HAMBURGER DAN SPIRITUALITAS MUTU 

Bagaimana cara orang memastikan bahwa perusahaan sebesar MC Donalds memiliki pelayanan yang sama kualitasnya di seantero dunia? 

Seorang pelanggan jika membeli hamburger di MC Donalds Singapura, dan seseorang yang membeli hamburger di MC Donalds Afrika akan mendapatkan sensasi pelayanan yang kurang lebih sama. 

Dari cara memesan, seting ruangan, seragam pelayan, kata sambutan saat pertama masuk restoran, dan tipe menu, sama semua.

Barangkali ada variasi sedikit disesuaikan dengan kondisi, tetapi tetap tidak akan mengurangi kesan bahwa saya sedang makan di restoran yang sudah familiar, di Indonesia, Singapura, Afrika, sama saja pelayanannya, standar yang terjaga.

Bagaimana mereka menjaga dan memastikan keseragaman pelayanan seperti itu?

Jawabannya adalah sebuah “sistem”. Sebuah proses yang baku. Sebuah sistem manajemen mutu, quality management system.

Kalau rekan-rekan familiar dengan istilah ISO 9001, yang sering terpampang dimana-mana, nah itulah sebuah sistem manajemen mutu. 

Orang rela membayar mahal agar perusahaannya tersertifikasi dalam sebuah sistem manajemen mutu semisal itu.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, kalau kita tilik sebenarnya hampir serupa.

Seseorang tidak dituntut kepada hasil akhir, tetapi lebih dituntut pada keseuaiannya terhadap proses. (process oriented).

Sikap keber-agama-an kita sebenarnya “process oriented”, berorientasi proses.

Sebuah ilustrasi sederhana, yaitu ketika seorang sahabat Rasulullah hendak meninggalkan untanya tanpa terikat, karena dia sudah bertawakal kepada Allah…..eh malah ditegur oleh Rasulullah. Jangan begitu, ikat dulu untamu, baru tawakal. [1]

Perhatikan disana, orientasi prosesnya. Urutan yang lazim adalah “mengikat unta – berserah”.

Seandainya begini……..ada seseorang yang tidak melakukan proses itu, dia tidak mengikat unta, tetapi malah dia tinggalkan untanya begitu saja, eh….tetapi hebatnya untanya tidak hilang tuh. Apakah orang itu dikatakan benar, karena hasilnya adalah untanya tidak hilang? mungkin orang itu doanya ces pleng??

Tidak begitu. Sejatinya orang itu sudah menciderai proses. Orang tersebut tidak mengikuti tatanan. 

Karena tatanan yang diajarkan adalah mengikat-lalu berserah. Maka hasil akhir bukan yang utama, yang utama adalah kebersediaan untuk lebur ke dalam tatanan.

Kembali pada ilustrasi Mc Donalds. Kita sekarang ketahui bahwa Mc Donalds memiliki sebuah sistem manajemen mutu (dan begitu juga hampir seluruh perusahaan industri besar di dunia). Katakanlah Mc Donalds memiliki sebuah prosedur baku, sebuah burger harus dimasak sekian lama, suhu sekian derajat, diberi mayonaise sekian banyak, diberi sambel ini itu, sampai akhirnya tersaji. 

Jika ada seorang karyawan tidak melakukan proses itu, tetapi dia mengatakan “ah…tanpa dipanggang sebegitu panas dan tanpa bumbu begitu saya juga bisa buat Burger lebih enak bahkan”. Apakah sang karyawan mendapat medali?

Tidak…..karyawan itu malah dinilai bermasalah, karena apa? Menciderai proses itu tadi. 

Prosesnya bukan begitu. Prosesnya sudah jelas, lakukan A-B-C-D sampai selesai. Dan segala inovasi boleh dilakukan tetapi harus dalam pakem yang sudah ada. 

Begitulah kurang lebih. Kebersediaan untuk larut ke dalam tatanan. Berorientasi kepada proses, alih-alih kepada hasil, begitulah spiritualitas islam sejauh yang saya pahami.

Dengan kebersediaan untuk mengikuti proses yang ada, maka seseorang akan terhindar dari mengandalkan dirinya sendiri. Karena dia tunduk dan larut ke dalam proses.

Dirikanlah shalat untuk mengingatiKu [2] tersebut dalam sebuah ayat. Apakah jika seseorang bisa mengingati Allah selalu. langsung tune-in 24 jam. kemudian berarti tak perlu sholat?

Tentu tidak, karena orientasinya proses. Jalankan flow-nya. Ikuti runutan prosesnya. Tunduk kepada tatanan.

Sebuah contoh lagi yang saya juga masih punya PR besar untuk belajar mendawamkannya, yaitu jika seseorang memiliki masalah besar, beban yang berat, maka flow yang diajarkan adalah berdiri di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat.

Seandainya seseorang melaksanakan flow tersebut, dia berdiri sepertiga malam dan sholat dalam menghadapi beratnya problema, apakah berarti dia hebat? 

Bukan hebat, tidak, melainkan dia hanya terpagari oleh proses yang ada.

Dalam mengikuti runutan proses ini, seseorang akan melihat bahwa sejatinya dia mulai perlahan-lahan tidak mengandalkan kehebatan dirinya. 

Dia menyadari bahwa ternyata dirinya bukan orang yang selalu bisa “eling”, “dzikrullah” kepada Tuhan, akan tetapi dia adalah hanya seseorang yang terpagari oleh proses yang ada.

Dia menyadari sejatinya dia bukan orang yang hebat mengendalikan gejolak diri, tetapi hanya beruntung telah terpagari oleh proses yang ada (pernikahan, puasa).

Kebersediaan untuk mengakui kelemahan diri, dan kelegowoan untuk larut ke dalam tatanan proses yang ada, inilah yang pelan-pelan menghilangkan ke-aku-an. 

Seseorang tidak lagi melihat pada hebatnya diri, tetapi merasa bersyukur untuk telah masuk ke dalam tatanan. 

Sampai lambat laun yang disadarinya akan menjadi lebih halus lagi, bahwa peleburan diri ke dalam tatanan ini sebenarnya mirip dengan tunduknya alam kepada hukum-hukum sunnatullah. 

Dan ketundukan kepada proses yang sunnatullah ini sejatinya ibarat kita lebur dalam sebuah gerak yang dituliskan oleh Tuhan.

Para arifin mengatakan untuk bisa lillah (melakukan sesuatu untuk Allah), maka harus Billah (“bersama” Allah). [3]

Billah ini, bisa diawali dengan kebersediaan tunduk pada tatanan itu tadi, dan menyadari bahwa kita bukanlah hebat, melainkan semata beruntung untuk telah terpagari oleh tatanan, dan masuk dalam goresan gerak yang dituliskan Tuhan.

Pada ujungnya adalah bukan diri kita, melainkan kelegowoan untuk mengikuti tatanan. Pada akhirnya bukan pula tatanannya, melainkan gerak yang sudah dituliskan Tuhan. Yang paling utama adalah jangan lagi mengandalkan diri kita sendiri. [4]

—- 

Reference

[1] Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? beliau menjawab: Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.” (H.R. Tirmidzi 2441)

[2] إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S Ta-Ha : 14)

[3] seperti pada ungkapan La Hawla wa la quwwata illa BILLAH.

[4] , “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beberapa doa bagi orang yang tertimpa musibah; “ALLAHUMMA RAHMATAKA ARJUU FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THARFATA ‘AININ WA ASHLIH LII SYA`NII KULLAHU LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri (janganlah Engkau berpaling dariku) sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Tuhan selain Engkau).” (H.R. Abu Daud No. 5090)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s