SEPAKET LUKA DAN CAHAYA

wound

“I HATE YOUUU”, teriak wanita itu kepada Ben, si bule berusia sekira 50-an tahun. Ben adalah atasan dari sang wanita itu, dan wanita itu adalah karyawati yang bekerja dalam satu perusahaan yang sama dengan Ben. Mengapa dia begitu membenci Ben?

Namanya Ben. Saya lupa nama panjangnya, dan dia mungkin tak ingat saya sama sekali, tetapi saya mengingat persis potongan cerita yang dia bagikan pada kami sekelas sewaktu saya berkesempatan mengikuti training dari kantor, di Kairo.

Dalam penghujung sesi hari itu, disana Ben bercerita ngalor ngidul tentang manajerial dan entah bagaimana sampai pada cerita itu. Seorang karyawati di kantornya mengajukan surat Resign, pengunduran diri, kepada Ben.

Sebagai seorang pimpinan, Ben merasa ingin tahu apa alasan karyawati ini mengundurkan diri? Maka dipanggillah sang karyawati ke ruangannya sebagai bentuk penghormatan, untuk berbicara jujur apa alasannya mengundurkan diri?

Karyawati itu sebenarnya seorang pekerja yang ulet, tak pernah bermasalah. Pun, Ben adalah seorang pimpinan yang membaur, dan sepanjang pengamatan Ben, dirinya tak pernah dengan sengaja ingin membuat karyawan tak betah. Jadi tentang apa hal ini sebenarnya?

Awalnya, karyawati tadi tak hendak bercerita. Tetapi karena Ben mendesak terus akhirnya keluarlah pengakuan itu. “Because i hate you….” katanya. Dan Ben terdiam.

Saat mendengar cerita itu, saya, begitu ingin tahu kenapa wanita itu membenci Ben? Dan dengarlah alasannya ini.

Wanita itu membenci Ben karena dia kesal melihat Ben memiliki kehidupan yang nyaris sempurna di matanya. Dia kesal dengan Ben yang selalu ceria. Dia membenci Ben karena memajang foto dirinya beserta keluarganya dalam sebuah bingkai frame kecil yang dipajang di meja kantornya. Dia membenci Ben karena melihat Ben selalu bercerita tentang bagaimana dia menelepon keluarganya setiap hari saat sedang di kantor dan Ben selalu memberi surprise saat ulang tahun. Dan sebagainya.

Semua kehidupan Ben yang damai itu; membuat wanita itu muak. Karena ternyata wanita itu adalah orang yang “terluka”.

Pada akhirnya, Ben tak bisa menahan wanita itu dari keinginannya meninggalkan kantor. Kata Ben, ternyata wanita itu mengalami kehidupan yang penuh badai. Dan semua hal yang bermasalah dalam kehidupannya itu rupanya menyalakan rindu pada kedamaian, kedamaian yang tak bisa dia raih….akibatnya, wanita tadi membenci semua bentuk kedamaian yang dia lihat ada pada orang lain.

Mendengar cerita itu, saya menjadi teringat bahwa kebaikan kita bisa disalah arti oleh orang-orang yang masih memendam luka dalam batinnya. Tapi pelajaran belum usai rupanya. Yang lebih mengejutkan rupanya pengakuan Ben sendiri.

“Orang-orang mengira saya hidup dalam kedamaian yang nyaris sempurna, tetapi orang-orang itu keliru,” ujar Ben.

“Saya hidup dalam keluarga yang broken home. Rumah tangga yang kacau. Kekerasan masa kecil. Dan berakhir dalam adopsi.” Dengan status sebagai seorang yang diadopsi itulah Ben melanjutkan sisa hidupnya yang juga “Luka”.

Ben, dan wanita itu tadi, sama-sama luka. Pertanyaan di Benak saya adalah kenapa hasilnya berbeda. Ben menjalani kehidupan dengan kebahagiaan yang damai, sedang wanita itu menjadi pembenci yang menembak secara random entah siapapun saja sebagai pelampiasan.

Ternyata jawabannya adalah “acceptance”, penerimaan.

Di dalam lukanya itu, Ben menerima luka itu sebagai sesuatu yang mesti terjadi, dan luka itu sebagai hanya rekaman masa lalu. Masa lalu itu memori, ujarnya. Kita hidup di masa sekarang. Ben mengulang-ngulang kutipan guru oogway dalam kungfu panda. “Yesterday is a memory, future is a mystery, but today is a gift; that’s why we called it “present”.

Sedangkan wanita tadi, dia tidak memiliki sikap penerimaan. Ibarat lokomotif, dia terlalu banyak membawa gerbong. Gerbongnya adalah semua derita masa lalu. Maka jalannya menjadi berat dan payah.

Di dalam lukanya itu, Ben mencari “kebahagiaan” pada makna-makna, atau cara pandang dalam menilai hidup. Bagi Ben, kebahagiaan itu dari “dalam”, bukan dari “luar” Akibatnya Ben merasa bahagia meskipun tak sekali dua masalah tetap datang dan pergi. Sedangkan wanita tadi, menganggap kebahagiaan sebagai sebuah benda, atau kondisi di luar dirinya, sehingga saat kondisi itu tak dia capai, dia merasa jengah karena melihat semua orang selain dialah yang bahagia. Kebahagiaan selalu berada di luar dia.

Saya jadi teringat sebuah kutipan dari Rumi, “Luka adalah jalan masuk cahaya”.

Tetapi luka yang bagaimana yang bisa dimasuki “cahaya”?

Ternyata luka yang diterima. Hanya penerimaan-lah yang menjadikan luka bisa dimasuki cahaya.

Pantas saja, barangsiapa percaya kepada takdir, maka akan diberikan hikmah-hikmah. Jalan keluar. “Masalahnya” sendiri, boleh jadi belum terurai, tetapi cahaya hikmah sudah barang tentu sampai.

Dari beberapa guru-guru arif yang saya temui, semuanya mengatakan hal yang kurang lebih senada: tak mungkin perjalanan menuju Allah bisa dimulai tanpa menerima takdir. Acceptance.

Seumpama kita diterpa panas menyengat, maka kita berteduh. Baik “panas” dan “teduh”, adalah kondisi di luar diri kita. Seseorang yang mengerti bahwa kebahagiaan ada di “dalam” dirinya sendiri; dalam upayanya menuju teduh; dia tidak memaki panas.

Akan tetapi, seseorang yang menganggap bahagia adalah entitas di luar diri kita sendiri, baik teduh maupun panas dia akan selalu memaki hari.

Melihat ke luar diri untuk menggapai bahagia; adalah tangga paling rendah, dimana kita paling rentan untuk tersakiti. Di atasnya lagi adalah tangga pengertian dan makna-makna dari dalam diri kita sendiri, bahwa bahagia bisa kita temukan di dalam “sini” bukan di luar sana. Di atasnya lagi adalah tangga penerimaan yang dilandasi pengertian bahwa dualitas baik-buruk semuanya adalah ejawantah tentang DIA bercerita semata.

Kita harus berpindah dari tangga paling bawah itu. Dan berhenti menganggap kebahagiaan adalah benda atau kondisi, atau entitas di luar diri kita. Kita belajar merubah cara pandang itu, agar mulai membiarkan makna-makna hikmah masuk.

Karena setiap luka itu…. sepaket dengan cahaya.


*) gambar dipinjam dari link ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s