CANGKIR KOSONG DAN SEMINAR PARENTING

WhatsApp Image 2016-08-20 at 11.09.29 AM

Saya teringat dengan sebuah cerita saat seseorang belajar Zen kepada gurunya. Orang tersebut membantah terus. Dan tak memberi kesempatan guru berbicara.
 
Sang guru, yang kebetulan saat itu sedang menghidangkan teh, lalu menuangkan teh ke dalam cangkir muridnya itu. Dituangkan oleh sang guru sampai air teh memenuhi cangkir dan luber keluar, terus dan terus.
 
“Cukup, guru,” kata sang murid, “engkau membuat tehnya tumpah.”
 
Lalu guru tersebut berkata, “Seperti teh ini, kau penuh dengan opinimu sendiri.”
 
Lalu, sang guru mengeluarkan sebuah ungkapan yang jadi peribahasa sangat populer dimana-mana, “if you don’t first empty your cup, how can you feel my cup of tea?”
 
Kalau tak bersedia menjadi cangkir yang menerima pengajaran, bagaimana ilmu hendak masuk?
 
Dan dalam rangka menjadi empty cup itulah saya hari ini menghadiri sebuah seminar parenting.
 
Yang mengojok-ojok saya untuk ikut adalah istri saya. Pasalnya anak saya sedang sakit, jadi tak mungkin kami berdua pergi, karena istri harus menunggui anak di rumah. Walhasil pagi-pagi saya sudah ditarik-tarik biar ikut seminar parenting, padahal niat hati mau leyeh-leyeh sampai siang, hahaha.
 
Tulisan ini, sebagai rangkuman dari seminar tadi. Yang diadakan di TK anak saya.
 
Sebagai itikad berbagi ilmu, maka saya rangkumkan saja supaya istri saya juga bisa baca.
 
Kalau saya cerita langsung ke istri, malah jadi geli sendiri dan pasti ga serius, maka lebih baik saya tuliskan dalam bentuk seperti ini. Supaya orang lain pun bisa mengambil manfaat dari rangkumannya.
 
======
Pembicara seminar barusan adalah Ibu Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd. Seorang akademisi, Dosen uhamka, Penulis buku, ibu dari 5 orang anak.
 
Materi Diawali dengan Ilustrasi doa untuk orang tua, yang kita semua sudah hapal luar kepala. Yang artinya kurang lebih Artinya: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
 
Digaris bawahi oleh beliau bahwa arti sebenarnya pada kalimat ” …sayangilah mereka seperti mereka “menyayangiku””, adalah kurang tepat. Karena kata yang digunakan adalah “RABBAYANI”. Terjemah yang lebih tepat adalah….”sayangilah mereka seperti mereka “mendidikku” diwaktu kecil”.
 
Dikatakan, bahwa semua orang tua pasti menyayangi anaknya, akan tetapi, bagaimana rasa sayang itu diterjemahkan dalam bentuk pendidikan itulah yang akan dinilai. Dan berarti orang tua diganjar karena bagaimana mereka menterjemahkan rasa sayang ke dalam proses pendidikan kesehariannya. Cara pandang yang menarik.
 
Karena konteksnya seminar tadi adalah untuk orang tua anak-anak TK, maka ditekankan bahwa yang paling utama adalah pembentukan karakter.
 
Dikutipkan dari imam Ali r.a. bahwa anak sampai usia 7 tahun adalah masanya bermain. Orang tua jangan membebani anak usia hingga 7 tahun dengan tuntutan bimbel dan segala hal yang terlalu bernuansa akademik. Sudah begitu banyak kasus terapi, dimana sang anak menjadi trauma karena kebanyakan dicekoki bimbel padahal usia masih kecil.
 
Sang ibu mengutip pengalaman beliau, dimana banyak menemui anak-anak yang membangkang pada orang tuanya di usia selepas 7 tahun. Karena sudah kebanyakan beban di usia sampai 7 tahun. Sudah bosan. Anak usia hingga 7 tahun, biasanya akan menuruti apa saja yang diperintahkan orang tua karena merasa sungkan. Begitu mereka merasa memiliki kemampuan, mereka akan melawan. Itu salah satu akibat buruk jika salah penekanan pada usia yang rentan itu.
 
Mengenai arah…. Pembicara mengatakan bahwa ada baiknya membiasakan mengenalkan anak dengan janji akan syurga. Dikutipkan bahwa “reward” syurga sudah seringkali dikutip dalam Qur’an. Dikatakan bahwa dalam beberapa approach, miniatur-miniatur sungai, dan kolam bahkan sampai dibuat di rumah untuk mengenalkan anak akan janji syurga.
 
