MENDULANG RASA

water-dropsDari mendengar ceramah Jum’at barusan, saya Kembali diingatkan akan sebuah kisah yang sangat masyhur tentang seorang penuntut ilmu yang selalu tertinggal.

Tersebutlah seorang anak yang belajar pada sebuah madrasah. Akan tetapi anak ini selalu tertinggal oleh rekan-rekannya yang lain.

Sempat putus asa, lalu sang anak memutuskan untuk pamit pada gurunya karena merasa bahwa dirinya tak berbakat.

Dalam kesedihan, seperginya dia dari madrasah itu, hari pun hujan. Lalu dia berteduh pada sebatang pohon. Berdoalah dia waktu itu, ya Tuhan…..ini nasib saya ini gimana?

Ndilalah…..Didekatnya ada sebuah akar pohon yang menjulur keluar dari sisi tebing, meneteskan satu demi satu butiran air. Butiran air itu menetes lalu meluncur sampai pada dasar tebing sebuah batu besar yang retak. Pada tengah retakan itu terpatri sebuah ceruk kecil tempat tetesan air hujan yang mengalir meniti akar pohon yang menjulur di pinggiran tebing tadi.

Sang anak pun kagum, dan tiba-tiba tercerahkan. “seperti batu inilah saya”, pikirnya. Sebuah batu yang demikian keras pun hancur oleh tetesan air yang sabar butir per butirnya, apatah lagi manusia, pasti akan menemukan jalan jika tekun dalam usahanya. Begitu fikirnya.

Singkat kata, sang anak yang putus asa akhirnya kembali ke madrasahnya, diterima oleh sang guru dan meneruskan belajarnya.

Kelak, sang anak menjadi seorang ulama besar. Konon sang anak akhirnya dijuluki “Ibnu Hajar” alias anak batu. Tetapi apakah sang Ibnu Hajar ini adalah Ibnu Hajar pengarang kitab Bulughul Maram itu, atau bukan, wallahualam. Barangkali bukan.

Tetapi pelajaran dari kisah itu, valid.

Sebagian menafsirkannya dalam konteks “ketekunan berbuah manis”. Tetapi saya melihatnya sebagai “pembacaan” terhadap tanda-tanda pada alam. Insight yang didapatkan karena “membaca” kehidupan.

Dalam pandangan yang lebih spiritual, saya rasa hampir seluruh “pujian” kepada Tuhan, adalah “membahasakan rasa” yang dialami saat menjalani konteks hidup tertentu.

Misalnya, saat mendapat kesulitan, maka ekspresi persandaran itu mewujud dalam bentuk amal. misalnya do’a ini

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat–Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dari–Mu). [1]

Atau saat mengalami hidup yang membuat kita bersyukur dan kagum

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Mahasuci Allah, aku memuji–Nya sebanyak bilangan makhluk–Nya, Mahasuci Allah sesuai keridhaan–Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy–Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat–Nya. [2]

Semuanya saya rasa adalah ekspresi rasa yang terkeluar dalam wujud pujian atau permintaan.

Nah….. Dalam kaitannya sebagai ekspresi rasa inilah, do’a akan keluar dari sesiapa saja yang membaca alam “sifat-sifat”. Iqra bismirabbika.

Kembali saya kutipkan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash. Orang yang sudah “tenggelam” dalam penyaksian. Dan ridho dalam segenap lakuan takdir. Maka meski dia buta, dia TIDAK berdoa meminta kesembuhan. Yang zahir padanya adalah ekspresi pasrah. Pasrah tersebab pengenalan akan takdir.

Tapi, level Sa’ad ini tak selalunya bisa dicontoh orang awam.

Itu sebab, banyak sekali do’a yang diajarkan Rasulullah. Karena tak semua orang bisa berdiam di maqom seperti sa’ad.

Jangan tengok do’a sebagai tekstual semata, tetapi pahamilah do’a sebagai ekspresi rasa yang terkeluar dalam bentuk amal.

Dalam kondisi seperti ini, akan sulit kita menahan doa untuk terzahir dari diri kita.

Ekspresi rasa ini hanya akan tertangkap jika membaca hidup ini. Seperti kisah tadabur-nya seorang santri yang mendapat insight dari melihat batu yang dihancurkan tetesan air tadi.

Tanpa “menikmati” kondisi dalam hidup, maka ekspresi rasa itu tak akan dapat. Sehingga do’a menjadi kering.

Satu hal yang saya amati, sangat membantu untuk mendapatkan “feel” atau “rasa” itu, adalah ilmu dan pengenalan akan Tuhan. Mengenal Allah, dan bagaimana kaitan antara Allah dan makhluknya.

Satu konteks “pembacaan” yang diajarkan seorang arif dan saya tertatih terapkan adalah belajar menyadari betul bahwa diri kita ini adalah “non existence”, kita, mereka, dan segala ciptaan hakikatnya tidaklah memiliki wujud sejati, yang sejati atau wajib wujudnya adalah Dzat-Nya, Divine Essence, realita Ilahiah yang diluar jangkauan perumpamaan manusia.

