LEBARAN, KEMATIAN, DAN PERMAAFAN

Baru berapa menit usai saya meninggalkan sebuah komentar di album facebook beliau, saya membaca sebuah posting yang men-tag namanya, berita duka cita. Rekan yang saya komentari album lebarannya itu ternyata telah “berpulang”.

Kematian selalu datang dengan dramatik. Saya masih ingat sekali sederet nama orang-orang baik yang saya kenal. Mereka “berpulang” pada usia yang masih sangat muda.

Seorang rekan wafat saat saya masih SMP. Teman sepermainan. Seorang rekan lainnya wafat saat masih SMA. Dan beberapa orang rekan “berpulang” saat masih menapaki masa kuliah. 

Respon spontan pertama tentu selalu kaget. Kok secepat itu? Butuh berapa jenak untuk kemudian kembali pada kearifan yang semestinya: semua dari Allah, lalu kembali kepada Allah.

Dalam pesan-pesan kematian yang datang dengan tiba-tiba itu, selalu membuat saya kembali merenungkan. Jika semua akan dipungkasi dengan keberpulangan, lalu adakah guna kita menyimpan dendam? Menyimpan amarah? Menyimpan luka yang menahun?

Jika pada ujungnya kelak semua cerita akan ditutup, dan kita akan melanjutkan pada kehidupan yang sama sekali lain, maka kebencian, amarah, dendam, luka dan sejenisnya menjadi tidak lagi kontekstual.

Seandainya saya terluka, atau saya merasakan kecewa dan berat menjalani hidup, saya biasanya mencoba membenarkan cara pandang dengan satu diantara hal berikut:

– saya mencoba menimbang-nimbang bahwa diujung dari hal yang tak saya sukai ini, kelak ada sebuah kebaikan yang surprise.

– di atasnya lagi, saya mencoba memusatkan perhatian pada sisi anugerah yang ternyata lebih banyak ketimbang sisi luka. Karena anugerah lebih banyak ketimbang ujian; maka semestinya saya bersyukur.

– di atas itu lagi, saya menjadi menyadari bahwa baik sesuatu yang nampak buruk, atau sesuatu yang nampak baik; dua-duanya nisbi. Pada sisi Tuhan, semuanya baik. Karena semuanya hanyalah ejawantah perbuatan-Nya, yang menceritakan sifat-sifat fi’liyah (asmaul Husna).

– di atas itu lagi, dan yang ini sedikit lebih pelik, yaitu tak hanya semua ini menceritakan tentang Dia, dan sifat-sifat fi’liyahNya, melainkan semua yang nampak ini sejatinya “tajalli” dari Dzat-Nya yang tiada umpama.

Kesemuanya adalah cara pandang. Tetapi namanya naik-turun, kadang-kadang kita bisa memandang lewat kacamata yang tinggi, kadang-kadang terjebak juga dengan keadaan. Kita tetap memandang positif, hanya saja paradigma yang dipakai terpaksa dengan paradigma yang bawah.

Tetapi saya kemudian menyadari satu trik untuk mempercepat kita atau membuat kita selalu tune in dengan paradigma yang di tangga atas itu. Apa itu? Yaitu mentadaburi kematian itu tadi.

Benarlah bahwa kematian adalah pemutus segala gundah yang tak perlu. Jika semua akan dipuncaki dengan pulang kepadaNya, adakah semua kecewa kita masih kontekstual? 

Tetapi satu hal lagi….dengan mengakrabi kajian para arifin, saya akhirnya menyadari bahwa kematian bukanlah akhir. Kematian hanyalah degradasi dari tubuh yang fisikal ini. Adapun ruhani yang “diam” dan selalu “menyaksi”, yang “di dalam sini”, dia tak akan mengalami degradasi.

Dalam kaitan seperti itu. Maka belajar puasa, lalu menyadari yg “ruhani”, lalu mengakrabi kehidupan sebagai konteks menunggu “mati” sebagai gerbang hidup yang lebih hidup, maka kita akan menjadi lebih gampang memaafkan.

Maaf lahir dan batin. Maafkan…..maafkan…….lepaskaaaan…..lupakan….dan ridho. Semua akan ditinggalkan pada akhirnya.

Iklan

One thought on “LEBARAN, KEMATIAN, DAN PERMAAFAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s