BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (4)

pilgrimage“Knowing weaknesses is a sign of success” kata salah seorang pimpinan di kantor kepada saya, waktu saya menolak diamanahi sebuah jabatan di kantor. Saya berdalih waktu itu bahwa saya mengetahui kelemahan saya, maka saya lebih suka jika orang lain saja yang menduduki posisi yang ditawarkan pada saya itu. Menurut saya, saya tak terlalu tepat menjabat pada posisi itu.

Akan tetapi, jawaban retoris dari pimpinan saya itu membuat saya sungguh sulit berkelit, “mengetahui kelemahan diri adalah ciri kesuksesan”, begitu katanya.

Dari dialah saya pertama kali mengetahui elaborasi lebih dalam dari istilah “self change” (perubahan diri) dan apa bedanya dengan “self awareness” (mawas diri).

Pengenalan manusia pada dirinya sendiri, sifat, karakter, adalah sungguh sebuah proses panjang. Dan dalam pengenalan itu, manusia akan mengetahui bahwa kumpulan sifat dan karakter yang membentuk kepribadian dirinya sesungguhnya adalah rekam jejak pengalaman hidupnya sendiri.

Kepribadian, dan karakter, tak perlu semuanya diubah selama tidak bertabrakan dengan syar’i dan norma masyarakat. Tetapi wajib kita memiliki sikap mawas diri (awareness).

Kembali kita bahasakan dengan sederhana mengenai “karakter” (character) dan bedanya dengan kepribadian (personality).

Kepribadian itu kurang lebih sisi yang lebih dalam dari pengalaman hidup manusia. Seperti gunung es. Kepribadian adalah sisi besar yang terendam dalam lautan, sedangkan karakter adalah sisi yang tertampil di luar dan terlihat oleh orang lain.

iceberg1

Makanya kita mengenal istilah “Pembangunan Karakter” atau character building. Karena yang bisa diubah sebenarnya bagaimana manusia menampilkan sisi terluarnya (karakter) dalam kaitannya dengan interaksi terhadap manusia lain.

Tetapi gunung kepribadian yang dalam itu, seringkali tidak bisa diubah, akibat dari puluhan tahun kita besar dan hidup dalam konteks dan situasi tertentu. Membentuk kepribadian kita.

Yang manusia bisa lakukan terhadap bagian dari dirinya yang tak bisa diubah adalah bersikap mawas akan dirinya sendiri, mawas diri alias self awareness. Dalam bahasa jawanya “Waspodo”.

Ada dua cara untuk mawas diri, sejauh yang saya amati.

Cara pertama adalah mendengar input dari luar. Misalnya, dalam sesi saling memberi masukan kepada teman, kita diberitahu bahwa kita itu jarang menegur kalau bertemu orang lain. Kita itu jarang tersenyum. Dsb….. Atau mengikuti tes psikologi.

Masukan dari orang lain itu membantu kita mawas diri. Oooh….ternyata menurut kacamata orang lain saya ini jarang tersenyum, saya jarang menegur sehingga terkesan sombong.

Maka kita menyesuaikan diri, dengan memperbanyak menegur orang-orang, memperbanyak senyum sehingga citra sombong akan perlahan hilang dari diri kita.

Pertanyaannya apakah sebenarnya kita memang sombong? Boleh jadi tidak begitu. Boleh jadi kepribadian kita adalah orang yang penyayang dan penuh welas asih kepada sesama.

Tetapi, bagaimanapun juga yang dibaca oleh orang lain adalah apa yang tertampil, maka agar tidak membuat orang salah paham, kita harus melatih bagaimana kita menampilkan kebaikan dalam bahasa yang oleh orang lain juga diterjemahkan sebagai kebaikan.

Belajar bahasanya masyarakat. Normanya masyarakat.

Menampilkan ramah dalam bahasa yang juga diterjemahkan orang lain sebagai keramahan.