Sehingga lambat laun pengaturan Tuhan dalam hidup ini terasa nyata.

Memahami kajian ini sangat membantu mengubah cara pandang, sehingga rasanya tiap sisi hidup menghantarkan rasa-nya sendiri. Yang mau tak mau mewujud menjadi amalan yang sesuai konteks saat itu.


References

[1] HR. An–Nasa–i 575, al–Bazzar 3107 dan al–Hakim 1/545 dab Ibnus Sunni 48, lihat Shahiih at–Targhiib wat Tarhiib I/417 no. 661, hasan

[2] HR. Muslim no. 2726. Syarah Muslim XVII/44

*) Image sources

KERAGAMAN DI DALAM KOSONG

atomic

Laptop yang sekarang saya pakai untuk mengetik ini, rasanya sungguh nyata dan real. Seluruh pengalaman indera saya membenarkannya, dari mata saya yang memandang, sampai jari-jemari yang bertelekan tuts keyboard yang saya sentuhi. Semuanya nyata. Tetapi…. Lewat sains-lah kita mengetahui bahwa bangunan kenyataan yang kita lihat setiap hari ini, dalam ukuran mikro, tidaklah lagi terlihat sebagaimana adanya.

Semakin ke dalam, semakin kecil dan halus, dan semakin hilang keragaman yang ada pada dunia yang terindera di luar.

Sebuah molekul air, H20 masih memiliki sifat-sifat air, seperti samudera luas. Tetapi kalau masuk lebih dalam lagi, atom H dan O masing-masingnya tidak lagi memiliki tabiat air.

Dalam atom H dan O kalau dipecah lagi tinggal elektron yang memutari intinya yaitu proton dan neutron. Dalam skala ini, keragaman atom H dan O bahkan hilang. Proton dan neutron atom H dan O adalah proton dan neutron yang sama.

Semakin ke dalam semakin hilang keragaman.
Antara inti atom proton dan neutron, lalu kulit elektron yang memutarinya itu, terbentang jarak yang begitu jauh, jarak yang tidak diisi apapun kecuali kekosongan. 99.99% atomic emptiness.

Dari sisi itu saja sudah banyak sekali yang merombak cara pandang. Bahwa secara sains saja, kita, anda, mereka, saya, pada jagad mikro tak ada beda sama sekali. Diri kita, yang seolah demikian real ini, secara sains kita ketahui rupanya 99.99%-nya adalah kekosongan alias atomic emptiness.

Ada satu yang menarik lagi, lewat kajian fisika terkini, fisika kuantum, bahkan unsur penyusun terkecil semua benda, yang selama ini kita kira adalah partikel padat begitu, elektron-elektron yang mengitari intinya itu, ternyata memiliki sifat gelombang, tak hanya sifat partikel. Dan satu kali dia muncul sebagai partikel, di kali lain dia menghilang, lalu muncul kembali, hilang kembali dengan misterius.

Pertanyaan besarnya adalah, What are we? Apa kita ini sebenarnya?

Stephen Hawkings mengatakan bahwa kita semua berada dalam “computer generated soap opera”, istilahnya dia begitu. Dunia kita yang begitu nyata ini, sebenarnya adalah hologram.

Coba lihat, jika gerak atom saja tidak pernah kita kontrol, apakah benar saat kita berjalan menuju kantor misalnya, itu benar-benar gerak kita berjalan menuju kantor? Maksudnya benarkah kita yang menggerakkan diri kita?

Sebuah gerak kita berjalan menuju kantor, dalam tataran mikro adalah gerak trilliunan atom, dan gerak atom adalah berarti juga gerak elektron yang memutarinya dalam 99.99% atomic emptiness itu. Dan jelas tak satupun gerak mikro itu yang kita kontrol.

Belum lagi kalau kita mengacu pada kenyataan bahwa ternyata unsur terkecil suatu benda itu, menurut sains, sudah tidak lagi partikel, sudah dualitas partikel dan gelombang, dan hilang-timbul-hilang-timbul seperti animasi.

Semua kenyataan yang mengejutkan itulah, yang membantu untuk mengerti maksud dari para arif, dalam pandangan spiritualitas islam, yang mengatakan bahwa semua ciptaan, benda-benda ini, tidak memiliki wujud sejati (non existence).

Semua apapun saja ciptaan, dizahirkan dari realita Ilahiah, yang tak terjangkau perumpamaan manusia. (Dzat-Nya).

dzat-Nya lah yang merupakan hakikat semua realita. Realita adalah sifat-sifat yang diselubungkan pada Dzat-Nya yang tiada perumpamaan. Tak mirip apapun. Diluar persepsi ruang waktu.

Banyak sekali hadits dimana Rasulullah SAW mengatakan “demi (Dzat) yang jiwaku berada dalam genggamanNya”.

Ok….untuk tak terlalu filosofis. apa gunanya mengetahui hal ini?

Dengan mengetahui hal ini, kita akan menjadi lebih yakin bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Tuhan.

Seorang Arif merumuskan urutan pola yang membantu kita untuk makrifat kepada Allah SWT. Dengan ilmu.

