IMAM GHAZALI DAN KEGAMANGAN YANG RENDAH HATI

Imam ghazali sempat gamang, pada puncak pencapaian keilmuannya sebagai seorang guru besar di Univeritas Nizhamiyah. Gamangnya beliau karena merasa belum memiliki keyakinan yang berada pada level tak tergoyahkan alias belum sampai HAQQUL YAQIN.

Masyhur kita ketahui bersama, bahwa keyakinan itu berderajat-derajat tingkatannya.

Tingkat pertama, kita meyakini sesuatu karena kita mendapatkan input informasi keilmuan mengenai sesuatu itu, maka kita menjadi yakin. Disebut ILMUL YAQIN.

Tingkat kedua, apabila kita sudah menyaksikan sendiri. Artinya, kita ada cross check antara fakta keilmuan dengan kenyataan faktual di lapangan, match, nyambung. Makin mantaplah yakin kita. Disebut AINUL YAQIN.

Pada puncaknya, kita memiliki keyakinan yang sangat teguh dan tak akan tergoyahkan lagi walau seluruh orang mengatakan hal yang berbeda. Keyakinan itu disebut level HAQQUL YAQIN.

Imam Ghazali sudah yakin. Tetapi kejujuran beliau menilai diri, menyebabkan beliau mengakui bahwa level yaqin yang beliau miliki barulah level yaqin tersebab inputan ilmu-ilmu dan informasi semata. Sebabnya itulah maka beliau berharap untuk mendapatkan level yaqin yang lebih lagi.

Kisahnya mirip, dengan Musa a.s yang ingin melihat Tuhan di puncak gunung sinai. Dan Ibrahim yang ingin melihat bagaimana Allah menghidupkan makhluq setelah matinya.

Ibrahim a.s akhirnya ditampakkan bagaimana Allah menghidupkan burung setelah matinya. Sedangkan Musa a.s pingsan karena gunung saja tak mampu menahan tajalli cahayaNya apatah lagi manusia. Jadi satunya terjawab secara harfiah, satunya tidak terjawab dalam tanda kutip. Tetapi hasilnya sama, yaitu keimanan keduanya naik menjadi semakin teguh.

Begitupun Imam Ghazali. Selepas kegamangannya akan pengenalannya kepada level keilmuannya sendiri itu, maka beliau memutuskan Uzlah dan memperbanyak amal ibadah sampai kemudian Allah membukakan banyak rahasia dan beliau menjadi semakin berilmu dan semakin yaqin.

Ceritanya berbagai-bagai. Tetapi ternyata intinya adalah kejujuran menilai diri, dan adab untuk secara legowo mengakui bahwa tingkat keyakinan kita masih sangat rendah. 

Kejujuran menilai diri itulah yang kemudian akan menjadi, dalam tanda kutip, sebab sehingga dinaikkan level keyakinan kita.

Kondisi hati kita yang kadang yaqin kadang tidak, kadang khusyu kadang tidak itu, dalam bahasa para arifin disebut HAL spiritual. Kondisi ruhani. Tetapi belum ajeg. Belum konstan dan kukuh.

Setelah konstan, maka sebuah kondisi ruhani itu akan menetap dan ajeg menjadi bagian utuh dari diri kita, disebut MAQOM alias level.

Pertamanya adalah ilmu (keyakinan yang ditunjang input data teoritis) keduanya adalah getar perasaan (HAL) tersebab ilmu yang dipahami itu. Kemudian getar perasaan atau gejolak batin itu mesti mewujud dalam perbuatan lahiriah alias AMAL.

Dari dalam (ilmu, dan hal) mewujud keluar dalam bentuk amal. 

Hanya dengan konsistensi beramal, yang dipagari adab bahwa “kita ini bukan siapa-siapa”-lah yang akan menaikkan kondisi keyakinan yang hilang timbul itu menjadi ajeg dan kukuh. Alias menjadi MAQOM kita atau bagian inheren dari diri kita.

هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْۤا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ؕ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ۙ 

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk MENAMBAH keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,

[QS. Al-Fath: Ayat 4]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s