Secara pribadi saya rasa approach ini bolehlah diterapkan pada anak kecil, karena mengajarkan kecintaan yang lepas dari dualitas syurga-neraka pada anak-anak akan terlalu abstrak. Maka sebagai awalan, mengenalkan reward ini saya rasa make sense-lah.
 
Satu approach yang menarik dan bisa ditiru saya rasa adalah anjuran untuk membiasakan anak lekat dengan nilai Qur’ani. Nilai Qur’ani disini berarti melampaui bacaan dan hapalan. Misalnya begini, dikatakan agar kita membiasakan mengakrabkan anak dengan tema-tema quran yang sesuai dengan keseharian.
Contohnya, hari hujan…. Wah… seperti apa ya kata Qur’an mengenai hujan? Ayo kita cari di tafsirnya…..jadi membiasakan anak untuk menganggap Qur’an adalah sepaket nilai-nilai dan solusi masalah. Bukan hanya buku hapalan. Dan untuk anak usia dibawah 7 tahun, lagi-lagi jangan dikenalkan dengan terlalu banyak ayat-ayat ancaman, tapi cari yang menarik, yang menjelaskan tentang reward, dst.
 
Biasakan anak terikat dengan Allah dalam keseharian, kenalkan bahwa Allah penguasa segala hal dalam keseharian. Misalnya, anak sakit, Allah-lah penyembuh, jangan kenalkan dulu pada obatnya, tapi kenalkan pada Allahnya. Meminta pada Allah akan kesembuhan, lalu menjalankan aktivitas perobatan sebagai wasilah.
 
Beberapa poin-poin yang disusunkan dan saya catat, kurang lebih sbb:
 
1) Orang tua harus menjadi teladan. “Children see, children do”. Anak lebih menyontoh apa yang mereka lihat, ketimbang apa yang mereka dengar. Nasihat berupa ucapan kalah ampuh dibanding apa yang mereka lihat dalam keseharian. Video berikut ini mewakili tema ini https://www.youtube.com/watch?v=5JrtpCM4yMM
 
2) Ilmu sebelum amal. Biasakan memberitahu “why” dari segala sesuatu kepada anak. Jangan sampai amal menjadi ritual semata, dan anak tak mengerti kenapa dia melakukan sesuatu.
 
3) pembiasaan. Ada sebuah hadits yang dikatakan sangat bermuatan unsur pendidikan. Anak usia 7 tahun mulai disuruh sholat. 10 tahun menolak sholat, boleh dipukul dengan syarat dan ketentuan. (Hadits ini berbicara mengenai pembiasaan, dengan asumsi, setelah sekian banyak repetisi di masa kecil, saat anak sudah besar mereka tidak kaget lagi)
 
4) Rambu-Rambu. Bantu keluarga kita dengan membuat rambu-rambu. (Aturan harus yang jelas). Rambu-rambu yang bukan gaya paranormal, kata beliau (yaitu orang diminta menebak mana yang boleh mana yang tidak boleh). Sebaiknya rambu-rambu atau aturan dibuat tertulis agar semua pihak mengerti.
 
Dicontohkan oleh beliau, Jangan sampai memarahi anak suka-suka. Misalnya saat lagi happy jarang marah, anak melakukan apa saja boleh, tapi kalau sedang tidak mood anak dimarahin.
 
5) cinta. Dikatakan setiap lahir seorang anak, setiap kali itu pula cinta baru tumbuh. Sehingga setiap anak mendapatkan cinta yang utuh. Beliau memberi ilustrasi, untuk menunjukkan rasa cinta pada anak, orang tua sampai ikut menjalankan kewajiban yang dibebankan pada anak. Misalnya anaknya sekolah di pesantren dan wajib selalu puasa senin-kamis, maka orang tua menyertai perjuangan si anak dengan ikut berpuasa senin-kamis, agar anak melihat bahwa orang tuanya ikut merasakan dan mencintai.
 
6) Dan ini yang paling pokok, minta kepada Allah. Pada akhirnya bukan manusia yang menentukan. Bangun malam hari, sujud, minta, agar diturunkan QAULAN TSAKILA. Beliau mengatakan Qaulan Tsakila adalah omongan yang berbobot dan wibawa.
 
Dipungkasi dengan hadits bahwa semua anak dalam keadaan muslim, tetapi orang tualah yang memberi corak anaknya. Corak itu dimaknai dalam dua sifat : suka membangkang, atau kebalikannya yaitu taklid buta.
 
Tugas orangtua dikatakan ringan-ringan sulit. Karena kita menjaga sesuatu yang pada dasarnya memang sudah baik. Tugas kita adalah menjaga, agar saat sang anak kembali, kita “mengembalikan” anak dalam keadaan bersih pula sebagaimana kita menerimanya.
 
