BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI

 

pilgrimageSaya teringat dengan sebuah pernyataan Soekarno, dari yang saya baca pada autobiografinya yang beliau tuturkan kepada Cindy Adams. Dikatakan disana, salah satu tantangan berat bagi Soekarno sendiri untuk membuat sebuah Autobiografi adalah karena dia harus “me-recall” atau mengingat ulang semua kumpulan memori masa lalu. Sedangkan, kumpulan memori masa lalu itu, tak selamanya indah, kadangkala juga berkaitan dengan emosi-emosi yang berat dan sedih.

Maka memasuki ulang memori masa lalu, berarti juga memasuki sekumpulan emosi yang penuh turbulensi.

Memasuki ingatan memorinya, berarti juga mau tak mau tak bisa terhindar dari memasuki gejolak emosinya.

Betapa hebat “kesadaran” manusia itu, sesuatu yang kita kenal dalam istilah “Aql” atau “qalb”, dibahasakan dengan “consciusness” dalam perspektif barat, adalah sebuah kesadaran diri yang bisa menelusuri memori masa lalu, dan atau berangan-angan tentang masa depan.

Nah… dalam kaitannya dengan menelusuri emosi masa lalu, hal ini bisa menjadi baik atau menjelma buruk. Tergantung konteks.

Hal tersebut bisa menjelma baik, jika dimanfaatkan dalam rangka me-recall ulang suasana positif kesyukuran. Misalnya kita mengingat-ingat rahmat Tuhan. Berarti kita berkelana ke sebuah waktu atau konteks masa lalu, yang mana babak dalam cerita itu benar-benar mengingatkan kita akan rahmat Tuhan.

Seperti dalam surat Ar-Rahmaan, saat berulang-ulang kita ditanyakan mengenai “Nikmat mana lagi yang kita dustakan?” hal tersebut berarti juga bahwa kita diminta me-recall ulang kenangan tentang rahmat yang banyak. Memasuki ruang-ruang memori kesyukuran itu, berarti juga  kita akan merasakan suasana kejiwaan yang sama dengan yang pernah kita alami dulu. Suasana kesyukuran. Itu salah satu sisi baiknya.

Tetapi sisi buruknya adalah saat memori masa lalu itu penuh dengan emosi negatif dan kesedihan, maka memasuki bayangan tentang masa lalu itu bisa mempengaruhi emosional kita saat ini. Maka itu saya rasa wajar kalau ada yang menyarankan agar kita tidak usah selalu mengingat-ingat kenangan buruk. Kita mengalihkan perhatian dari suasana emosional yang negatif, dengan tidak lagi menjenguk memori-memori itu.

Yang paling ideal adalah menyibukkan diri dengan beraktivitas kebaikan di masa “sekarang”, sambil terus mengingati Tuhan. itu ideal paling banget-banget lah.

Saat seseorang sudah benar-benar move-on dan berdamai dengan emosi buruk di masa lalu, hal itu memang baik, dan tak perlu-perlu amat untuk menjenguk masa lalu.

Akan tetapi, jika memori masa lalu itu kadang-kadang tanpa diminta sering datang dan mengusik, mempengaruhi kejiwaan dan kestabilan emosi kita dimasa kini, berarti masih ada pemaknaan yang belum selesai. Pengabaian, tak selamanya baik. Ada kalanya, kita harus dengan gentle memasuki diri kita sendiri, blusukan ke dalam diri dan mencari tahu dimana kelirunya.

Dulunya, sebelum tahu ilmunya, saya selalu berusaha menepis memori-memori apapun saja yang datang jika hal itu sepaket dengan emosi negatif. Tetapi, setelah mengetahui ilmunya, bahwa segala kejadian sebenarnya tak lebih dari cara Tuhan menceritakan tentang diri-Nya sendiri, cara Tuhan bercerita tentang goresan asma-asma-Nya. Maka berbekal ilmu itu saya mulai memberanikan diri menjenguk memori negatif masa silam.

Saat benar-benar yakin kondisi kita fit dan sedang benar-benar menyadari bahwa Tuhan sebenarnya bercerita lewat kejadian hidup, maka kita permisi masuk kembali ke dalam memori masa lalu yang kita rasa kita belum “selesai”, untuk kemudian menilai ulang semuanya sebagai cerita Tuhan.

Memaknai ulang.

