HIDUP INI GA MUNGKIN UJUG-UJUG DAHSYAT

prayingSaya perhatikan, salah satu sumber keruwetan dalam memaknai hidup -terutama bercermin dari pengalaman saya sendiri – adalah kelirunya kita dalam memaknai level-level pemahaman spiritual dan hubungannya dengan praktek keseharian.

Suatu hari saya sempat berbincang dengan seorang rekan, kami membahas mengenai masalah yang dihadapi rekan saya ini, dan akhirnya menyasar pada pembicaraan mengenai do’a. Ringkasnya adalah, rekan saya ini mengatakan dia berdo’a dalam redaksi yang kurang lebih maknanya adalah “terserah bagaimana baiknya menurut Tuhan saja.” Do’a yang “tinggi” memang.

Tetapi kemudian saya bertanya kepada rekan saya, karena saya juga pernah mengalami fase kekeliruan itu. Pertanyaan saya adalah, apakah do’a pada lafadz lisannya itu sama isinya dengan apa yang terbetik di hatinya? Ternyata tidak sama.

Permasalah rekan saya ini sama dengan permasalahan saya dulu, sebenarnya di hatinya membutuhkan pertolongan Tuhan akan sesuatu masalah, tetapi beliau keliru menafsiri “rasa butuh” akan pertolongan Tuhan itu, dan akhirnya menzahirkan do’a pada lisan; sebuah do’a yang tak sesuai dengan hatinya. Karena seolah-olah berdo’a untuk sesuatu kebutuhan duniawi itu; keliru.

Yang sering kita lupa adalah bahwa Tuhan sebenarnya menilai apa yang di hati. Sebab apa yang terbetik di lisan, itu hanyalah imbas dari apa yang terbetik di hati. Maka lisan, harus sama dengan isi hatinya. Yang terzahir pada lisan (luar) itu bahasa kerennya “amal”. Sedangkan apa yang tersimpan pada batin -tetapi sejatinya adalah penggerak- itu disebut “hal”, kondisi batin secara spiritual.

Kita kutipkan contoh tangga-tangga pemaknaan ini ya, rekan-rekan.

Yang pertama adalah Nabi Zakariya a.s, kita sama-sama tahu bahwa Nabi Zakariya a.s berdo’a kepada Allah dalam do’a yang sangat literal. Langsung meminta secara jelas akan kebutuhannya. Beliau merasa ingin diberikan keturunan, maka beliau meminta keturunan.[1]

Kebutuhannya jelas, kerinduan akan keturunan. Do’anya pun ekspresif, minta keturunan.

Tetapi ada pemaknaan berikutnya. Contohnya ialah Musa a.s.  Saat belum dilantik menjadi Nabi, beliau dikejar-kejar tentara fir’aun dan melarikan diri ke negri Madyan. Disana beliau tidak punya teman, tak ada tempat tinggal, kelaparan, dan takut akan ancaman musuh. Kebutuhannya jelas sekali, tetapi do’anya isyarat, tidak literal. “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” QS. Al-Qashash [28]: 24.

Ada pemaknaan berikutnya lagi, misalnya Nabi Ibrahim a.s yang bahkan saat hendak dilempar dalam kobaran api oleh Namrud, beliau hanya berujar “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.

Kalau kita lihat do’a-do’a para Nabi dan orang-orang shalih, kita akan tahu bahwa do’a yang literal, lalu do’a yang berupa isyarat, lalu bahkan do’a yang “terserah Tuhan sajalah”, semuanya tercontohkan. Masalahnya adalah, yang mana yang kita tiru?

Yang kita tiru adalah yang sesuai dengan kondisi ruhani kita masing-masing, keadaan hati yang oleh para arifin disebut dengan “hal” atau jamaknya “ahwal”, alias tergantung kejujuran menilai level diri.

Misalnya, kita punya hutang yang membelit, lalu dalam hati kita begitu berat menghadapi kesulitan hutang itu. Maka seandainyapun kita berdo’a “ya Allah…tolonglah bantu lunasi hutang ini”, maka do’a kita tersebut bukanlah do’a yang keliru. Selama, dalam do’a itu kita menemukan arti dari kebesaran Tuhan.

