DAYA HIDUP DAN FILEM INDIA

nil-battey-sannata-collection

Seorang anak wanita usia SMA, terlahir dari keluarga yang marjinal. Ibunya seorang asisten rumah tangga. Anak itu tak punya semangat hidup. Tak punya cita-cita sama sekali. Karena baginya kehidupan hanyalah sebatas meneruskan jejak ibunya saja. Anak asisten rumah tangga tak perlu belajar karena nanti toh akan meneruskan jejak ibunya hanya jadi asisten rumah tangga. Begitu pemikiran anak itu.

Sang Ibu, begitu kecewa karena anaknya tak punya semangat juang, padahal Ibu itu banting tulang ingin membiayai anaknya.

Singkat cerita…namanya juga filem, saking inginnya Ibu itu mengajari anaknya supaya lulus sekolah dan bisa melanjutkan dengan beasiswa, Ibu itu kembali bersekolah juga. Lalu konflikpun dimulai. Sang anak kesal karena ibunya satu kelas dengan dia, keributan demi keributan di rumah terjadi, dan mereka bertaruh jika sang Ibu kalah, maka Ibunya harus keluar dan berhenti melakukan hal gila yaitu sekolah lagi itu. Dan sang Ibu mengatakan dia akan berhenti sekolah hanya jika sang anak mengalahkan nilainya dalam matematika.

Entah kapan terakhir saya nonton filem India. Barangkali waktu masih tenar-tenarnya film 3 Idiots. Sebelum itu, mungkin terakhir saya menonton pas saya SMA dulu. Saya bukan penikmat filem, tapi beberapa filem memang berkesan. Mayoritas yang berkesan buat saya adalah filem action semisal The Raid, Merantau-nya Iko Uwais, atau Ip-Man-nya Donnie Yen. Dan selain genre itu, ada beberapa filem yang berkesan dengan drama-nya yang mengharu biru, seperti Pursuit Of Happiness, dan baru saja kemarin saya menonton Filem India itu yang judulnya saya tak ingat Apa[1].

Saya tergerak menuliskan ini, bukan pengen buat resensi, melainkan karena tercenung dengan sebuah hikmah tentang “daya hidup”. Ambillah misalnya sebagai contoh cerita laskar pelangi, atau negeri lima menara yang menceritakan tentang perjuangan anak-anak yang marjinal untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Semua mengisahkan tentang orang-orang yang punya “daya hidup”. Semangat mengalahkan keadaan. Tetapi, filem India yang saya sebut diatas tadi menyoroti tentang orang yang tak punya “daya hidup”.

Coba renungkan ini ya, jika orang tua sudah bersusah payah banting tulang membiayai anaknya, maka bagaimanakah bentuk penghargaan anak kepada orang tua? Salah satunya adalah dengan tidak mematikan “daya hidup” itu.

Kehilangan semangat dan nyala untuk belajar dan bertumbuh, bukan lagi sekedar urusan pribadi, tetapi dia menjadi sebuah sikap abai terhadap pengorbanan orang tua.

Menarik sekali, bahwa dalam sebuah hadits ada disebutkan tidak akan berterimakasih kepada Tuhan, jika seseorang itu tidak berterima kasih kepada manusia, alias yang menjadi jalan rizki mengalir padanya.[2]

Baru saya melihat koneksi itu, antara keberanian bercita-cita dengan koneksinya sebagai bentuk terimakasih kepada orang-orang yang mensupport kita, dan dalam kaitannya yang lebih spiritual lagi keberanian bercita-cita sebagai bentuk kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Kaya.

Urusan hasil itu belakangan, boleh jadi dapat boleh jadi tidak. Tetapi “daya hidup” itu tak boleh mati. Matinya kepercayaan dan daya hidup itu, itulah pengkhianatan kepada rasa terimakasih, pada manusia dan pada Tuhan.

Mengenai cita-cita, mengenai keinginan ini, setidaknya saya klasifikasikan menjadi beberapa tipe orang dalam menyikapinya.

Yang pertama, adalah tipe kebanyakan orang, yang ingin menggapai cita-cita maka mereka bekerja keras. Ini adalah tipe standar. Kerja keras mereka adalah ejawantah puzzle untuk menutupi kepingan yang kosong, yaitu keinginan. Keinginan dimaknai hanya sekedar sebagai penggerak aktivitas. Meskipun standar, ternyata tipe ini masih lebih baik daripada orang yang malas sama sekali.