Dalam kaitannya dengan menulis, terutama yang bernuansa flashback, ternyata jika digunakan untuk memaknai kembali kejadian atau pengalaman hidup, bisa menjadi sebuah terapi akan hal itu.

Barangkali ada kejadian di masa lalu yang kita maknai sebagai sebuah tragedi atau keburukan, tetapi dengan kembali membongkar ingatan tentang hal tersebut (dengan bekal kesiapan mental dan cara pandang yang baru di masa kini) kita bisa terbantu untuk mengatasi trauma masa lalu. Asalkan kita “berangkat ke masa lalu dengan membawa amunisi berupa ilmu dan kepahaman yang lebih baik”. Memandang segala pengalaman hidup sebagai cerita dari Tuhan itu syaratnya.

Kan banyak sekali contoh sederhananya. Misalnya dulu waktu kecil kita pernah merasa begitu sedih saat kita tidak dibelikan mainan, dan kita menangis begitu pilu. Tetapi sekarang setelah dewasa, setiap kali kita mengingati hal tersebut maka kita cuma tertawa geli.

Memorinya sendiri masih ada, tetapi keterkaitan memori itu dengan emosi yang negatif sudah sirna. Karena, kita “mengunjungi” memori masa lalu itu dengan ilmu kita yang sudah lebih dewasa. Memori masa lalu itu, kita maknai ulang dengan kacamata ilmu yang baru. Jadi memori itu dan kita sendiri, sudah “berdamai”.

Sampai pada tataran dimana kita “berdamai” dengan masa lalu itulah, dimana flashback terhadap masa lalu menjadi masih fungsional. Setelah kita berdamai, dan pelajaran sudah kita dapat, tak terlalu penting-penting amat untuk menjenguk masa lalu.

Saya tidak mengerti teori psikologinya, tetapi hal ini saya amati pada diri sendiri, ternyata sangat praktikal, dan dalam satu dua literatur saya temukan bahwa pola seperti ini sering juga dipraktekkan para ahli terapi, meskipun tak selalu dengan cara menulis, tetapi dengan cara seperti tafakur dan dengan sengaja mengunjungi, membayangkan memori-memori masa lalu untuk kemudian melakukan re-framing, pemaknaan baru.

Barangkali, hal seperti inilah yang dipraktikkan seorang sahabat nabi, Abdullah Ibnu Umar, yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni syurga. [1]

Dikatakan penghuni syurga, tersebab amalan sederhananya, yaitu sebelum tidur beliau mengingat ulang keseluruhan kejadian seharian yang beliau telah alami, dan memaafkan setiap detailnya. Lalu beliau tidur dengan tidak membawa dendam kepada siapapun.

Yang paling pokok sebenarnya kalau mau diurutkan adalah pertama membenahi pemahaman bahwa semua hal yang terjadi adalah cara Allah bercerita.

Yang kedua, adalah menyadari bahwa kesadaran kita, “consciusness”, atau “aql” atau “qalb” dalam perspektif islam adalah apa yang disebut oleh Imam Ghazali sebagai “Raja di dalam kerajaan diri”.

Dalam kerajaan mikro kita ini, sang raja (atau kesadaran kita itu) haruslah menjadi tuan, menjadi penguasanya. Dialah yang mengharuskan seluruh jajaran elemen dalam pemerintahannya untuk tunduk dalam perintahnya. Dan menundukkan semua elemen dalam dirinya itu ada seninya sendiri-sendiri.

Khusus dalam kaitannya dengan menundukkan emosi dan memori masa silam ini, pengetahuan tentang takdir dan keridhoan menjadi sarat paling mutlak ternyata.

Lalu dengan bekal itulah, sang raja ini sesekali harus “BLUSUKAN” ke dalam dirinya sendiri. Dan menjenguk dengan cinta kepada elemen-elemen yang masih ngambek di dalam dirinya, sampai cinta sang raja menyembuhkan elemen-elemen yang sakit itu.

Dan kerajaan pun bisa kembali hidup tentram di “present moment”, masa sekarang. Dan melakukan fungsi terbaiknya, yaitu beribadah dan berkebaikan, serta memandang segala sesuatu dalam konteks ceritanya Tuhan.


[1] tentang ini pernah saya tulis di sini https://debuterbang.wordpress.com/2015/07/13/bermalam-di-rumah-penghuni-syurga/

Image sources

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s