Yaitu mengenal Allah SWT. Mengenal pula bagaimana kaitan antara Allah SWT dan makhluk (agar tak jatuh dalam kekeliruan menyamakan Tuhan dan makhluk). Lalu mengenal bagaimana Allah SWT mengatur alam semesta lewat mekanisme Lauh Mahfudz. Yang mana pengenalan akan ini semua dapat membantu kita ridho terhadap kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup.

Menarik sekali. Dan InsyaAllah bermanfaat.


*) Image taken from this link

SPIRITUALITAS DIESEL

Jika ibarat mesin, jelas saya ini mesin diesel. Panasnya lama, hehehe.

Lama mengamati diri sendiri, saya jadi hapal sekali bahwa saya butuh waktu lebih lama dari rekan-rekan saya dalam menyelesaikan sesuatu. Saya butuh waktu lebih lama untuk bergerak.

Setelah saya renungi, ini sama sekali bukan karena saya tidak bisa bergerak cepat, tetapi “by nature” secara bawaan saya memang orang yang santai dan tidak menyukai tergesa-gesa.

Dulunya, sebelum mengenali pola pada diri sendiri semacam ini, saya sering merasakan penolakan. Saya menolak diri saya sendiri. Saya ingin lebih cepat dan cepat, sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang rekan, di awal masa kerja saya, dari dialah saya belajar mengenal dan menyiasati diri sendiri.

Rekan saya ini juga orang yang kurang lebih sama tipikalnya dengan saya. Santai, teratur, bertahap, tetapi untuk menyiasatinya maka dia memulai segala sesuatu lebih dahulu sebelum orang lain memulainya.

Ujian masih lama, dan dia sudah membuka buku sejak berapa minggu sebelumnya. Orang belum mulai dia sudah mulai. Orang sudah selesai, dia masih bekerja.

Selalu seperti itu sampai dia menjawab, ketika saya tanyakan “kenapa kamu begitu keras belajar terus?”. Dijawab olehnya sambil merendah, “aku tahu persis kapasitas diriku. Kalian bisa memahami sesuatu dengan cepat, sedangkan aku butuh waktu lama. Makanya aku harus memulai sesuatu lebih dulu, dan mengulang lagi sesuatu setelah orang lain usai.”

Luar biasa…..disana saya baru sadar bahwa hal ini begitu sederhana. Diawali dengan penerimaan diri, lalu berlanjut dengan pola menyiasati kekurangan diri.

Sejak itu,saya pun ikut belajar bahwa saya memiliki kekurangan, tetapi pengenalan akan kekurangan diri itulah yang menjadi awal kekuatan. Kalau kita tahu pola diri kita seperti apa, maka hal itu akan mempermudah kita bergerak sesuai dengan pola yang cocok untuk kita.

Ini sepenuh-penuhnya spiritual. Mengenal diri.

Seorang atasan di kantor saya sempat mewejang. Ada dua hal yang kita bisa lakukan dalam mengenali diri. satunya Self change, berikutnya adalah self awareness.

Ada pola-pola di diri kita yang masih bisa diubah, dengan paradigma baru, dengan pembiasaan yang baru, maka lama-lama pola baru terbentuk dan kita pun akan berubah (self change).

Dan ada satunya lagi yaitu self awareness. Self awareness ini adalah sepenuh-penuhnya “awas” terhadap kekurangan yang belum bisa kita ubah dari diri kita. Seperti cerita di atas tadi. Menerima, tetapi menyiasati.

Kita memeluk erat diri kita sendiri dengan penerimaan. Mengubah hal-hal yang bisa kita ubah, dan menyiasati hal-hal yang butuh tenaga ekstra dan tak selalu bisa kita ubah dalam waktu singkat.

Nah apa kaitannya dengan spiritualitas? Saya ingin kutipkan satu cerita dimana seorang sahabat mengadu pada Rasulullah SAW bahwa sahabat tersebut suka terhadap suatu kaum, tetapi untuk mengejar pencapaian amal golongan tersebut kok rasanya sulit sekali. Dijawab oleh Rasulullah bahwa seseorang akan membersamai siapa yang dia cintai.[1]

Dalam Futuh Al Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan untuk “berpuas hatilah dengan apa yang ada padaMu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu”. Barulah saya paham apa maksudnya. Maksudnya ialah, salah satu bentuk keridhoan terhadap takdir ternyata penerimaan sepenuh-penuhnya terhadap diri dan segala lebih kurangnya diri kita dan kondisinya saat ini.

Lalu lewat pengenalan akan diri itulah kita bergerak menuju kebaikan yang lebih lagi.

