TIPS MEMPERBANYAK REJEKI

Nah…mari kita bahas sebuah tips memperbanyak rejeki. Saya baru menyadari bahwa tips ini sangat berguna dan manjur, jadi sayang kalau tidak dibagikan.

Hal yang paling pertama kali harus dimiliki dalam tips ini adalah mengenai definisi. Apa itu rizki?

Setelah saya bertemu dengan sebuah hadits yang menjabarkan mengenai rizki manusia, maka saya baru paham dan mengambil satu kesimpulan mendasar tentang definisi rizki itu.

Kata Sang Nabi, yang disebut rizki itu adalah apa-apa yang kita makan sampai kenyang, apa-apa yang kita pakai hingga usang, dan apa-apa yang kita sedekahkan.[1]

Kalau kita tarik benang merahnya, kita bisa simpulkan bahwa ternyata yang disebut rizki ini adalah sesuatu yang kemanfaatannya bisa terserap secara nyata oleh kita, atau sesuatu yang kita bisa jadikan kemanfaatannya terserap secara nyata untuk orang lain, maka itu rizki.

Contohnya saya rasa ilustrasi klasik ini. Seorang kaya memiliki sebuah taman yang indah. Taman itu begitu indah dan luas sekali. Saking luasnya maka biaya perawatan taman itupun sangat mahal. Orang kaya ini tadi sibuk sekali bekerja dan mengumpulkan uang untuk perawatan taman, dan untuk hal-hal lainnya, hingga dalam kesibukannya itu dia tidak sempat menikmati taman yang indah itu.

Siapa yang menikmati taman indah itu? Yang menikmatinya adalah orang-orang yang lalu lalang hilir mudik dan asyik cuci mata dengan memandangi taman. Atau malah tukang kebunnya.

Maka dalam konteks “kemanfaatan yang terserap”, kita tahu bahwa taman itu ternyata bukan rizki si orang kaya itu. Meskipun secara legal formal taman itu dikatakan milik si orang kaya.

Tetapi disinilah definisi itu menjadi menarik, bahwa kepemilikan belum tentu berarti kemanfaatan atas benda itu bisa dinikmati.

Kepemelikan adalah berbicara mengenai “harta”, sedangkan rizki adalah berbicara mengenai “kemanfaatan yang terserap”.

Disinilah kelirunya saya, dan saya rasa juga kelirunya sebagian besar kita. Kita mengira bahwa harta itu adalah rizki. Padahal, harta kita belum tentu rizki kita, seperti contoh pemilik taman itu tadi. Harta itu berarti kita adalah tukang penjaga benda-benda itu.

Saya teringat dengan cerita yang saya dengar dari rekaman audio ceramah Buya Hamka. Tersebutlah seorang kaya yang sangat kikir. Saking kikirnya, kekayaan orang kaya itu bahkan tidak pernah dia nikmati, kerjanya hanya menumpuk numpuk harta saja. Dia simpan dalam lemari. Tetapi dia sendiri berbaju jelek, padahal dia punya uang untuk membeli baju.

Dulu, saya mengira sikap begitu itu disebut zuhud. Rupanya saya keliru. Zuhud itu adalah orang yang tidak “dimiliki” oleh dunia.

Bagaimana caranya agar kita tidak dimiliki oleh dunia? Rupanya caranya seperti definisi di atas itu tadi: pertama, kita “perbudak” dunia itu untuk melayani kebutuhan kita. Kedua, kita perbudak dunia itu untuk memberi kemanfaatan pada orang lain.

Dalam contoh yang disebutkan Buya Hamka, sang orang kaya yang kikir ini tadi bukanlah zuhud, karena sejatinya dia malah “dimiliki” dunia. Dia tidak bisa mengkonversi hartanya menjadi rizki yang kemanfaatannya terasa nyata oleh dirinya atau orang lain, tetapi dia malah sibuk menjaga hartanya. Ditumpuk, dijaga, ditumpuk, dijaga, tidak pernah dipakai. Artinya dia diperhamba harta. Kalau kita sibuk menjaga harta kita sendiri dan tidak pernah membuat harta itu melayani kita, jangan-jangan kita sudah keliru.

Saya teringat juga dengan kisah Ali bin Abi Thalib, dimana suatu ketika beliau menegur seorang businessman yang berpakaian lusuh padahal punya uang untuk beli pakaian. Businessman itu berkelit dengan mengatakan dia ingin meniru Ali dalam pola hidup Zuhud. Tetapi, Ali menjelaskan bahwa Ali hidup berpenampilan sederhana karena konteksnya sebagai pejabat negara, bermewah-mewah akan menyakiti hati rakyat. Tetapi kalau businessman beda kasusnya. Allah menyukai jika hamba-Nya menampakkan anugerah yang telah dia terima.

Barulah saya mengerti, bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan dualisme harta-rizki. Agar hartamu menjadi rizkimu; maka manfaatkan semaksimal mungkin harta itu untuk melayanimu, jangan terbalik.

Wah….kalau begitu kita pakai saja harta kita sebanyak-banyaknya agar menjadi rizki kita?

Ternyata ga begitu juga. Jika definisinya adalah “kemanfaatan yang kita pribadi bisa serap”, maka sebenarnya rezeki setiap orang itu tidak akan bisa melebihi porsi yang dia bisa serap. Bahasa lainnya tergantung wadahnya.

Uang misalnya, kita belikan makanan juga tak akan melebihi ukurang lambung. Begitupun pakaian juga yang akan terpakai sampai usang tak akan bisa melebihi kebutuhan harian. Sisanya, mau tak mau akan menjadi harta yang mengharuskan kita menjadi pelayan mereka. Kita yang harus menjaga dan mencurahkan segenap perhatian pada harta-harta itu. Birokrasinya jadi terbalik, kita menjadi bukan tuan lagi.

Nah…karena tidak mungkin kita bisa “memakan” kemanfaatan melebihi porsi yang kita bisa serap, maka ada opsi satu lagi agar harta bisa dikonversi menjadi rezeki, yaitu dengan membagikan atau membuat harta itu menjadi jalan kemanfaatan buat orang lain. Entah dibagikan, sedekah, atau yang lain-lain, intinya berdaya guna. Dan opsi kedua ini, nantinya efeknya akan langgeng sampai alam berikutnya.

Satu tips terakhir memperbanyak rezeki adalah begini, saat kita sudah paham definisi rizki itu sejatinya soal kemanfaatan yang kita bisa serap, maka kita harus belajar menikmati keindahan yang banyak tersebar di keseharian kita. Misalnya keindahan dan kenyamanan pohon untuk kita berteduh, ruangan AC di mall, taman kota, danau, dan segala macam kemanfaatan yang tersebar-sebar di seantero alam ini, yang semuanya gratis. Itu semua bukan harta kita, tetapi apapun yang membuat kita bersyukur dan nyaman dan terlayani oleh harta itu, maka sejatinya itu rizki kita juga.

Begitulah cara Tuhan menjamin kita, dengan rizki, kemanfaatan yang sampai pada kita, tak mesti secara legal formal semua barang jadi punya kita.

Demikian tips memperbanyak rizki. Monggo dicoba.

[1] Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Muththarrif dari ayahnya, ia tiba di hadapan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikanmu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Kau tidak memiliki harta selain yang kau sedekahkan lalu kau habiskan, yang kau makan lalu kau habiskan atau yang kau pakai hingga usang.” H.R. Tirmidhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s