FOTOGRAFI DAN GERAK KOLOSAL

PHOTO_20160830_081029-01Saya senang mengamati foto-foto yang menarik dari para ahli fotografi. Meskipun saya sendiri kemampuannya sebatas foto HP, hehehe. Satu pelajaran yang berkesan dari para ahli fotografi adalah bagaimana membuat sebuah foto menjadi menarik bisa dengan merubah sudut pandang, atau biasa disebut “Angle”.

Dengan sudut pandang yang tepat, misalnya bird eye view, kita bisa menikmati potongan foto seolah kita memantaunya dari udara. Atau dengan sudut pandang yang tepat, sebuah foto bisa dinikmati seolah-olah terlihat dari mata seekor semut. Karena foto diambil dari bawah.

Bagi saya, hal ini adalah sebuah pelajaran. Dalam hidup sehari-hari, keseharian kehidupannya sama, rutinitas yang sama, bahkan tempat yang sama pula; jika dilihat dari sudut pandang yang tidak biasa akan menjadi indah.

Para spiritualis, misalnya kita tengok dalam banyak approach dunia timur, sering mengajarkan agar bagaimana seseorang itu harus berupaya melepaskan diri dari jebakan “kedirian” yang sempit. Sudut pandang kita selama ini melulu mengenai diri kita sendiri.

Sudut pandang yang biasa kita pakai itu, adalah mencakup diri kita secara jasadiah. Dan juga tentu kita melihat dalam sudut pandang mentalitas emosi kita. Kacamata ego.

Apa itu ego? Ego adalah kumpulan pengalaman hidup kita, yang kita jadikan kacamata dalam memandang dunia. Keseluruhan jenak kehidupan kita sebenarnya selalu kita snapshot, kita “foto”, kita rekam dalam kacamata ego itu.

Maka menjadi sangat penting untuk berlatih melepas diri dari sudut pandang yang terlalu sempit. Agar hidup menjadi terlihat sebagaimana adanya. Karena tanpa begitu maka hidup akan terpandang dalam frame ego kita terus. Lain kenyataan, lain pula yang dipahami.

Sebenarnya, kalau kita tengok keseharian kita, setiap kita sudah ada kecenderungan untuk berlepas dari sudut pandang kedirian yang sempit itu. Misalnya, kita berbuat kebaikan, kita bekerja banting-tulang peras keringat, konon katanya untuk keluarga kita. Katakanlah anak dan istri.

Kenapa untuk anak dan istri? Setelah saya renungi, ternyata karena kita hendak meluaskan aspek kedirian itu. Barangkali, calling,  atau naluri setiap orang ingin berlepas dari pusaran diri sendiri. Meluas menjadi pusaran orang-orang sekitar. Angle itu tadi. Sudut pandang itu tadi. Bahwa hal ini sudah bukan perkara kita, tapi perkara kita, dan anak, dan istri. Sudut pandang jadi meluas. Dengan meluas, maka arti-arti dan nilai-nilai makna biasanya timbul.

Itu satu contoh kecil. Tetapi para arifin mengajarkan kita untuk meluaskan cara pandang dalam kerangka yang lebih filosofis. Tak hanya meluas sebatas kita dan keluarga kita saja, tetapi bahkan lebih mendalam, yaitu merubah sudut pandang bahwa kita – yang kita sebut sebagai “saya”- ini sebenarnya “tidak ada”, dalam tanda kutip.

Maksudnya begini. Karena kita ini kan selalu melihat dalam kacamata ego. Dalam kacamata ego itulah letaknya dimana terjadi individuasi. Terjadi sebuah identitas “saya”, “kamu”, “dia”.

Karena setiap kita, memandang hidup dalam kacamata yang dibatasi oleh pengalaman hidup. Tukang es cendol melihat hujan sebagai musibah, karena dia memandang dalam kacamata ego identitas sebagai seorang tukang es. Tukang ojek payung atau petani memandang hujan sebagai berkah karena memandang dalam kacamata identitas sebagai petani atau tukang ojek payung.

Kalau kita perlahan-lahan belajar melepaskan ego itu, melepaskan kacamata pengalaman hidup dan kedirian kita, maka lambat laun akan terasa bahwa sebenarnya hanya ada sang penyaksi saja di dalam “sini”. Sang penyaksi yang berbaju fisikal (yaitu jasad), dan berbaju mental (yaitu pengalaman hidup alias ego).

Dari sudut pandang yang netral inilah ternyata individuasi istilah “saya”, “kamu”, “dia”, menjadi semakin kurang relevan. Karena sejatinya semuanya satu. Semuanya adalah makhluq ciptaan-Nya semata. Yang kemudian berbaju atau berselindung dibalik pengalaman hidup yang berbeda-beda. Menjadi individuasi.

Dalam pemahaman seperti itu, ternyata kemudian timbul keinginan untuk berbuat baik pada orang lain. Karena akhirnya menyadari bahwa baik saya, anda, kita, mereka, sebenarnya satu dan sama, semua hanyalah ciptaan-Nya yang semuanya beragam-ragam dalam rangka mengenali Sang Pembuat. The Creator. Allah SWT.

Pada sudut pandang seperti inilah, baru menjadi semakin jelas pesan agar kita berbuat baik pada orang lain, sejatinya itu berarti kita berbuat baik pada diri sendiri[1]. Makin berbuat kebaikan untuk orang-orang, makin meluaslah sudut pandang. Makin lepas dari kedirian yang sempit.

Dalam sudut pandang semacam ini, saat ditekan beban berat ternyata sangat menolong untuk keluar dari sudut pandang diri sendiri yang kerdil itu, lalu “lebur” dalam cerita hidup ini. Just Do It…..Berbuat baik. Dan selalu Menyaksikan jalannya cerita milik Sang Empunya.

Sebuah gerak kolosal yang DIA cipta untuk menceritakan DiriNya.


References:

[1] Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)

*) gambar saya jepret lewat HP dari lantai atas perkantoran di sudut Jakarta

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s