FOTOGRAFI DAN GERAK KOLOSAL

PHOTO_20160830_081029-01Saya senang mengamati foto-foto yang menarik dari para ahli fotografi. Meskipun saya sendiri kemampuannya sebatas foto HP, hehehe. Satu pelajaran yang berkesan dari para ahli fotografi adalah bagaimana membuat sebuah foto menjadi menarik bisa dengan merubah sudut pandang, atau biasa disebut “Angle”.

Dengan sudut pandang yang tepat, misalnya bird eye view, kita bisa menikmati potongan foto seolah kita memantaunya dari udara. Atau dengan sudut pandang yang tepat, sebuah foto bisa dinikmati seolah-olah terlihat dari mata seekor semut. Karena foto diambil dari bawah.

Bagi saya, hal ini adalah sebuah pelajaran. Dalam hidup sehari-hari, keseharian kehidupannya sama, rutinitas yang sama, bahkan tempat yang sama pula; jika dilihat dari sudut pandang yang tidak biasa akan menjadi indah.

Para spiritualis, misalnya kita tengok dalam banyak approach dunia timur, sering mengajarkan agar bagaimana seseorang itu harus berupaya melepaskan diri dari jebakan “kedirian” yang sempit. Sudut pandang kita selama ini melulu mengenai diri kita sendiri.

Sudut pandang yang biasa kita pakai itu, adalah mencakup diri kita secara jasadiah. Dan juga tentu kita melihat dalam sudut pandang mentalitas emosi kita. Kacamata ego.

Apa itu ego? Ego adalah kumpulan pengalaman hidup kita, yang kita jadikan kacamata dalam memandang dunia. Keseluruhan jenak kehidupan kita sebenarnya selalu kita snapshot, kita “foto”, kita rekam dalam kacamata ego itu.

Maka menjadi sangat penting untuk berlatih melepas diri dari sudut pandang yang terlalu sempit. Agar hidup menjadi terlihat sebagaimana adanya. Karena tanpa begitu maka hidup akan terpandang dalam frame ego kita terus. Lain kenyataan, lain pula yang dipahami.

Sebenarnya, kalau kita tengok keseharian kita, setiap kita sudah ada kecenderungan untuk berlepas dari sudut pandang kedirian yang sempit itu. Misalnya, kita berbuat kebaikan, kita bekerja banting-tulang peras keringat, konon katanya untuk keluarga kita. Katakanlah anak dan istri.

Kenapa untuk anak dan istri? Setelah saya renungi, ternyata karena kita hendak meluaskan aspek kedirian itu. Barangkali, calling,  atau naluri setiap orang ingin berlepas dari pusaran diri sendiri. Meluas menjadi pusaran orang-orang sekitar. Angle itu tadi. Sudut pandang itu tadi. Bahwa hal ini sudah bukan perkara kita, tapi perkara kita, dan anak, dan istri. Sudut pandang jadi meluas. Dengan meluas, maka arti-arti dan nilai-nilai makna biasanya timbul.

Itu satu contoh kecil. Tetapi para arifin mengajarkan kita untuk meluaskan cara pandang dalam kerangka yang lebih filosofis. Tak hanya meluas sebatas kita dan keluarga kita saja, tetapi bahkan lebih mendalam, yaitu merubah sudut pandang bahwa kita – yang kita sebut sebagai “saya”- ini sebenarnya “tidak ada”, dalam tanda kutip.

Maksudnya begini. Karena kita ini kan selalu melihat dalam kacamata ego. Dalam kacamata ego itulah letaknya dimana terjadi individuasi. Terjadi sebuah identitas “saya”, “kamu”, “dia”.

Karena setiap kita, memandang hidup dalam kacamata yang dibatasi oleh pengalaman hidup. Tukang es cendol melihat hujan sebagai musibah, karena dia memandang dalam kacamata ego identitas sebagai seorang tukang es. Tukang ojek payung atau petani memandang hujan sebagai berkah karena memandang dalam kacamata identitas sebagai petani atau tukang ojek payung.

Kalau kita perlahan-lahan belajar melepaskan ego itu, melepaskan kacamata pengalaman hidup dan kedirian kita, maka lambat laun akan terasa bahwa sebenarnya hanya ada sang penyaksi saja di dalam “sini”. Sang penyaksi yang berbaju fisikal (yaitu jasad), dan berbaju mental (yaitu pengalaman hidup alias ego).

Dari sudut pandang yang netral inilah ternyata individuasi istilah “saya”, “kamu”, “dia”, menjadi semakin kurang relevan. Karena sejatinya semuanya satu. Semuanya adalah makhluq ciptaan-Nya semata. Yang kemudian berbaju atau berselindung dibalik pengalaman hidup yang berbeda-beda. Menjadi individuasi.

Dalam pemahaman seperti itu, ternyata kemudian timbul keinginan untuk berbuat baik pada orang lain. Karena akhirnya menyadari bahwa baik saya, anda, kita, mereka, sebenarnya satu dan sama, semua hanyalah ciptaan-Nya yang semuanya beragam-ragam dalam rangka mengenali Sang Pembuat. The Creator. Allah SWT.

Pada sudut pandang seperti inilah, baru menjadi semakin jelas pesan agar kita berbuat baik pada orang lain, sejatinya itu berarti kita berbuat baik pada diri sendiri[1]. Makin berbuat kebaikan untuk orang-orang, makin meluaslah sudut pandang. Makin lepas dari kedirian yang sempit.

Dalam sudut pandang semacam ini, saat ditekan beban berat ternyata sangat menolong untuk keluar dari sudut pandang diri sendiri yang kerdil itu, lalu “lebur” dalam cerita hidup ini. Just Do It…..Berbuat baik. Dan selalu Menyaksikan jalannya cerita milik Sang Empunya.

Sebuah gerak kolosal yang DIA cipta untuk menceritakan DiriNya.


References:

[1] Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)

*) gambar saya jepret lewat HP dari lantai atas perkantoran di sudut Jakarta

 

 

Iklan

YANG LEBIH PENTING MELEBIHI BENDA DAN RASA

Saya mengenal seorang rekan yang sekarang menjabat menjadi pimpinan sebuah “plant” di kantor saya, saya mengamati perjuangan yang telah dilakoni rekan saya ini dari seorang yang jabatannya di bawah sampai akhirnya merangkak naik dan mencapai posisinya sekarang. 

