TIPS AGAR KEHIDUPAN KEMBALI MEMESONA

AMAZEDAnak saya usianya hampir lima tahun, dan seperti jamaknya anak seusianya, “baterai“-nya seperti Energizer. Tak habis-habis. Bermain tanpa henti , baru tidur kalau hari sudah malam dan kami sudah mengantuk lebih dulu.

Saya memerhatikan, kenapa anak kecil sebegitu semangatnya dan seperti memiliki tenaga mengalahkan orang dewasa? Ternyata belakangan saya tahu jawabannya, anak kecil biasanya terpesona pada kehidupan.

Saya amati anak kecil biasanya ingin tahu segala hal, dan begitu bersemangat dalam segala hal. Bagi anak kecil, dunia ini adalah sesuatu yang menarik untuk di-explore. Makanya anak-anak kecil cenderung bertanya terus, bermain terus, dan jarang capeknya. Pada pandangan orang yang terpesona, rasa capek dan letih seringkali kalah oleh rasa ingin tahu.

Tetapi kebalikannya adalah orang dewasa. Misalnya saya sendiri. Dalam banyak kesempatan saya sering merasa bosan. Misalnya, di kantor bosan. Di jalanan bosan juga. Dan banyak orang kantoran yang juga merasakan hal yang sama. Tak hanya orang usia kantoran, anak-anak usia sekolah pun sudah mulai terjangkit gejala cepat bosan.

Jika sewaktu kecil kita begitu “passionate about the life”, begitu bergairah terhadap hidup karena terpesona, mungkin sekarang kebalikannya, kita cepat bosan karena dunia sudah tak se-memesona dulu.

Waktu kecil, kita baru belajar mengenal lingkungan, menggerakkan syaraf motorik, mengenal angka, mengenal huruf, interaksi dengan sekitar, maka bangun tidur sampai tidur lagi umpama kita dimasukkan dalam dunia penuh mainan. Semuanya hal baru dan semuanya kita ingin ketahui.

Setelah dewasa, kita sudah mengenal hal-hal itu sehingga input eksternal jadi tak menarik lagi. Maka kita sering bosan.

Bagaimana tips nya supaya kehidupan kembali memesona, dalam maknanya yang baik?

Tipsnya ternyata adalah dengan menyadari bahwa kita berada di dalam dunia ini ibarat kita tenggelam dalam perpustakaan raksasa.

Umpamakanlah ada sebuah buku Harry Potter, atau novel apa saja yang rekan-rekan pernah baca. Setiap susunan kata yang ada pada novel itu akan membentuk kalimat. Setiap susunan kalimat yang menjelma paragraf akan menghantarkan sebuah kumpulan makna, dalam hal ini cerita tentang Harry Potter.

Tidak mungkin, huruf sebagai huruf semata, atau kata-kata sebagai kata-kata semata tanpa arti, bukan? Tentu kita menyadari bahwa kita membaca buku dalam sebuah pengertian bahwa kumpulan huruf yang terserak dalam buku Harry Potter itu mewakili sebuah cerita dongeng dari J.K Rawling. Maka mengakrabi kumpulan kata-kata menjadi menarik.

Begitu juga seharusnya kita dalam memaknai hidup. Para arifin seringkali mengingatkan bahwa tujuan besar kehidupan ini dibuat adalah Tuhan “menyatakan” diri-Nya lewat berbagai-bagai cerita dalam kehidupan kita.

Secara sederhana barangkali begini. Tuhan ingin dikenali, maka DIA mencipta makhluq. Dan digoreskanlah takdir atas makhluq, yang setiap potongan takdir apapun saja itu, sebenarnya bercerita tentang DIA. Jadi semuanya tentang DIA bercerita.

Jadi kita nyemplung dalam kehidupan sebenarnya ibarat nyemplung di dalam perpustakaan besar. Yang mana keseluruhan takdir apapun saja, dan ilmu apapun saja sebenarnya menyingkap cerita tentang DIA.