Yang kedua, adalah tipe yang lebih dalam sedikit. Tipe ini, adalah orang yang mulai mengerti bahwa keinginan itu adalah sumber penderitaan. Seperti lagunya Bang Iwan Fals. Duka, itu adalah salah satu sisi yang pasti berkaitan dengan keinginan. Itu sebab, bagaimana cara mengurangi duka? Yaitu dengan mengurangi keinginan. Yah… logis juga sih, sedikit keinginan, sedikit pula duka. Untuk mencapai tipe kedua ini, seseorang harus membongkar paradigmanya yang pertama yang terlalu materialis, menjadi paradigma yang sedikit lebih spiritual. Tetapi berhenti disini belum selesai.

Yang ketiga, tipe ini melintasi golongan pertama dan kedua. Mereka tidak melihat bahwa kerja keraslah yang menghantarkan kepada pencapaian cita-cita. Mereka tidak pula melihat bahwa keinginan adalah wajah lain dari duka nestapa. Tetapi mereka melihat keinginan sebagai jendela rasa syukur. Mereka memaknai keinginan sebagai isyarat pemberian. Sebagaimana Umar Bin Khattab berkata, aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a maka aku tahu pengabulan bersamanya.

Keinginan yang murni, itu adalah sesuatu yang “diilhamkan” pada manusia karena DIA ingin dunia ini bergerak.

Analogi sederhana untuk memahami cara pandang golongan ini adalah analogi filem itu tadi. Jika orangtuamu bersusah payah membiayai sekolahmu, maka ketakutan untuk berharap dan hilangnya semangat atau “daya hidup” adalah pelecehan terhadap kerja keras orang tuamu. Maka semangat tidak boleh mati.

Dalam garis singgungnya yang lebih spiritual, ketakutan untuk berharap, adalah karena ketidak mengertian akan Kekayaan Tuhan. Ini perkara “daya hidup”-nya ya, kalau masalah harapan itu terjadi atau tidak itu lain soal. Tetapi “daya hidup” itu. Semangat itu, dia jangan mati. Karena yang melihat kepada Al-Ghaniy, Sang Maha Kaya, dia tak akan kehilangan harapan.

Seseorang makan, dan minum, karena sebuah dorongan “lapar”. Begitupun seseorang bekerja, karena dorongan “kebutuhan”. Dan seseorang bergerak bertumbuh, karena dorongan “cita-cita”. Baik lapar, kebutuhan lainnya, ataupun cita-cita, semua hanyalah bentukan lain dari “daya hidup”. Daya yang diadakan oleh Tuhan agar kehidupan mengalir dalam gerak.

Boleh jadi, keinginan seseorang tidak melulu berkaitan dengan harta ya. Boleh jadi pusaran keinginan hidup orang itu adalah ilmu. Bisa…. Orang itu bisa bertumbuh menjadi orang yang berkontribusi terhadap hidup lewat ilmunya. Sebutlah sekian deret ulama dan orang-orang Shalih, Ibnu Khaldun, Ibnu Qayyim, Bukhari. Siapapun…. Sebutlah misalnya para ilmuwan, Newton, Archimedes, Galileo, Al Khawarizmi.

Semuanya menjadi bertumbuh karena keinginan. Tetapi keinginan, oleh para arifin dimaknai secara spiritual sebagai “ilham” yang diturunkan karena DIA ingin dunia ini bergerak menceritakan diriNYA.

Pencapaian para para arif sepanjang sejarah. Rumi misalnya, Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Athaillah….mereka tidak bisa hanya hadir lalu hilang? Mereka akan “dipaksa” oleh kekuatan itu untuk bertumbuh dan meninggalkan jejak. Daya hidup yang membuat seseorang menjadi produktif. Yang menghantarkan seseorang memainkan porsinya di dalam kehidupan ini. Seperti arloji, setiap orang memainkan tariannya sendiri, ada peran, ada porsi.

Tetapi daya hidup tak boleh mati. Spiritualitas yang mematikan daya hidup itulah yang hemat saya dilarang oleh Rasulullah SAW. Saat seorang sahabat dilaporkan hidup dalam sikap kerahiban yang melulu ibadah sampai melupakan segala sesuatu. Tetapi kemudian ditegur. Jangan begitu, islam tak memperbolehkan hidup dalam kerahiban.

Siklusnya menarik sekali. Dari yang pertama produktif tetapi materialis, lalu menjadi abai terhadap hidup karena spiritualis tapi belum selesai, lalu kembali menjadi produktif karena dialiri ilham-ilham kebaikan. Spiritual yang selesai. Kalau betul seseorang itu spiritualis, saya rasa pasti melimpah ruah daya hidup padanya. Dihujani ilham-ilham kebaikan.


[1] Belakangan saya search ulang di mbah google dan menemukan kembali ternyata judul filem ini adalah Nil Battey Sannata

[2] “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

Image sources

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s