Ada hal-hal yang bisa mengalami perbaikan dalam tempo yang singkat. Ada hal-hal yang butuh waktu untuk berubah. Tetapi selama proses itu kita jalani dalam konsep penerimaan utuh akan keadaan, dan I’tiqad sepenuh-penuhnya untuk berjalan menuju kebaikan –seperti yang orang-orang shalih dan arif contohkan-, maka kata Rasulullah SAW, kita akan membersamai orang-orang yang kita cintai. InsyaAllah.
References
[1] Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar ia bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai suatu kaum, namun ia tidak bisa (meniru) amalan yang mereka lakukan?” beliau menjawab: “Wahai Abu Dzar, kamu akan bersama dengan orang yang kamu sukai.” Abu Dzar berkata, “Sungguh, aku menyukai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu bersama siapa yang kamu sukai.” Perawi berkata, (HR. Abu Daud 4461)

KONSISTEN MENYAPU HATI

Dulu saya waktu kecil sering diomelin sama Orang tua, karena malas menyapu rumah. Hahaha….. Bukan malas dalam artian tidak pernah, tetapi saya menyapu rumah dengan cara pandang bahwa dalam sehari harus sekali menyapu. Kalau orang tua saya berpandangan bahwa menyapu itu ukurannya apakah rumah sudah bersih atau belum? Kalau belum, ya sapu lagi.

Walhasil, saya merasa sudah menyapu, tapi berapa jam kemudian, atau sore harinya saya diminta menyapu lagi karena rumah sudah kotor, saya manyun. “Lho kan saya sudah menyapu tadi pagi?” protes saya.

Iya sudah menyapu, tapi itu kan tadi pagi. Sore sudah kotor lagi, ya berarti sapu lagi. Sesederhana itu.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, saya temukan bahwa konsistensi “menyapu hati” inilah yang kita perlukan. “menyapu hati” dalam bahasa para arif, disebut tazkiyatun nafs. Pembersihan jiwa.

Setidaknya ada dua metoda yang saya amati.

Metoda pertama, yaitu terus-terusan menelisik ke dalam diri, dan melihat kotorannya. Misalnya ada rasa kesal, ada rasa kecewa terhadap hidup, ada rasa marah pada keadaan, ada iri dan macem-macem….nah, itu semua adalah kotoran yang harus disapu. Maka kita sapu semua kotoran itu dengan berzikir, atau istighfar meminta ampun dan sebagainya.

Approach kedua, yang ini agak lebih filosofis sedikit. Yaitu alih-alih selalu mencari kotoran dalam dirimu, dan menyapunya agar bersih semula “rumahmu”, yang kita lakukan malah menyadari bahwa sebenarnya diri kita ini “non existence” alias tidak ada kewujudan.

Sebenarnya, kalau kajian secara psikologi sederhana sebatas pengetahuan yang saya pahami, “rasa diri” atau identitas kita itulah sesuatu yang masyhur disebut “ego”. “ego” itulah rumahnya. Tempat segala kotoran bisa melekat.

Nah…. Cara kedua ini, alih-alih selalu melihat ke dalam diri dan membuang kotoran dari dalam diri, kita malah membuang “rumah”nya kotoran itu. Yang kita buang adalah “rasa bahwa diri kita ini ada”. Ibarat, kalau rumahnya saja tidak ada, kotoran bagaimana bisa mengotori rumah?

Tentu itu ibarat saja, kalau dibayangkan beneran kan ya repot ga punya rumah. Hehehehe.

Tetapi, cara kedua ini sebenarnya kalau berhasil akan lebih permanen efeknya dibanding cara pertama.

Cara pertama, menuntut konsistensi untuk selalu melakukan proses tazkiyatun nafs selalu. Setiap hari. Karena dalam sehari barangkali kita bisa ratusan kali dikotori.

Cara kedua, menuntut kita untuk benar-benar paham bahwa yang kita kenal sebagai “diri kita” ini sebenarnya hanyalah kumpulan pengalaman hidup. Ianya tak benar-benar eksis. Agak sulit pada awalannya memang. Karena cara kedua ini butuh dilandasi ilmu alias pengetahuan supaya bisa membongkar paradigma lama bahwa kita ini “wujud”.

Bisa masuk lewat ranah psikologi… kenali betul-betul apa yang disebut ego itu. Ego itu kumpulan pengalaman hidup. Dibalik ego itu ada yang mengamati / consciusness.

Bisa masuk lewat ranah sains, tengoklah kajian fisika kuantum bahwa semua benda-benda ini yang tampak mata dan bisa diindera ternyata sebenarnya bukan realitas sejati. Semuanya hologram. Unsur penyusun segala benda-benda ternyata adalah sesuatu yang hilang timbul-hilang timbul keberadaannya. Bukan partikel padatan yang kita kira selama ini. Kita ada di dalam “drama”-Nya.

Atau bisa masuk lewat kajian para arif, bahwa segala sesuatu yang ada, hakikatNya adalah Dzat-Nya yang tiada umpama. Dzat-Nya yang tiada bisa didefinisikan itulah hakikat sejati segala sesuatu, sedangkan yang berbagai-bagai ini hanyalah tampilah sifat-sifat alias bungkus.

Jika ilmu sudah terpatri, maka kesadaran pelan-pelan bisa berubah. Oh iya ya…. Kalau begitu, kita ini sebenarnya sama dengan mereka, dengan segala makhluk yang lain, yaitu ciptaan-Nya dari hakikat Dzat-Nya yang tiada ada umpama.

