TAK PERLU KITA MENJADI PUSAT PESONA

Saya ingin ceritakan satu kekonyolan saya dulu. Sewaktu masuk SMA, kelas satu, saya ikut-ikut kepengurusan OSIS. Dan dalam satu event pemilihan pengurus, dimintalah setiap orang mengemukakan program-programnya. Saya datang ke forum itu dengan tanpa persiapan sama sekali, hanya dengan mengandalkan keberanian.

Hasilnya?? Hasilnya saya “dibantai” dengan fantastis. Saya ingat beberapa orang rekan saya sampai berkata, “sudahlah…sudahlah…..” kepada rekan-rekan yang lebih senior yang begitu seru membantai. Usai acara, salah seorang senior di sekolah mengatakan kepada saya, barusan itu adalah salah satu performa paling buruk.

Selang berapa waktu berlalu usai kejadian itu, setelah saya flashback, baru saya sadari bahwa hal yang saya lakukan itu –masuk gelanggang tanpa persiapa sama sekali-, adalah salah satu bentuk kesombongan. Saya mendapatkan pelajaran sangat berharga dari kekeliruan masa lalu itu.

Bertahun selepas itu, saya selalu mempersiapkan detail pada segala jenak presentasi apapun saja. Di kantor terutamanya. Belajar dari kekeliruan masa lalu, dan tidak hendak meneruskan jejak “kesombongan”, maka saya mempersiapkan dengan baik sebagai bentuk penghargaan pada kesempatan untuk berbicara.

Beberapa kali diapresiasi karena detail presentasi yang baik, kemudian ternyata cara pandang saya sedikit bergeser. Saya ingat, pelajaran lainnya masih dalam situasi kerja berapa tahun lalu. Dalam satu sesi presentasi dengan regional saya dibantai habis-habisan. Padahal saya sudah mempersiapkan detail presentasi dengan baik, dan menarik. Tetapi saya ditanya tentang sesuatu yang sama sekali di luar perkiraan saya. Walhasil, sudah baik persiapannya, sudah detail isi materinya, tetapi dibantai untuk hal yang diluar persiapan saya.

Saya merenungi apa yang keliru ya?

Oooh… ternyata itu dia. Bentuk kesombongan lainnya adalah rasa ingin diapresiasi kemampuan dirinya. Itulah bentuk kesombongan yang seringkali tidak akan terlihat tanpa “ditolong” lewat keadaan.

Rasa ingin diapreasiasi kemampuan diri kita, alias merasa “wujud”, exist, aktual, ini seperti pedang bermata dua. Dia bisa memberikan kebahagiaan, tapi pada satu sisi dia berwajah kesedihan.

Ada satu ilustrasi. Misalnya kita ada pada sebuah pameran lukisan nan indah. Lukisan-lukisan dipajang pada sebuah pigura mewah. Kita hanya jadi pengunjung saja disana. Lalu kita melihat sebuah lukisan yang begitu apik, tiba-tiba rusak karena tersenggol seseorang dan jatuh dengan keras. Menghancurkan pigura, dan merobek kanvasnya.

Sedihkah kita? Tidak, bukan….. kaget sih mungkin, tapi rasa sedih yang nelongso itu tidak ada. Karena lukisan dan pigura bukan milik kita. Tak kita “akui”.

Lain halnya jika pigura beserta lukisan itu kita beli, dan kemudian dipajang di rumah kita. Jika suatu ketika tersenggol anak kita dan jatuh hancur, maka kita kaget iya, tetapi disertai sepaket gejolak marah, sedih, nelongso dan rasa-rasa lainnya yang tidak enak.

Kenapa begitu? Padahal secara fisik badan kita sendiri tak apa-apa. Dan kasusnya sama juga dengan ilustrasi pertama, bendanya sama-sama jatuh dan hancur.

Jawabannya adalah karena “kemelekatan”. Saat suatu barang sudah kita “akui”, maka pengakuan itu menimbulkan rasa dualitas. Kebahagiaan, dan kesedihan. Dua-duanya semu, tetapi jarang teramati dan dua-duanya menjebak.

Sama juga dengan bentuk-bentuk kesombongan yang saya ceritakan di awal tadi. Segala bentuk pengakuan, baik kepada benda-benda fisik, maupun anasir abstrak akan pada gilirannya menciderai diri kita sendiri.

Tapi…. Saya merasa bahagia kok?? Tunggu dulu, jika kebahagiaan itu adalah karena pengakuan pada sesuatu, maka tunggulah sebentar, dia akan menampilkan sisi kesedihannya, yaitu saat sesuatu yang kita akui itu hilang atau tergores, yang luka tak cuma benda, tapi jiwa kita.

Dari sini saya baru mengerti sebuah approach dari para ulama arifin.  Saya coba ceritakan beberapa diantaranya.

Satu pendekatan yang kita sama-sama sudah pahami, adalah pendekatan tazkiyatun nafs. Yaitu terus menerus membersihkan jiwa. Flow-nya kurang lebih begini, sering-seringlah menjenguk ruang batin kita sendiri, lalu secara jujur coba dilihat, jika ada bentuk-bentuk kesombongan itu, maka lepaslah, istighfari, tinggalkan, bersihkan. Datang lagi, bersihkan lagi. Datang lagi bersihkan lagi. Begitu terus menerus.

Lama saya memraktekkan pendekatan pertama ini, sampai belakangan ini, saya menyadari ada approach kedua. Approach kedua ini adalah bukan menekankan perhatian kepada bentuk-bentuk penyakit hati semisal “kesombongan” dll, tapi menekankan pada kita agar melihat dari sudut pandang yang lebih besar.

Contohnya, misalnya kita presentasi di kantor. Presentasi kita itu tentu bukan presentasi personal, ianya pastilah mewakili sebuah kerja kantor. Dan dalam sebuah presentasi kerja kantor, puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kepala terwakili oleh presentasi itu. Jika setiap presentasi yang kita lakukan secara langsung atau tidak langsung akan berimbas pada kepentingan-kepentingan rizki orang lain, maka sesungguhnya presentasi itu bukan tentang kita. Bukan tentang kita menyampaikan sesuatu. Melainkan tentang Tuhan sedang bergerak menaburkan rizkinya…..dan kita, sedang andil dan dilibatkan dalam sebuah gerak “raksasa” itu.

Dengan memandang segala sesuatu sebagai “dalam genggamanNya”, lambat laun konteks diri menjadi hilang.

Ajaibnya, kerja-kerja kita sering kali terbantu, tanpa perlu diri kita yang menjadi pusat pesonanya. Disana kita akan melihat banyak orang-orang lain bermunculan, dan ternyata mereka juga adalah orang yang terlibat dalam gerak besar itu.

Saat konteks diri menjadi hilang, dan memandang gerak hidup sebagai bentuk pengaturanNya, maka lambat laun dualitas yang menipu itu –bahagia karena pengakuan, dan kesedihan karena hal yang diakui tercerabut dari kita- hilang sendiri.

Pokoknya belajar….belajar… lepaskan terus perjalanan hidup dari konteks diri kita sendiri. Iqro….Bismirabbika. Dengan nama Tuhan.

Segala sifat-sifat keburukan, kata seorang guru, melekat pada pengakuan diri. Jika konteks kehidupan kita sudah bukan “aku” melulu, maka sifat-sifat itu tak punya tempat untuk melekat.

Begitu, barangkali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s