DIKEJAR ANJING, DAN BERKEBAIKAN

Pernahkah rekan-rekan dikejar anjing? Saya pernah, dulu waktu kecil sekitar kelas 2 SD. Ceritanya saya sedang berjalan menuju rumah seorang rekan, tiba-tiba anjing besar hitam menggonggong dan mengejar. Saya lari lintang pukang ketakutan dan menangis. Waktu saya menangis saya sontak langsung duduk jongkok, ternyata anjingnya malah lari berbalik.

Belakangan saya baru tahu kalau anjing akan lari berbalik kalau kita langsung mengambil posisi jongkok saat dikejar anjing, barangkali dalam pandangan seekor anjing, tindakan itu mirip seperti orang mau ambil batu buat nimpukin, hehehe.

Setidaknya dua hal yang dapat saya share kepada kawan-kawan saya yang lain selepas tragedi itu, yaitu pertama trik pura-pura jongkok, kedua yaitu jangan lewan jalan sana, karena ada anjing yang berkeliaran.

Pertanyaannya kemudian adalah… apakah saya menjadi hebat dengan sharing bahwa saya pernah dikejar anjing? Tentu tidak, bukan? Apa hebatnya dikejar anjing?

Apakah saya menjadi hina dengan sharing bahwa saya pernah dikejar anjing? Tentu tidak, karena bisa saja hal itu dikemudian hari akan menyelamatkan seorang rekan saya.

Apakah seorang awam seperti saya tidak boleh sharing pengalaman dikejar anjing? Haruskah pakar dunia binatang saja yang boleh sharing? Tentu tidak.

Dan seperti itulah kiranya pandangan kita dalam berkebaikan. Kita tidak harus menjadi orang yang paling baik sedunia untuk membagikan kebaikan. Bahkan boleh jadi kita adalah orang yang pernah terjerumus dan masuk dalam keburukan serupa. Tetapi kita membagikan karena menyadari sebuah peran sosial. Di dunia ini kita tidak sendiri. Kita dalam sebuah team raksasa.

Jika manusia diciptakan untuk mengenal Tuhan, maka sebenarnya seluruh kejadian dalam hidup pasti dalam ruang lingkup upaya pengenalan itu. Dan dalam tugas itu kita tidak sendiri lho…. Ratusan, ribuan, jutaan manusia sepanjang sejarah berganti-ganti di muka bumi masih dalam tugas yang sama itu, mengenali Tuhan-nya.

Jadi sejak awal kita ini sebenarnya kerja team. Sejak awal kita ini dalam team, kerja sama adalah hal yang tak bisa dielakkan.

Saya rasa itu juga pesan dari surat Al-Ashr, demi masa, manusia rugi semua kecuali yang iman. Yang iman rugi kecuali menjelma amalan shalih. Yang beramal pun juga rugi jika tidak urun rembug dalam sharing menetapi kebenaran dan kesabaran.

Ibnu Athaillah As Sakandari dalam Al Hikam mengatakan bahwa seseorang yang dalam menceritakan kebaikan; dia menceritakan dirinya sendiri; suatu ketika nanti akan bungkam. Karena dirinya tidak sebaik apa yang dia ceritakan itu. Dia akan didera rasa bersalah.  Akan tetapi, seseorang yang dalam menceritakan kebaikan; dia menceritakan rahmat Tuhan-nya; dia tidak akan bungkam. Karena boleh jadi dirinya keliru dan salah, tetapi rahmat Tuhan-nya tentulah luas dan lebih baik dari dirinya yang kerdil. Bukan dirinya yang jadi fokus cerita, tetapi rahmat Tuhan yang dia temukan sepanjang hidup.[1]

Saya rasa itulah batasan yang jelas dalam hal berkebaikan, dalam hal sharing. Jangan menjadikan diri kita sendiri sebagai role model. Tapi ayo kita bersama-sama berbagi tentang jatuh bangunnya kita dalam mengenali-Nya. Lewat cerita baik dan buruknya hidup kita ini. Karena konteks cerita sudah bukan diri kita sendiri, tetapi pembacaan atas rahmat Tuhan. Saya rasa itu yang penting.