Sebuah perjalanan yang luar biasa, mengingat background pendidikannya yang sama sekali tak nyambung dengan jabatannya sekarang, dan mengingat bagaimana dia dulu sama sekali “bukan siapa-siapa”.

Sepanjang perjalanan dalam mobil kami bertukar cerita tentang naik turunnya perjuangan. Dan sampai pada satu sesi dimana dia bercerita bahwa dalam rasa letih dan rasa capek dibalut pekerjaan, kadang-kadang yang beliau lakukan sore-sore adalah membuka web dan melihat struktur organisasi perusahaan, lalu membaca biografi orang-orang besar disana, lalu menyerap semangat dari etos kerja orang-orang besar itu. Bahwa kita pun bisa seperti mereka.

Beliau saya sadari bukan mengejar harta. Tetapi pencapaian yang lain yang lebih halus.

Mau tak mau saya menimpali obrolan itu dengan kembali mengutip teori yang sungguh klasik mengenai piramida kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. 

Manusia bergerak melakukan sesuatu mestilah karena dorongan kebutuhan. Dan kebutuhan itu mestilah bergerak dari sesuatu yang bersifat sangat konkret pada awalannya, menuju sesuatu yang lebih abstrak dan berupa nilai-nilai yang maknawi pada akhirannya.

Awalnya manusia bergerak mencari pekerjaan karena didorong oleh kebutuhan yang sangat fisikal. Karena butuh makan untuk penunjang hidup. Physical needs.

Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, maka manusia bergerak lagi untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman. Di atasnya lagi adalah kebutuhan akan rasa disayangi, rasa cinta. Di atasnya lagi adalah kebutuhan untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian tertentu, untuk diakui di dalam kalangan. Lalu di atasnya lagi adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Itulah menurut Maslow urutannya. Dari konkret, ke abstrak. Dari kebutuhan kebendaan, menuju nilai-nilai.

Sejatinya, seiring perkembangan kehidupan manusia, manusia akan secara alamiah menyadari bahwa yang dia perlukan adalah bukannya kebutuhan fisik –semata-, melainkan adalah pemenuhan terhadap nilai-nilai yang abstrak itu.

Seseorang bekerja banting tulang, tetapi dia menyadari bahwa sebenarnya bahwa inti dari bekerjanya adalah bukan pada pekerjaannya itu, tetapi kepada nilai-nilai yang lebih halus. 

Apakah dia bekerja karena ingin mendapatkan perasaan aman. Ataukah karena ingin diakui di tengah-tengah khalayak.

Selama seseorang bergerak di dalam hidupnya, dan lalu kemudian pelan-pelan menyadari bahwa…”oh…iya ya, intinya bukan benda fisiknya ini, melainkan nilai-nilai yang lebih halus”, maka seseorang pelan-pelan akan terhindar dari kecintaan yang berlebihan pada hal-hal yang fisikal.

Misalnya, kalau intinya sebenarnya human needs itu adalah rasa untuk diakui dan tenang dalam komunitas, maka sebenarnya tak perlu kita saling sikut dalam urusan pekerjaan. 

Karena toh kita bekerja sebenarnya dalam lubuk hati kita bukan lagi urusan pangkatnya itu, tetapi sebenarnya urusan “rasa hati” yang ingin diterima dalam kelompok.

Misal lagi, kita bekerja kemudian membeli mobil. Kecintaan kita tidak secara penuh kita curahkan pada mobil, tetapi kita sadar bahwa jauh dalam lubuk hati yang paling tersembunyi, kita sebenarnya bekerja berpayah-payah dalam upaya untuk membahagiakan orang-orang terdekat. Rasa ingin berguna bagi keluarga. 

Jadi….mobil menjadi kalah penting dibanding nilai-nilai.

Bukan lagi harta atau makanan dan hal fisikal lainnya, tetapi “rasa bahagia”. Yang melintasi hal-hal fisik. Di dalam, bukan di luar.

Akan tetapi, ada sebagian kalangan yang mendewasa usianya, tetapi gagal mendewasa dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan yang lebih halus tadi. Mereka melulu melihat kepada benda-benda yang fisikal. Tetapi lupa bahwa benda-benda fisikal itu sejatinya kita cari dalam rangka menggenapi sesuatu yang lebih abstrak yang halus, yaitu segenap rasa yang ada dalam hati kita sendiri.

Inilah yang saya kira, sesuatu yang sering diungkapkan para arifin, bahwa orang susah-susah mencari bahagia, padahal rasa bahagia itu sudah ada di dalam hatinya sendiri. 

Padahal bukan benda-benda fisikal itu yang membuat manusia bergerak, melainkan rasa-rasa di dalam hati yang mencoba kita temukan definisinya dengan mencari puzzle-nya di dunia fisik.

Maslow sudah melakukan perjalanan panjang –kata orang jawa- niteni, alias mencermati dirinya sendiri. Tetapi rupanya menurut para arifin, perjalanan Maslow belum sampai pada ujungnya.

Maslow sudah menemukan bahwa dari yang pertama adalah kebutuhan fisikal, lalu berubah menjadi kebutuhan lebih halus berupa nilai-nilai rasa di dalam hati, dan dipuncaki dengan aktualisasi diri. Tetapi para arifin mengatakan sejatinya kebutuhan manusia itu dipuncaki dengan “hilangnya diri”. Transenden.

Alurnya sudah benar, dari yang pertama begitu fisikal, konkret, mengejar benda-benda. Lalu menjadi lebih dewasa dalam kesadaran bahwa yang penting bukan benda fisiknya, ternyata yang penting adalah rasa di dalam hati. Maka orang mengejar sesuatu yang sebenarnya ada dalam hatinya, dan dia bisa manage atau atur sendiri.

Puncak dari semua itu, adalah kesadaran untuk menjadi saksi sepanjang perjalanan. Bahwa hal fisikal, dan nilai-nilai halus yang menyertai dunia fisikal ini, hanya cerita dari Sang Empunya.

