DALAM DUNIA YANG WAJAR DAN BIASA TETAP ADA DIA

Pagi ini saya tiba-tiba teringat sebuah tulisan dari Mas Prie GS, Budayawan terkenal itu. Dimana seusai dia mengisi sebuah acara seminar, dan berbicara dalam level yang tinggi, istrinya nelpon, “Pak’e, jangan lupa nanti pas pulang beli beras”.

Seketika itu juga tatanan teori yang tadinya sudah kadung tinggi, dan pergolakan intelektual yang mengaduk-aduk emosi itu seperti ditarik balik untuk mendarat di bumi. BUUUMM… Pak’e jangan lupa beli beras. Hahahaha.

Secara spiritualitas, sering juga saya cermati hal seperti ini terjadi. Dimana, dalam kajian filosofis yang berat-berat, sering kita merasakan bahwa hal-hal sederhana dalam kehidupan kita menjadi kurang berbobot. Bekerja menjadi malas. Dunia seperti tak ada harganya lagi.

Seperti tadi pagi, sembari menunggu jadwal meeting pagi di kantor client, saya kembali merenungi perbedaan antara konteks kata RABB dan ILLAH. Apakah Rabb dan Illah bisa secara sederhana dimaknai sebagai Tuhan saja, atau ada konteks yang lebih pas untuk peruntukannya sendiri? Mengapa kata Rabb digunakan dalam konteks membaca dunia ciptaan? Iqro bismirabbika…..sedangkan kata Illah digunakan dalam konteks yang lain, semisal dalam ungkapan Ilahi Anta maqsudi…. Dst. Lalu terbayang pula jangan-jangan Rabb dan Illah ini juga dua kata yang bermuara pada Dualitas sifat fi’liyah-Nya, JALAL dan JAMAL-Nya. Dualitas yang akan selalu ada dalam kancah dunia sifat-sifat, untuk menceritakan sang Empunya, yang Tunggal.

Berfikir dan merenungi hal yang begitu, lalu membandingkannya dengan kajian para arifin tentang hubungan manusia, alam dan Tuhan, membuat dunia pekerjaan menjadi seperti kurang meaningfull. Kurang berarti. Menjadi malas.

Dan lalu, secara drastis saya mengalami kejadian seperti yang diceritakan Mas Prie G.S. itu, kejadian hidup yang membawa kita kembali ke alam kenyataan. Usai meeting dimarahi client dan diminta untuk segera memberikan salah satu report untuk menjelaskan kenapa eksekusi lapangan berbeda dengan planning.

Lalu sepulang dari meeting langsung kebut berjibaku kembali dengan tugas-tugas yang setumpuk. Dan melupakan segala kajian filosofi yang pelik itu. Kita diajak kembali hidup dalam kenyataan.

Tetapi, satu hikmah yang saya renungi, bahwa betapapun duniawinya kenyataan hidup yang kita jalani sekarang, dalam pemaknaan yang tepat maka sebenarnya kita sedang meniti akhirat lewat sesuatu yang nampak duniawi itu.

Jika kita memandang, bahwa akhirat dan spiritualitas semata berbaju istilah-istilah agama, dan ritus-ritus peribadatan, kan akhirnya kita kembali menjadi seseorang dengan cara pandang yang begitu sempit. Dikira bahwa spiritualiltas tidak mampu menembusi sekat-sekat aktivitas selain yang ritus keagamaan.

Dulu, waktu awal-awal senang menekuni spiritualitas islam, saya begitu senang sholat Dhuha sampai lama. Sampai akhirnya saya tersadar, bahwa menjalankan tugas kantor (yang mana saya sudah tanda tangan kontrak atau perjanjian), adalah lebih utama dibanding berlama-lama sholat Dhuha. Dengan saya berlama-lama Dhuha, maka saya lalai terhadap tugas kantor yang saya ada janji terhadapnya.

Lain soal kalau ibadah wajib, dan lain soal kalau memang kantor lagi tak ada tugas.

Akhirnya, saya belajar mencintai kenyataan. Bahwa jejak-jejak hikmah dan pengaturan Tuhan terbaca dalam setiap lini hidup yang apapun saja.

Rasulullah SAW, dalam kehidupannya yang begitu spiritual, juga ditarik masuk kedalam keduniawian yang bersahaja, saat beliau sampai menyepi ke dalam gua cukup lama karena bingung sewaktu istri-istrinya menuntut nafkah lebih dari jumlah harta yang biasa Rasulullah berikan.

Ibrahim a.s begitu pula, dalam kehidupannya yang sangat spiritual itu, juga ditarik “mendunia” lewat kebingungannya Sarah dan Hajar clash terus.

Umar bin Khattab, the conqueror, penakluk Romawi dan Byzantium di masanya kalau tak khilaf, juga dibuat membumi lewat berdiam diri-nya beliau, saat diomeli istrinya.

Tetapi dalam keduniawian itu, ternyata tidak satupun yang lepas dari PLOT cerita takdir. Dan keduniawian yang wajar itu ternyata masih juga dalam satu alur cerita DIA bercerita tentang diri-NYA sendiri.

Maka, dalam kebingungan, setelah ini ngapain ya? Bagaimana lagi yang harus dilakukan agar spiritualitas menjadi naik? Ternyata jawabannya memang benar seperti para guru katakan, lakonono saja tugasanmu yang sekarang. Just do it. Meskipun secara harfiah begitu duniawi, akan tetapi dalam cara pandang yang tepat, justru hal-hal duniawi yang sederhana dan wajar itulah jalan hikmah untuk masuk.

Teringat cerita dalam Lathaiful Minan, seorang ulama mazhab maliki, Ibnu Athaillah saat telah menekuni spiritualitas islam lalu merasa hidupnya selama ini ga guna. Dia pengen total menspiritual. Pengen berkhidmat pada gurunya. Lalu kata gurunya, ga gitu caranya….. lakoni saja bagianmu. Apa-apa yang menjadi bagianmu dariku pasti akan sampai padamu.

Kalau bahasanya Ust. Hussien, jangan kalang kabut….nanti DIA susunkan caranya.

Nah… kalau dalam keseharian yang terlalu menspiritual itu, lalu tiba-tiba rekan-rekan ditarik kembali untuk menduniawi, itu saya rasa bukan penanda Tuhan tidak ingin kita menspiritual. Justru itu penanda bahwa DIA begitu bijaksana. Mengenalkan diri-NYA lewat dunia yang apa adanya pada kita.

Bayangkan, kalau diri-NYA semata terpandang dalam citra-citra haru mendayu-dayu, apa ga pusing hidup kita berhari-hari dilewati dengan nangis-nangis melulu?

Maka itu, sekali-kali dikirim-Nya cerita yang begitu wajar dan biasa. Dalam wajar dan biasa yang dunia itu, tetap ada cerita-Nya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s