MUSA DAN SULAIMAN BERBEDA “RASA” 

Dalam konteksnya sebagai penggerak amaliyah manusia, “rasa” yang ada pada kita berperan sebagai “kacamata”. Lewat kacamata “rasa” yang mampir pada kitalah; Allah SWT bercerita.
Yang namanya kacamata, tentu bukan menjadi objek pandangan, akan tetapi kacamata hanyalah semacam tabir yang membantu kita memandang.

“Rasa” yang ada pada Musa a.s. Adalah suasana batin yang penuh takut dan harap. Dikejar Fir’aun. Jadi pelarian. Kesendirian. Memimpin kelompok yang ngeyelan. Menyeberang lautan. Dan segala macam “rasa” yang menyodorkan Musa konteks memandang Tuhan dalam suasana penuh harapan.

Lain lagi dengan “rasa” yang melingkupi Sulaiman a.s. Rasa yang penuh kebersyukuran. Kerajaan yang luas. Kekuasaan yang belum pernah ada yang dianugerahi sesuatu semacam itu sebelum beliau, dan tak akan ada lagi yang dianugerahi yang semacam itu sesudah beliau nanti. “Rasa” kebersyukuran itulah yang menjadi konteks Sulaiman a.s. Dalam memandang ceritra dari Tuhan.

Setiap orang, tidak akan mampu memandang atau melihat di luar konteks “rasa” itu, maksudnya Musa tak akan melihat dunia dari kacamata Sulaiman, sebagaimana Sulaiman tak akan melihat dunia dari kacamata seorang Musa. “Rasa” yang dititipkan pada tiap-tiap orang berbeda.

Bagaimana kaitan “rasa” atau dalam tanda kutip “kacamata” spiritualitas setiap orang ini dengan amal?

Saya mencermati kajian para alim : Untuk urusan syariat yang wajib, rumusnya adalah “berbuat sesuai tuntunan, mana yang boleh mana yang tak boleh; tidak boleh menghiraukan passion atau rasa atau hasrat”.

Sebaliknya, dilengkapi oleh para arifin. Untuk urusan yang bukan ibadah fardhu, urusan sikap batin dan amal yang lebih, dalam keseharian. Sesuaikan dengan maqom, level spiritualitas, keterpandangan, alias “Rasa” yang dianugerahkan pada kita sebagai kacamata memaknai ceritra Tuhan.

Untuk urusan Sholat misalnya. Wajib kita melakukan sholat, walaupun kita sedang malas.

Akan tetapi, ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan sesuai dengan “rasa” yang mampir pada kita. 

Misalnya Abu Bakar a.s. Menafkahkan semua hartanya tanpa ada sisa. Ini adalah sebuah amalan yang tidak aplicable, tidak praktikal untuk orang awam. Orang awam, tuntunan standarnya misalnya zakat 2.5%, orang awam tidak bisa gebyah uyah melakukan amalan Abu Bakar, karena itu bukan tuntunan standar. “Rasa” yang mampir beda.

Jangan mengabaikan “rasa”. Orang yang hatinya masih disambangi gelisah, seharusnya bukan mengutuk diri karena belum mencapai maqom pasrah tingkat tinggi. Melainkan, setiap yang disambangi gelisah, berarti harus memandang Tuhan dengan kacamata rasa harap akan pertolongan.

Karena itu kacamata yang diberikan.

Seperti apa “rasa” yang mampir, lewat itulah sikap ubudiyah dibangun. Karena setiap hari kita diberikan rasa yang bergilir-gilir sebagai bahan untuk “ngawulo”. Menghamba.

Setiap “rasa” yang mampir pada kita dan menjadi kacamata kita dalam memandang hidup, adalah menjelaskan mengenai Asmaul Husna.

Asmaul Husna adalah citra sifat-sifat. Lakuan-Nya. Af’al. Kacamata dalam memandang.

Sedangkan DIA sebagai Yang Dipandang, tidak ada perumpamaannya. Laisa kamislihi syaiun.

Saya rasa perbedaan mendasar antara islam dan approach spiritualitas di luar islam adalah bahwa islam mengajarkan bahwa citra sifat-sifat atau af’al-Nya dalam Asmaul Husna itu, hanya kacamata kita dalam memandang DIA. Bukan Tuhan itu sendiri. 

Tuhan, diriNya, tak bisa manusia persepsikan seperti apapun. Tapi perbuatan-Nya, ciptaanNya bercerita lewat alam ini.

Lewat kacamata inilah manusia berakrab-akrab padaNya. 

One thought on “MUSA DAN SULAIMAN BERBEDA “RASA” 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s