MAKNA ‘UBUDIYAH

Secara bebas, ‘ubudiyah adalah sikap penghambaan. Sikap merendah, menjadi hina dan lemah dihadapan yang dihamba.
 
Setelah memahami bahwa di dalam diri manusia ada “bashirah” yang selalu mengamati, Lathifah Ruhiyah -kata Imam Ghazali-, alias sejatinya diri; kita menjadi tahu bahwa ternyata yang beribadah itu adalah yang “di dalam sini”, diri yang sejati itu.
 
Setelah mengetahui yang beribadah adalah “yang sejati” itu, permasalahannya adalah penafsiran terhadap makna ibadah.
 
Satu penafsiran yang sudah jelas, adalah ibadah sebagai sebuah ritual fisik, tetapi ada lagi penafsiran makna ‘ubudiyah, yaitu sikap penghambaan. Sikap menjadi rendah dan hina dan lemah dihadapan yang dihamba.
 
Dalam konteks menjadi hina dan rendah inilah, dalam konteks ‘ubudiyah inilah peribadatan ditegakkan. Kepada siapa kita -yang didalam sini- merendahkan diri , menghinakan diri, melemahkan diri, berarti kepada sesuatu itulah kita menghamba. Dan sikap ini hanya boleh diterapkan kepada Tuhan.
 
Maka barulah sekarang semuanya menjadi terang.
 
Kita tidak melakukan sikap ‘ubudiyah kepada selain Tuhan. Jika IBADAH itu bentuk ritual lahiriah, maka pada sisi satunya lagi yaitu sikap ‘ubudiyah itu; dia menempati sisi pemaknaan batinnya.
 
Kita tidak menyembah benda-benda, baik secara ritual lahiriah (yaitu IBADAH), atau secara sikap batin (yaitu ‘ubudiyah).
 
Nah… kalau benda-benda secara zahir rasanya sulit bagi mayoritas kita untuk melakukan sikap hina, rendah, dan lemah dihadapan benda. Akan tetapi kepada hal-hal yang tidak secara zahir bisa terlihat; kita sering tanpa sadar mempraktekkan sikap ‘ubudiyah atau menghamba itu.
 
Misalnya. Kita bekerja dan berusaha, lalu tanpa sadar kita terlalu mengandalkan hasil usaha kita itu. Seolah-olah penentu keberhasilan kita adalah usaha lahiriah kita itu. Tanpa sadar, kita telah merendah, melemahkan diri, dan menghinakan diri kepada usaha lahiriah kita sendiri. Itulah kenapa para arifin melarang kita untuk “mengandalkan ‘amal”.
 
Berusaha secara lahir boleh, tetapi saat usaha lahiriah sudah berubah menjadi sikap “mengandalkan”, merendah, dan menghinakan diri pada usaha itu sendiri, sudah menjadi ranah ‘ubudiyah, maka dia terlarang.
 
Nah…baik “benda-benda”, dan atau “amal usaha” kita, masih gampang terlihat atau terindera. Akan tetapi, ada beberapa hal yang sulit terindera, tidak terlihat, akan tetapi seiring dengan meningkatnya “awareness atau mindfulness” seseorang; maka hal tersebut bisa “disadari” oleh orang yang lebih “awas”.
 
Misalnya, hukum law of attraction. Daya tarik-menarik di alam. Vibrasi dan getaran di alam.
 
Saat seseorang secara lahiriah dia berdo’a, tetapi di dalam sikap batinnya dia merendah, menghinakan diri, melemahkan diri, dan segala makna yang dirangkum dalam penghambaan itu tadi, ‘ubudiyah; tetapi dia melakukan itu kepada daya tarik-menarik di alam ini, vibrasi, visualisasi dan getaran, -bukan kepada Tuhan- berarti dia telah menghamba kepada hal itu.
 
Secara lahiriah, tertengok sama dan tak ada bedanya dengan orang berdo’a. Tetapi, yang berbeda adalah kepada “apa” atau “siapa” sikap batin yang merasa rendah, hina, dan lemah itu kita haturkan.
 
Maka, semakin awareness dan mindfulness seseorang, sejatinya dia harus semakin hati-hati. Jangan sampai dia salah melakukan sikap ‘ubudiyah, salah sasaran, karena semakin awareness-nya dia, dan semakin mengertinya dia tentang anasir-anasir non fisikal itu.
 
Dan “pagar”-nya rupanya sudah sangat jelas, di dalam spiritualitas islam. Bahwa Tuhan penguasa alam itu tidak serupa apapun, tidak terjangkau perumpamaan seperti apapun.
 
Maka jika kita “menghadap”, menghamba, merendah, menghinakan diri, melemahkan diri, kepada apapun saja yang masih terjangkau definisi: semisal benda-benda, atau amal usaha lahiriah kita sendiri, vibrasi, getaran dan anasir-anasir di alam ini, maka sudah pasti kita keliru sasaran dalam melakukan sikap ‘ubudiyah itu tadi.
 
Kita bisa, menggerakkan, dan mengatur elemen-elemen benda, berusaha, dalam kapasitas sebagai “khalifah”. Tetapi, tidak ada sikap ‘ubudiyah pada hal-hal tersebut. Sikap ‘ubudiyah, mestilah hanya kepada Tuhan. ini yang ternyata kita harus super hati-hati.
 
Jika seseorang yang ahli ibadah ritual fisik disebut ‘abid (ahli ibadah). Maka seseorang yang paham akan makna ‘ubudiyah ini disebut ‘abd (hamba).
 
Dan menjadi merendah kepada Tuhan, menjadi hamba, sebenarnya posisi yang tinggi, dan sikap yang sakral.
 
Tetapi mempraktekkan sikap ‘ubudiyah kepada selain Tuhan, ternyata akan menjatuhkan kita serendah-rendahnya.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s