TIPS BELAJAR DAN MENGENALI YANG BELAJAR

Saya teringat dengan salah seorang rekan saya waktu SMA dulu. Beliau ini sangat ahli di ilmu hitung-hitungan, fisika dan matematika adalah kegemarannya. Nilainya selalu tinggi untuk ilmu-ilmu hitungan seperti itu. Tetapi untuk bidang ilmu lainnya dia tak seberapa mahir. Satu hal yang saya ingat dari dirinya adalah kesediaan untuk belajar.

Pernah dalam satu sesi mata pelajaran, dia bertanya pada saya bagaimana caranya “ngomong” di depan umum. Ya saya katakan, tinggal ngomong saja, hahaha….. Tapi rekan satu ini ternyata serius. Dia bahkan memberanikan diri waktu itu untuk berdiri dan ikut berdebat dan menyampaikan pendapat di salah satu sesi diskusi di dalam kelas. Selepas diskusi dia bertanya pada saya meminta pendapat. Luar biasa memang kawan satu itu. Eh tak dinyana sekarang sudah jadi salah satu petinggi di kepolisian provinsi kalau tidak salah. Dari beliau saya bercermin kesediaan untuk belajar.

Kesediaan untuk belajar ini, kalau saya tilik bisa ditimbulkan dari setidaknya dua hal: Pertama dari kesadaran bahwa diri ini sebenarnya tak banyak tahu. Yang kedua kecintaan yang sangat besar terhadap ilmu.

Menarik, mengetahui sebuah fakta bahwa satu-satunya hal yang Rasulullah diperintahkan untuk meminta tambahan atasnya adalah ilmu. Sudah punya, tapi disuruh minta lagi dan minta lagi, yaitu ilmu itu.

hawkingsBerkaitan dengan ilmu ini, rekan-rekan barangkali sudah tahu dengan Stephen Hawkings. Seorang ilmuwan besar yang badannya lumpuh total. Satu-satunya yang bisa dia gerakkan adalah otot area wajahnya. Dan dari sanalah dia dihubungkan dengan sebuah komputer yang membuat dia bisa mengetik, lalu tulisan di komputer itu dibaca oleh mesin, jadi seolah-olah dia bicara, padahal mesin yang bicara.

Sekujurnya tubuhnya lumpuh, tapi “dia” masih ada. “Kesadarannya” masih hidup. Dan masih bisa berinteraksi dengan kita.

Karena tubuhnya sudah lumpuh total, dan kurang lebih sekedar aksesori saja, saat orang-orang berbincang dengan Stephen Hawkings, sebenarnya orang-orang berbincang dengan “Kesadaran” Stephen Hawkings itu, jasadnya itu hampir tak ada fungsi. Jadi jelas sekali, bahwa “kesadaran” manusia itulah yang disebut sejatinya diri manusia.

Oke, sekarang fisiknya sudah kita nafikan, kita kesampingkan dulu, kita tahu ada sebuah “kesadaran” yang masih hidup disana. Yang meskipun tidak ada fisiknya, dia pun masih ada. “Kesadaran” Stephen Hawkings ini, masih hidup dan membawa seperangkat keilmuan. Orang-orang masih bisa belajar dan membaca buah pikir Stephen Hawkings, diskusi, meskipun hanya diskusi dengan sebuah “kesadaran”.

Artinya, “kesadaran” inilah yang menampung ilmu.

Perangkat pertama yang dipunyai sebuah “kesadaran” ini yaitu jasad fisikal. Lalu perangkat kedua yang dipunyai sebuah “kesadaran” ini yaitu perangkat “mental” alias segala rekam pengalaman hidup, ilmu, dan lain-lain.

Jadi, ilmu itu sebenarnya perangkat juga. Sesuatu yang dibawa-bawa oleh human consciusness, dibawa-bawa oleh “kesadaran” manusia.

Sesuatu yang dikatakan sebagai Human Consciusness itu, “Kesadaran” kita itu, sudah ada sejak kita di dalam kandungan, dan masih ada setelah kita lahir, dan masih ada setelah kita besar, dan akan tetap ada setelah kita mati (hanya saja pindah alam). Semuanya kesadaran yang sama.

Akan tetapi, yang membuatnya berkembang, tumbuh dan mengalami individuasi, menjadi lebih baik seiring pendewasaannya, adalah sesuai dengan apa-apa yang dia serap.

Jadi, salah satu cara untuk menjadi “dirimu” yang lebih baik adalah dengan menyerap lebih banyak ilmu.

Pengalaman hidup, ilmu, itulah sebenarnya yang membuat sebuah “kesadaran” mengalami individuasi dan menjadi sesuatu yang kita kenal dengan identitas diri kita. Pengalaman hidup yang diserap oleh “kesadaran” kita itu, pada gilirannya membentuk cara pandang mental yang kita kenal dengan ego. Ego itulah kita yang telah mengalami individuasi.

Akan tetapi. Kita ternyata juga harus memahami bahwa “ilmu”, itu sejatinya milik Tuhan. Sudah banyak orang-orang arif yang mengatakan bahwa kita tidak boleh mengaku memiliki ilmu, tetapi kita harus sadari bahwa kita dipinjami ilmu.

Sekarang, yang menjadi menarik adalah, saat kita mengetahui bahwa ilmu sejatinya bukan milik kita, dan tak boleh diakui sebagai milik kita; sedangkan kita tahu bahwa kumpulan pengalaman hiduplah, ilmu-lah yang membuat sebuah “kesadaran” manusia tumbuh dan mengalami individuasi menjadi orang-orang yang berbeda, menjadi identitas, menjadi ego; maka ternyata memang masuk akal bahwa kita tidak boleh mengaku “wujud”.

Tidak boleh mengaku ada. Karena, sejatinya identitas yang kita akui sebagai “ada” itu adalah kumpulan pengalaman hidup, kumpulan ilmu, bukan?

Dan kalau kita tidak boleh mengakui ilmu sebagai milik, maka konsekuensi logis berikutnya adalah tidak bolehnya kita mengakui identitas mental atau ego kita sebagai sesuatu yang “wujud”.

Menghilangkan keakuan.

Seninya disini rupanya.

Pada satu sisi kita diminta untuk semakin belajar, semakin menuntut ilmu, dan mengakibatkan kita akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Tapi di saat yang sama, pengakuan kita terhadap ilmu harus dilepas, yang pada gilirannya akan membuat kita menyadari bahwa kita sendiri sebenarnya tidak wujud.

Pada kondisi seperti itulah baru terasa jika kita lepaskan semua atribut fisikal, dan melepaskan semua atribut mental dan keilmuan, melepas nama, adakah bedanya antara saya, anda, mereka, kita?

Ternyata tiada beda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s