SEMUA ORANG INGIN MENJADI GURU, HANYA AKU YANG INGIN SELALU MURID

world globe on a open book
world globe on a open book on white background

Saya teringat cerita seorang rekan saya. Sepulangnya dia dari bertugas di sebuah anjungan pengeboran, dengan gegap gempita melenggang-lah dia main ke kantor dalam rangka iseng dan membereskan sedikit urusan administratif. Tiba-tiba dia dipanggil bos ke ruangan. Wah…. Pertanda buruk ini.

Seperti di duga, tiba-tiba rekan saya ini disuruh langsung berangkat lagi ke anjungan pengeboran alias rig. Padahal baru berapa hari libur. Para pekerja lapangan migas memang bekerja dalam ritme yang tidak umum, sekian minggu bekerja sekian minggu libur.

Tentu teman saya waktu itu keberatan, tetapi karena keadaan mendesak dan tidak ada orang lagi, terpaksa juga dia berangkat. Waktu itu, satu hal yang membuat dia susah berkelit, yaitu pernyataan dari Bos, “Loh….katanya waktu wawancara, alasan kamu bergabung di perusahaan ini karena kamu suka tantangan, ya sudah ini saya beri tantangan.”

Hahahaha….kontan saja susah berkelit.

Temen saya bilang, tahu begitu mending pas wawancara masuk kerja, kita jawab saja alasan masuk perusahaan adalah karena suka duit alih-alih suka tantangan. Hehehehe.

Tetapi tak hanya cerita lucu semacam itu, yang sering saya temui dalam dunia pekerjaan, melainkan juga berbalut-balut dengan cerita perjuangan, cerita pengorbanan, cerita macam-macam yang membuat saya akhirnya menyadari satu hal, yaitu bahwa perjalanan hidup saya bukanlah perjalanan yang paling penuh dengan turbulensi.

Adalah orang yang masa kuliahnya dilewati sembari nyambi jadi kuli bangunan. Adalah temen yang masa kuliahnya terancam drop out lalu lulus dalam IPK tinggi, dalam kesulitan ekonomi. Adalah orang biasa yang low profile tetapi mendapat penghargaan dari kantor dan disalami oleh CEO. Adalah orang yang penggila detail, dan mempersiapkan segala urusan pekerjaannya dengan ketelitian yang menakjubkan sekaligus capek kalau harus kita ikuti. Macam-macam.

Di luar sana, bahkan dalam lingkar yang begitu dekat dengan saya, banyak sekali orang-orang yang hidup dalam turbulensi cerita. Perjuangan yang luar biasa.

Banyak-banyak melihat kehidupan sekitar kita, ternyata bisa membuat kita menjadi hilang kesombongannya. Ego kita knocked out. K.O.

Saya ingat dulu waktu SMA dan kuliah, saya sempat merasa sebagai seseorang dengan kemampuan verbal yang baik. Dan saya mengira bahwa kemampuan verbal yang baik inilah yang akan saya andalkan dalam menghadapi kehidupan dan dunia pekerjaan.

Ternyata, justru saat setelah bekerja dan berjalan ke banyak tempat saya menjadi tahu bahwa kemampuan verbal saya bukan apa-apa. Bahkan untuk sekedar diklasifikasikan sebagai mampu berbicara dengan baik-pun jauh panggang dari api.

Satu hal yang saya amati, pelan-pelan sifat koleris saya yang dulu begitu dominan menjadi pudar. Saya tak mengatakan bahwa menjadi dominan dan memimpin itu jelek, tetapi dalam kasus saya pribadi saya mengamati diri sendiri dan melihat bahwa kekeliruan saya dulu adalah begitu berkeinginan menggurui dan mengajari, tetapi semakin kesini semakin menjadi “diam” dan menjadi pengamat.

Menjadi pengamat ini ternyata saya temukan keasyikannya sendiri. Sejatinya begitu menyenangkan.

Saya teringat dengan ungkapan imam syafii, saya lupa dari mana saya mengutip ini, tetapi yang jelas kurang lebih maknanya adalah jika ada seorang muda yang telah sibuk tampil melulu, maka bersiaplah akan kehilangan banyak ilmu.

Kehilangan banyak ilmu itu saya rasa kaitannya adalah dengan hilangnya ketersediaan diri untuk mendengar. Hilangnya sikap menjadi murid di dalam kehidupan.

Ketersediaan diri untuk menjadi murid ini tidak bisa muncul jika tertutupi selimut ego. Barangkali salah satu selimut ego itu adalah hasrat ingin selalu mengajari orang, ingin selalu memberi tahu orang lain apa yang mestinya dilakukan.

Dan sepengamatan saya, hasrat ingin selalu mengajari orang itu bisa bersemayam karena merasa diri sudah melewati begitu banyak turbulensi. Tetapi tidak sadar bahwa ternyata di luar banyak yang lebih-lebih dari kita.

Maka dari itu penting untuk memperbanyak data, alias berjalan ke luar dan melihat kehidupan. Dalam mentalitas “melepas”.

Kalau banyak berjalan, banyak belajar, akan tetapi tidak dalam mentalitas melepas, maka saya rasa orang tersebut akan semakin kesulitan untuk hidup dalam sikap menjadi murid. Semakin-makin dia ingin selalu mengajari orang.

Tetapi jika kita sadari mentalitas “melepas” ini, tahu-tahu saja kita sudah menjadi seorang murid dalam kehidupan ini.

Ada nikmat yang kita peroleh dalam hidup, maka kita bercerita (tahadduts bin ni’mah) dalam rangka melepas. Mengakui bahwa nikmat itu karena kemurahan Tuhan alih-alih karena pencapaian pribadi. itulah melepas. Rasa pencapaian itu kita lepas. Supaya selalu bersikap menjadi murid.

Dan orang yang selalu menjadi murid dalam kehidupan tentu akan beroleh ilmu. Akan tetapi ilmu dan kebaikan yang dia sampaikan kini tak lagi dalam sikap mengajari orang. Alih-alih mengajari, melainkan menjadi sahabat seperjalanan. Teman cerita.

Dan orang-orang bebas-bebas saja mengambil manfaat.

Barulah saya mengerti, bahwa sikap begitulah yang ternyata disebut sebagai “kalam”. Menjadi “pena”. Menjadi jalur transmisi kepahaman untuk mengalir.

Kepahaman dan ilmunya bukan milik kita, tetapi kita merasa terhormat dan beruntung untuk telah dilewati jalur ilmu.

Pada pemahaman yang seperti inilah saya baru mengerti maksud dari Jalaludin Rumi yang mengatakan, “Semua orang ingin menjadi guru, hanya aku yang ingin selalu murid.”


*)Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s