HAMBURGER DAN SPIRITUALITAS MUTU 

Bagaimana cara orang memastikan bahwa perusahaan sebesar MC Donalds memiliki pelayanan yang sama kualitasnya di seantero dunia? 

Seorang pelanggan jika membeli hamburger di MC Donalds Singapura, dan seseorang yang membeli hamburger di MC Donalds Afrika akan mendapatkan sensasi pelayanan yang kurang lebih sama. 

Dari cara memesan, seting ruangan, seragam pelayan, kata sambutan saat pertama masuk restoran, dan tipe menu, sama semua.

Barangkali ada variasi sedikit disesuaikan dengan kondisi, tetapi tetap tidak akan mengurangi kesan bahwa saya sedang makan di restoran yang sudah familiar, di Indonesia, Singapura, Afrika, sama saja pelayanannya, standar yang terjaga.

Bagaimana mereka menjaga dan memastikan keseragaman pelayanan seperti itu?

Jawabannya adalah sebuah “sistem”. Sebuah proses yang baku. Sebuah sistem manajemen mutu, quality management system.

Kalau rekan-rekan familiar dengan istilah ISO 9001, yang sering terpampang dimana-mana, nah itulah sebuah sistem manajemen mutu. 

Orang rela membayar mahal agar perusahaannya tersertifikasi dalam sebuah sistem manajemen mutu semisal itu.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, kalau kita tilik sebenarnya hampir serupa.

Seseorang tidak dituntut kepada hasil akhir, tetapi lebih dituntut pada keseuaiannya terhadap proses. (process oriented).

Sikap keber-agama-an kita sebenarnya “process oriented”, berorientasi proses.

Sebuah ilustrasi sederhana, yaitu ketika seorang sahabat Rasulullah hendak meninggalkan untanya tanpa terikat, karena dia sudah bertawakal kepada Allah…..eh malah ditegur oleh Rasulullah. Jangan begitu, ikat dulu untamu, baru tawakal. [1]

Perhatikan disana, orientasi prosesnya. Urutan yang lazim adalah “mengikat unta – berserah”.

Seandainya begini……..ada seseorang yang tidak melakukan proses itu, dia tidak mengikat unta, tetapi malah dia tinggalkan untanya begitu saja, eh….tetapi hebatnya untanya tidak hilang tuh. Apakah orang itu dikatakan benar, karena hasilnya adalah untanya tidak hilang? mungkin orang itu doanya ces pleng??

Tidak begitu. Sejatinya orang itu sudah menciderai proses. Orang tersebut tidak mengikuti tatanan. 

Karena tatanan yang diajarkan adalah mengikat-lalu berserah. Maka hasil akhir bukan yang utama, yang utama adalah kebersediaan untuk lebur ke dalam tatanan.

Kembali pada ilustrasi Mc Donalds. Kita sekarang ketahui bahwa Mc Donalds memiliki sebuah sistem manajemen mutu (dan begitu juga hampir seluruh perusahaan industri besar di dunia). Katakanlah Mc Donalds memiliki sebuah prosedur baku, sebuah burger harus dimasak sekian lama, suhu sekian derajat, diberi mayonaise sekian banyak, diberi sambel ini itu, sampai akhirnya tersaji. 

Jika ada seorang karyawan tidak melakukan proses itu, tetapi dia mengatakan “ah…tanpa dipanggang sebegitu panas dan tanpa bumbu begitu saya juga bisa buat Burger lebih enak bahkan”. Apakah sang karyawan mendapat medali?

Tidak…..karyawan itu malah dinilai bermasalah, karena apa? Menciderai proses itu tadi. 

Prosesnya bukan begitu. Prosesnya sudah jelas, lakukan A-B-C-D sampai selesai. Dan segala inovasi boleh dilakukan tetapi harus dalam pakem yang sudah ada. 

Begitulah kurang lebih. Kebersediaan untuk larut ke dalam tatanan. Berorientasi kepada proses, alih-alih kepada hasil, begitulah spiritualitas islam sejauh yang saya pahami.

Dengan kebersediaan untuk mengikuti proses yang ada, maka seseorang akan terhindar dari mengandalkan dirinya sendiri. Karena dia tunduk dan larut ke dalam proses.

Dirikanlah shalat untuk mengingatiKu [2] tersebut dalam sebuah ayat. Apakah jika seseorang bisa mengingati Allah selalu. langsung tune-in 24 jam. kemudian berarti tak perlu sholat?

Tentu tidak, karena orientasinya proses. Jalankan flow-nya. Ikuti runutan prosesnya. Tunduk kepada tatanan.

Sebuah contoh lagi yang saya juga masih punya PR besar untuk belajar mendawamkannya, yaitu jika seseorang memiliki masalah besar, beban yang berat, maka flow yang diajarkan adalah berdiri di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat.

Seandainya seseorang melaksanakan flow tersebut, dia berdiri sepertiga malam dan sholat dalam menghadapi beratnya problema, apakah berarti dia hebat? 

Bukan hebat, tidak, melainkan dia hanya terpagari oleh proses yang ada.

Dalam mengikuti runutan proses ini, seseorang akan melihat bahwa sejatinya dia mulai perlahan-lahan tidak mengandalkan kehebatan dirinya. 

Dia menyadari bahwa ternyata dirinya bukan orang yang selalu bisa “eling”, “dzikrullah” kepada Tuhan, akan tetapi dia adalah hanya seseorang yang terpagari oleh proses yang ada.

Dia menyadari sejatinya dia bukan orang yang hebat mengendalikan gejolak diri, tetapi hanya beruntung telah terpagari oleh proses yang ada (pernikahan, puasa).

Kebersediaan untuk mengakui kelemahan diri, dan kelegowoan untuk larut ke dalam tatanan proses yang ada, inilah yang pelan-pelan menghilangkan ke-aku-an. 

Seseorang tidak lagi melihat pada hebatnya diri, tetapi merasa bersyukur untuk telah masuk ke dalam tatanan. 

