MENJADI INTELEKTUAL YANG “NGAWULO”

Salah satu hal yang dicari-cari semua orang, adalah jawaban atas pertanyaan: Apa posisi saya dalam konstelasi dunia ini?

Pertanyaan ini, sebenarnya sederhananya adalah “untuk apa sebenarnya saya ada di dunia ini?”

Tetapi, sebelum membahas “untuk apa saya ada disini”; tentu harus lebih dulu diketahui “darimana saya berasal?”

Jadi ada tiga serangkai pertanyaan paling filosofis : Dari mana saya berasal, untuk apa saya ada disini, dan kemana saya akan kembali?

Upaya menemukan jawaban dari tiga pertanyaan sangat mendasar itulah sejatinya yang disebut mencari jati diri.

Setiap orang mendefinisikan jawaban mereka sendiri, dan lalu menjalani hidup berdasarkan definisi itu. Tetapi saya ingin menggunakan sudut pandang yang sering dijelaskan para arifin, bahwa “kita datang dari-Nya, ada di dunia ini untuk (mengibadahi) mengenali-Nya, lalu kembali pada-Nya”.

Dalam konteks “untuk mengibadahi-Nya” inilah saya kepikiran menuliskan ini.

Bahwa konteks mengibadahi, dalam tafsir Ibnu Katsir umpamanya, adalah untuk mengenali-Nya, adalah untuk mengakui kehambaan. Dan pengenalan itu sejatinya tersusunkan dalam plot tugasan atau takdir kehidupan kita masing-masing.

Saya ceritakan kekeliruan saya dulu. Sempat terfikirkan oleh saya, bahwa konteks mengibadahi dan mengenali-Nya itu hanya akan tertunaikan jika saya meleburkan diri menjadi Doktor Ilmu syariat misalnya. Menuntut ilmu agama. Dan menghindarkan diri dari aktivitas sosial yang duniawi. Ini rupanya keliru sekali.

Padahal, alur hidup nyata-nyata menghantarkan saya pada dunia perminyakan. Dan itulah tugasan saya. Untuk menemukan makna “mengibadahi-Nya” tidak berarti saya harus berhenti dari tugasan saya di dunia perminyakan.

Bayangkan kita hidup seperti sebuah arloji, yang tiap komponen harus memainkan geraknya sendiri secara benar, agar arloji berjalan. Begitu juga manusia setiap orang ada porsinya sendiri dalam konstelasi jagad raya ini. Yang penting bukan bentuk tugasannya itu, tetapi menemukan mengenali-Nya lewat keseharian kita, dan menemukam sikap kehambaan atau dalam pemaknaan jawa yaitu sikap “ngawulo”, menjadi Abdu.

Coba tengok sebentar. Kodifikasi hadits sudah dimainkan dengan elok di masa imam Bukhari-Muslim dan lain-lain.

Penyusunan premis ushul fikih, sudah dimainkan apik di zaman empat imam.

Setiap Zaman, sudah disusunkan oleh Allah. Agar rodanya berjalan dan meninggalkan jejak yang memudahkan generasi berikutnya. Karena manusia ini seperti drama kolosal. Bukan sendiri-sendiri. Tetapi generasi ke generasi. Dan kita harus memandang diri kita masuk dalam gerak generasi ke generasi itu.

Bukan tidak usah belajar agama. Justru harus. Akan tetapi bagaimana agar dalam proses belajar itu kita mengerti konteks tugasan. Konstelasi diri kita ini dimana di panggung dunia ini? Dan kita belajar yang dapat memperkuat konteks tugasan kita itu, dan yang bisa membuat kita menggali makna lebih dalam dan tajam.

Mempelajari cara pandang esoteris islam untuk kemudian menemukan sikap “ngawulo” atau menghamba itu, dalam hidup. Jadi menemukan sikap penghambaan, ngawulo, ubudiyah-nya itu yang penting. Bukan keluar dari pekerjaan yang ada sekarang.

Sudah ada pos-posnya.

Yang pedagang ya dagang. Yang dokter ya dokter. Nyari minyak ya nyari minyak. Yang ulama ya ngajar. Tetapi dalam semua tugasan formal itu, jangan lepas dari sikap ngawulo. Menjadi hamba. Abdu. Dan membaca keseluruhan konteks hidup sebagai DIA menceritakan diri. Dan memaknai setiap benturan hidup sebagai bahan untuk merasa fakir dan butuh terhadap Tuhan. Nanti ketemu klik-nya dari sikap “ngawulo” itu. Saat semua-mua terasa sudah diluar kuasa kita.

Kalau ibadah formal dilakukan, namanya kita abid (ahli ibadah), tetapi dalemannya ibadah formal, ialah menemukan kelemahan dan kefakiran diri yang dipuncaki dengan sikap ngawulo, hamba, sikap ubudiyah. Ketemu dengan itu; maka kita disebut abdu (hamba-Nya).

Baru dengan itu akan terjawab, “untuk apa saya disini?”.

Untuk mengibadahi-Nya, dan untuk mengibadahi-Nya itu kata para ulama adalah juga untuk mengenali-Nya, dan untuk mengenali-Nya itu adalah juga untuk menghamba. Dan makna penghambaan itu akan bertemu dengan setiap orang yang melakoni tugasan hidupnya dengan fokus, dan membaca segala-gala sebagai cara DIA bercerita.

Itulah yang saya belakangan baru mengerti, makna dari ayat yang berulang-ulang dijelaskan para guru kita. Tentang Ulul Albab.

Intelektual. Yang menjalani kehidupan dalam perannya yang seolah duniawi, tetapi diguyuri hikmah dalam setiap kejadian yang dialaminya dalam hidupnya. Karena mengingatiNya. Karena menemukan sikap “ngawulo” itu.[1]


Reference:

[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s