PERBEDAAN DZAUQ DAN BAPER

sakitnya tuh

 Rekan-rekan mestilah tahu artinya “BAPER”, bahasa gaul, alias Bawa Perasaan. Nah…tahukah rekan-rekan perbedaan BAPER dan Dzauq dalam khasanah para arifin?

Sebelum membahas itu, saya kutipkan secara bebas, penggalan puisi Rumi. Kata Rumi, manusia ibarat suatu pesanggrahan, dan setiap pagi selalu ada saja tamu yang datang berupa kesedihan ataupun kegembiraan.

Premisnya adalah ini: Kesedihan maupun kegembiraan (perasaan) adalah tamu pada pesanggrahan manusia. Ianya bisa datang, dan bisa pergi. Perasaan sedih dan gembira, itu datang dan pergi, alias tamu pada jiwa yang “menyaksi”.

Kalau kita “jeli”, kita akan mengetahui bahwa perasaan di dalam jiwa kita itu adalah sebuah anasir yang tersendiri. Dia berbeda dengan jiwa yang mengamati. Ada jiwa yang mengamati, dan ada perasaan sebagai sebuah anasir yang datang dan pergi, datang dan pergi.

Perasaan yang datang dan pergi mendatangi jiwa manusia itulah perasaan yang semu, alias “ghurur”, alias tipuan, alias BAPER.

Nah…. Di dalam keseharian dan peribadatan, sering rupanya kita mengira kita mengalami sebuah sensasi haru yang khusyuk, sensasi rasa dalam beribadah (Dzauq), padahal itu adalah BAPER bukan Dzauq.

Secara bebas, saya terjemahkan Dzauq dalam khasanah para arifin itu sebagai sebuah “rasa” yang merasuk dalam jiwa manusia, sebagai sensasi kenikmatan dalam beribadah. Nikmatnya peribadatan, gitulah kurang lebih. Suasana hati.

Disinilah baru terlihat kekeliruan pemahaman saya dulu dimana saya mengira bahwa “Dzauq” alias “rasa” di dalam hati itu sama dengan perasaan sedih-senang yang ilusi itu, yang dimaksud Rumi sebagai tamu di pesanggrahan. Padahal dia dua hal yang berbeda.

Apa contohnya? Contohnya begini, misalnya setiap kali dahulu saya beribadah, semisal dzikir, do’a, sholat, dsb….saya malah mencari “perasaan”. Misalnya…..“wah, kok saya tidak menangis seperti kemarin ya? Kok tidak ada rasa haru seperti kemarin ya?”.

Sehari haru, sehari tidak haru. Dan saya kira, rasa haru itulah Dzauq. Padahal, yang saya rasakan kala itu adalah BAPER.

Saya, telah dengan gegabah mengasosiasikan rasa sedih, dan tangisan kepada “Dzauq“, padahal, rasa haru dan tangisan yang saya rasakan dulu itu lebih tepat disebut BAPER ketimbang Dzauq.

Bagaimana membedakannya?Ternyata yang membedakan adalah ini…..Apa yang dipandang oleh mata hati. Apa yang sedang kita ingat di dalam hati kita?

Jika kita sholat dan di dalam sholat itu kita malah mengingat masalah hidup kita, maka kita sebenarnya “menghadap” pada masalah, bukan menghadap pada Tuhan. Walhasil, rasa sedih dan haru yang kita dapatkan saat sholat kala itu bukanlah Dzauq, melainkan BAPER. Sensasi emosional tersebab kita sibuk memutar slide film masalah-masalah di dalam hati kita.

Barangkali bahasa kerennya, inilah yang disebut orang-orang arif sebagai “Melihat af’al” semata. Mentok di af’al.

Masalah-masalah dalam hidup, adalah goresan takdir alias af’al Tuhan. Dalam tanda kutip perbuatan Tuhan. Saat kita melakukan peribadatan, yang kita “hadap” bukan masalahnya, melainkan Sang Pemilik kejadian itu.

Masalah, hanyalah pintu “masuk”, tetapi, saat beribadah, rupanya kita harus inni wajahtu wajhiya lilladzi fathoros samawati wal ard. Menghadapkan “wajah” kita kepada “wajah” pemilik langit dan Bumi. Bukan memutar slide film masalah di benak kita.

Saat kita memenuhi hati kita dengan ingatan pada Allah -bukan pada masalah-, maka dengan lambat laun kita dapat memahami sebuah perasaan yang tenang dan stabil, yaitu “talinu“, tenang….tentram.[1] Rasa tentram yang stabil dan dalam inilah Dzauq. Dia tidak emosional.

Saya teringat suatu kali pernah membaca penjelasan, seingat saya dari Quraish Shihab, dimana ada seorang penanya menanyakan tentang menangis saat Dzikir. Dijawab oleh beliau, memang pada awalnya kita bisa menangis saat Dzikir, tetapi ujungnya biasanya adalah perasaan tenang yang bukan emosional.

Kalau semakin beribadah, kita semakin kemrungsung kata orang jawa, semakin gonjang-ganjing emosi kita, menangis yang histeris atau stress, itu bukan Dzauq. Itu BAPER. Kita harus cek dan ricek lagi, apakah kita mengingati masalah, atau mengingati Tuhan?

Dzauq adalah sebuah ketentraman yang jauh dari kesan BAPER. Pada titik ketenangan inilah kita menjadi mengerti juga maksud Rumi bahwa benar-benar semua perasaan-perasaan selain Dzauq itu, perasaan yang BAPER itu tadi, semuanya tamu saja dalam pesanggrahan hati kita. Mereka cuma come and go, come and go……datang dan pergi. Dualitas yang selalu ada.

Dan ternyata memang kita harus jangan terbawa-bawa oleh perasaan-perasaan yang semu itu. Melainkan kita memperlakukan mereka sebagai tamu semata. Biarlah mereka datang dan pergi. Seperti cuaca. Karena mereka memang datang dan pergi.

Yang penting kita mengingatiNya, dan kita tentram bersama-Nya.

Pertama-tama memang sulit, tetapi lama-lama kita mengerti bedanya. Tangga pertama barangkali kita teringat, masalah. Lama-lama kita tahu bahwa masalah hanyalah cerita tentang lakuan DIA. Merangkum makna-makna dalam Asmaul Husna. Maka kita naik sedikit, bukan lagi teringat masalah, tapi teringat hikmah.

Lama-lama, kita pun meloncati hikmahnya. Bukan sifat-sifat yang kita ingat, tetapi DIA, sang penggores kejadian. DIA, yang tiada umpama.

Rasa tentram karena mengingati DIA itulah yang sejati. Yang tidak emosional. Yang bukan BAPER. Boleh jadi ada tempo-temponya rasa itu menguat menjadi haru dan tangis atau menjadi takut dan gemetar, tetapi jauh sekali bedanya dengan yang BAPER.

Note:

[1] Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. [QS. AZ ZUMAR 39:23]

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s