Sampai lambat laun yang disadarinya akan menjadi lebih halus lagi, bahwa peleburan diri ke dalam tatanan ini sebenarnya mirip dengan tunduknya alam kepada hukum-hukum sunnatullah. 

Dan ketundukan kepada proses yang sunnatullah ini sejatinya ibarat kita lebur dalam sebuah gerak yang dituliskan oleh Tuhan.

Para arifin mengatakan untuk bisa lillah (melakukan sesuatu untuk Allah), maka harus Billah (“bersama” Allah). [3]

Billah ini, bisa diawali dengan kebersediaan tunduk pada tatanan itu tadi, dan menyadari bahwa kita bukanlah hebat, melainkan semata beruntung untuk telah terpagari oleh tatanan, dan masuk dalam goresan gerak yang dituliskan Tuhan.

Pada ujungnya adalah bukan diri kita, melainkan kelegowoan untuk mengikuti tatanan. Pada akhirnya bukan pula tatanannya, melainkan gerak yang sudah dituliskan Tuhan. Yang paling utama adalah jangan lagi mengandalkan diri kita sendiri. [4]

—- 

Reference

[1] Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? beliau menjawab: Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.” (H.R. Tirmidzi 2441)

[2] إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S Ta-Ha : 14)

[3] seperti pada ungkapan La Hawla wa la quwwata illa BILLAH.

[4] , “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beberapa doa bagi orang yang tertimpa musibah; “ALLAHUMMA RAHMATAKA ARJUU FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THARFATA ‘AININ WA ASHLIH LII SYA`NII KULLAHU LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri (janganlah Engkau berpaling dariku) sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Tuhan selain Engkau).” (H.R. Abu Daud No. 5090)

CANGKIR KOSONG DAN SEMINAR PARENTING

WhatsApp Image 2016-08-20 at 11.09.29 AM

Saya teringat dengan sebuah cerita saat seseorang belajar Zen kepada gurunya. Orang tersebut membantah terus. Dan tak memberi kesempatan guru berbicara.
 
Sang guru, yang kebetulan saat itu sedang menghidangkan teh, lalu menuangkan teh ke dalam cangkir muridnya itu. Dituangkan oleh sang guru sampai air teh memenuhi cangkir dan luber keluar, terus dan terus.
 
“Cukup, guru,” kata sang murid, “engkau membuat tehnya tumpah.”
 
Lalu guru tersebut berkata, “Seperti teh ini, kau penuh dengan opinimu sendiri.”
 
Lalu, sang guru mengeluarkan sebuah ungkapan yang jadi peribahasa sangat populer dimana-mana, “if you don’t first empty your cup, how can you feel my cup of tea?”
 
Kalau tak bersedia menjadi cangkir yang menerima pengajaran, bagaimana ilmu hendak masuk?
 
Dan dalam rangka menjadi empty cup itulah saya hari ini menghadiri sebuah seminar parenting.
 
Yang mengojok-ojok saya untuk ikut adalah istri saya. Pasalnya anak saya sedang sakit, jadi tak mungkin kami berdua pergi, karena istri harus menunggui anak di rumah. Walhasil pagi-pagi saya sudah ditarik-tarik biar ikut seminar parenting, padahal niat hati mau leyeh-leyeh sampai siang, hahaha.
 
Tulisan ini, sebagai rangkuman dari seminar tadi. Yang diadakan di TK anak saya.
 
Sebagai itikad berbagi ilmu, maka saya rangkumkan saja supaya istri saya juga bisa baca.
 
Kalau saya cerita langsung ke istri, malah jadi geli sendiri dan pasti ga serius, maka lebih baik saya tuliskan dalam bentuk seperti ini. Supaya orang lain pun bisa mengambil manfaat dari rangkumannya.
 
======
Pembicara seminar barusan adalah Ibu Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd. Seorang akademisi, Dosen uhamka, Penulis buku, ibu dari 5 orang anak.
 
Materi Diawali dengan Ilustrasi doa untuk orang tua, yang kita semua sudah hapal luar kepala. Yang artinya kurang lebih Artinya: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
 
Digaris bawahi oleh beliau bahwa arti sebenarnya pada kalimat ” …sayangilah mereka seperti mereka “menyayangiku””, adalah kurang tepat. Karena kata yang digunakan adalah “RABBAYANI”. Terjemah yang lebih tepat adalah….”sayangilah mereka seperti mereka “mendidikku” diwaktu kecil”.
 
Dikatakan, bahwa semua orang tua pasti menyayangi anaknya, akan tetapi, bagaimana rasa sayang itu diterjemahkan dalam bentuk pendidikan itulah yang akan dinilai. Dan berarti orang tua diganjar karena bagaimana mereka menterjemahkan rasa sayang ke dalam proses pendidikan kesehariannya. Cara pandang yang menarik.
 
Karena konteksnya seminar tadi adalah untuk orang tua anak-anak TK, maka ditekankan bahwa yang paling utama adalah pembentukan karakter.
 
Dikutipkan dari imam Ali r.a. bahwa anak sampai usia 7 tahun adalah masanya bermain. Orang tua jangan membebani anak usia hingga 7 tahun dengan tuntutan bimbel dan segala hal yang terlalu bernuansa akademik. Sudah begitu banyak kasus terapi, dimana sang anak menjadi trauma karena kebanyakan dicekoki bimbel padahal usia masih kecil.
 
Sang ibu mengutip pengalaman beliau, dimana banyak menemui anak-anak yang membangkang pada orang tuanya di usia selepas 7 tahun. Karena sudah kebanyakan beban di usia sampai 7 tahun. Sudah bosan. Anak usia hingga 7 tahun, biasanya akan menuruti apa saja yang diperintahkan orang tua karena merasa sungkan. Begitu mereka merasa memiliki kemampuan, mereka akan melawan. Itu salah satu akibat buruk jika salah penekanan pada usia yang rentan itu.
 
Mengenai arah…. Pembicara mengatakan bahwa ada baiknya membiasakan mengenalkan anak dengan janji akan syurga. Dikutipkan bahwa “reward” syurga sudah seringkali dikutip dalam Qur’an. Dikatakan bahwa dalam beberapa approach, miniatur-miniatur sungai, dan kolam bahkan sampai dibuat di rumah untuk mengenalkan anak akan janji syurga.
 