Baru kemudian saat sudah perlahan hilang “rasa wujud”, penyakit-penyakit atau kotoran akan hilang juga secara otomatis.

Kalau cara pertama, setiap kali kita dikotori oleh penyakit-penyakit hati, kita langsung membersihkannya dengan peribadatan, istighfar, dan macam-macam.

Cara kedua, setiap kali kita dikotori oleh penyakit-penyakit hati, -kita tetap membersihkannya juga- akan tetapi sadari kembali bahwa saat penyakit hati datang itu juga pertanda bahwa kita sudah kembali “wujud” alias hidup dalam bingkai “ego”. “ego”nya ini yang harus dibuang, harus kembali menyadari hakikatnya kita ini tiada.

Susah-susah gampang memang. Yang penting konsisten.

Gagal….ulangi. gagal…..ulangi… sambil menyadari bahwa dalam jatuh-bangun itupun sudah masuk dalam “drama”Nya juga.

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah
 

MENGIKUTI TARIAN MAQOM-mu SENDIRI 

Jika melihat kajian sains, bahwa semua yang ada ini adalah hologram, dan ada penggerak yang tak terlihat dari semua realita ini…. Maka seringkali kita bertanya, jika bahkan terhadap gerak diri kita sendiri saja kita tidak ada kuasa, lalu adakah gunanya berdo’a? Toh semua yang akan terjadi tetaplah dalam gerak “divine planning” alias takdir. Sains membuktikan “divine planning” itu ada.

Pertanyaan itu, senada dengan pertanyaan seorang sahabat, yang menanyakan tentang takdir kepada Rasululllah SAW. Jika semua sudah tertulis, apakah kita pasrah saja? Rasulullah SAW menjawab, yang intinya adalah “jangan berpasrah saja”, tetaplah bergerak, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang tertulis baginya.[1]

Karena setiap orang ada “maqom”-nya sendiri. Peringkat, yang setiap peringkat keruhanian akan memberikan dampak yang berbeda-beda. Tetapi tak bisa dipukul rata.

Seorang guru memberikan contoh, paling tidak ada tiga sikap dalam menghadapi hidup: Berdo’a, pasrah saja, atau tak perduli sama sekali karena sudah tidak lagi terpandang pada masalah hidup.

Bagaimana harmoninya ini? Sedangkan Rasulullah SAW menyuruh jangan berpasrah, tetapi kok ada orang-orang yang berpasrah?

Jawabannya adalah tergantung seperti apa situasi batinmu saat itu.

Saya ceritakan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash[2] yang do’anya termasyhur sangat manjur. Orang-orang berdatangan padanya meminta didoakan agar sembuh penyakitnya, lalu orang-orang sembuh. Hingga seseorang bertanya heran kepada Sa’ad, kenapakah dia tidak berdo’a pada Allah agar matanya disembuhkan? (Sa’ad buta karena usia).

Lalu jawaban Sa’ad adalah ketentuan Allah yang berlaku padanya itulah yang lebih baik baginya.

Sa’ad, ada pada “maqom” berpasrah. Cirinya apa? Cirinya, saat ada ujian datang, di dalam hati sama sekali tidak ada gejolak. Yang ada di dalam hati hanya rasa tentram dan ingatan pada Allah. Maka…. Do’a tidak akan terzahir dari hati yang semacam begini. Yang terzahir adalah sikap ridho dan pasrah apapun yang berlaku.

Lain halnya, dengan seseorang yang saat ada masalah, masih gelisah. Masih ada gonjang-ganjing di hatinya. Maka, cara agar gonjang-ganjing itu malah menjadi jalan mendekat pada Tuhan, ya lewat do’a.

Berdoalah, maka DIA akan menjawabnya.

Dalam tataran yang lebih tinggi, dikatakan bahwa kita tergerak berdo’a itu pun karena DIA menzahirkan bukti bahwa DIA Maha Pemberi. Dalam pandangan yang lebih tinggi lagi, gerak do’a kita pun sudah dalam bingkai takdirNya.

Jadi tak usah pusing. Kita “menari” sesuai dengan peringkat maqom kita masing-masing. Dan dalam setiap kejadian dan peringkat maqom kita, selalu ada kesempatan untuk mendekat pada Tuhan.

Yang masih goyang, ya jadikan saja gonjang-ganjing ujian sebagai pintu mendekat pada Tuhan. Berdo’a dan minta tolong. Sampai kemudian akan ada bagian-bagian kehidupan yang semestinya orang biasa akan “goyang” kalau menghadapinya, tetapi kok ya kita santai-santai dan hati terasa tentram saja, maka itu penanda bahwa yang terzahir dari kita adalah sikap ridho pada kehidupan.

Pendek kata, seperti Rasulullah katakan pada Sahabat, just do sajalah….. setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang telah dituliskan untuk mereka.

Begitulah seorang sahabat Rasulullah tidak diperbolehkan mendermakan hartanya lebih dari sepertiganya, sedangkan Abu Bakar Shiddiq mendermakan seluruh hartanya tanpa ada sisa sedikitpun; dan boleh-boleh saja oleh Rasulullah SAW.

