AGAR PUNDAK TAK BERAT MEMIKUL

memikulSatu hal yang saya masih jatuh bangun mempelajarinya adalah sikap batin untuk “tidak turut mengatur” kejadian-kejadian dalam hidup.

Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan, istirahatkan diri kita dari tadbir. “Tadbir” inilah yang dimaksud dengan sikap batin merasa punya andil dalam mengatur cerita hidup.

Berhubung sekarang dekat-dekat lebaran Idul Adha, saya kembali teringat kisah Ibrahim a.s. Tetapi bukan pada adegan menyembelih Ismail, melainkan pada babak dimana Ibrahim harus meninggalkan Hajar di lembah Makkah.

Awalnya dari kecemburuan Sarah, istri pertama beliau, yang karena rasa cemburunya kemudian menyuruh Ibrahim memilih dia atau Hajar. Kan Nabi Ibrahim tentu bingung dong ya?

Lalu ndilalah sejalan pula dengan perintah Allah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tak berpenghuni.

Poinnya yang saya lihat setidaknya berikut ini. Bahwa hal-hal dalam konteks lokal dan mikrokosmos, semisal gejolak cemburunya Sarah Sang Wanita Mulia itu, dan titah pada skala keluarga, dari Allah pada Ibrahim agar meninggalkan Hajar di lembah tak berpenghuni, rupanya adalah satu kesatuan plot besar dari cerita dimana Allah memang ingin menurunkan dua klan besar orang-orang salih.

Yaitu klan Ismail dan Ishak. Yang banyak orang shalihnya, tapi tak urung juga banyak cerita konflik di antara keturunan mereka.

Jadi, bagaimana kita bisa tahu bahwa sesuatu dalam level mikro semisal perasaan kita, atau sesuatu dalam skala lokal semisal kehidupan rumah tangga, atau persoalan dunia pekerjaan, dll…..bukanlah bagian dari plot global, besar, dan dalam jangka waktu panjang?

Mengingat hal ini, lalu kembali teringat dengan pesanan para guru agar jangan banyak sok ngatur dalam hidup. Dalam level batiniah, kita harus menghilangkan diri dari sikap merasa bahwa kerja kitalah yang mengatur jalannya semesta cerita. Ini kadang-kadang gampang kadang sulit.

Tapi setidaknya tahu ilmunya dulu. Dengan tahu ilmunya, maka suasana batin dan perasaan akan menyusuli pada saatnya sendiri.

Saya teringat dulu orang tua pernah mengatakan sebuah peribahasa, “seberat-berat mata memandang, masih berat pundak memikul.” yang sebenarnya konteksnya adalah mengatakan bahwa bagaimanapun kita memberi nasihat pada seseorang, sesungguhnya yang melakoni sendirilah yang tahu seperti apa beban yang dirasakan.

Tapi belakangan saya menyadari bahwa peribahasa itu bisa dikembangkan menjadi lebih spiritual.

Seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.

Maka agar mata kita tak memandang berat persoalan hidup, sadarilah bahwa sebenarnya bukan kita kok yang memikul beban hidup ini. Kita hanya ikut plot.

Saya teringat seorang guru pernah bilang, sadarilah bahwa bukan kamu yang mengharungi hidup ini.

Dulu masih bingung maksudnya apa ya?

Makin kebelakang jadi malah membenarkan, eh…..bener ya. Sebenarnya bukan kita yang memikul beban hidup ini. Karena beban dalam skala mikro dan lokal yang kita rasa sebenarnya jadi satu dengan plot cerita global lho. Kita ini part of the master plan.

Dan sebenarnya kita hanya menyaksikan saja. Harmoninya disana. Secara fisikal kita bergerak. Lakonono yang terbaik. Do our best (mengikut rentak DIA). Sambil secara batiniah kita menjaga jarak mental agar tidak merasa ada kemampuan menyetir jalan cerita.


*) Gambar ilustrasi dari link berikut

2 thoughts on “AGAR PUNDAK TAK BERAT MEMIKUL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s