Secara pribadi saya rasa approach ini bolehlah diterapkan pada anak kecil, karena mengajarkan kecintaan yang lepas dari dualitas syurga-neraka pada anak-anak akan terlalu abstrak. Maka sebagai awalan, mengenalkan reward ini saya rasa make sense-lah.
 
Satu approach yang menarik dan bisa ditiru saya rasa adalah anjuran untuk membiasakan anak lekat dengan nilai Qur’ani. Nilai Qur’ani disini berarti melampaui bacaan dan hapalan. Misalnya begini, dikatakan agar kita membiasakan mengakrabkan anak dengan tema-tema quran yang sesuai dengan keseharian.
Contohnya, hari hujan…. Wah… seperti apa ya kata Qur’an mengenai hujan? Ayo kita cari di tafsirnya…..jadi membiasakan anak untuk menganggap Qur’an adalah sepaket nilai-nilai dan solusi masalah. Bukan hanya buku hapalan. Dan untuk anak usia dibawah 7 tahun, lagi-lagi jangan dikenalkan dengan terlalu banyak ayat-ayat ancaman, tapi cari yang menarik, yang menjelaskan tentang reward, dst.
 
Biasakan anak terikat dengan Allah dalam keseharian, kenalkan bahwa Allah penguasa segala hal dalam keseharian. Misalnya, anak sakit, Allah-lah penyembuh, jangan kenalkan dulu pada obatnya, tapi kenalkan pada Allahnya. Meminta pada Allah akan kesembuhan, lalu menjalankan aktivitas perobatan sebagai wasilah.
 
Beberapa poin-poin yang disusunkan dan saya catat, kurang lebih sbb:
 
1) Orang tua harus menjadi teladan. “Children see, children do”. Anak lebih menyontoh apa yang mereka lihat, ketimbang apa yang mereka dengar. Nasihat berupa ucapan kalah ampuh dibanding apa yang mereka lihat dalam keseharian. Video berikut ini mewakili tema ini https://www.youtube.com/watch?v=5JrtpCM4yMM
 
2) Ilmu sebelum amal. Biasakan memberitahu “why” dari segala sesuatu kepada anak. Jangan sampai amal menjadi ritual semata, dan anak tak mengerti kenapa dia melakukan sesuatu.
 
3) pembiasaan. Ada sebuah hadits yang dikatakan sangat bermuatan unsur pendidikan. Anak usia 7 tahun mulai disuruh sholat. 10 tahun menolak sholat, boleh dipukul dengan syarat dan ketentuan. (Hadits ini berbicara mengenai pembiasaan, dengan asumsi, setelah sekian banyak repetisi di masa kecil, saat anak sudah besar mereka tidak kaget lagi)
 
4) Rambu-Rambu. Bantu keluarga kita dengan membuat rambu-rambu. (Aturan harus yang jelas). Rambu-rambu yang bukan gaya paranormal, kata beliau (yaitu orang diminta menebak mana yang boleh mana yang tidak boleh). Sebaiknya rambu-rambu atau aturan dibuat tertulis agar semua pihak mengerti.
 
Dicontohkan oleh beliau, Jangan sampai memarahi anak suka-suka. Misalnya saat lagi happy jarang marah, anak melakukan apa saja boleh, tapi kalau sedang tidak mood anak dimarahin.
 
5) cinta. Dikatakan setiap lahir seorang anak, setiap kali itu pula cinta baru tumbuh. Sehingga setiap anak mendapatkan cinta yang utuh. Beliau memberi ilustrasi, untuk menunjukkan rasa cinta pada anak, orang tua sampai ikut menjalankan kewajiban yang dibebankan pada anak. Misalnya anaknya sekolah di pesantren dan wajib selalu puasa senin-kamis, maka orang tua menyertai perjuangan si anak dengan ikut berpuasa senin-kamis, agar anak melihat bahwa orang tuanya ikut merasakan dan mencintai.
 
6) Dan ini yang paling pokok, minta kepada Allah. Pada akhirnya bukan manusia yang menentukan. Bangun malam hari, sujud, minta, agar diturunkan QAULAN TSAKILA. Beliau mengatakan Qaulan Tsakila adalah omongan yang berbobot dan wibawa.
 
Dipungkasi dengan hadits bahwa semua anak dalam keadaan muslim, tetapi orang tualah yang memberi corak anaknya. Corak itu dimaknai dalam dua sifat : suka membangkang, atau kebalikannya yaitu taklid buta.
 
Tugas orangtua dikatakan ringan-ringan sulit. Karena kita menjaga sesuatu yang pada dasarnya memang sudah baik. Tugas kita adalah menjaga, agar saat sang anak kembali, kita “mengembalikan” anak dalam keadaan bersih pula sebagaimana kita menerimanya.
 
 
TANYA JAWAB:
———
Pertanyaan: Seorang ibu memliki seorang anak kelas 2 SD yang terlalu banyak mengikuti kegiatan. Sepertinya terlalu banyak dalam pandangan sang Ibu. Tetapi sang anak mengikuti dan merasakan baik-baik saja. Apakah harus di-stop atau bagaimana?
 
Jawaban:
 
Kalau Rasulullah S.A.W, istirahatnya itu adalah beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
 
Jadi misalnya anak beralih dari kegiatan yang sangat akademik di sekolahnya, kemudian mengikuti kegiatan yang banyak aktivitas fisik dan variatif insyaallah tak ada masalah.
 
Malah hal semacam ini membuat anak terhindar dari hal-hal yang buruk. Karena waktunya dihabiskan dengan produktif. Tetapi harus variatif, panahan, renang, dst. Jangan malah begini, sekolah sudah nuansa akademik, kemudian seusai sekolah diikutkan pula bimbel yang juga akademik. Jadi intinya variatif dan sesuai passion. Dan melihat usia fisik anak.
 
Biasakan dari kecil tanya anak kita, maunya apa, seperti apa? Dialog.
 
