DUA BOTOL AQUA DAN SPIRITUALITAS EKSENTRIK

Seorang kawan saya waktu kuliah dulu, style-nya sangat eksentrik. Kemana-mana membawa tas gembong dengan dua buah botol aqua di sisi kiri dan kanannya. Rekan-rekan saya selalu tahu kepada siapa harus meminta minum jika mereka haus dan tak membawa minum, tentu kepada kawan saya yang eksentrik itu. Wong tiap hari bawa dua botol aqua besar.

Karena sikap eksentriknya yang  tampak selalu bersemangat dan unik itu, orang-orang dengan keliru mengira rekan saya itu sebagai orang yang “meledak-ledak” sifatnya. Saya membantah, saya katakan rekan saya itu bukan “meledak-ledak”, alih-alih dia “meledak terus”, hahahaha.

Anda tahu apa jawabannya saat ditanyakan kenapa setiap hari membawa dua botol aqua di sisi kiri dan kanan tas gembongnya yang besar itu, meskipun dia hari itu sedang puasa? Jawabannya adalah, “saya pernah dengar kisah seorang wanita saja masuk syurga karena ngasih minum anjing, masa iya saya kalah, saya kasih minum manusia”.

Gedubrak… ini alasan sangat spiritual dan X-factor sekali.

Barangkali rekan saya itu tak mengingat fragmen waktu kuliah itu, tapi saya ingat dan saya merekamnya dengan jelas dalam memori saya. Pada dia saya belajar kebermanfaatan. Menjadi berguna pada sekeliling kita. Fungsi sosial kita.

Kenapa tiba-tiba saya kembali teringat tentang hal ini? Karena berapa hari lalu menghadiri sebuah seminar parenting di TK anak saya.

Seorang ibu yang hadir bertanya, “Mana yang didahulukan. Potensi ataukah minat anak? Seringkali kita melihat bahwa anak kita memiliki potensi di suatu bidang, tetapi dia terlihat tak berminat”. Tanya ibu itu pada sesi sharing seminar parenting itu.

Dijawab oleh pembicara seminar, bahwa dalam konteks pendidikan anak TK ini, menemukan potensi berarti adalah menemukan passion anak. Karena sebagian anak terlahir multitalenta, dia bisa begitu mahir di banyak bidang, karena memang dasarnya cerdas, tapi cerdas pada suatu bidang tak selalu berarti dia tertarik dengan bidang itu. Membantu anak menemukan ketertarikan, membantu anak mengenali passionnya, itulah intinya peran orang tua.

Tapi, satu hal yang menarik saya catat dari sharing seminar kali itu adalah moto dari sang pembicara bahwa segala potensi apapun saja yang ada pada anak, harus berada dalam bingkai kebermanfaatan untuk orang lain. Anak kita, boleh saja memiliki passion apapun saja dalam hidupnya, selama passion itu sejajar dengan fungsi rahmatan lil alamin. Maka kita sebagai orang tua harus mensupport anak.

Memberi kemanfaatan, sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itu dia.

Hal ini kembali mengingatkan saya dengan kawan saya yang unik itu tadi, juga mengingatkan kembali dengan bahasan yang lebih dalam secara spiritual.

Kalau dulunya saya mengira bahwa spiritualitas itu adalah semata hidup dalam sikap kerahiban, menjadi pertapa, hidup seperti pandito, belakangan saya sadari bahwa hal itu keliru. Justru kalau benar kita memaknai kecimpungnya kita dalam hidup, makna-makna lebih banyak kita dapat dari kehidupan lho.

Dan belum lama berselang, seorang kawan berpulang ke Rahmatullah. Seorang yang biasa, dengan kebaikan yang bersahaja, tetapi gelombang simpati mengalir begitu deras tak henti-hentinya. Saya terheran-heran, apa gerangan kebaikan orang ini? Kenapa begitu banyak yang berterimakasih?

Ternyata ya itu tadi. Dalam persepsi dia, hidup itu adalah menabur kebaikan sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Kebaikan yang sederhana saja, tetapi yang tulus karena ingin menjadi rahmat.

Hidup adalah untuk menabur sebanyak-banyaknya kemanfaatan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya. Yang berbaik-baik pada makhluq ciptaan-Nya sejatinya berbaik pula pada penciptanya.

Tidaklah jin dan manusia diciptakan melainkan untuk beribadah kepada-Nya, Ibnu Abbas mengatakan bahwa mengibadahi-Nya itu berarti “mengenali-Nya” dulu. Dan dalam konteks ibadah sebagai maksudnya dalam upaya pengenalan itu tadi, maka spektrumnya menjadi luas sekali.

Keseluruhan asmaul Husna, kata para ulama arifin adalah bercerita mengenai perbuatan-Nya, fa’al-Nya. Dan perbuatan-Nya, alias kenyataan dari af’al-Nya itu terlihat pada keseluruhan lini hidup.

Ada sempit ada lapang. Ada susah ada senang. Siang-Malam. Apapun saja yang dualitas, yang kita lihat dalam hidup ini sebenarnya cara DIA bercerita. Yang bercerita itu ESA dan tak terdefinisi, cara DIA bercerita adalah memunculkan segala dualitas ciptaan, segala dualitas ciptaan (atau perbuatan-Nya) dirangkum dalam dualitas makna Asmaul Husna, Jalal dan Jamal-Nya.

Dengan seperti itu cara melihat, maka akan muncul pengertian bahwa bukan –semata– hidup menjadi rahib atau pandito lho yang spiritual itu, akan tetapi berkecimpungnya kita dalam keseharian yang penuh dualitas ini pun, selama dalam upaya pengenalan akan-Nya, maka “spiritual-lah” hidup itu.

Malahan, makna-makna asmaul Husna itu akan kita temukan dalam kecimpungnya kita terhadap hidup. Dari penemuan makna-makna itulah baru kemudian kita jadi memilki konteks beribadah. Maknanya ketemu dalam keseharian, dan komunikasinya lewat peribadatan.

Dan ini ternyata tipsnya saya baru paham. Kalau ingin mendapatkan banyak makna-makna dalam hidup, cobalah melihat sekeliling, dan mulai menaburkan kebaikan apapun saja yang bisa kita lakukan. Meski sederhana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s