MENGAPA SETAN BERLARI DARI UMAR?

FIRE WATERSatu hal yang bagi saya pribadi rasakan cukup berat adalah “membayar” ongkos sosial dalam urusan pekerjaan. Membayar disini maksudnya tentu bukan dalam hal uang, melainkan dalam hal psikologi batin saya sendiri. Banyak tuntutan pergaulan sosial yang saya tidak terlalu nyaman melakukannya.

Salah satu contoh adalah hal sederhana semisal undangan makan malam. Atau juga makan siang bersama. Dalam urusan kantor pastilah sekali dua akan ada momen dimana kita berkumpul bersama dan makan malam satu team atau makan siang bersama satu team.

Tak ada yang salah dengan makan malam, tetapi sebenarnya kondisi kumpul-kumpul begitu banyak orang dan berbincang-bincang dalam rangka ramah tamah bagi saya pribadi terasa sangat menguras energi dan meletihkan.

Saya memang pada dasarnya tak terlalu suka keramaian dan apalagi harus berbincang dengan banyak orang yang tak terlalu lekat secara personal dengan saya.

Itulah PR besar saya, yang sampai sekarang masih susah payah saya atasi. Saya sulit dekat kepada orang-orang yang tak saya temukan “klik-nya” pada diri saya. Saya bukan tipikal orang yang memiliki ribuan pertemanan. Tetapi segelintir saja teman yang dekatnya menjadi sahabat.

Setidaknya ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari mengamati kelemahan saya sendiri ini. Saya teringat sewaktu SMA barangkali saya akan mengambil langkah frontal, yaitu begitu seseorang itu saya klasifikasikan sebagai orang yang tidak “klik” atau tak saya temukan kemiripannya dengan saya, maka saya menjauh. Saya sudah sadar bahwa saya tidak bisa menjadi sahabat erat pada orang dengan tipologi semacam itu.

Berteman tentu saja, tapi untuk masuk dalam lingkar persahabatan tidak bisa. Tetapi ternyata mau tak mau sikap itu terbaca pada ejawantah keseharian. Seperti sombong. Ini keliru.

Kemudian selepas kuliah saya mulai menyadari kekeliruan itu. Maka saya berupaya untuk tetap bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang sebenarnya secara karakter, sifat-sifat, kecenderungan, berbeda dengan saya.

Pada aktivitas luar, saya mencoba untuk tidak menjauh. Tetapi pada aktivitas batiniah, ternyata dalam diri saya yang paling dalam masih ada semacam resistensi dan penolakan. Bahwa orang-orang dengan tipikal A, B atau C tentu bukan orang yang akan bisa dekat dengan saya. Belum ada penerimaan yang utuh.

Dan disinilah saya menyadari dimana saya harus memfokuskan perbaikan, pada sisi batin.
Penerimaan kita (dalam aktivitas sosial keseharian) kepada keragaman tipikal-tipikal manusia ternyata berkaitan erat dengan penerimaan pertama dalam skala batiniah dahulu.

Selama masih berat menerima fakta bahwa dualitas di dalam dunia ini semata dihadirkan untuk menceritakan diriNya yang ESA dan non dualitas, maka pasti kita masih akan ada rasa-rasa bahwa si A itu jelek, si B itu ga baik, saya lebih baik daripada si A dan B.

Karena kita tidak mengetahui fakta itu. Bahwa Allah SWT menzahirkan dualitas cerita sebagai jalan menuju-Nya. Ada orang-orang yang menuju-Nya lewat jalan kebaikan, dan kebaikan itu disyukuri sebagai anugerah-Nya, maka sampailah orang itu kepada –Nya. Ada orang-orang yang menuju-Nya lewat jalan keburukan. Keburukan-keburukan yang mereka lakukan sepanjang perjalanan dan yang mereka saksikan itu, pada gilirannya sendiri akan ditaubati oleh mereka, dan lalu lewat pintu pertaubatan itulah mereka sampai pada-Nya.

Seperti kita bersama tahu bahwa seandainya masih ada sebiji sawi saja iman di hati seseorang, maka mereka diangkat keluar dari neraka. [1]

Dalam pandangan saya setidaknya setelah saya mengamati kajian para arifin, barulah saya mengerti bahwa endingnya bukan neraka-nya, tetapi ending dari cerita hidup ini adalah pengenalan pada-Nya lewat kerangka dualitas. Baik-buruk. Syurga-Neraka. Tetapi ujungnya adalah pengenalan.

Dalam pandangan seperti itu, saya menyadari ternyata bahwa saya belumlah “lapang” dalam menerima keragaman.

Baik, dan buruk, masih saya perlakukan berbeda. Padahal dua-duanya adalah jalan cerita menuju Tuhan.

Tentu maksud saya disini bukan bermakna membiarkan keburukan, kita tentu harus memperbaiki dalam porsi-porsi yang kita bisa, tetapi maksud saya adalah dalam batin kita mestilah ada penerimaan kepada fakta bahwa akan selalu ada orang-orang yang dijalankan di jalur keburukan lalu menemui-Nya setelah merasakan “kapok” pada ujung jalan itu. Lalu taubat.

Saya teringat pada kisah Khalifah Umar, contoh seorang yang sangat tajam karakternya, begitu kuat pada sisi “Baik” setelah sebelumnya beliau begitu kuat pada sisi “Buruk” lalu beliau berubah.

Dalam perubahannya itu, beliau begitu tajam menterjemahkan sisi kebaikan beliau ke dalam kehidupan.