Ini bukan mencari pujian, akan tetapi belajar berbahasa dalam bentuknya yang lain. Belajar mawas diri.

Saya rasa, inilah salah satu hikmah dari anjuran islam untuk berbuat amar ma’ruf.

Tadinya saya tidak paham apa itu amar ma’ruf, baru sekarang saya mengerti bahwa amar ma’ruf adalah berbuat sesuatu kebaikan yang lumrah pada masyarakat, yang sesuai dengan tata nilai dan norma masyarakat -selagi sesuai syar’i- maka kita lakukan. Itu amar ma’ruf.

Misalnya, sopan menurut tata budaya sunda adalah kalau lewat di depan orang lain kita membungkuk dan bilang “punteun“. Ini tidak melanggar syar’i. Dan baik.

Meskipun kita orang sumatera, maka kita amar ma’ruf dengan melakukan tatanan norma sunda kalau kita sedang di Bandung misalnya.

Itu namanya belajar mawas diri. Bukan mencari pujian, akan tetapi kita mawas diri bahwa kita sedang berada pada sebuah daerah dengan konteks tata norma yang berbeda dengan budaya kita sebelumnya. Ini amar ma’ruf.

Apakah dengan begitu kepribadian kita berubah? Belum tentu berubah. Hanya saja karakter berubah, hanya saja citra diri yang terpandang oleh orang lain berubah dan kita tidak membuat masyarakat keliru menyangka kita sebagai orang sombong tersebab kita enggan berbuat amar ma’ruf.

Itu cara mawas diri pertama. Mendengar input dari luar, lalu membiasakan diri melakukan amar ma’ruf yang sesuai dengan norma lingkungan. Membahasakan kebaikan dalam gesture dan laku yang juga dimaknai sebagai kebaikan oleh lingkungan kita.

Cara mawas diri kedua adalah dengan rajin-rajin. “masuk” ke dalam diri sendiri. Tafakur. Merenungi diri. Tazkiyatun nafs. Dzikrullah. Sampai kita mencapai kondisi mindfulness (kesadaran meningkat dan sangat waspada).

Dalam kondisi mindfullness maka seseorang akan menjadi begitu sadar dan “awas” terhadap berbagai elemen dirinya sendiri.

Dia “awas” terhadap gerak-gerik fikiran dan emosinya sendiri. Dengan begitu, maka seseorang menjadi mawas diri dengan sendirinya.

Sejauh pengamatan saya, cara kedua inilah yang akan mampu merubah jauh lebih dalam.

Barangkali kepribadian memang tidak berubah total, akan tetapi perubahannya bisa lebih drastis ketimbang latihan cara pertama -semata-.

Dalam literatur para arifin bahkan dikenal istilah wali abdal. Abdal berasal dari kata badal (alias pertukaran). Shifting paradigm. Cara pandang hidup berubah total. Seseorang yang cara pandangnya berubah secara totalitas, dan dengan itu dia menjadi sangat dekat pada Allah, mencapai taraf aulia.

Dan kedudukan semacam itu saya rasa sulit jika hanya memraktekkan mawas diri tipe pertama. Dia mesti memraktekkan mawas diri tipe kedua, yaitu rajin-rajin “masuk” ke dalam diri sendiri, tafakur, dan Dzikrullah.

Pada akhirnya. Pengetahuan mengenai keduanya baik untuk kita miliki.

Dalam kaitannya dengan berinteraksi pada masyarakat kita belajar mawas diri dengan amar ma’ruf.

Dan lebih lanjut, kita banyak-banyak tafakur dan Dzikrullah sehingga mencapai kondisi mawas diri yang lebih dalam lagi.

Kesalahan saya, setelah saya teliti, adalah melulu belajar tafakur, akan tetapi kurang pandai mawas diri dalam tataran amar ma’ruf yang sesuai dengan bahasa masyarakat. ini PR besar, dan harus pelan-pelan dibenahi.

Menarik sekali.


Image sources

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s