BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (3)

pilgrimage

Bekerja di sebuah kontraktor Migas membuat saya berkesempatan berkomunikasi dengan macam-macam tipikal client. Dari macam-macam tipikal itu kadang-kadang saya bersinggungan dengan satu dua yang memiliki gesture kesombongan yang kurang nyaman.

Satu hal yang saya sempat kaget juga sebenarnya bukan sombongnya seseorang, akan tetapi stigma bahwa si A itu adalah orang yang sombong begitu melekat di benak saya sampai berbilang tahun. Dan baru saya sadari bahwa saya masih memendam stigma negatif itu pada seseorang; setelah sekian tahun tidak bertemu kemudian sempat berjumpa kembali karena salah satu urusan kantor.

Derrrrr begitu ketemu, penilaian negatif yang saya sematkan padanya dulu langsung keluar.

Padahal, setelah saya cermati, seseorang yang dulu menorehkan kesan sombong di mata saya itu, kini tak terlihat kesan sombongnya. Dia menjadi orang yang begitu biasa.

Artinya, yang saat ini bermasalah bukan lagi saya dan sikap orang itu, melainkan saya dan memori masa silam saya sendiri.

Ada banyak cara yang bisa dipraktekkan untuk mengoreksi pemaknaan terhadap memori masa silam. Sepanjang yang saya amati dan cermati dari diri saya pribadi dan dari yang saya baca, kesemuanya mengharuskan kita di “masa kini” memiliki paradigma atau cara pandang yang jernih dan lebih kuat atau lebih tinggi dari paradigma masa silam kita. Lalu kita mengenang masa silam sambil memberi pemaknaan yang baru.

“Mungkin orang tersebut dulunya masih muda dan euforia, wajarlah begitu”……boleh jadi itu salah satu bentuk pemaknaan baru.

“Mungkin orang tersebut dulu tak berniat sombong, tetapi tanpa sadar terlihat sombong oleh sebab gesture budaya yang berbeda”…..boleh juga dimaknai begitu.

Atau yang lebih advance……”kalau saya memaafkan orang tersebut, maka pahala dari Allah sudah tentu didapatkan. Derajat menjadi tinggi.”

Atau yang advance lagi……”bahwa orang itu, dan kita di masa silam hanyalah bagian dari plot cerita yang Allah zahirkan untuk menceritakan diri-Nya sendiri. Ceritanya mesti terjadi. Apa yang terjadi pasti berhikmah.”

Bolehlah pakai paradigma yang manapun saja sesuai maqom kita masing-masing. Pada pokoknya ternyata yang harus kita pahami bahwa paradigma kita sebisa mungkin mesti meningkat. Jangan stagnan. Dan untuk meningkatnya cara pandang itu perlu dua hal, perlu ilmu dan hikmah.

Saya juga baru-baru ini memahami bahwa ilmu dan hikmah itu dua hal yang berbeda tetapi berkaitan.

Ilmu, adalah “pengetahuan”, gampangnya kita katakan saja informasi. Data-data. KNOWLEDGE.

Akan tetapi, mengetahui informasi semata, memiliki ribuan data-data semata, tidak membuat seseorang memiliki kemampuan untuk memutuskan secara benar, untuk melihat hubung-kait antara data satu dan lainnya, untuk melihat pola besar dari kumpulan data. Kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai, analisa, dan memutuskan secara tepat itulah “hikmah”. Kebijaksanaan. WISDOM.

Banyak tahu (knowledge) tidak membuat seseorang secara otomatis memiliki hikmah (wisdom).

Dan hikmah ini, ternyata sepaket dengan rahmat. [1]

Jika diberikan hikmah, (tak semata knowledge melainkan juga diberikan kemampuan memetik makna dan mengerti hubung-kait antara data-data), maka berarti seseorang mendapatkan rahmat alias welas asih Tuhan.

Itu sebab saya rasa, asma Alimul Hakim dipasangkan. Bahwa selain dari mengetahui perbendaharaan segala data-data knowledge, Allah-pun Hakiim, bijaksana, wise. Memiliki hikmah.

Jadi untuk meningkat paradigma kita perlu tahu (knowledge), tapi semata tahu tidaklah cukup, perlu juga hikmah (wisdom). Dan ilmu beserta hikmah itu adalah bentuk rahmat Tuhan.

Kalau kita mendekati Yang Punya Rahmat, dengan sikap yang sama, yaitu sebisa-bisanya welas asih pada makhluq-Nya, maka tinggal menunggu giliran semoga Tuhan mengucurkan pada kita ilmu dan hikmat kebijaksanaan pada momennya yang tepat.

Tetapi barangkali itu tadi syaratnya. Orang yang welas asih, mestilah sering blusukan ke dalam diri, dan jangan menyimpan benci dendam. Ini PR buat kita, apalagi buat saya.

[1] Artinya : Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( Q.S. Al Baqarah : 269)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s