Dilustrasikan, bahwa Rasulullah S.A.W. bertanya pada seorang anak yatim, “sukakah engkau jika Muhammad menjadi ayahmu?” padahal siapa yang tak suka mempunyai ayah angkat seorang Nabi? Bahkan untuk hal seperti itu, contoh komunikasi Rasulullah adalah bertanya tentang apakah anak suka atau tidak?
 
 
————–
 
Pertanyaan kedua mengenai rambu-rambu? Bagaimana memberikan rambu-rambu secara menarik tidak monoton dan tidak membuat anak takut?
 
Jawaban:
 
Harus ada kesepakatan. Pelajari perkembangan anak sesuai dengan islam.
 
Anak-anak usiah tujuh tahun pertama, approachnya harus bermain. Jangan banyak larangan, harus dengan sesuatu yang menyenangkan.
 
Betul bahwa dalam islam diajarkan LARANGAN, misalnya dalam ilustrasi dimana Lukman melarang anaknya untuk menyekutukan Allah. Tetapi Larangan itu ditujukan untuk mukallaf. Akil baligh, bukan anak usia perkembangan dibawah 7 tahun.
 
Anak usia dibawah 7 tahun Harus dengan bahasa yang menarik jangan berupa larangan. (Untuk anak kecil : selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Bolehkan saja. Tetapi saat sudah membahayakan harus ada larangan. Misalnya, mainin stop kontak listrik)
Pendekatan untuk anak usia 7 tahun berikutnya selepas itu : adalah adab, sudah mulai boleh memperkenalkan larangan.
 
Pendekatan untuk anak SMP : itu shohibu (menjadi sahabat), sudah bukan larangan lagi, karena porsi larangan harusnya sudah tertunai pada 7 tahun kedua. Anak usia SMP sudah akan resisten dan menolak diatur. kuncinya anak harus menjadi sahabat dan mau cerita pada orang tuanya.
 
======
 
Pertanyaan ketiga dari seorang Ibu, yang anaknya sering sekali tantrum sampai bahkan marah-marah dan muntah. Sudah dicoba memeluk, pengalihan, dll?
 
Anaknya seringkali saat tidur suka mengigau marah.
 
JAWABAN:
Biasanya anak tantrum karna tidak mampu mengenali emosinya sendiri. Ada anak yang tidak kenal mana yang namanya marah, mana kesal, mana sedih.
 
Atau bisa juga biasanya anak tantrum karna ingin diperhatikan. Bagi anak itu, Gapapa dimarahin, asal dapat perhatian ortunya.
 
Ada yang memang bawaan psikologi.
 
Jadi harus dikenali polanya terlebih dahulu. Karna apa dia tantrum?
 
Beberapa pola kenapa anak tantrum:
– Rules tidak jelas
– Rules tidak konsisten
– tidak kompak antara ibu dan ayahnya mengenai rules
– ada kasus salah pengasuhan.
(Diberikan ilustrasi dimana seorang anak hobi memukul kawannya di sekolah, setelah diusut, ternyata karena mbaknya –sang pengasuh di rumah- selalu tertawa-tawa saat dipukul oleh sang anak. Anak tersebut tumbuh menjadi seorang yang senang memukul, karena belum bisa mengenali emosi sakit, emosi marah.
 
Anak-anak harus diajari mengenali emosinya sendiri. Ini namanya marah. Atau ditanyakan kamu sedih ya? Kamu marah ya? Dst…..karena awalnya dari mengenali emosi, dan tahu bahwa orang lain pun memiliki bentuk emosi yang serupa, dan barulah setelah itu bisa mengendalikan emosi.)
 
======
Wis ah…. Segitu saja rangkumannya, semoga bermanfaat
 
 
 
 

MERAJUT KEBAIKAN-KEBAIKAN “KECIL”

13932813_10155651477872925_1799781887577256268_n

Rekan-rekan tentu kenal dengan Oprah Winfrey? Oprah Winfrey adalah salah seorang milyarder dunia yang namanya melambung setelah membawakan sebuah acara talkshow dengan judul namanya sendiri, “The Oprah Winfrey Show”.

Oprah Winfrey adalah seorang dengan kecenderungan Introvert.

Sebagaimana kita ketahui bersama, klasifikasi Introvert-Extrovert adalah klasifikasi secara psikologi berkaitan dengan bagaimana seseorang mengisi energi jiwanya. Orang Introvert cenderung suka berada di tempat yang tenang, tak terlalu suka dengan hiruk pikuk. Sedangkan orang Extrovert adalah orang yang akan merasa begitu refresh saat berada di keramaian dan larut dalam kebersamaan dengan khalayak. Sosialisasi dan sebagainya.

Pertanyaan menariknya adalah, mengapa Oprah Winfrey yang seorang Introvert itu ternyata bisa menjadi pembicara nan ulung?

Ternyata, Introvert tidak berarti seseorang itu tidak mampu berbicara. Akan tetapi dia hanya tak terlalu suka kebanyakan sosialisasi. Dia lebih senang menghabiskan waktu santai sendiri ketimbang rame-ramean.

Tercatat ada beberapa contoh orang Introvert yang begitu piawai berbicara di depan publik. Satu diantaranya adalah Oprah Winfrey yang kita bincang sejak tadi, dan satu contoh lainnya di Indonesia saya rasa Budayawan terkenal Prie G.S.

Dalam kecenderungan psikologi yang introvert semacam itu, ternyata frekuensi merenung ini membuat seseorang tanpa disadari berkecenderungan menjadi analis. Karena sebagian besar porsi kehidupannya dihabiskan dalam “jouney inward” menengok ke dalam diri. Jauh dari hingar bingar komunitas.

Barangkali itu mengapa Oprah begitu baik dalam berbicara di depan publik, dan Prie G.S tulisannya begitu ciamik.

Kecenderungan saya pun adalah seorang yang introvert. Tentu tak dalam artian yang megah semisal Oprah Winfrey atau Prie G.S. Tapi malah sebenarnya keseluruhan panjang tulisan ini adalah sharing tentang kelemahan saya sendiri dalam hal “berkebaikan”.

Begini…. Karena saya merasakan diri sebagai seorang dengan kecenderungan analis dan suka merenung, maka cara saya berkebaikan “dulunya” adalah dengan seringkali mengambil alih wacana dan menyetir pendapat di suatu komunitas.

