RASA GELISAH ITU TIDAK TERCELA

Sampai jam 11 malam rekan saya masih bekerja mempersiapkan dokumen untuk menghadapi audit esok harinya. Saya pun membantu juga, jadi sambil ngantuk-ngantuk malam itu kami masih sibuk utak-atik dokumen di kantor. Tetapi dalam kesibukan dan letih itu saya mendapatkan sebuah hikmah.

Hikmah itu adalah rasa syukur. Syukur dalam keletihan.

Sebelum ini, saya bekerja di lapangan pengeboran migas dalam jadwal yang ketat. Menghabiskan hari dengan terasing di tengah hutan atau di tengah laut. Bagi sebagian orang, hal itu memang petualangan yang seru, begitupun bagi saya awalnya. Tapi lama kelamaan saya letih, dan merasa tak nyaman. Lalu alhamdulillah dalam keletihan itu Allah SWT menempatkan saya untuk bekerja di kantor, tidak lagi di lapangan.

Walhasil, sekarang saya lebih banyak berkutat dengan presentasi dan laporan. Ada keletihan yang baru lagi, tetapi saya menyukai pekerjaan ini. Maka dalam letih pun, pelan-pelan tumbuh rasa syukur. Saya mengerjakan pekerjaan dengan makna syukur itu.

Disini kemudian saya baru menyadari bahwa kadang-kadang kita memaknai perasaan itu sering terbolak-balik. Sering keliru.

Umpamanya begini. Di saat saya menjalani pekerjaan lapangan dulu, saya merasa letih dan ingin berpindah. Ada sebuah rasa letih dan penat menyambangi saya. Akan tetapi karena cara saya memaknainya kurang pas, ada konflik batin di diri saya. Konflik itu adalah, karena saya mengira bahwa keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih baik itu menciderai rasa syukur. Padahal itu keliru.

Yah…maklumlah. Dulu saya belum begitu paham, bahwa lewat kacamata “rasa” yang mampir pada diri kita itulah ubudiyah ditegakkan.

Sekarang-sekarang saya baru mengerti. Jika rasa letih menyambangi kita, rasa ingin mendapatkan pertolongan menyambangi kita, maka itulah “kacamata” yang dikirim pada kita untuk memandang kehidupan dan kaitannya dengan Tuhan; saat ini.

Maka menjadi fakirlah! Menjadi butuhlah akan Tuhan. Berdo’alah maka Tuhan akan mengabulkannya.[1]

Jangan terbalik-balik. Sedang dihampiri rasa butuh akan pertolongan, eh malah disangkal dan memikirkan “kok saya tidak disambangi rasa kebersyukuran ya?”

Beda konteksnya.

Kita ingat Nabi Musa a.s. melantunkan doa yang begitu masyhur, untuk agar dilapangkan dadanya, dilancarkan bicaranya, diberikan teman, kala beliau diperintah menghadapi Fir’aun.

Artinya, secara manusiawi Musa a.s pun gelisah, sehingga meminta dilapangkan dada.

Dan…. Ini yang penting….rasa gelisah itu tidak tercela lho, selama rasa gelisah itu dijadikan tunggangan menuju Tuhan. Dijadikan “kacamata” memandang Tuhan. itu malah penanda bahwa Tuhan sedang mengajarkan asma-asmaNya kepada kita lho.

Kalau gelisah menyambangi kita, maka tunggangilah kegelisahan itu agar jadi kendaraan menuju Tuhan.

Tetapi, bukankah yang paling baik adalah bersyukur atas setiap kejadian?

Ya…benar….akan tetapi, sikap itu juga disetir oleh “rasa” yang turun kepada kita.

Jika kita terbiasa menjadikan setiap rasa yang silih berganti datang sebagai kacamata memandang Tuhan, maka pada gilirannya sendiri “rasa” yang turun akan berbeda bentuk. Mendewasa. Karena DIA mengajari asma-Nya yang lainnya lagi.

Dalam kesulitan, dimana biasanya datang gelisah, eh…malah datang bahagia. Dalam kesempitan malah datang syukur. Ya tak apa….. kita tunggangi lagi rasa itu menuju Tuhan.

Ada segolongan orang yang mendapatkan anugerah untuk langsung berada pada tahapan “rasa” yang tinggi. Ada masalah, “rasa” yang turun malah happy, anteng, seperti ga ada apa-apa. itu adalah tipe yang tidak umum. Alias “Tanazul“. Ujug-ujug di atas. Malah mereka harus menjalani kehidupan dengan menterjemahkan “rasa” yang mereka dapat pada orang-orang dengan tangga spiritualitas dibawah mereka. Dari atas ke bawah.

Akan tetapi, perjalanan kita, atau setidaknya saya sendiri, adalah melalui step-step tahapan yang normal, mendaki, dari bawah ke atas, atau yang dalam literatur para arifin disebut “Taraqqi“.

Pada pokoknya, bukan “rasa”nya itu. Akan tetapi kejujuran menilai maqom diri. Juga sikap untuk tidak mengabaikan rasa yang turun; alih-alih menjadikan setiap gejolak rasa sebagai tunggangan menuju Tuhan.

Dan dalam setiap rasa apapun yang datang itu, jika kita jadikan kacamata dalam memandang-Nya maka itulah yang dimaksud dengan menyeruNya, lewat nama-Nya.[2]

memandangnya lewat ketersingkapan kita masing-masing.

[1] Ulama arifin memaknai hal ini dengan lebih dalam. Jika keinginan datang, hal ini penanda Allah ingin memberi.

[2] Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS Al Isra : 110)

One thought on “RASA GELISAH ITU TIDAK TERCELA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s