TIPS UNTUK MENIKMATI KULIT

Peanut2Rekan-rekan masih ingat “Aqua Fruit”? salah satu varian produk Aqua, air mineral itu, yang diberi rasa buah-buahan. Muncul sekitar tahun 2004, dan sekarang sudah hilang, berganti salah satu varian lainnya yaitu Mizone. Itu lho…. Yang sering dijual pedagang asongan di bus, “Mijon…mijon…”

Apa yang menarik dari Mijon? Eh…Mizone? Sebenarnya yang menarik bagi saya adalah slogan dari varian pertamanya itu, yaitu slogan Aqua fruit. “Air itu essensial, tapi rasa juga penting.”

Tiba-tiba teringat dengan slogan itu, terbersitlah saya hendak menulis kali ini. Tentang esensi dan kulitnya.

Kita selama ini memang sudah belajar sebuah kebijakan bahwa yang paling pokok adalah esensi alias hakikat terdalam dari sesuatu. Misalnya….intinya dari makan itu adalah sebenarnya “rasa kenyang, dan nutrisi-nya”, inti dari kepemilikan dan kerja keras adalah sebenarnya manusia mengejar “rasa bahagia-nya”. Itu namanya kita belajar esensi. Esensi penting, agar tidak terjebak dalam hal-hal yang kebendaan.

Tetapi, agar hidup kita seimbang, kita perlu belajar menikmati kulit. Esensi penting, tapi kulitnya haruslah disyukuri.

Jika inti dari makan adalah rasa kenyang dan nutrisinya, bagaimana jika manusia langsung ke inti saja? tak perlu “kulit” berupa citarasa makanan, bermacam menu dan tampilan, yang penting langsung kenyang saja dan langsung ke nutrisi saja. Apa jadinya?

Sebenarnya hal tersebut sudah terjadi di dunia nyata, misalnya orang sakit yang diinfus. Mereka langsung ke inti. Langsung ke nutrisi, tanpa perlu menguyah dan menu macam-macam, tapi kan ga seru.  Contoh lainnya adalah astronot, yang konon makannya adalah pil yang kaya nutrisi, tetapi kemudian tidak lagi, karena jelas kurang asyik bagi para astronot itu.

Jadi…. Mengetahui esensi itu penting, agar tidak hidup salah arah. Tetapi menikmati kulit-nya itu juga natural dan manusiawi.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, “menikmati kulit” untuk mencapai esensi, inilah domain-nya manusia.

Coba tengok, segala bentuk ketaatan manusia, mesti ditemukan kaitannya dengan kulit-kulit pengalaman hidup. Ada yang menjadi menemukan esensi ketaatan, lewat kulit-kulit pengalaman hidup yang penuh dengan kemudahan, yang dari sana dia kemudian bersyukur.

Ada yang menemukan esensi ketaatan, lewat kulit-kulit pengalaman hidup yang penuh dengan duka nestapa, yang dari sana dia kemudian menemukan sikap fakir kepada Tuhan.

Semua nilai-nilai esensi yang manusia temukan, mestilah dari proses mencerna kulit-kulit kehidupan itu. Maka penting untuk menikmati kulit. Menikmati kulit dalam rangka mencapai nutrisi, mencapai esensi.

Jika manusia langsung ke inti, maka manusia akan menjadi malaikat. Malaikat tak butuh kulit-kulit pengalaman hidup. Ketaatan para malaikat adalah langsung ke esensi. Taat saja tanpa pakai pengalaman hidup, dan taat selalu tanpa ada naik turun.

Dalam perjalanannya, orang-orang yang meniti jalan pulang kepada Tuhan seringkali tergoda untuk langsung ke inti. Karena mereka mulai mengenal inti, mereka jadi lupa menikmati kulitnya.

Barangkali itulah mengapa para arifin kemudian merumuskan suatu tahapan perjalanan yang dikenal dengan nama “Maqomat” atau jamak dari kata “Maqom” alias tahapan-tahapan spiritual. Supaya tidak gebyah uyah.

Bahwa tatanan syariat dibuat untuk skala umum. Semua orang wajib mengikuti tatanan umum itu. Tapi kemudian, ada yang di luar tatanan umum itu, yaitu lelaku dari orang-orang yang tahapan spiritualnya di atas kebanyakan orang. Kalau diterapkan di tataran umum, ya repot. Contohnya Abu Bakar yang bersedekah seluruh hartanya tanpa ada sisa.

Contoh sederhananya lainnya barangkali tentang sebuah hadits dimana dikatakan jika ada hamba yang sibuk berdzikir (mengingatiNya) sampai lupa meminta, maka akan diberikan sesuatu yang lebih baik daripada orang yang meminta.[1] Lalu dengan tergesa dimaknai dengan “kalau begitu tidak usah meminta saja”. Toh nanti diberi yang lebih baik.

Itulah sikap yang tergesa langsung ke inti. Padahal, kenyataan kita hidup di alam dunia ini, menjadi manusia, tidak semata menuju inti, tetapi mensyukuri pagelaran kulit-kulit kehidupan yang sudah Allah takdirkan.

Dan disitulah fungsinya do’a, do’a terbit dari berkecimpungnya kita dalam kulit-kulit kehidupan ini. Dengan berdo’a, maka kita menegakkan sikap kehambaan. Disebut oleh para alim dengan menegakkan Rububiyah, hak ketuhanan. Hak-nya Tuhan untuk dipandang lewat kulit-kulit pengalaman hidup kita. Itulah Asmaul Husna, kita memandang-Nya lewat kulit-kulit pengalaman hidup. Lalu kita bertemu esensi dari sana.

Pagelaran dunia, digelar, agar manusia mencapai esensi, lewat menikmati kulitnya.

Itulah mengapa kita diperintahkan berlindung dari neraka, lalu meminta syurga. Jika intinya adalah Tuhan semata, ya tidak usah meminta syurga dan neraka, begitukah?

Bukan begitu…. level kita ini tentulah berlindung dari kesulitan, dari siksa, dari rasa hati yang sempit dan sesak, dari ujian yang berat, dan segala hal yang neraka. Lalu kita meminta kepada Tuhan yang menggenggam segala kemudahan yang syurga. Jadi kita memandang-Nya selalu lewat konteks. Selalu lewat kacamata. Lewat kulit-kulit pengalaman hidup yang menghantarkan kita kepada isi.

Jika kita selalu menikmati kulit-kulit pengalaman hidup kita, dan lalu darisana kita selalu mengaitkan bahwa kulit hanyalah gerbang menuju hal yang lebih esensi, barulah lambat laun kata para arifin, maqom kita akan naik.

Barangkali disanalah mereka-mereka para salih berada, setelah menikmati segala kulit kehidupan, mereka sampai pada kondisi dimana selalu mengingat Tuhan saja, dan sampai lupa untuk meminta selain-Nya.

Kalau kita? Kapan kita sampai kesana? Ya ndak usah dipikir…..lihat saja batin kita sendiri. Adakah kegelisahan? Ketakutan? Atau rasa syukur? Atau kegembiraan? Semua itulah kulit-kulit kehidupan. Cerna saja, nikmati, dan lewat sanalah kita menegakkan rasa kehambaan dengan berdo’a. Dari kulit-kulit itulah kita nanti mencapai esensinya.


References:

[1] “Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

Image sources

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s