Dengan mengetahui bahwa kita sebagai manusia ini sebenarnya satu team, sebenarnya kita adalah bagian dari drama kolosal yang sudah berlangsung bertahun-tahun, jutaan tahun, maka pelan-pelan kita akan merasakan betapa pelajaran itu banyaknya luar biasa di sekitar kita. Kalau disharing tak habis-habis.

Saya ceritakan satu kekeliruan cara pandang saya dulu. Dulu saya termasuk yang sombong tanpa saya sadari. Kesombongan itu adalah dalam konteks bahwa saya selalu ingin mengetahui jawaban segala persoalan dari kajian saya sendiri. Sebuah bentuk kesombongan untuk belajar hanya dari pengalaman pribadi saya sendiri. Jadi, kalau ada masalah, saya tak mau mendengarkan masukan, saya lebih senang menganalisa sendiri. Pokoknya prinsip saya adalah kalau belum mengalami sendiri, belum bener. Ilmu itu adalah hasil pengalaman sendiri.

Dalam satu sisi itu baik, tapi dalam sisi lainnya saya melupakan konteks kerja team itu tadi. Qur’an sendiri mengatakan, kalau tidak tahu….bertanyalah.[2]

Sampai akhirnya saya tersadar, kita ini makhluk sosial, dan kerja team. sebagian orang dilebihkan atas sebagian lainnya dalam konteks kerja team juga. Bayangkan saja, kalau misalnya setiap orang harus mengkaji sendiri, misalnya listrik, berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk setiap manusia melakukan percobaan listrik sampai bertemu listrik? Kan tak perlu setiap orang menemukan listrik lewat perenungannya sendiri.

Penemu listrik sudah ada, dan kebermanfaatan dari ilmunya sudah disebarkan pada khalayak. Walhasil, anak TK saja sekarang sudah ngerti listrik. Dan tak perlu kita suruh anak TK menemukan sendiri apa itu listrik. Kalau begitu cara pandang kita, dunia tidak berkembang.

Kerja team…. amalan shalih. Berbagi…..bukan tentang diri, tetapi tentang Tuhan dan pelajaran sepanjang hayat. Tak mungkin tak ada yang bisa dibagi. Pasti ada insyaAllah. Bahkan dalam jatuh dan terpuruk kitapun ada pelajaran. Lebih banyak bahkan dibanding dalam kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan.

Seorang guru mengatakan, para pendosa itu ibarat orang yang terluka di medan laga. Kalau kita semua ini adalah prajurit di medan juang, dalam satu tugas yang sama, adalah logis bagi kita untuk menyelamatkan orang-orang yang luka, mengobati mereka, dan memberi semangat kepulihan agar mereka kembali bisa turun ke medan dan bertempur lagi di barisan yang sama dengan kita.

Hal ini yang saya belum pandai lakukan, dan belajar terus. Untuk melihat bahwa manusia seberapapun ga karuannya, sebenarnya adalah team yang sama dengan kita. Dalam tugas yang sama sepanjang jaman, mengenali Tuhan. dan Tuhan ingin dirinya dipandang lewat kacamata berbagai-bagai pengalaman hidup itu. Maka seringkali dengan konsep seperti ini, melihat orang lain timbulnya adalah rasa ingin belajar, seperti kita melihat rekan satu team.

Mesti ada yang orang lain bisa bagikan, dan mesti ada sesuatu yang kita bisa petik. Dan ini sudah bukan lagi siapa baik siapa buruk. Ini sudah tentang rahmat Tuhan saja.


References:

[1] ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.” Ibnu Athaillah, Al-Hikam

[2] ……Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An Nahl:43)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s