Tergantung konteks, dan tergantung “maqom” tidak bisa dipukul rata. [3]
—-
References:

[1] Para sahabat bertanya kepada Rasulullah n tentang masalah takdir yang sangat rinci.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2648) dari sahabat Jabir z. Suraqah bin Malik pernah bertanya kepada Rasulullah :

يَا رَسُولَ اللهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ، أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ. قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rasulullah, mohon berikan penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah n menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).

[2] Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash tiba di Makkah, ia dalam keadaan buta mata. Tetapi orang-orang berdatangan kepadanya untuk meminta didoakan. Sa’ad berdoa untuk kesembuhan berbagai penyakit. Beliau termasuk orang yang apabila berdoa dikabulkan Allah Ta’ala.

Pada suatu hari, Abdullah bin Saib berkata, “Ketika aku masih kecil, aku pernah dibawa kepada beliau. Aku memperkenalkan diri beliau pun mengenaliku. Ketika itu beliau berkata, ‘Apakah engkau orang yang mengajari bacaan al-Qur’an kepada penduduk Makkah?’ Aku menjawab, ‘Benar.’

Kemudian beliau menceritakan suatu kisah, hingga akhirnya aku bertanya kepada Sa’ad, ‘Wahai pamanku, engkau telah banyak mendoakan untuk kesembuhan orang, kenapa engkau tidak berdoa untuk dirimu, sehingga Allah menyembuhkan matamu?’

Sa’ad tersenyum sambil berkata, ‘Ketahuilah wahai anakku, bahwa ketentuan Allah Ta’ala yang berlaku atasku jauh lebih baik daripada penglihatanku’.” (Madarijus Salikin, 2/227.)

Dinukil oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim, dari ‘99 Kisah Orang Shalih’ (alsofwa.com)

[3] وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (maqom-maqomnya) sesuai dengan apa yang dikerjakannya (peranannya). Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

(Al An’am:123)

“OM TELOLET OM” DAN BAHAGIA YANG SPIRITUAL 


Lucu juga melihat fakta bahwa “Om Telolet Om” jadi terkenal dan viral sampai ke luar negeri. Berawal dari anak-anak di pinggiran jalan yang merasa terhibur dengan klakson Bus kota yang melintas, akhirnya setiap Bus melintas mereka meminta sang supir membunyikan klaksonnya, atau “telolet”, lalu mereka menari girang setelah klakson dibunyikan.

Betapa kebahagiaan itu begitu sederhana. Mendengar klakson bus saja, anak-anak itu bisa menari girang.

Dulu, saya sempat mengira bahwa kebahagiaan yang timbul dari hal-hal sederhana itu, kurang berkelas. Belakangan saya keliru.

Saya teringat sekitar sembilan tahun lalu sewaktu masih bekerja di pengeboran lepas pantai, dimana suatu ketika saya harus tidur di sebuah kapal. Bercanda dan bertukar cerita dengan para kru kapal. Menonton TV bersama. Waktu itu mereka menonton sebuah acara lawak yang dalam pandangan saya kala itu; begitu tidak berkelas.

Orang terpeleset, tertawa. Orang naik sepeda goyang goyang, tertawa. Bagi saya hal itu tak lucu.

Sampai beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari paradoks. Kebahagiaan yang saya anggap berkelas itu, misalnya komedi haruslah komedi situasi ala barat. Dan yang semisalnya. Adalah juga menjadi bukti bahwa kebanyakan orang terjebak dalam pemaknaan yang terlanjur rumit tentang bahagia.

Oleh orang-orang yang sederhana itu, kita diajari bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal yang kita anggap “receh”. Kalau anak-anak di pinggiran jalan, bisa begitu bahagia harinya dengan hanya mendengar suara klakson Bus, maka kita pekerja kantoran yang sulit menemukan bahagia harus berguru pada anak-anak itu.

Pada orang-orang yang sederhana, kita belajar bahwa bahagia bisa muncul dari hal yang remeh. 

Pada para arif, kita belajar bahwa cara pandang kita terhadap hiduplah yang menentukan apakah kebahagiaan bisa kita ekstrak dari keadaan hidup kita ataukah tidak.

Tersebutlah seorang guru yang arif, selalu tertawa melihat kejadian hidup yang dialami. Baik urusan pekerjaan yang berat dan rumit, atau sesuatu yang kita harusnya anggap masalah, dia malah tertawa. Orang-orang pun bingung. Usut punya usut, kenapa dia tertawa? Rupanya karena cara pandangnya sudah beda.

Baginya, semua kejadian hidup ini adalah senda gurau Tuhan belaka. Allah bersenda gurau lewat makhlukNya, dalam tema besar yaitu Allah hendak menceritakan diri-Nya.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa mengibadahi Tuhan itu maknanya adalah juga “mengenali-Nya”. Makrifat pada-Nya.

Dan keseluruhan kompleksitas hidup inilah yang jadi jalan untuk mengenali-Nya juga.

Satu-satunya tema hidup adalah itu, mengenali Tuhan.