Katakanlah saya berada dalam salah satu kepengurusan, maka saya seringkali cenderung berpartisipasi dengan menyetir kebijakan dan menjadi orang yang begitu vokal. Barangkali karena merasa analisa saya ada benarnya. Karena saya memang perenung yang analis.

Belakangan, saya menyadari bahwa runut-runutan berkebaikan yang tertuntunkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam adalah tidak begitu.

Urutannya adalah Hikmah, lalu baru kemudian nasihat yang baik (mauidzah hasanah), baru terakhir perdebatan.[1]

Dua yang terakhir, yaitu nasihat yang baik dan perdebatan, sudah sangat kita pahami. Tetapi yang pertama ini, yaitu “hikmah”, saya sendiri baru dapet “klik”-nya bener-bener; itu ya baru sekarang-sekarang ini.

Hikmah, dalam definisi sederhana yang saya rangkum dari pesanan para guru adalah “kebermanfaatan nyata yang seseorang terima dari kita”.

Rasulullah, memulai dakwahnya dengan hikmah. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, semua orang sudah mengenali beliau sebagai orang baik nan jujur. Bagaimana orang mengenalinya? Karena “hikmah” karena partisipasi nyata yang beliau berikan.

Tetapi saya dulu, tidak begitu. Kecenderungan seorang analis dia hidup dalam menara gading. Mengemukakan sebuah wacana yang besar lalu berharap orang untuk berubah karena wacana orang tersebut mestinya kalah kokoh bangunan pondasi logikanya dibanding wacana dia. Ini tidak bijak.

Karena kenyataannya, seseorang itu seringkali bukan berubah karena kalah wacana, tetapi orang lebih sering tertakluk karena dimenangkan hatinya.

Itulah mengapa, dalam beberapa kali kesempatan semenjak saya menikah dan berkeluarga, saya mencoba mengamati sekitaran saya, dan betapa saya menjadi malu karena menemukan begitu banyak orang-orang yang ternyata begitu dawam memraktekkan menebar hikmah, kebaikan-kebaikan kecil nan sederhana itu.

Misalnya orang-orang yang dalam kesibukan kantornya masih sempat untuk memikirkan momen 17 Agustusan. Sementara mereka sebenarnya sibuknya ya sama sibuk atau mungkin lebih sibuk dari saya. Tetapi menyediakan sebagian waktunya untuk memberikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu untuk orang-orang.

Mengurus tenda. Mengurus hadiah untuk anak-anak. Mengurus pernak-pernik acara lomba. Yang bagi saya sebenarnya begitu males saya lakukan, tetapi tak urung setelah pengertian tentang “hikmah” ini mendatangi saya, saya menjadi malu sendiri dan berupaya sebisa mungkin untuk menjadi orang yang meninggalkan jejak kebaikan sederhana yang serupa juga.

Dan ini tantangan besar buat saya. Melakukan hal yang kebermanfaatannya terasa untuk orang lain, meskipun hal itu adalah hal-hal kecil yang sederhana. Bukan sesuatu yang besar dan luar biasa, tetapi praktikal.

Saya pikir ada benarnya juga, bahwa sebaik-baik manusia, kata Rasulullah, adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.[2] Disinilah kita perlu untuk belajar merajut kebaikan-kebaikan kecil nan sederhana, tetapi terasa nyata untuk orang lain.

Dan jika hati sudah dimenangkan, tinggal menunggu gilirannya bagi bangungan logika kokoh kebaikan yang kita susunkan akan diterima dengan senang hati.


References

[1] “Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik, Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS An-Nahl : 125)

[2] “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

*) Foto ilustrasi saya jepret dari acara 17-an di komplek

 

ROLLER COASTER DAN HIDUP YANG FAKIR

Dipikir-pikir, memang hidup ini seperti naik roller coaster. Sudah ada rel-nya, kita tinggal duduk manis saja mengikuti alur. 
Akan tetapi namanya roller coaster ya jalannya tak pernah linear, melainkan malah seperti akrobat dan jungkir balik.

Lepas dari satu puntiran, masuk lagi ke puntiran berikutnya. Lepas naik, dibanting turun. Sehingga sepanjang jalur roller coaster tak lepas kita dari perasaan cemas dan sensasi ngeri-ngeri seru.

Sakjane, sejatinya, sensasi ngeri-ngeri seru itulah yang menjadi pengikat agar manusia selalu terpaut kepada Allah.

Ketaatan yang dikaitkan dengan konteks hidup.

Tanpa keterikatan dengan konteks hidup, maka manusia akan jadi malaikat.

Coba bayangkan saja seandainya tak ada konteks sama sekali, tetapi manusia selalu ibadah dan terpauuuut selalu pada Tuhan, maka manusia sudah masuk domain malaikat. 

Malaikat mana ada dualitas khauf dan roja’. Malaikat dalam domain taat mutlak tanpa perlu konteks hidup.

Saya teringat pernah membaca sebuah literatur yang menjabarkan bahwa para arifin adalah orang-orang yang rasa butuhnya pada Allah berkelanggengan. 

Langgeng disini dalam konteks boleh jadi beliau-beliau itu memang sudah tenggelam dalam penyaksian selalu, atau bisa juga dimaknai bahwa beliau-beliau selalu ditempatkan dalam hidup yang seperti roller coaster. Tak ada jenak untuk tidak berpaut pada Tuhan. 

Kembali saya teringat doa Rasulullah. Allahumma ahyini miskinan……dan seterusnya. 

Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin, berkumpul dan dibangkitkan dengan orang-orang miskin.

Miskin disini adalah majazi dari rasa butuh atau rasa fakir terhadap Allah. Rasa butuh yang berkelanggengan.

Jadi, dalam menjalani hidup yang roller coaster, kita justru harus menjadikan rasa butuh kepada Tuhan itu sebagai pendorong amaliah.

Jangan pernah biarkan rasa roller coaster dalam hidup urung menjelma sikap fakir kepada Tuhan. 

Zahirkan rasa butuh itu menjadi do’a. Zahirkan gejolak itu dalam bentuk amal dan gerak.

