YANG LEBIH PENTING MELEBIHI BENDA DAN RASA

Saya mengenal seorang rekan yang sekarang menjabat menjadi pimpinan sebuah “plant” di kantor saya, saya mengamati perjuangan yang telah dilakoni rekan saya ini dari seorang yang jabatannya di bawah sampai akhirnya merangkak naik dan mencapai posisinya sekarang. 

Sebuah perjalanan yang luar biasa, mengingat background pendidikannya yang sama sekali tak nyambung dengan jabatannya sekarang, dan mengingat bagaimana dia dulu sama sekali “bukan siapa-siapa”.

Sepanjang perjalanan dalam mobil kami bertukar cerita tentang naik turunnya perjuangan. Dan sampai pada satu sesi dimana dia bercerita bahwa dalam rasa letih dan rasa capek dibalut pekerjaan, kadang-kadang yang beliau lakukan sore-sore adalah membuka web dan melihat struktur organisasi perusahaan, lalu membaca biografi orang-orang besar disana, lalu menyerap semangat dari etos kerja orang-orang besar itu. Bahwa kita pun bisa seperti mereka.

Beliau saya sadari bukan mengejar harta. Tetapi pencapaian yang lain yang lebih halus.

Mau tak mau saya menimpali obrolan itu dengan kembali mengutip teori yang sungguh klasik mengenai piramida kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. 

Manusia bergerak melakukan sesuatu mestilah karena dorongan kebutuhan. Dan kebutuhan itu mestilah bergerak dari sesuatu yang bersifat sangat konkret pada awalannya, menuju sesuatu yang lebih abstrak dan berupa nilai-nilai yang maknawi pada akhirannya.

Awalnya manusia bergerak mencari pekerjaan karena didorong oleh kebutuhan yang sangat fisikal. Karena butuh makan untuk penunjang hidup. Physical needs.

Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, maka manusia bergerak lagi untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman. Di atasnya lagi adalah kebutuhan akan rasa disayangi, rasa cinta. Di atasnya lagi adalah kebutuhan untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian tertentu, untuk diakui di dalam kalangan. Lalu di atasnya lagi adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Itulah menurut Maslow urutannya. Dari konkret, ke abstrak. Dari kebutuhan kebendaan, menuju nilai-nilai.

Sejatinya, seiring perkembangan kehidupan manusia, manusia akan secara alamiah menyadari bahwa yang dia perlukan adalah bukannya kebutuhan fisik –semata-, melainkan adalah pemenuhan terhadap nilai-nilai yang abstrak itu.

Seseorang bekerja banting tulang, tetapi dia menyadari bahwa sebenarnya bahwa inti dari bekerjanya adalah bukan pada pekerjaannya itu, tetapi kepada nilai-nilai yang lebih halus. 

Apakah dia bekerja karena ingin mendapatkan perasaan aman. Ataukah karena ingin diakui di tengah-tengah khalayak.

Selama seseorang bergerak di dalam hidupnya, dan lalu kemudian pelan-pelan menyadari bahwa…”oh…iya ya, intinya bukan benda fisiknya ini, melainkan nilai-nilai yang lebih halus”, maka seseorang pelan-pelan akan terhindar dari kecintaan yang berlebihan pada hal-hal yang fisikal.

Misalnya, kalau intinya sebenarnya human needs itu adalah rasa untuk diakui dan tenang dalam komunitas, maka sebenarnya tak perlu kita saling sikut dalam urusan pekerjaan. 

Karena toh kita bekerja sebenarnya dalam lubuk hati kita bukan lagi urusan pangkatnya itu, tetapi sebenarnya urusan “rasa hati” yang ingin diterima dalam kelompok.

Misal lagi, kita bekerja kemudian membeli mobil. Kecintaan kita tidak secara penuh kita curahkan pada mobil, tetapi kita sadar bahwa jauh dalam lubuk hati yang paling tersembunyi, kita sebenarnya bekerja berpayah-payah dalam upaya untuk membahagiakan orang-orang terdekat. Rasa ingin berguna bagi keluarga. 

Jadi….mobil menjadi kalah penting dibanding nilai-nilai.

Bukan lagi harta atau makanan dan hal fisikal lainnya, tetapi “rasa bahagia”. Yang melintasi hal-hal fisik. Di dalam, bukan di luar.

Akan tetapi, ada sebagian kalangan yang mendewasa usianya, tetapi gagal mendewasa dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan yang lebih halus tadi. Mereka melulu melihat kepada benda-benda yang fisikal. Tetapi lupa bahwa benda-benda fisikal itu sejatinya kita cari dalam rangka menggenapi sesuatu yang lebih abstrak yang halus, yaitu segenap rasa yang ada dalam hati kita sendiri.

Inilah yang saya kira, sesuatu yang sering diungkapkan para arifin, bahwa orang susah-susah mencari bahagia, padahal rasa bahagia itu sudah ada di dalam hatinya sendiri. 

Padahal bukan benda-benda fisikal itu yang membuat manusia bergerak, melainkan rasa-rasa di dalam hati yang mencoba kita temukan definisinya dengan mencari puzzle-nya di dunia fisik.

Maslow sudah melakukan perjalanan panjang –kata orang jawa- niteni, alias mencermati dirinya sendiri. Tetapi rupanya menurut para arifin, perjalanan Maslow belum sampai pada ujungnya.

Maslow sudah menemukan bahwa dari yang pertama adalah kebutuhan fisikal, lalu berubah menjadi kebutuhan lebih halus berupa nilai-nilai rasa di dalam hati, dan dipuncaki dengan aktualisasi diri. Tetapi para arifin mengatakan sejatinya kebutuhan manusia itu dipuncaki dengan “hilangnya diri”. Transenden.

Alurnya sudah benar, dari yang pertama begitu fisikal, konkret, mengejar benda-benda. Lalu menjadi lebih dewasa dalam kesadaran bahwa yang penting bukan benda fisiknya, ternyata yang penting adalah rasa di dalam hati. Maka orang mengejar sesuatu yang sebenarnya ada dalam hatinya, dan dia bisa manage atau atur sendiri.

Puncak dari semua itu, adalah kesadaran untuk menjadi saksi sepanjang perjalanan. Bahwa hal fisikal, dan nilai-nilai halus yang menyertai dunia fisikal ini, hanya cerita dari Sang Empunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s