Awalnya bertemu hutang, lalu kita konversi menjadi rasa kerdil dan butuh akan pertolongan Tuhan.

Contohnya Zakariya a.s.tadi, karena baik do’a meminta anak, atau do’a meminta tolong dilepaskan dari hutang, adalah do’a yang meminta hal duniawi, tetapi selama dalam do’a itu kita menemukan ejawantah dari kebesaran Tuhan, maka bernilai spiritual-lah do’a itu tadi. Bukan do’a duniawi.

Kita ini, sering pengen ujug-ujug dahsyat. Kita melupakan proses.

Ada ilustrasi dari sikap melupakan proses, misalnya kekeliruan saya dulu dalam memaknai hadits Rasulullah SAW yang intinya adalah jika ada orang sibuk berdzikir sampai lupa meminta, maka dia akan diberikan sesuatu yang lebih utama dari orang yang meminta.[2] Hal ini sering keliru dimaknai dengan “wah…kalau begitu tak usah meminta”.

Padahal, hadits tersebut berbicara konteks level-level tadi. Ada proses yang harus dilewati untuk sampai kesana.

Dan proses itu adalah apabila dalam segala-gala gerak-gerik kehidupan kita, dalam segala kebutuhan hidup kita, kita jadikan pintu untuk kembali kepada Tuhan. Butuh uang melunasi hutang; berdo’a. Butuh anak; berdo’a. Butuh pendamping; berdo’a. dan sebagainya dan sebagainya. Yang intinya pada do’a itu bukan bendanya, tetapi mengkonversi hal kebendaan menjadi rasa butuh akan pertolongan Tuhan. walhasil, mengenali Tuhan lewat pintu kebutuhan dalam hidup.

Sampai nanti, pembiasaan itu akan menghantarkan kita pada suasana batin yang berikutnya lagi. Yaitu kepahaman yang dalam, bahwa tanpa perlu kita zahirkan secara literal-pun, Tuhan sudah ngerti maunya kita.

Maka, lidah kita akan menjadi kelu sendiri untuk menzahirkan permintaan. Karena memang permintaannya sudah tidak menari-nari lagi di dalam batin, melainkan batin dipenuhi dengan kepahaman-kepahaman akan jaminan Tuhan.

Di atasnya lagi, beliau-beliau yang dalam melihat segala apa, sudah tidak lagi terbayang benda-benda, melainkan penuh dengan dzikir semata. Dan itulah tangga dimana mereka-mereka mendapat keutamaan lebih dari model kita-kita ini.

Tetapi kan tak mungkin ujug-ujug. Jika pada tangga pertama saja, dalam keseharian yang sederhana ini, kita gagal menjadikan kebutuhan hidup sebagai jalan untuk “kembali” pada Tuhan. Karena kita keliru-keliru memahami “maqom” itu tadi.

Jadi, kalau ada kebutuhan dalam hidup ya berdo’a saja. Berdo’alah sering-sering. Dan temukan makna-makna kekerdilan diri lewat do’a, dan makna-makna kebesaran DIA lewat do’a.

Tenang saja, nanti dengan seringnya mengakrabi DIA lewat do’a, maka situasi batin atau “ahwal” akan berubah sendiri. Saat situasi batin berubah, maka amal akan mendewasa dengan sendirinya[3]. Nanti kita tahu-tahu sudah berubah redaksi do’anya. Kalau dulu banyak permintaan, sekarang menjadi banyak pujian dan munajat.

Tapi semuanya tidak bisa ujug-ujug ada prosesnya, dan nikmati saja setiap tangga-tangga itu.

Note:

[1] “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” QS. Ali ‘Imran [3]: 38.

Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku seorang diri (dengan tidak meninggalkan zuriat) dan Engkaulah jua sebaik-baik yang mewarisi (QS: Al-Anbiya : 89)

[2] Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[3] “Bila ilmu sudah masuk ke hati, berubahlah keadaan hati. Bila HAL hati sudah berubah, berubah pulalah amal anggota badan. Jadi, amal itu bergantung pada HAL. Sementara HAL bergantung pada ilmu, dan ilmu bergantung pada tafakur.” (K.H.R Abdullah bin Nuh. 2015. “Tafakur Sesaat Lebih Baik Daripada Ibadah Setahun” (hlm. 11))

Image source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s