semakin dewasa semakin terbaca polanya.

Jika pengajaran, pembelajaran, hikmah-hikmah selalu diguyurkan pada kita semenjak kita kecil sampai kita besar tanpa pernah putus; tidakkah ada sesuatu yang menjadi jelas disana? Orang-orang boleh datang dan pergi. Suasana boleh berganti-ganti. Tempat boleh berbeda-beda. Tetapi satu itu yang selalu datang dan datang. Hikmah dan pelajaran. Siapa yang memberikan??

Barulah saya mengerti maksud dari orang-orang Arif, bahwa semuanya ini hanyalah tabir sifat-sifat. Yang mengajar adalah DIA sendiri, melalui ciptaan yang DIA zahirkan dan kemudian diberi selongsong sifat-sifat. Maka sepanjang hidup kita temukan pertemanan datang dan pergi, tetapi hikmahnya selalu datang lagi dan datang lagi meski orang yang kita temui berganti-ganti.

Jika dulu saya begitu tertambat kepada orang-orang, semakin kesini saya semakin mengerti bahwa sejatinya kita tak pernah terlepas dari asuhan-Nya. Selongsong bajunya saja yang diganti-ganti, tetapi yang “mengasuh” ya DIA juga.

Jika persahabatan, pertemanan, adalah mewakili sebuah keindahan. Maka tugas kita sebenarnya adalah memahami seni menyibak yang dibalik keindahan.

Kalau kita melihat keindahan di dunia ini, rasanya luar biasa banyak. Di sekeliling kita saja banyak sekali frame-frame keindahan sepanjang jalan, itu belum lagi dipadu padan dengan suasana yang beda-beda, ada keindahan pagi, ada keindahan senja, ada keindahan malam. Semua punya cita rasa sendiri.

Tetapi ternyata polanya adalah begini…biasanya kita tidak akan menyadari Yang Disebalik keindahan itu sebelum kita dibanting-banting oleh kehidupan.

Sebuah keindahan akan hanya nampak sebagai keindahan semata. Kita selalu tertambat pada apa yang nampak zahir, sampai Tuhan sendiri memaksa kita untuk melihat ke sebalik apa yang nampak. Jika tak bisa ditarik dengan keindahan, maka akan ditariklah kita lewat kepedihan.

Saya teringat dulu sewaktu kuliah, ada sebuah acara entah acara apa saya sudah lupa. Yang jelas ada sekelompok rekan senior saya yang menampilkan nyanyian senandung islami pada siang hari di panggung yang panas itu.

Hari panas…. Orang sudah tak karuan dan tak memerhatikan. Tetapi begitu beliau memegang microphone, maka suaranya yang jernih dan damai tanpa banyak akrobat olah vokal itu membius orang-orang untuk kembali berkumpul dan diam dalam kagum yang dalam dan haru. Betapa suaranya membuat saya membayangkan inilah suara Dawud a.s yang konon membuat alam ikut haru kalau mendengar suaranya.

Tapi ya itu dahulu. Dahulunya keindahan itu sebatas keindahan saja.

Suara seindah itu hanya membuat kagum berdecak saja. Pemandangan seindah sawah-sawah hijau di area kapling pemetaan geologi lapangan hanya membuat istirahat mata saja. Dan persahabatan-persahabat yang indah dan elok sepanjang pengalaman hidup hanya menggoreskan ingatan akan nama-nama yang bersahaja semata.

Barulah, setelah dibanting-banting oleh hidup, saya menyadari bahwa dibalik hidup yang terbanting-banting pun ada faedah. Ada hikmah-hikmah. Kemudian barulah mengerti bahwa dibalik sesuatu yang ternampak runyam pun ada DIA yang mengajari.

Dari sanalah baru mengerti, bahwa selama ini DIA sudah memanggil-manggil untuk kita lihat lewat pintu-pintu keindahan yang tersulam rapih dalam macam-macam cerita hidup kita.

Maka belajarlah seni untuk menyibak yang dibalik keindahan. Karena yang tak bisa melihat pada Yang Disebalik Keindahan, akan sangat mungkin untuk ditarik melihat dari balik kepedihan.[1]

Note:

[1] “Barangsiapa yang tidak suka menghadap kepada Allah dengan halusnya pemberian karunia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian” (Al-Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s