Saking tajamnya, dalam suatu hadits kita pernah dengar bahwa setan pun kalau bertemu Umar r.a langsung kabur dan tak mau berpapasan kalau di jalan. Dan contoh lagi dimana saat suatu ketika Umar datang kepada Rasulullah SAW dan meminta izin bertemu, di saat itu para wanita yang sedang menabuh rebana di hadapan Rasulullah langsung kabur ketakutan. [2]

Umar heran mengapa para wanita itu lebih takut kepada dirinya ketimbang pada Rasulullah SAW? Harusnya mereka lebih segan pada Rasulullah SAW, bukan?

Sekarang baru saya tahu jawabannya. Umar adalah orang yang keras dalam sisi baiknya. Semua yang buruk dihancurkan dan ditumpas. Umar, adalah contoh orang yang begitu tajam kebaikannya. Umar sampai kepada Tuhan dengan sisi kebaikan yang begitu tajam itu.

Sedangkan Rasulullah SAW,  Beliau melampaui dualitas baik dan buruk.

Maka kita mendengar setan lari lintang pukang ambil jalan lain saat bertemu Umar, tetapi dalam kisah lainnya kita tahu bahkan sekumpulan jin datang kepada Rasulullah berbondong-bondong minta diajari [3].

Orang-orang dengan potensi keburukan atau orang-orang dengan potensi kebaikan semua dirangkul oleh Rasulullah SAW dalam penerimaan yang “lapang”. Kita akan menemukan orang-orang dengan penerimaan yang lapang ini menjadi magnet pada orang-orang yang meniti sisi dualitas baik dan buruk. Semua merasa tentram padanya.

PR kita dalam meneladani contoh di atas barangkali tangga pertama ialah menekuni sisi kebaikan dengan tekun dan tajam.

Kemudian, kita lanjutkan dengan belajar sirna dari keragaman dualitas, dengan menyadari bahwa dualitas adalah cerita. Mulai menerima baik dan buruknya dunia sebagai citra dualitas yang menceritakan sang Empunya.

Kita tetap berkebaikan, sesuai yang dituntunkan. Akan tetapi kita membaikkan dengan sikap penerimaan yang lapang kepada keragaman. Bukan dengan membenci habis-habisan.

Disitu PR besar saya, dan mungkin juga kita.

References:
[1] H.R Ahmad 11463

[2] Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Huraits telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Husain bin Waqid telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah dia berkata; saya mendengar Buraidah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju salah satu peperangan, ketika telah usai seorang budak wanita berkulit hitam mendatangi beliau sambil berkata; “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bernadzar bila Allah mengembalikan baginda dalam keadaan baik, aku akan menabuh rebana dan bernyanyi didekat baginda.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bjika kamu telah bernadzar demikian, silahkan lakukan namun jika tidak, maka jangan kamu lakukan.” Budak wanita itu pun menabuh rebana, kemudian Abu Bakar masuk dan budak itu masih menabuh rebana, Ali masuk, dia pun masih menabuh rebana, kemudian Utsman masuk dan dia tetap menabuh rebananya, dan ketika Umar masuk, budak itu menyembunyikan rebananya di balik pangkalnya dan duduk di atasnya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “sesungguhnya setan benar-benar takut darimu wahai Umar, karena ketika aku sedang duduk dia (budak wanita) menabuh rebananya lalu Abu Bakar masuk dan ia masih menabuh, lalu Ali masuk dan ia masih menabuh, lalu Utsman masuk dan ia masih menabuh, namun tatkala kamu yang masuk wahai Umar ia segera membuang rebananya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits Buraidah, dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Umar dan Sa’ad bin Abu Waqash serta Aisyah.” (H.R Tirmidzi 3623)

[3] H.R Tirmidzi 3213

2 thoughts on “MENGAPA SETAN BERLARI DARI UMAR?

  1. Kenapa menjadi PR ya pak…kan kita manusia tidak bisa kendalikan cerita hidup…kita penyaksi…mengikuti skenario besar…kalo menurut saya pribadi,hidup ini memang sdh skenario Nya…tapi mungkin ada suatu saat nya kita diberi keleluasaan,diberi kebebasan,utk memilih dan berbuat sesuatu…ini mnrt sy yg ckp membahayakan kehidupan manusia…mohon pencerahan..terima kasih

    • “Menjadi PR” maksudnya secara konteks bahasa Mas. Saya memandangnya, dalam konteks aksi ya kita beramal sebisa-bisanya, mengkaji sebisa-bisanya. Tetapi dalam konteks “batin” kita menyaksi skenario.

      Kalau konteks bahasa dalam “aksi” dibuat menjadi “menyaksikan skenario” semua nanti ribet, hehehe…..misalnya, saya mau makan, jadi dianggap keliru, harusnya saya menyaksikan saya tertakdir mau makan.

      Kan agak ndak praktis. Hahaha.

      Tapi saya bukan orang yang tepat untuk membahas hal ini, banyak guru-guru yang beneran arif dan beneran ngerti ilmunya, dan Berwenang menjabarkan dengan komprehensif.

      Kalau menurut seorang guru, pahaman tentang takdir yang umum diikuti khalayak adalah sbb:

      – Qadariyah: kita Wujud dan sama sekali tak ada kuasa terhadap hidup.
      – Mu’tazilah : kita Wujud, dan memiliki kuasa mengatur hidup
      – Asy’ariyah : kita wujud, dan kadangkali berkuasa, di kali lainnya tak berkuasa.
      – Pandangan Makrifat (sufistik) : Manusia tidaklah memiliki kewujudan (non existence) jadi perdebatan berkuasa atau tak berkuasa menjadi tak relevan.

      Tapi saya tak berwenang membahas itu, kalau Mas mau saya kasih link-nya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s