ADAB LUAR DALAM

img_20161026_185526-01Barulah saya mengerti sekarang tentang adab berjalan ke dalam dan ke luar.

Pada perjalanan ke dalam diri sendiri, kita membangun keakraban pada Tuhan. Maksudnya adalah keakraban pada Tuhan itu biarlah menjadi hubungan yang begitu personal antara hamba dan Tuhannya. Bila perlu tak diketahui oleh orang lain.

Sedang….perjalanan ke luar, kita menabur kemanfaatan pada orang banyak. Maksudnya adalah, pada sekeliling kita, yang kita berikan adalah hikmah dan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Satu hal ini kita sering keliru. Di dalam diri kita mendaku untuk telah memberi manfaat dan sumbangsih pada sekeliling. Tapi ke luar diri, yang tertampil dari kita untuk orang lain adalah melulu citra kesalihan, bukan sebuah amal dan sumbangsih kebermanfaatan yang nyata.

Citra kesalihan itu, tak harus menjadi suatu yang ditampilkan. Sebagaimana jamak kita dengar, kekasih Allah itu disembunyikannya diantara segolongan manusia. Tak ada yang tahu. Biarlah perhubungan antara manusia dan Tuhannya itu menjadi hubungan personal yang dalam. Urusan kita adalah, bagaimana kita memberi kebermanfaatan pada sekeliling kita.

Walhasil, jika kita berjalan ke luar diri, bahasa yang tertampil adalah bahasa kebermanfaatan. Bukan bahasa citra kesalihan diri.

Tentu ada jenak dimana syiar itu penting. Berarti mau tak mau perhubungan antara manusia dan Tuhan akan tertampil juga pada aktivitas luar manusia itu sendiri. Tetapi, ternyata step-step yang dituntunkan Rasulullah juga sudah sangat clear. Bahwa kebaikan yang tertampil itu mestilah mengikuti runutan : Bil Hikmah, mauidzoh hasanah, dan terakhir adalah perdebatan.

Hikmah dulu, artinya menebar kebermanfaatan yang terasa bagi sesama. Baru setelah itu pada urutan kedua adalah nasihat. Baru kalau sudah mentok adalah perdebatan, yang sebagai opsi terakhir.

PR besar saya adalah, membangun kedekatan yang begitu personal dengan Tuhan, dan kemudian menabur kebermanfaatan yang nyata bagi sekeliling. Saya kadang terbalik, di dalam diri mengira sudah bermanfaat bagi sekeliling, tetapi sebenarnya yang saya tabur ke luar adalah citra kesalihan, bukan kebermanfaatan nyata.

Barangkali anda memiliki PR  yang serupa. Masih ada waktu berbenah.

Hayuuuk


*) Foto saya jepret dari mobil sepulang kantor, di jalanan Jakarta yang mengular seperti biasanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s