Yang jadi persoalan adalah, jika kita selalu memandang hidup dalam kacamata yang murung. Bahagia kita menjadi sulit, karena pemaknaan yang kompleks terhadap bahagia.

Bahagia direduksi dari kekayaan batin menjadi melulu hal-hal kebendaan yang rumit. Nanti kita menjadi murung selalu.

Saya merenungi, apakah iya, Tuhan menciptakan kehidupan ini untuk dipandang dalam kacamata yang murung?

Jika perjalanan hidup adalah untuk mengenali-Nya, apakah ” murung” adalah kacamata yang benar untuk dipakai mengenali-Nya?

Kita jangan mengelirukan murung dengan tangisan. Suatu kali Rasulullah SAW juga menangis saat wafatnya putra beliau, Ibrahim. Lewat wejangan para ariflah saya baru paham bahwa yang ditangisi bukan kebendaan. Melainkan karena melihat kuasa Tuhan.

Walhasil, murung yang tak semestinya, murung karena kita sendiri memperumit makna bahagia, adalah kacamata yang sebisa mungkin jangan dipakai dalam memandang hidup.

Boleh menangis, tetapi karena terpandang akan pengaturan Tuhan.

Sebagaimana tertawa akan menjadi mudah, kalau melihat hidup juga sebagai gelar sandiwara Tuhan dalam menceritakan diriNya sendiri.

*) image from m.tempo.co

BERBAJU MAKNA

Dulu waktu kecil saya pernah menangis sesenggukan karena pengen nonton sinetron, tetapi lampu mati. Pemaknaan saya waktu kecil dulu, PLN adalah pembuat ulah yang mematikan listrik.

Setelah dewasa saya menertawai masa kecil saya sendiri betapa lucunya, tetapi dulu waktu masih kecil sensasi emosi dan perasaan sakit dan kecewa yang saya alami nyata adanya. 

Emosi yang kita rasakan, erat kaitannya dengan bagaimana kita memberi makna pada hidup.

Hujan bagi penjual cendol adalah musibah. Bagi petani adalah berkah. Hujan yang sama, moment yang sama, baju pemaknaan yang berbeda. Yang satu menangis, yang satu tertawa.

Sepanjang hidup, manusia ternyata belajar menemukan pemaknaan itu.

Satu kejadian yang sama, bisa ditengok lewat makna yang macam-macam. 

Biasanya, seseorang akan mulai mencoba melihat berbagai-bagai makna ini karena ujian hidup. 

Saat terbentur dengan ujian dalam hidup, orang berusaha keluar dari rasa sempit ujian dan masalah. Saat dia mencoba keluar itulah, mau tak mau dia akan menemukan cara pandang yang lebih dewasa dalam melihat masalahnya. Cara pandang berganti, realita emosi yang dialami akan berganti jua.

Misalnya sebuah kehilangan. Peristiwa kehilangan bisa dimaknai dengan berbagai-bagai jalan.

Bisa dimaknai sebagai sesuatu yang lumrah, karena toh kita masih punya banyak harta….maka kehilangan kecil menjadi tak terlalu berat.

Bisa dimaknai sebagai sesuatu yang “masih mending”, karena meskipun kita kehilangan sesuatu, toh kita tidak hidup semiskin orang-orang di pengungsian.

Bisa dimaknai lebih filosofis….misalnya bahwa apapun yang hilang pasti akan datang kembali gantinya meski dalam bentuk yang berbeda.

Bisa dengan berbagai-bagai pemaknaan.

Akan tetapi, dari seorang guru spiritualitas islam, saya belajar untuk selalu memandang kehidupan lewat pintu makna yang tunggal saja.

Apapun yang berlaku adalah lakonan-Nya atas Dzat-Nya sendiri, mengikut Lauh Mahfudz, yang ceritanya telah ditulisNya sejak kali pertama penciptaan. KUN. DIA menceritakan diriNya sendiri.

Lebih-lebih jika menilik kajian fisika kuantum. Bahwa segala yang wujud ini, sejatinya hanyalah hologram, yang muncul dari hakikat sesuatu yang tak diketahui oleh para saintis. 

Akan sulit mempercayai hal ini tanpa didukung data saintifik. Atau pengalaman ruhani para Arif.

Orang-orang Arif mengatakan, segala yang ada ini tak memiliki wujud sejati.

Sifat wujud ini tidak lain selain Dzat-Nya: Muhammad Said Ramadhan Al Buti, Keyakinan Hakiki, 110 (1996).

Itulah Baju makna yang dipakai para arif.

Seorang Arif mengatakan, dengan mengenakan “baju makna” itu, kelak dampak gelombang takdir tidak mengombang-ambingkan kita.

Bagi saya pribadi, mempelajari banyak model pemaknaan akan hidup, dapat memper-arif penyampaian keluar, karena memahami wacana yang luas. 

Tetapi untuk latihan pribadi, kedalam, ternyata harus selalu melatihkan pemaknaan yang dalam tadi, yang tunggal, bahwa semua yang wujud ini tidak memiliki eksistensi sejati. Dia muncul dari realita ilahiah yang laisa kamislihi syaiun. Tiada umpama.

