BELAJAR LUCU YANG SPIRITUAL

Laughter-BoyJangan dikira bahwa lucu itu tidak spiritual. Spiritualitas sesungguhnya tidak identik dengan satu wajah keseriusan belaka, dan ini sebenarnya pesan untuk diri saya sendiri. Saya harus ikut les “lucu”.

Saya teringat dulu sewaktu SMP, hobi saya adalah ikut sebuah kelas teater. Hari-hari dihabiskan dalam kelas teater. Dan dalam pandangan waktu itu, semakin menantang bermain peran adalah memainkan peran yang serius.

Sewaktu SMA, dalam sebuah kelas teater lainnya. Seorang kawan mengusulkan kepada kami untuk menampilkan pentas komedi pada sebuah ajang penampilan perpisahan anak kelas tiga. Tetapi kala itu, guru pembina di teater mengatakan kepada kami, ga usah. Alasannya adalah….”gimana kalo nanti ga lucu?”

Walhasil, kami urung menampilkan pentas komedi. Tetapi pada kesempatan yang sama pula itu, seorang kawan dari kelas lainnya menampilkan sebuah pentas lucu-lucuan dari rekan-rekan satu kelasnya.

Semua yang ikut, blasss bukan orang teater, bukan orang yang mengerti tentang segala teori bermain peran, bukan ahli tata panggung, bukan pula naskah yang berat, tetapi lucu… bayangkan itu, lucu. Semua orang tergelak karena lucunya itu.

Seorang rekan saya yang menggagas penampilan komedi musikal itu, saya kenal memang sebagai orang yang lucu. Bukan lucu dalam artian konyol, tetapi cara dia memandang hidup memang “gembira”.

Kan kita bisa tengok, apakah seseorang itu memandang hidup dalam kacamata gembira yang riang, atau melulu dalam kacamata syahdu yang kontemplatif. Ya seperti saya ini, hahahaha…..

Dari sana baru saya mengerti bahwa lucu itu bukan pada materinya. Bukan pada aspek luar. Melainkan lucu itu adalah sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri. Lucu itu masalah cara pandang.

Nah… dalam kaitannya antara lucu “di luar”, dan cara pandang gembira “di dalam batin”, disinilah spiritualitas menemukan garis singgungnya.

Saya teringat seorang guru nan arif. Dalam kesehariannya beliau berprofesi sebagai lawyer. Pengacara. Dan menghadapi kasus-kasus yang luar biasa berat. Sengketa dan tragedi. Namun respon beliau terhadap kasus-kasus itu tidak seperti biasanya. Bahkan beliau seringkali tertawa yang tidak tertahankan.

Seorang rekan bertanya kepada beliau, kenapa tertawa? Apa meremehkan kasus?

Tentu rekan yang bertanya ini tidak memahami, bahwa dalam pandangan guru nan arif tersebut, sebuah kasus dan segala yang terjadi dalam dunia ini hanya sandiwara Tuhan. Maka beliau tertawa, karena yang terpandang bukanlah kisah sedih melainkan Tuhan sedang menuliskan kisah guyon. dan untuk sampai pada cara pandang seperti itu tak bisa dibuat-buat, ianya harus terbit dari dalam batin kita sendiri.

Saya ingat, tak berapa lama berselang berapa bulan lalu sempat heboh berita dimana seorang kakek mengeluarkan telur dari “tempat pembuangannya” dan berita ini sempat heboh dimana-mana. Sampai masuk TV segala. Sampai diperiksa dokter segala. Sampai sempat diyakini sebagai keajaiban segala. Tapi tak urung ternyata itu hoax belaka. Cari sensasi doang.

Nah… kala itu saya membayangkan. Jika semua sudah pasti tak akan luput dari takdir Tuhan, berarti urusan kakek hoax bertelur ini pun ada dalam takdirnya bukan? Sebuah kelucuan yang terselip di antara berita-berita perang, ekonomi yang krisis, israel-palestina, dan segala yang serius lainnya.

Tuhan berarti tentulah juga humoris.

Saya ingat juga sebuah hadits dimana Tuhan pun bercanda kepada seseorang yang keluar terakhir kali dari neraka. Orang ini dibecandain dengan menampakkan pada orang tersebut keindahan syurga. Lalu dikabulkan doanya orang itu untuk mendekat pada syurga setindak demi setindak, dengan syarat orang tersebut tidak boleh meminta yang lain lagi setelah kedekatannya dengan syurga dimajukan sedikit demi sedikit.

Tetapi Tuhan tentu tahu, orang itu pasti ga kuku pengen minta semakin dekat pada syurga dan akhirnya masuk ke dalam syurga.