Amal dan gerak yang otomatis, dan do’a serta dzikir yang berkelanggengan mengiringi rasa butuh itulah yang kelak meningkatkan derajat kepahaman kita sejengkal demi sejengkal.

Miskin yang begitu itulah yang dimintakan Rasulullah pada Allah SWT.

Rasa fakir, yang sejatinya me-“ngaya”-kan

MENJADI INTELEKTUAL YANG “NGAWULO”

Salah satu hal yang dicari-cari semua orang, adalah jawaban atas pertanyaan: Apa posisi saya dalam konstelasi dunia ini?

Pertanyaan ini, sebenarnya sederhananya adalah “untuk apa sebenarnya saya ada di dunia ini?”

Tetapi, sebelum membahas “untuk apa saya ada disini”; tentu harus lebih dulu diketahui “darimana saya berasal?”

Jadi ada tiga serangkai pertanyaan paling filosofis : Dari mana saya berasal, untuk apa saya ada disini, dan kemana saya akan kembali?

Upaya menemukan jawaban dari tiga pertanyaan sangat mendasar itulah sejatinya yang disebut mencari jati diri.

Setiap orang mendefinisikan jawaban mereka sendiri, dan lalu menjalani hidup berdasarkan definisi itu. Tetapi saya ingin menggunakan sudut pandang yang sering dijelaskan para arifin, bahwa “kita datang dari-Nya, ada di dunia ini untuk (mengibadahi) mengenali-Nya, lalu kembali pada-Nya”.

Dalam konteks “untuk mengibadahi-Nya” inilah saya kepikiran menuliskan ini.

Bahwa konteks mengibadahi, dalam tafsir Ibnu Katsir umpamanya, adalah untuk mengenali-Nya, adalah untuk mengakui kehambaan. Dan pengenalan itu sejatinya tersusunkan dalam plot tugasan atau takdir kehidupan kita masing-masing.

Saya ceritakan kekeliruan saya dulu. Sempat terfikirkan oleh saya, bahwa konteks mengibadahi dan mengenali-Nya itu hanya akan tertunaikan jika saya meleburkan diri menjadi Doktor Ilmu syariat misalnya. Menuntut ilmu agama. Dan menghindarkan diri dari aktivitas sosial yang duniawi. Ini rupanya keliru sekali.

Padahal, alur hidup nyata-nyata menghantarkan saya pada dunia perminyakan. Dan itulah tugasan saya. Untuk menemukan makna “mengibadahi-Nya” tidak berarti saya harus berhenti dari tugasan saya di dunia perminyakan.

Bayangkan kita hidup seperti sebuah arloji, yang tiap komponen harus memainkan geraknya sendiri secara benar, agar arloji berjalan. Begitu juga manusia setiap orang ada porsinya sendiri dalam konstelasi jagad raya ini. Yang penting bukan bentuk tugasannya itu, tetapi menemukan mengenali-Nya lewat keseharian kita, dan menemukam sikap kehambaan atau dalam pemaknaan jawa yaitu sikap “ngawulo”, menjadi Abdu.

Coba tengok sebentar. Kodifikasi hadits sudah dimainkan dengan elok di masa imam Bukhari-Muslim dan lain-lain.

Penyusunan premis ushul fikih, sudah dimainkan apik di zaman empat imam.

Setiap Zaman, sudah disusunkan oleh Allah. Agar rodanya berjalan dan meninggalkan jejak yang memudahkan generasi berikutnya. Karena manusia ini seperti drama kolosal. Bukan sendiri-sendiri. Tetapi generasi ke generasi. Dan kita harus memandang diri kita masuk dalam gerak generasi ke generasi itu.

Bukan tidak usah belajar agama. Justru harus. Akan tetapi bagaimana agar dalam proses belajar itu kita mengerti konteks tugasan. Konstelasi diri kita ini dimana di panggung dunia ini? Dan kita belajar yang dapat memperkuat konteks tugasan kita itu, dan yang bisa membuat kita menggali makna lebih dalam dan tajam.

Mempelajari cara pandang esoteris islam untuk kemudian menemukan sikap “ngawulo” atau menghamba itu, dalam hidup. Jadi menemukan sikap penghambaan, ngawulo, ubudiyah-nya itu yang penting. Bukan keluar dari pekerjaan yang ada sekarang.

Sudah ada pos-posnya.

Yang pedagang ya dagang. Yang dokter ya dokter. Nyari minyak ya nyari minyak. Yang ulama ya ngajar. Tetapi dalam semua tugasan formal itu, jangan lepas dari sikap ngawulo. Menjadi hamba. Abdu. Dan membaca keseluruhan konteks hidup sebagai DIA menceritakan diri. Dan memaknai setiap benturan hidup sebagai bahan untuk merasa fakir dan butuh terhadap Tuhan. Nanti ketemu klik-nya dari sikap “ngawulo” itu. Saat semua-mua terasa sudah diluar kuasa kita.

Kalau ibadah formal dilakukan, namanya kita abid (ahli ibadah), tetapi dalemannya ibadah formal, ialah menemukan kelemahan dan kefakiran diri yang dipuncaki dengan sikap ngawulo, hamba, sikap ubudiyah. Ketemu dengan itu; maka kita disebut abdu (hamba-Nya).

Baru dengan itu akan terjawab, “untuk apa saya disini?”.

Untuk mengibadahi-Nya, dan untuk mengibadahi-Nya itu kata para ulama adalah juga untuk mengenali-Nya, dan untuk mengenali-Nya itu adalah juga untuk menghamba. Dan makna penghambaan itu akan bertemu dengan setiap orang yang melakoni tugasan hidupnya dengan fokus, dan membaca segala-gala sebagai cara DIA bercerita.

Itulah yang saya belakangan baru mengerti, makna dari ayat yang berulang-ulang dijelaskan para guru kita. Tentang Ulul Albab.

Intelektual. Yang menjalani kehidupan dalam perannya yang seolah duniawi, tetapi diguyuri hikmah dalam setiap kejadian yang dialaminya dalam hidupnya. Karena mengingatiNya. Karena menemukan sikap “ngawulo” itu.[1]


Reference:

[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)