 
TANYA JAWAB:
———
Pertanyaan: Seorang ibu memliki seorang anak kelas 2 SD yang terlalu banyak mengikuti kegiatan. Sepertinya terlalu banyak dalam pandangan sang Ibu. Tetapi sang anak mengikuti dan merasakan baik-baik saja. Apakah harus di-stop atau bagaimana?
 
Jawaban:
 
Kalau Rasulullah S.A.W, istirahatnya itu adalah beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
 
Jadi misalnya anak beralih dari kegiatan yang sangat akademik di sekolahnya, kemudian mengikuti kegiatan yang banyak aktivitas fisik dan variatif insyaallah tak ada masalah.
 
Malah hal semacam ini membuat anak terhindar dari hal-hal yang buruk. Karena waktunya dihabiskan dengan produktif. Tetapi harus variatif, panahan, renang, dst. Jangan malah begini, sekolah sudah nuansa akademik, kemudian seusai sekolah diikutkan pula bimbel yang juga akademik. Jadi intinya variatif dan sesuai passion. Dan melihat usia fisik anak.
 
Biasakan dari kecil tanya anak kita, maunya apa, seperti apa? Dialog.
 
Dilustrasikan, bahwa Rasulullah S.A.W. bertanya pada seorang anak yatim, “sukakah engkau jika Muhammad menjadi ayahmu?” padahal siapa yang tak suka mempunyai ayah angkat seorang Nabi? Bahkan untuk hal seperti itu, contoh komunikasi Rasulullah adalah bertanya tentang apakah anak suka atau tidak?
 
 
————–
 
Pertanyaan kedua mengenai rambu-rambu? Bagaimana memberikan rambu-rambu secara menarik tidak monoton dan tidak membuat anak takut?
 
Jawaban:
 
Harus ada kesepakatan. Pelajari perkembangan anak sesuai dengan islam.
 
Anak-anak usiah tujuh tahun pertama, approachnya harus bermain. Jangan banyak larangan, harus dengan sesuatu yang menyenangkan.
 
Betul bahwa dalam islam diajarkan LARANGAN, misalnya dalam ilustrasi dimana Lukman melarang anaknya untuk menyekutukan Allah. Tetapi Larangan itu ditujukan untuk mukallaf. Akil baligh, bukan anak usia perkembangan dibawah 7 tahun.
 
Anak usia dibawah 7 tahun Harus dengan bahasa yang menarik jangan berupa larangan. (Untuk anak kecil : selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Bolehkan saja. Tetapi saat sudah membahayakan harus ada larangan. Misalnya, mainin stop kontak listrik)
Pendekatan untuk anak usia 7 tahun berikutnya selepas itu : adalah adab, sudah mulai boleh memperkenalkan larangan.
 
Pendekatan untuk anak SMP : itu shohibu (menjadi sahabat), sudah bukan larangan lagi, karena porsi larangan harusnya sudah tertunai pada 7 tahun kedua. Anak usia SMP sudah akan resisten dan menolak diatur. kuncinya anak harus menjadi sahabat dan mau cerita pada orang tuanya.
 
======
 
Pertanyaan ketiga dari seorang Ibu, yang anaknya sering sekali tantrum sampai bahkan marah-marah dan muntah. Sudah dicoba memeluk, pengalihan, dll?
 
Anaknya seringkali saat tidur suka mengigau marah.
 
JAWABAN:
Biasanya anak tantrum karna tidak mampu mengenali emosinya sendiri. Ada anak yang tidak kenal mana yang namanya marah, mana kesal, mana sedih.
 
Atau bisa juga biasanya anak tantrum karna ingin diperhatikan. Bagi anak itu, Gapapa dimarahin, asal dapat perhatian ortunya.
 
Ada yang memang bawaan psikologi.
 
Jadi harus dikenali polanya terlebih dahulu. Karna apa dia tantrum?
 
Beberapa pola kenapa anak tantrum:
– Rules tidak jelas
– Rules tidak konsisten
– tidak kompak antara ibu dan ayahnya mengenai rules
– ada kasus salah pengasuhan.
(Diberikan ilustrasi dimana seorang anak hobi memukul kawannya di sekolah, setelah diusut, ternyata karena mbaknya –sang pengasuh di rumah- selalu tertawa-tawa saat dipukul oleh sang anak. Anak tersebut tumbuh menjadi seorang yang senang memukul, karena belum bisa mengenali emosi sakit, emosi marah.
 
Anak-anak harus diajari mengenali emosinya sendiri. Ini namanya marah. Atau ditanyakan kamu sedih ya? Kamu marah ya? Dst…..karena awalnya dari mengenali emosi, dan tahu bahwa orang lain pun memiliki bentuk emosi yang serupa, dan barulah setelah itu bisa mengendalikan emosi.)
 
======
Wis ah…. Segitu saja rangkumannya, semoga bermanfaat
 
 
 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s