Ini yang baru saya mengerti dan saya merasa harus mempelajari ini. Karena, semakin menyadari bahwa salah satu hikmah –setidaknya yang saya tadabburi- dari hadits qudsi “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi” (Aku seperti yang diduga/dibayangkan hamba-Ku), adalah bahwa sebagaimana kita mempersepsikan DIA-lah; sebegitulah ketersingkapan yang akan datang pada kita.

Saya rasa, secara subjektif, itulah fungsi dari kalimat tasbih. Kita mensucikan DIA dari segala persepsi kita yang keliru dan terbatas.

Persepsi yang keliru itu, barangkali, adalah karena kita terlalu sering memandang DIA dari sisi sifat-sifat fi’liyah yang satu sisi semata.

Contohnya begini. Seringkali dalam urusan yang berat, saya memandang hidup terlalu serius. Terlalu syahdu. Seakan-akan Tuhan tertampil hanya dalam citra yang Perkasa dan Maha Mengerikan semata.

Bahwa betul DIA memiliki sifat seperti itu, dalam beberapa asmaul Husna. Tetapi apakah seperti sifat itu SAHAJA, citra-Nya?

Tidak…..karena citra sifat-sifat yang DIA miliki itu selalu dualitas. Dalam satu sisi DIA menampilkan wajah yang penuh dengan keperkasaan dan keagungan, tetapi ada juga sisi keindahan dan welas asih. JALAL dan JAMAL.

Sebenarnya, tentulah Tuhan tidak memiliki urusan personal dengan kita, dalam tanda kutip. Maksudnya Tuhan bukanlah ingin menyiksa dan membuat kita nelongso, bukan? Karena segala dualitas serius dan lucunya hidup ini, semata DIA hadirkan sebagai pintu-pintu pengenalan padaNya.

Kadang-kadang kita melihatNya lewat pintu-pintu keseriusan dalam hidup. Kali lainnya kita melihatnya lewat citra-citra humoris dan gembira.

Tetapi, baik keseriusan dan rasa humor, hanyalah dua citra yang DIA tampilkan. Hanyalah af’al, gerak, yang DIA zahirkan.

Pada gilirannya, kita harus berupaya melintasi pandangan melewati gerak dan sifat-sifat itu. DIA adalah sang pemilik. Sang pemilik gerak dan sifat, tentu tak sama dengan gerak dan sifat itu sendiri.

Kuncinya saya rasa adalah belajar mengingatiNya, Sang Pemilik pagelaran yang penuh dualitas, tetapi Sang Pemilik itu sendiri tentulah Esa dan lepas dari dualitas. Tak dapat dipersepsi. sampai kitabertemu rasa ketentraman.

Tentram, adalah rasa yang lepas dari dualitas. Dualitas bahagia yang terlalu membuncah, atau sedih yang terlampau nelongso. Tentram Seperti laut yang tenang dan dalam.

Tapi awalannya, kalau hidup sudah terlalu serius ya mbok belajar humoris.

Dan humor itu cara pandang. Cara pandang itu butuh latihan.

Buktinya ini……saya tadinya pengen nulis yang lucu malah jadi serius lagi, hahahaha….


[1] Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Abidah dari Abdullah Radliyallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sungguh aku tahu penghuni neraka yang terakhir kali keluar dan penghuni surga yang terakhir kali masuk, yaitu seseorang yang keluar dari neraka dengan cara merayap, Allah tabarakawata’ala berfirman; ‘Pergilah kamu dan masuklah ke dalam surga! ‘ maka orang tersebut mendatanginya dan terbayang baginya bahwa surga telah membeludak. Orang kembali kembali dan berujar; ‘Wahai Tuhanku, kutemukan surga telah membeludak’. Allah berfirman lagi; ‘pergi dan masuklah surga.’ Maka ia kembali dan terbayang baginya bahwa surga telah membeludak. Lalu ia kembali dan mengatakan; ‘Ya Tuhanku, kutemukan surga telah membeludak.’ Allah berfirman lagi; ‘pergi dan masuklah surga, dan bagimu surga seluas dunia dan bahkan sepuluh kali sepertinya -atau- bagimu seperti sepuluh kali dunia.’ Hamba tadi lantas mengatakan; ‘Engkau menghinaku ataukah menertawaiku, sedang Engkau adalah raja diraja?” Dan kulihat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tertawa hingga gigi gerahamnya kelihatan seraya berkomentar: “Itulah penghuni surga yang tingkatannya paling rendah.” (H.R. Bukhari No. 6086)

*) gambar ilustrasi dipinjam dari link berikut ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s