Misalnya saya kutipkan penjelasan Prof. Naquib Al Attas dalam “The Nature of Men and Psychology of Human Soul”, dimana beliau menjelaskan bahwa Adam a.s dilebihkan atas para malaikat karena Adam a.s diajari tentang asma’-asma’. Asma’ disini mewakili ilmu-ilmu tentang sifat-sifat.

Kalau analoginya adalah dengan novel tadi, maka apapun yang kita lihat dalam hidup ini ya mirip-mirip kumpulan kata-kata. Kumpulan kata-kata, mestilah mewakili cerita dari pengarangnya.

Maka mengakrabi dunia ini menjadi kembali penuh pesona. Karena apapun saja di sekitar kita itu ternyata memiliki sisi spiritual.

Melihat tukang cuci mobil mencuci mobil, kita melihat bagaimana Tuhan mengatur pembagian rizki, menggerakkan roda ekonomi, membuat manusia memandang DIA dalam berbagai-bagai citra sifat-sifat, Yang Maha Memberi Rizki.

Atau misalnya juga melihat berita di TV, pergolakan politik ternyata adalah plot besar-Nya juga. Melihat seorang yang sedang berduka dirundung masalah, kita melihat bagaimana manusia diperjalankan menemui-Nya dengan bermacam-macam latar cerita.

Baru sekarang-sekarang saja saya mengerti, sebuah ungkapan klasik bahwa sebenarnya tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu selain agama, misalnya sains atau humaniora.

Dulu kata-kata itu sebatas dimulut saja. Tetapi baru sekarang saya mengerti, bahwa memang benar-benar tidak ada dikotomi jika dipahami bahwa semua tata aturan yang tergelar di muka bumi ini hanya cara DIA bercerita.

Dan satu lagi sebenarnya yang paling penting. Dengan memahami bahwa seolah-olah kita tenggelam dalam perpustakaan raksasa, dalam dunia yang penuh cerita DIA itulah kita bisa seperti berjarak dengan keadaan. Maksudnya nothing personal. Tak ada hal yang terlalu pribadi, jadi kita easy going.

Seorang guru mengatakan seandainya kita memiliki sikap IQRO’ semacam itu dalam setiap kejadian hidup kita, kita akan tidak gampang tersinggung dan sakit hati. Karena kita tidak menganggap sebuah kejadian sebagai sesuatu yang personal lagi, tetapi kejadian malahan sebagai medium DIA bercerita. Seperti Adam yang memahami rahasia Asma’ itu.

Ini saya terapkan juga di kantor. Kalau bos lagi marah-marah saya mengesampingkan hal yang personal. Dan malah menjadi penasaran, kenapa manusia bisa marah? Bagaimana persepsi manusia satu dan lainnya tentang keadaan bisa menimbulkan respon berbeda? Persepsi berbeda karna input berbeda? Input berbeda karena Tuhan memperjalankan masing-masing orang dalam lajur yang berbeda. Semuanya seperti buku cerita jadinya, dan lama-lama kita berjarak dengan keadaan, dan kita asyik membaca kehidupan seperti melihat dongeng.

Tak selalu sih, masih sering dongkol juga, hahahahaha….

Tapi setidaknya petuah para guru kearifan itu sudah kita ketahui. Kalau kehidupan sudah tidak menarik lagi bagi kita, dan kita sudah terlalu sering bosan, mungkin kita lupa mengaitkan hidup dalam konteks itu. Dalam konteks kita ada di dalam ceritaNya.

Disitulah baru semua make sense, saat ayat suci sering mengatakan: bertebaranlah di muka bumi, tengoklah langit, tengok diri kamu sendiri, tengok semut, tengok bintang….. cerita-Nya sudah sangat menarik dan dahsyat, kita saja jarang terpesona.[1]

Note:

[1] Artinya: Dan di muka bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak berfikir (merenungi). (Adz Dzariyat: 20-21).

image source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s