MENIKMATI DERAJAT ILMUL YAQIN

Selama ini saya mengenal istilah ilmul yaqin, ainul yaqin, haqqul yaqin semata sebatas bahwa istilah tersebut menggambarkan derajat-derajat keyakinan.

Keyakinan karena mengetahui sesuatu berdasarkan ilmu dan teori (ilmul yaqin) adalah derajat yang paling bawah, di atasnya lagi adalah keyakinan karena menyaksikan sendiri sesuatu itu (ainul yaqin), di atasnya lagi adalah mengalami sendiri sehingga keyakinan mendarah daging dan tak lagi bisa digoyahkan (haqqul yaqin). Begitulah yang saya pahami.

Belakangan barulah saya mengerti lebih jauh, bahwa keyakinan akan bertambah (atau lebih tepatnya ditambah) melalui penyaksian atau pengalaman sendiri itu, adalah keyakinan yang disematkan sendiri oleh Tuhan, alias disusunkan plotnya sehingga kita bisa naik menjadi lebih yakin.

Allah membahasakannya dalam Al Quran dengan istilah “menambah keimanan di atas keimanan yang sudah ada” [1]

Jadi memang keimanan ditambahkan oleh Allah sendiri. 

Bagaimana keimanan ditambahkan? Ternyata itulah domain penyaksian (ainul yaqin) dan lama kelamaan keyakinan menjadi ajeg dan kukuh (haqqul yaqin).

Pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan jika belum mengalami penyaksian? 

Jawabannya adalah kita mesti melakukan porsi-porsi yang selayaknya dilakukan orang-orang yang berada pada tataran ilmul yaqin. Yaitu keyakinan yang disupport oleh data-data ilmu.

Carilah ilmu yang banyak, komprehensif, luas. Dari sumber yang otoritatif. Lewat kajian yang mendalam. Karena itulah tatacara keyakinan untuk tersemat pada tataran ilmul yaqin. Menjadi jelaslah sekarang kenapa Rasulullah SAW menyuruh untuk cari ilmu…cari ilmu….dan do’a yang diajarkan juga minta ditambahkan ilmu. Satu-satunya yang Rasulullah diperintahkan untuk meminta tambahan atasnya, adalah ilmu.

Dengan mensuplai diri dengan keilmuan yang luas, shahih, dan dalam, maka lambat laun HAL spiritual alias gejolak batin akan berubah. Begitulah skema keyakinan tersemat pada tataran ilmul yaqin.

Umpamanya….kita belajar tentang takdir. Apa iya apa engga ini takdir sudah tertulis? Bagaimana supaya yakin?

Caranya, pada tataran pertama ini adalah jangan sibuk memikirkan penyaksian, “duuh…kok saya belum pernah menyaksikan ya?”. Akan tetapi sibuklah melengkapi diri dengan ilmu yang shahih, komprehensif, dan dalam. Misalnya membaca literatur keagamaan, di dampingi dengan kajian-kajian fisika mutakhir, nanti akan terlihat bahwa oh… bener….semua ini sudah ada plotnya. Written.

Ilmu yang tersemat pada kita itulah, nanti lama-kelamaan akan memberi impact pada perasaan. Melihat kejadian hidup, menjadi bergetar, oh…. bener ini yang saya baca…. melihat lagi, bergetar….oh bener ini kajian para arifin dan keilmuan sains. Tanpa supplai data dan keilmuan, maka tak akan ada hati yang bergetar.

Boleh jadi ada, jika Allah menghendaki ada, tetapi kita berbicara pola yang umum. Yaitu supplya data yang komprehensif, dan sahih-lah yang membuat kita lambat laun berubah cara pandang dan merubah situasi batin.

lama-lama cara pandang itu mengejawantah menjadi penyaksian-penyaksian dan amal.

Barulah pada tataran itu, akan berlaku bahwa Allah menambahkan keimanan di atas keimanan yang sudah ada.

Tetapi, tugas kita jelas, seperti pesan Rasulullah. Cari ilmu….cari ilmu….iqra….iqra…. jangan mikirin duh kok ya saya belum ainul yaqin…..lakukan saja porsi kita pada tataran ilmul yaqin, dan konversilah segala keilmuan yang dipelajari dan dipahami menjadi amal shalih, nanti naik sendiri, nanti menyaksikan sendiri.
— 

[1] هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْۤا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ؕ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ۙ 

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,

[QS. Al-Fath: Ayat 4]

Iklan

2 thoughts on “MENIKMATI DERAJAT ILMUL YAQIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s