GAGAP PADA DUNIA EMPIRIS

readers-leaders

Pernah ada tempo-temponya dimana saya bosan sekali dengan rutinitas. Hal yang sama dan klise. Bangun pagi, berangkat ke kantor dan dijebak macet. Meeting dengan client. Dan menatap layar laptop seharian. Lalu pulang dan menembus kembali kemacetan. Rasanya benar-benar bosan.

Sempat saya mengira, “jangan-jangan saya sudah kurang syukur kepada Tuhan”.

Kemudian saya mencoba untuk menghilangkan bosan itu dengan rasa syukur. Rasa penat hilang lumayan, tetapi memang rasa bosan itu masih ada. Disitulah saya mendapatkan sebuah “hikmah”, bahwa kesalahan saya rupanya saya sering gagap pada dunia yang empiris.

Maksudnya begini…Seringkali saya jatuh dalam kesalahan over simplifikasi terhadap suatu masalah.

Jika saya bosan, saya langsung menganggap hal itu sebagai bentuk kurang syukur. Pemaknaan yang “dalam”, memang. Tetapi, pada dunia “luar” yang empiris, ternyata sebuah rasa bosan itu bisa ditinjau secara saintifik. Misalnya, otak manusia memang cenderung akan bosan jika diberikan stimulus yang sama terus menerus.

Ada cerita, dimana band terkenal “Kla Project” merasa sudah sangat jenuh dengan lagu mereka sendiri. Lagu apa itu? “Yogyakarta”.

Lagunya memang enak, saya pun sangat senang mendengar lagu itu. Tetapi bayangkan dari sisi Kla Project sendiri. Mereka menyanyikan lagu favorit banyak orang itu, dalam ribuan kali kesempatan. Tentulah akan membuat mereka mencapai titik jenuh.

Dan proses mencapai titik jenuh ini saintifik lho. Bisa dianalisa secara empiris. Dan sama sekali bukan bentuk dari tidak syukurnya Kla Project, misalnya. Tetapi efek lumrah biasa dari perulangan yang sama dan monoton. Bahasa kerennya, ini Sunnatullah.

Dalam upaya memahami Sunnatullah inilah saya baru menyadari bahwa saya sering gagap. Seni memahami dunia “luar”, dunia empiris. Karena rupanya saya sering menganggap segala sesuatu masalah pastilah solusinya ada pada dunia “dalam” melulu pada spiritualitas.

Padahal, tidak mungkin semua masalah dihadapi dengan hanya satu saja solusi. Ada masalah yang berkaitan dengan interaksi sosial budaya. Ada yang berkaitan dengan hal-hal psikologi. Ada yang berkaitan dengan politik. Ada yang berkaitan dengan ekonomi. Macam-macamlah….pendek kata setiap masalah di dunia empirik, haruslah menjadi jalan bagi kita untuk mempelajari sunnatullah-Nya. Mempelajari seperti apa DIA menyusunkan hukum-hukum alam.

Pada akhirnya, memang kita harus tahu mendudukkan suatu masalah. Mana hal yang termasuk gejala empiris dan kita butuh kemampuan di dunia “luar”, dan mana hal yang merupakan dunia “dalam” dan terkait dengan cara pandang spiritual.

Seperti tadi, saya bosan dengan rutinitas yang klise, mungkin saya butuh variasi. Barangkali sembari mendengarkan stand-up comedy sewaktu di kemacetan jalan. Atau sambil mendengarkan radio dan music. Hal-hal yang semacam itu.

Dan tindakan-tindakan semacam itu tidak membuat kita lantas menjadi tidak spiritual.

Selama penguasaan ilmu di dunia empiris dibingkai dalam sebuah frame besar untuk belajar mengerti tentang DIA, maka hal-hal empiris pun tetap bisa “spiritual” kok. Saya jadi teringat wejangan seorang guru yang mengatakan bahwa para ilmuwan yang jujur, seringkali lebih dekat pada Tuhan dibanding agamawan. Karena, para ilmuwan itu berkecimpung pada dunia empiris yang membuat mereka merasakan sekali pengaturan Tuhan.

Itulah saya rasa mengapa ilmuwan islam masa lalu bisa begitu sufistik sekaligus bisa begitu matang penguasaannya pada ilmu-ilmu duniawi. Karena mereka tidak gagap di dunia empiris. Mereka mengerti bahwa belajar sunnatullah di dunia “luar” juga merupakan upaya untuk mengerti pengaturannya Tuhan  (dunia dalam) pada alam semesta.

Jadi ya kembali lagi ke konteks besar itu. Tujuan manusia dan alam semesta diciptakan adalah agar DIA dikenali.

Sudah banyak orang-orang arif mengajari kita, bahwa DIA itu “tidak bisa dibaca”. Yang bisa dibaca adalah pada tataran sifat-sifat, bukan DIRINYA, bukan Dzat-Nya. Yang bisa dibaca adalah alam semesta yang DIA Zahirkan.

Maka, gagap pada dunia empiris sama saja dengan kita menyia-nyiakan pagelaran Akbar yang sudah DIA gelar. Justru….kalau mengerti konteks bahwa dunia empiris ini digelar untuk menyatakan DIRINYA semata, maka semakin belajar ilmu-ilmu empiris, semakin-makin spiritual.

Tidak bisa dipisahkan antara dunia dalam dan luar.

Image taken from here

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s