TIPS MEMANDANG YANG BIASA SEBAGAI YANG AJAIB

Tergelitik juga untuk menulis hikmah yang saya petik dari viral-nya tentang Kanjeng pengganda uang.

Dari sisi sufistik, kalau melihat dari wejangan para guru yang arif, segalanya adalah sandiwara Ilahi. Jadi apapun yang terjadi mesti ada hikmahnya. Termasuk viral-nya kanjeng pengganda uang ini. 

Dari sisi depan, kalau mencoba untuk iqro’ dan membaca pola, biasanya memang keyakinan yang dibangun atas dasar penampilan keajaiban yang spektakuler adalah begitu rapuh. 

Barangkali contohnya adalah Ummat Musa a.s. Tongkat Musa bisa menjadi ular sungguhan. Bukan rekayasa pengelihatan, tetapi benar-benar menjadi ular. Belum lagi ditambah dengan laut yang terbelah. itu sangat spektakuler.

Belum lagi, ummat Musa a.s diturunkan hidangan dari langit. Manna wa salwa, yang satu makanan manis seperti madu dan satunya lagi konon adalah burung seperti burung puyuh yang diperintahkan terbang rendah sehingga gampang ditangkap.

Tetapi, dengan semua keajaiban yang spektakuler seperti itu tetap juga mereka membangkang. 

Dengan diberikan manna wa salwa, malah mereka meminta Musa berdo’a pada Tuhan agar makanan yang turun lebih variatif. Mbok ya turun kacang-kacangan dan sayur mayur gitu.

Dengan terbelahnya laut merah, malah mereka membuat patung sapi (karena patung sapi juga ada keajaibannya, yaitu bisa mengeluarkan suara karena gerak angin yang diatur lewat saluran udara dalam patungnya).

Keyakinan yang disandarkan pada -semata- keajaiban, akan menjadi begitu rapuh dan sering kali membutakan. 

Tapi memang, itu kan Zamannya nabiyullah Musa a.s. di zaman itu, orang-orang tidak menyukai tafakur yang dalam, mereka menyukai demo keajaiban. Tuhan-pun diminta terlihat dengan mata fisik.

Seiring zaman, hingga zaman Muhammad SAW. Mujizat yang diturunkan adalah Al Qur’an. Ada sih keajaiban, tetapi bukan semata keajaiban itu sebagai sandaran, melainkan perombakan paradigma lewat Al Qur’an.

Barangkali, itulah kenapa di dalam Al Qur’an ada ayat yang mengatakan, apakah tidak kamu fikirkan? tidakkah kamu berfikir? suruh lihat langit. lihat bintang. bahkan lihat diri kita sendiri. Tanda-tanda itu tersebar di seluruh alam ini.

Keyakinan yang semata didasarkan pada ketakjuban akan keajaiban dan hal mistis, akan hancur dan lebur saat bertemu keajaiban lainnya yang lebih besar.

Tetapi, keyakinan yang dimulakan dengan benarnya cara pandang, paradigma, ilmu, justru akan membuat segala hal yang alamiah dan biasa; terlihat keajaibannya. Pengaturan-Nya.

Apa-apa yang bagi orang lain seperti sesuatu yang biasa, bagi kita malah menjadi ajaib.

Saya rasa, itu bisa jadi salah satu panduan kita mencari guru. Kalau kita mencari guru, janganlah mencari guru yang bertabur keajaiban. Akan tetapi, carilah guru yang mengajarkan kita cara memandang hidup dengan benar.

Boleh jadi tidak ada hal yang spektakuler dan magic-magic pada dirinya, tetapi dengan “unlock”-nya paradigma kita, dengan benarnya cara memandang terhadap kehidupan, tahu kaitannya antara Tuhan dan alam, maka kita akan memandang hal-hal yang biasa bagi orang lain, tetapi menjadi ajaib di mata kita.

Tak ada yang beda pada luarnya, tetapi hikmah merasuk dalam hati, hingga berkata “tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia”. Ma Kholaqta hadza bathila…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s