MERAJUT KEBAIKAN-KEBAIKAN “KECIL”

13932813_10155651477872925_1799781887577256268_n

Rekan-rekan tentu kenal dengan Oprah Winfrey? Oprah Winfrey adalah salah seorang milyarder dunia yang namanya melambung setelah membawakan sebuah acara talkshow dengan judul namanya sendiri, “The Oprah Winfrey Show”.

Oprah Winfrey adalah seorang dengan kecenderungan Introvert.

Sebagaimana kita ketahui bersama, klasifikasi Introvert-Extrovert adalah klasifikasi secara psikologi berkaitan dengan bagaimana seseorang mengisi energi jiwanya. Orang Introvert cenderung suka berada di tempat yang tenang, tak terlalu suka dengan hiruk pikuk. Sedangkan orang Extrovert adalah orang yang akan merasa begitu refresh saat berada di keramaian dan larut dalam kebersamaan dengan khalayak. Sosialisasi dan sebagainya.

Pertanyaan menariknya adalah, mengapa Oprah Winfrey yang seorang Introvert itu ternyata bisa menjadi pembicara nan ulung?

Ternyata, Introvert tidak berarti seseorang itu tidak mampu berbicara. Akan tetapi dia hanya tak terlalu suka kebanyakan sosialisasi. Dia lebih senang menghabiskan waktu santai sendiri ketimbang rame-ramean.

Tercatat ada beberapa contoh orang Introvert yang begitu piawai berbicara di depan publik. Satu diantaranya adalah Oprah Winfrey yang kita bincang sejak tadi, dan satu contoh lainnya di Indonesia saya rasa Budayawan terkenal Prie G.S.

Dalam kecenderungan psikologi yang introvert semacam itu, ternyata frekuensi merenung ini membuat seseorang tanpa disadari berkecenderungan menjadi analis. Karena sebagian besar porsi kehidupannya dihabiskan dalam “jouney inward” menengok ke dalam diri. Jauh dari hingar bingar komunitas.

Barangkali itu mengapa Oprah begitu baik dalam berbicara di depan publik, dan Prie G.S tulisannya begitu ciamik.

Kecenderungan saya pun adalah seorang yang introvert. Tentu tak dalam artian yang megah semisal Oprah Winfrey atau Prie G.S. Tapi malah sebenarnya keseluruhan panjang tulisan ini adalah sharing tentang kelemahan saya sendiri dalam hal “berkebaikan”.

Begini…. Karena saya merasakan diri sebagai seorang dengan kecenderungan analis dan suka merenung, maka cara saya berkebaikan “dulunya” adalah dengan seringkali mengambil alih wacana dan menyetir pendapat di suatu komunitas.

Katakanlah saya berada dalam salah satu kepengurusan, maka saya seringkali cenderung berpartisipasi dengan menyetir kebijakan dan menjadi orang yang begitu vokal. Barangkali karena merasa analisa saya ada benarnya. Karena saya memang perenung yang analis.

Belakangan, saya menyadari bahwa runut-runutan berkebaikan yang tertuntunkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam adalah tidak begitu.

Urutannya adalah Hikmah, lalu baru kemudian nasihat yang baik (mauidzah hasanah), baru terakhir perdebatan.[1]

Dua yang terakhir, yaitu nasihat yang baik dan perdebatan, sudah sangat kita pahami. Tetapi yang pertama ini, yaitu “hikmah”, saya sendiri baru dapet “klik”-nya bener-bener; itu ya baru sekarang-sekarang ini.

Hikmah, dalam definisi sederhana yang saya rangkum dari pesanan para guru adalah “kebermanfaatan nyata yang seseorang terima dari kita”.

Rasulullah, memulai dakwahnya dengan hikmah. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, semua orang sudah mengenali beliau sebagai orang baik nan jujur. Bagaimana orang mengenalinya? Karena “hikmah” karena partisipasi nyata yang beliau berikan.

Tetapi saya dulu, tidak begitu. Kecenderungan seorang analis dia hidup dalam menara gading. Mengemukakan sebuah wacana yang besar lalu berharap orang untuk berubah karena wacana orang tersebut mestinya kalah kokoh bangunan pondasi logikanya dibanding wacana dia. Ini tidak bijak.

Karena kenyataannya, seseorang itu seringkali bukan berubah karena kalah wacana, tetapi orang lebih sering tertakluk karena dimenangkan hatinya.

Itulah mengapa, dalam beberapa kali kesempatan semenjak saya menikah dan berkeluarga, saya mencoba mengamati sekitaran saya, dan betapa saya menjadi malu karena menemukan begitu banyak orang-orang yang ternyata begitu dawam memraktekkan menebar hikmah, kebaikan-kebaikan kecil nan sederhana itu.

Misalnya orang-orang yang dalam kesibukan kantornya masih sempat untuk memikirkan momen 17 Agustusan. Sementara mereka sebenarnya sibuknya ya sama sibuk atau mungkin lebih sibuk dari saya. Tetapi menyediakan sebagian waktunya untuk memberikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu untuk orang-orang.

Mengurus tenda. Mengurus hadiah untuk anak-anak. Mengurus pernak-pernik acara lomba. Yang bagi saya sebenarnya begitu males saya lakukan, tetapi tak urung setelah pengertian tentang “hikmah” ini mendatangi saya, saya menjadi malu sendiri dan berupaya sebisa mungkin untuk menjadi orang yang meninggalkan jejak kebaikan sederhana yang serupa juga.

Dan ini tantangan besar buat saya. Melakukan hal yang kebermanfaatannya terasa untuk orang lain, meskipun hal itu adalah hal-hal kecil yang sederhana. Bukan sesuatu yang besar dan luar biasa, tetapi praktikal.

Saya pikir ada benarnya juga, bahwa sebaik-baik manusia, kata Rasulullah, adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.[2] Disinilah kita perlu untuk belajar merajut kebaikan-kebaikan kecil nan sederhana, tetapi terasa nyata untuk orang lain.

Dan jika hati sudah dimenangkan, tinggal menunggu gilirannya bagi bangungan logika kokoh kebaikan yang kita susunkan akan diterima dengan senang hati.


References

[1] “Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik, Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS An-Nahl : 125)

[2] “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

*) Foto ilustrasi saya jepret dari acara 17-an di komplek

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s