MENERIMA DUALITAS DUNIA

dualitySegala sesuatu di dunia ini, dijadikan berpasangan. Seperti itulah fithrahnya dunia ciptaan. Pada dunia ciptaan ini, oleh Tuhan, keragaman dizahirkan dalam kerangka besar dualitas. Baik-buruk. Suka-duka. Lapang-sempit. Pahala-dosa. Semuanya berpasang-pasangan.[1]

Seperti cuaca, mereka (dualitas itu) datang dan pergi. Silih berganti diperkenalkan kepada kita. Tak ada suka yang selamanya, sebagaimana tak ada duka yang selamanya. Sekali terang, sekali gelap.

Karena dualitas seperti itu adalah fithrahnya dunia ciptaan, fithrahnya dunia sifat-sifat, maka kita mestilah mengetahui bahwa semua itu pasti akan menyambangi dalam kehidupan kita.

Kalau kita bertemu dengan salah satunya, besar kemungkinan kita pasti akan ketemu pasangan satunya. Tidak mungkin kita hanya ketemu satu “sifat” saja. Mesti dua-duanya kita ketemu.

Dengan mengetahui “tabiat dunia” yang seperti itu, kita baru akhirnya tersadar bahwa memang betul kata para arifin, jangan “tambatkan” kebahagiaan kita pada keadaan di luar diri kita. Karena apapun di luar diri kita itu, adalah sifat-sifat di dalam dunia dualitas. Datang, dan pergi.

Waktu SMA dulu saya tidak puas dengan kondisi yang serba pas-pasan, saya ingin segera keluar dari sana. Lalu tibalah masa kuliah, awalnya saya mati-matian membenci jurusan Geologi tempat saya belajar, merasa tidak sehati, tapi toh bertahan juga hingga tiba akhir kuliah dan ternyata saya menyukai kuliah saya. Lepas kuliah saya bekerja menjadi “pemburu” minyak di macam-macam tempat, berkelindan dengan orang-orang dengan berbagai-bagai karakter dan gurat kebangsaan, tetap saja ada sisi yang membuat saya gelisah dan merasa tidak puas di lapangan hingga akhirnya saya pindah ke kantor.

Dalam mata rantai ketidak puasan itu, saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya dari keadaan yang saya benci itu kepada keadaan yang lain yang menurut saya bisa membuat saya bahagia. Di benak saya, kebahagiaan itu pastilah sesuatu yang berkait dengan “keadaan”.

Disitulah kelirunya, karena selama kebahagiaan dikaitkan dengan situasi external di luar diri kita, maka kita sudah mengaitkan kebahagiaan pada hal yang bisa datang dan pergi, ini adalah dualitas. Selama dualitas, mestilah datang dan pergi. Saat dia datang kita bahagia, saat dia hilang kita akan duka.

Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan, sebagian orang seperti keledai penggilingan, berputar-putar tak ada ujungnya. Pindah dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Tetapi toh tetap saja mereka tidak menemukan kebahagiaan. Apabila kita sudah mengira bahwa kebahagiaan kita adalah sesuatu yang tertambat pada keadaan tertentu, maka kebahagiaan itu pastilah labil. Karena sudah fitrahnya suatu “keadaan” untuk berganti seiring periode takdir.

Setidaknya, ada beberapa hal yang saya catat dari kajian para arifin, yang membantu memperbaiki kembali cara kita memandang hidup.

PERTAMA, adalah “accept things as they are”. Bahasa islamnya adalah menerima takdir. Lapang dan sempitnya hidup mesti bergiliran. Karena kita hidup terendam dalam dunia sifat-sifat yang dualitas tadi. Kita ketemu lapang, maka tinggal tunggu waktu saja kita ketemu sempit. Pasti dua-duanya kita temukan.

Saat kita sudah punya ilmunya, sudah mengetahui “the nature of life”, alias tabiatnya dunia memang seperti itu, barulah kita akan bisa merespon hidup dengan lebih santai. Seperti orang merespon cuaca. Saat hujan ya pakai payung. Saat panas ya berteduh atau nyalakan kipas angin. Tetapi mau tak mau kita harus menerima baik panas maupun hujan. Karena panas dan hujan adalah dualitas dunia.

KEDUA, adalah “temukan makna”. Saat kita sudah mengetahui bahwa sia-sia saja berusaha berlari dari dualitas. Dualitas akan selalu ada, dan selalu kita temukan kedua sisinya dalam hidup kita. Maka tugas kita berikutnya adalah merespon secara tepat, dan juga menemukan makna dalam setiap dualitas takdir yang kita jalani.

Ungkapan Umar Bin Khattab r.a. sangatlah tepat. “Jika sabar dan syukur adalah dua kendaraan, aku tak peduli harus menunggangi yang mana.”

Sabar, dan syukur adalah pemaknaan pada dualitas itu. Intinya ternyata kita menerima dulu, lalu kita merespon kejadian yang dualitas itu, dengan respon terbaik yaitu sabar dan syukur.

Pada gilirannya, kita mengetahui bahwa dualitas hidup adalah sekedar derivasi alias turunan dari dualitas sifat-Nya/ Asma-Nya, yaitu JAMAL (sifat-sifat yang mewakili keindahan-Nya) dan sifat JALAL (sifat-sifat yang mewakili keagungan dan kedigdayaan-Nya). Dan kita akan diperjalankan menemui dualitas sifat itu. Ketemu Jamal-Nya, dan ketemu Jalal-Nya lewat cerita hidup kita.

KETIGA, dan yang ini sedikit pelik. Setelah diterima, direspon, diambil maknanya, berikutnya yang paling penting adalah mengetahui bahwa dualitas makna itu, sejatinya datang dari Dzat-Nya semata. Dan disanalah keragaman akan sirna.

Selama kita hidup di dalam dunia, maka kita diselimuti oleh dualitas. Tak ada pilihan selain dari menerima dualitas itu. Setelah menerima maka kita merespon dualitas dengan respon terbaik sesuai petunjuk-Nya. Setelah merespon maka kita menangkap makna bahwa dualitas itu ternyata hanya derivasi dari dualitas sifat-Nya. Tetapi dualitas itu hanya akan sirna jika kita melihat, dalam tanda kutip, bahwa dibalik semua dualitas itu adalah Dzat-Nya semata-mata. Di titik itulah kita tak lagi ada di dalam dunia keragaman.

Dengan begitu, pelan-pelan hidup menjadi seperti menonton drama. Accept things as they are. Berdamai dengan dunia yang penuh dualitas. Semuanya pelajaran. Karena sejatinya semua dualitas hanya cerita dari-Nya. Hanya pada-Nya saja keragaman sirna.

Note:

[1] Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Q.S. Yaasiin : 36)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (Q.S. Adz Dzariyat : 49)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s