KEKASIHNYA DI SEKITARAN KITA

idul-adhaSatu hal yang sering membuat saya tertegun adalah saat mendapati dalam lingkungan sekitar, dimana kebaikan dan ketulusan diterjemahkan lewat bahasa yang begitu sederhana.

Tadi malam saya mengikuti rapat persiapan acara pemotongan hewan kurban untuk besok. Di dalam diam dan keasyikan saya mengamati, saya tertegun untuk menyaksikan bahwa penghambaan, ketulusan, dan peribadatan telah menjelma dalam gerak yang begitu sederhana, aplikatif dan ga neko-neko.

Seorang tetangga dengan semangatnya membeli sebuah timbangan, lewat sebuah toko online, untuk membantu acara potong kurban dan pembagian daging kurban esok. Padahal, istrinya baru melahirkan, padahal lagi besoknya itu dia tak sempat ikut acara tetapi masih berkenan susah payah datang malam ini dan menitipkan timbangan yang baru dibelinya itu.

Seorang tetangga lainnya dengan bersahaja tidak hendak digantikan uangnya yang dipakai untuk membeli konsumsi siang esok.

Seorang lainnya tergopoh-gopoh menawari sound system.

Seorang lainnya menawari agar keperluan listrik dicolok saja dari rumahnya.

Saat peribadatan, hubungan transenden manusia dan Tuhan acapkali dibahasakan begitu pelik oleh para ahli; tetapi oleh mereka-mereka ini kedekatan pada Tuhan, peribadatan, dan penghambaan yang tulus menemukan bentuknya dalam aksi indah dan sangat bersahaja.

Maka saat timbangan baru, makanan dalam kotak, tenaga, tali temali, balok kayu, talenan, pisau dapur, sound system, dan segala yang perkakas sangat biasa itu telah menjelma retorika yang lebih tajam dari diksi seperti apapun, telah menjelma menjadi jawaban hipotesis kajian rumit para scholar tentang hubungan manusia dan Tuhan; saat itulah saya teringat kata seorang guru……hati-hati, jangan-jangan orang-orang biasa yang sering kita temui di sekitar kita itu sejatinya “wali”. Orang-orang yang saking biasanya, mereka sendiripun tak tahu kalau mereka “masyhur di langit”.

Orang-orang yang mengangguk-angguk mencermati wejangan khatib tentang hakikat kurban dan definisinya, tetapi sesungghuhnya sikap “melepas” sudah mengalir dalam nadi mereka, dalam hembus nafasnya.

Teringat saya dengan pesanan Rasulullah SAW. Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Seseorang boleh saja memiliki konsepsi keTuhanan yang sangat dalam, tinggi, begitu filosofi, berbicara tentang keTuhanan yang tak melulu transenden tapi juga imanen, boleh saja….tetapi saat telah menjelma gerak, ianya harus menjelma gerak yang sederhana, yang biasa, yang menjelmakan tataran kerumitan itu dalam bahasa yang aplikatif dan rendah semerendah-merendahnya.

Agar nanti tak malu, di akhirat sana, bertemu dengan orang-orang biasa yang terlalu sering kita “gurui”, ternyata ada di tangga spiritualitas yang bermil-mil jaraknya melampaui kita.

Kalau masih meninggi terus dan merasa hebat terus…..betapa bodoh….betapa bodoh….. Betapa kerdil…..Betapa tidak melihat sekitar.

Itulah sejatinya Kurban saya rasa. Melepaskan diri dari ego yang begitu besar dan membebani, lalu bersimpuh dan memohon ampun atas terlalu tingginya menilai diri sendiri. Lalu taubat lewat berkebaikan dengan sederhana kepada sesama…..

Yang berbuat baik pada ciptaan-Nya, sejatinya berbuat baik pula pada pencipta-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s