VAKSINASI SPIRITUAL

vaksinasiSeandainya kita sedang hidup di zaman perang kemerdekaan, dan kita memanggul senjata dalam pertempuran, ditabuhi desing peluru, lalu melihat satu-satu rekan kita terjatuh tertembak digelimangi darah. Apa yang kita lakukan?

Tentu, kita akan menolong mereka, bukan? Kita akan membawa mereka ke tim medik, atau menolong sendiri semampu kita. Karena itulah persaudaraan dalam perang.

Begitulah, seorang guru mengajarkan, bagaimana kita harus memandang -secara spiritual- kaitannya antara manusia dan dosa. Seorang yang berdosa, adalah ibarat seorang prajurit yang sedang terluka di medan laga, dalam perang tanpa henti melawan diri sendiri (dan godaan anasir luar).

Kita semua prajurit, dalam drama kolosal ini. Baru saya mengerti kekeliruan saya dalam memandang, dahulu. Dalam konteks kita sesama prajurit, saya keliru membedakan antara orang-orang terluka, dan musuh yang sebenarnya. Saya malah memusuhi orang-orang yang terluka.

Dan saya menjadi tahu letak kekeliruan saya ini karena sudah sangat sering saya bertemu orang-orang yang saya kira tak baik pada luarannya, tetapi ternyata mereka menyimpan rindu pada “cahaya”.

Kita tidak hidup dalam dunia yang homogen, rekan-rekan. Sampai akhir hayat pun dunia ini tidak akan homogen dan satu warna.

Kekeliruan saya, adalah mengira kita hidup dalam sebuah dunia yang satu warna. Dunia yang homogen adalah utopia. Karena keragaman adalah fithrahnya dunia. Di Qur’an seringkali kita baca Allah sendiri berfirman bahwa jika DIA hendak menjadikan semuanya satu warna saja, pastilah gampang.[1] Tapi ternyata DIA sendiri yang menzahirkan keragaman sebagai medium pengenalan pada-Nya.

Dalam dunia yang sudah nyata tidak homogen, yang diperlukan adalah mentalitas “imun”, bukan melulu mentalitas “steril”. Kelirunya kita, adalah kita menginginkan sterilitas. Contoh menginginkan sterilitas adalah kita membenci pendosa. Orang yang memiliki mentalitas steril, dia barangkali “bersih”, tetapi kebersihannya menuntut musnahnya keragaman.

Sedangkan orang yang “imun”, dia terjaga dalam beragam-ragam warna kehidupan.

Kalau kita melihat hidup ini dalam konteks “dizahirkan oleh Tuhan agar diri-Nya dikenali.” Maka sebenarnya kita semua sedang dalam perjalanan panjang sama-sama berupaya mengenali-Nya. Dan dalam upaya mengenali-Nya itu, keragaman cerita tergelar.

Saya ingat suatu ketika seorang guru lainnya pernah mewejang, seandainya engkau membenci pendosa, dan mendoakan semua pendosa di dunia ini untuk musnah semua, lalu dimanakah kenyataan dari asma-Nya Al-Ghaffar? Yang Maha Pengampun?

Karena DIA maha pengampun, maka DIA menggelar drama para pendosa yang kemudian menemukan diri-Nya dalam salah dan pertaubatan. Menemukan Tuhannya lewat ejawantah pintu sifat Al-Ghaffar.

Bahkan Rasulullah sendiri, dalam asbabun Nuzul Al-An’am: 36 sempat ditegur oleh Allah tersebab beliau begitu berduka akan keingkaran kaumnya. Pelajarannya adalah just do our part. Kita berkebaikan, dan nasehat-menasehati dalam kebenaran. Hanya saja kita sekarang mengerti bahwa kadang-kadang orang-orang menjadi bertemu dengan Tuhan lewat jalan dosa yang ditaubati. Maka sebagai prajurit, jangan membenci rekan yang terluka di medan juang.

Dalam Al-Ashr disebutkan manusia semuanya rugi, kecuali yang beriman, yang beriman rugi kecuali yang menzahirkan iman menjadi amal, yang beramal rugi kecuali yang nasehat-menasehati dalam kebenaran. Ujungnya dipuncaki dengan kerja team. Umpama prajurit yang saling menolong itu tadi.

Perhatikan juga tentang rizki. Harta kita, tidak akan bisa terkonversi menjadi rizki sebelum kita mendaya-gunakan harta itu untuk keperluan yang nyata dan terasa, lalu juga kita sedekahkan alias berdaya guna untuk “orang lain”[2]. Ujungnya dipuncaki lagi dengan kerja kolosal.

Lalu setelah sholat (dipuncaki dengan salam)… perintahnya adalah betebaran di atas muka bumi.

Orang lain….orang lain….orang lain…ternyata banyak sekali perintah untuk menganggap perjalanan kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan orang lain. Karena kita sama-sama prajurit. Karena sama-sama dalam sebuah drama besar yang temanya adalah tentang mengenali DIA.

Dalam cara pandang semacam ini, saya baru menyadari bahwa saya seringkali hidup dalam lingkar yang terlampau sempit dan satu warna. Itu adalah mentalitas steril. Padahal, dalam pemaknaan bahwa semua yang ada adalah sesama “pejalan” dalam upaya mengenali-Nya, maka semua adalah rekan sesama prajurit. Dan prajurit yang baik, adalah yang tidak membenci orang-orang yang terluka di medan laga. Melainkan menolong mereka.

Hal ini tentu tidak membuat kita mengabaikan konsekuensi hukum untuk orang-orang yang menimbulkan kerusakan dalam kehidupan sosial. Bukan begitu. Hanya saja, kita menjadi lebih jernih dalam melihat.

Saat melihat orang-orang yang “luka” dalam kekeliruan dan khilafnya, lalu mereka menemukan gelisah dan kerinduan kepada “cahaya”, saya sering akhirnya menyadari bahwa orang ini sedang dididik Tuhan-nya.

Benar rupanya, kata orang-orang arif. Dia bisa memasukkan malam ke dalam siang. Memasukkan siang ke dalam malam. Menampilkan yang baik dalam sesuatu yang ternampak buruk, dan memunculkan yang buruk dari sesuatu yang ternampak baik. Semua cara DIA mengajar.

Pada tataran awal yang kita terapkan adalah mentalitas yang steril. Mentalitas yang “wong kang sholeh kumpulono”. Tahapan berikutnya yang kita terapkan adalah mentalitas yang imun. Kita butuh vaksinasi spiritual. Penerimaan yang lebih luas karena menyadari bahwa dalam dualitas baik dan buruk, tetap ada DIA. Tugas kita semata adalah just do our part. Prajurit yang menyelamatkan orang-orang luka. Tanpa perlu membenci mereka.

Note:

[1]  “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

[2] Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Muththarrif dari ayahnya, ia tiba di hadapan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikanmu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Kau tidak memiliki harta selain yang kau sedekahkan lalu kau habiskan, yang kau makan lalu kau habiskan atau yang kau pakai hingga usang.” H.R. Tirmidhi

Gambar dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s