KEMENANGAN YANG KECELE

winner

“MENAAANGG”, teriak anak saya waktu saya pulang kantor. Saya memang menanti juga kabar itu, hari itu anak saya terpilih sebagai salah satu dari sekian orang perwakilan TK-nya untuk ikut lomba mewarnai. Wah….ternyata anak saya menang.

Saya pun mengapresiasi kemenangan anak saya. Lalu setelah itu mulailah sesi wawancara singkat, saya dan istri menanyakan detail flashback mengenai kejadian hari itu, tentang perlombaan dan tentang apa hadiah kemenangan-nya?

Rupanya kami kecele….karena ternyata setelah diusut dengan detail berdasarkan cerita lebih lanjut dari anak saya, krayon pewarna yang dia dapatkan itu diberikan karena anak saya sendiri lupa membawa pewarna saat lomba, dan mengenai kemenangan itu ternyata yang menang bukan dia, melainkan teman sekelasnya. Kami tertawa geli mendengar itu.

Jadi teriakan “MENANG” yang histeris itu adalah selebrasi atas kemenangan rekannya, bukan dirinya.

Tapi saya jadi berfikir, mengapa anak saya mengasosiasikan kemenangan temannya dengan kegembiraan yang riuh sampai kami mengira dia sendiri yang menang?

Ternyata saya baru paham bahwa konsep individualis belum benar-benar terbentuk pada anak-anak seusia dia. Baginya, tak ada beda, mau dia yang menang atau teman sekelasnya yang menang, semuanya adalah kemenangan bersama, dan kegembiraan yang sama pula yang dia dapatkan.

Untunglah, saya tidak mendoktrin anak saya dengan semangat kompetisi yang berlebihan. Semangat kompetisi yang berlebihan pada gilirannya barangkali membuat kita merasa seperti menara gading.

Rupanya, yang lebih penting adalah semangat kontribusi, ketimbang semangat kompetisi.

Seruan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, barulah saya mengerti dengan lebih “mature” sebagai sikap untuk berlomba-lomba kontribusi dan turut andil dalam bermanfaat kepada khalayak. Bukan perkara kemenangan individu.

Bagi orang dewasa, konsep fokus individu ini sedemikian lama sudah berakar dan barangkali susah sekali dihapuskan. Piramida maslow malah mengatakan bahwa puncak kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri yang tentu secara subjektif saya rasa itu adalah individualis. Mencari Pengakuan.

Teori ini pemaknaannya adalah “kontribusi aktif sebagai ejawantah diri kita ingin diakui”. Sedangkan para arifin mengajarkan “kontribusi aktif” sebagai ejawantah “rahmatan lil alamin”. Serupa tapi tak sama.

Perasaan ingin diakui ini, semangat untuk “meng-ada” ini, sebagaimana sudah banyak dikatakan para arif, adalah pedang bermata dua. Dia bisa menimbulkan rasa bahagia, bisa menimbulkan duka lara. Sehingga, kalau kita tengok, banyak sekali approach spiritual dunia timur mengajarkan untuk “menghilangkan diri”.

Tentu kita paham, bahwa menghilangkan diri adalah majazi, yang maksudnya adalah berusaha mengikis ego sebisa-bisa mungkin sehingga kita hidup seperti anak-anak, seperti fithrah balita, yang” aku”-nya belum begitu kuat. Hidup dalam kelapangan jiwa.

Para spiritualis mengatakan hal ini dengan istilah “detachment”, tidak melekat kepada sesuatu.

Misalnya, zuhud. zuhud itu bukan tak punya dunia, tetapi ianya “detached” terhadap dunia.

Dunia, dan dirinya adalah dua hal yang terpisah. Sehingga ada apa-apa dengan hartanya, dirinya tak kena imbas duka, karena “tidak melekat”.

Yang menjadi perenungan saya belakangan adalah, sampai sejauh apa sih seseorang bisa tak terikat? Tiada kemelekatan? Detachment? Apakah kemelekatan adalah mutlak salah?

Saya renungi….. eh, ternyata ada hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa Muslim satu dan lainnya itu ibarat satu tubuh, yang satu sakit yang lain ikut merasakan sakit.

Artinya apa? Dalam porsinya sendiri, hal itu adalah kemelekatan, bukan? Kemelekatan identitas, sama-sama muslim. Dan pada gilirannya, kemelekatan identitas menimbulkan lara juga. Yang satu sakit, yang lain ikutan sakit. Ikut merasakan duka. Duka yang menimbulkan semacam, “apa yang bisa saya lakukan? Kontribusi apa yang bisa saya berikan?”.

Barulah saya mengerti, bahwa dalam islam, yang diajarkan adalah bukan “menghilang” dalam makna abai terhadap hidup, melainkan menggeser fokus, dari melulu individu, pribadi, menuju fokus yang lebih luas yaitu kemaslahatan orang banyak.

Fungsi sosial. Rahmatan lil alamin. Berkontribusi, karena menunaikan fungsi rahmatan lil alamin. Tergerak berkontribusi, karena meluaskan perhatian dari yang sebelumnya melulu individu menjadi rahmat bagi sekeliling.

Manusia bisa, melakukan berbagai cara untuk memangkas ke-akuan sampai tipis, tetapi tanpa pagar fungsi rahmatan lil alamin itu, memangkas ke-akuan hanya akan berujung pada sikap abai terhadap sekeliling, karena larut dalam ekstase spiritualnya sendiri.

Barangkali, salah satu cara sederhana memangkas keakuan adalah dengan menunaikan fungsi rahmatan lil alamin itu.

Tanpa itu kemenangan akan kecele. Baik menang secara spiritual, tetapi menjadi abai pada sekeliling. Atau sebaliknya, aktif pada sekeliling tapi fokusnya adalah diri sendiri melulu.


*) Image sources

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s