CIRI-CIRI KURANG IQRO’

readingAda sebuah kutipan bijak dari dunia beladiri. Jika seseorang mengaku tak terkalahkan, maka hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama dia tidak banyak bertarung, atau dia tak pernah bertarung sama sekali.

Saya lupa siapa yang mengucapkan itu, barangkali Mushashi. Tapi mungkin juga bukan, konon Mushashi tak pernah kalah dalam duel. Tapi itu dalam masa keemasannya, bukan? Rasanya dalam masa-masa berlatih pasti pernah mengalami kekalahan itu.

Tetapi intinya bukan cerita silat. Intinya adalah bahwa kebijakan di dunia cerita silat itu bisa diterapkan secara lebih spiritual, yaitu tentang bagaimana kita meng-internalisasi wacana “rendah hati” di dalam keilmuan.

Bagaimana caranya? Caranya dengan banyak-banyak “bertarung”. Bertarung adalah metafor dari memperluas wacana ilmu dengan belajar dari banyak hal.

Kembali kita kutip analogi di dalam sholat. Di dalam sholat, ada unsur pujian, ada unsur pengagungan kepada Tuhan, ada unsur permohonan dan do’a. Tanpa sebuah internalisasi, segala ucapan-ucapan hanya akan menjadi ritus semata. Dia tidak tajam, tidak punya bobot. Karena cita rasa memuji, mengagungkan, dan memohon itu barangkali tidak ada dalam diri kita.

Kenapa tidak ada? Karena kita tidak menemukan realita yang membuat kita mengagungkan, memuji, menyucikan dan memohon pada Tuhan; dalam keseharian kita. Sebenarnya bukan tidak menemukan, tetapi kita yang gagal meng-internalisasi-nya.

Rupa-rupanya, sebuah peribadatan tidak bisa untuk lepas konteks. Maksudnya, sebuah peribadatan mestilah sebuah media pengagungan, penyucian, pujian, dan permohonan atas realita-realita yang kita temukan pada hidup kita.

Mungkin, itu juga mengapa setelah sholat kita disuruh bertebaran di atas muka bumi. Jika dalam bertebaran di atas muka bumi itu kita mengerti konteks internalisasi tadi, maka sholat kita lebih punya rasa.

Dalam kaitan seperti itulah saya ingin membagi sebuah tirakat sederhana, jika kita sudah mulai kehilangan makna “rendah hati” dalam keilmuan kita.

Jika kita sudah mulai merasa besar dan “cukup” dengan ilmu yang kita miliki, itu artinya kita belum banyak “berjalan”.

Cobalah berjalan, melihat, mentafsir, dalam niatan belajar. Maka kita akan terkejut untuk melihat hampir seluruh orang di muka bumi ini memiliki keilmuan lebih tinggi dan lebih hebat daripada kita.

Ini tirakat sederhana. Jika kita sudah merasa “cukup” dengan ilmu yang kita miliki; segeralah “berjalan” dan banyak-banyak membaca kehidupan dari sana-sini, sampai kemudian kita akan disadarkan bahwa kita tak banyak tahu.

Berulang kali bertemu dengan fakta bahwa orang-orang lebih tinggi wacana keilmuannya daripada kita, maka kita tanpa sadar akan mengalami internalisasi itu. Tanpa sadar, sebuah bentuk “rendah hati” terhadap keilmuan, atau sebuah kesadaran bahwa ilmu kita “tidak cukup”; akan terpatri kukuh.

Saya ingat seorang guru mengajarkan tentang makna “Allah mengajar manusia dengan perantaraan kalam”[1]. Kalam disini, maksudnya bukan pena secara harfiah. Pena, adalah media yang mengalirkan tinta dari wadahnya menuju kertas. Pada tinta itulah segala kepahaman dititipkan dalam bentuk aksara.

Walhasil, “kalam” adalah apapun saja media yang menjadi jalan kepahaman mengalir. Dari sang Empunya ilmu, kepada receiver yaitu kita.

Maka dalam konteks begitu, semua orang adalah “kalam”Nya. Semua yang mengajari kita ilmu adalah “kalam”. Segala apapun saja ciptaan yang darinya kita mendapatkan hikmah dan pencerahan, adalah “kalam”.

Maka dalam konteks kita-pun sebagai “kalam”, mau tidak mau kita harus internalisasi sifat rendah hati kepada ilmu itu tadi. Merasa “tidak cukup” atas ilmu, karena kita cuma tempat ilmu numpang mengalir.

Ini saya ceritakan tentang Khalifah Umar Ibn Khattab, seorang yang sudah tentu lebih dahsyaat keimanannya dibanding kita, dan lebih “jernih” batinnya dalam menangkap pengajaran dari Tuhan; dibanding kita.

Suatu kali Umar sempat marah besar kepada sekretarisnya, yang menuliskan pada bagian bawah surat yang ditulis Umar, “inilah yang Allah ilhamkan kepada Umar”. Umar marah, dan menyuruh sekretarisnya mencoret itu, lalu diganti dengan tulisan “inilah yang dipahami oleh Umar”.  Sebuah bentuk adab.

Meskipun Umar adalah orang yang diakui kapasitas kejernihannya dalam mebaca insight-insight dari Tuhan (beliau muhaddatsun)[2].

Barangkali, kalau kembali pada analogi silat itu tadi, itu dia ciri orang yang banyak “bertarung”. Makin banyak bertarung, makin dia akan rendah hati.

Jadi, rekan-rekan, tirakatnya sederhana saja. Begitu kita sudah merasa cukup banyak tahu dan bangga dengan keilmuan kita, itu alarm, kita sudah kurang IQRO’.

[1] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (QS AL-‘Alaq : 4)

[2] Sesungguhnya telah ada pada umat-umat sebelummu muhaddatsun, dan kalau ada pada umatku seorang darinya, maka Umar bin Al Khattab adalah orangnya.[HR.Muslim]

Makna muhaddatsun adalah mulhamun (orang yang mendapatkan ilham).

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s