PR pribadi adalah perlahan meninggalkan pemaknaan yang lain, dan beralih ke satu-satunya pemaknaan itu. Itulah pemaknaan tunggal yang selalu dilatih. 

Akan tetapi. sebagai kontribusi aktif kita pada masyarakat dan khalayak, kita menyampaikan sesuai dengan tangga kepahaman orang masing-masing. Karena tak semua orang siap dibawa pada jenjang kepahaman dan pemaknaan yang berpuluh anak tangga bedanya dengan baju makna yang sedang mereka pakai.

Save Aleppo

Dikopi dari Instagram Ustadz Salim a. Fillah

—-

Kita paham belum lagi selesai pilu dan luka kita akan kasus penista agama, kita juga tahu belum selesai belasungkawa kita pada Aceh, juga belum lengkap perhatian kita pada Rohingya

Seolah-olah Allah ingin ajarkan kita banyak hal, dari seluruh hal ini, kejadian-kejadian yang bagai sakit di seluruh badan ummat yang satu, agar kita tertempa jadi satu kekuatan

Maka pagi ini, sempatkan dan tengoklah saudara-suadara kita di Aleppo, Suriah. Mereka dibantai rezim Bashar Asad, yang dibantu oleh Rusia, Iran dan sekutunya

Mereka habis-habisan dihujani bom-bom Rusia dari langit, di bumi pasukan laknatullah Bashar Asad menyapu nyawa-nyawa mereka tanpa henti, saat ini, dihabisi tak bersisa

Rumah-rumah sunyi dari kehidupan, pintu-pintu terbuka tanpa ada yang bisa berlindung, anyir darah dan mayat bahkan tak sempat lagi dimakamkan, tolonglah diingat barang sebentar

Sungguh-sungguh doakan mereka, kita meyakini bahwa Allah mendengar, Allah mengetahui, Allah mengabulkan doa-doa hamba-Nya, sejenak doakan mereka, beri mereka kekuatan

Sebab satu saat di padang mahsyar, kita berharap mereka semua mengenali kita, sebab doa yang kita panjatkan, kepedulian yang kita bagi, sambung rasa dan hati yang kita lakukan

Memang mereka jauh dari kita, tapi bisa jadi mereka lebih dekat kepada Allah, dan cinta kita pada mereka, bisa jadi sebab cinta Allah kepada kita, luangkan buat mereka

@SahabatAlAqsha membuka kesempatan bagi sesiapa yang ingin peduli pada saudara kita di Gaza dan Suriah, yang terpenting, doakan selalu mereka, doakan perjuangan mereka

DONASI SURIAH via @SahabatAlAqsha Palestina

Bank Syariah Mandiri 77 44 12345 8

BNI Syariah 77 44 12345 9
Suriah

Bank Syariah Mandiri 77 55 12345 7

BNI Syariah 77 55 12345 6
Infaq Operasional

Bank Syariah Mandiri 77 66 12345 1
Semua rekening atas nama Sahabat Al-Aqsha Yayasan 

Konfirmasi donasi

SMS/WhatsApp 0821-1293-5195

amanah@sahabatalaqsha.com

Omah Dakwah Jl. Jogokariyan No. 41, Jogjakarta

http://www.SahabatAlAqsha.com | www. SahabatSuriah.com

@SahabatAlAqsha | @SahabatSuriah

KONSUMEN BIJAK DAN FISIKA KUANTUM


Jaman dulu, orang-orang akan takut berlayar jauh, karena opini jaman dulu mengira bahwa bumi itu datar, mereka takut jatuh ke ujung bumi. 
Ada sebagian opini yang menjadi fundamen sikap keseharian kita. Jika opini itu berubah, maka sikap kita dalam memandang hidup sama sekali berubah. Jaman sekarang, tidak ada orang yang takut berlayar, karena sudah tahu bahwa bumi itu bulat.

Satu opini yang menarik juga adalah perkembangan fisika kuantum. Tetapi sebelum itu, perlu dijelaskan bahwa saya memang bukan ahli fisika. ibarat kata, kalau dianalogikan dengan konsumen, saya –dan mungkin mayoritas kita- adalah seperti konsumen hape. 

Saya banyak terbantu dengan konsumen hape yang menulis komparasi hape a vs hape b. kelebihan hape a, kekurangan hape a, dst di internet…… mereka melakukan itu semua karena niatan berbagi. 

Sampai kapanpun, konsumen seperti mereka tidak akan bisa menyamai kepintaran produsen hape dalam hal membuat hape. Karena memang produsen hape bidangnya disana, tetapi kontribusi dari “wise user”, alias konsumen bijak, bisa bermanfaat bagi orang lain.

Dalam bahasa islamnya, itulah muballigh. Penyampai. 

Kapasitas seorang penyampai memang hanya makelar ilmu. Jembatan pengetahuan untuk sampai. kita ini, menyamai kapasitas ahli fiqih tidak mungkin, dan menyamai capaian ruhani para arif pun tak mungkin, tetapi berbagi knowledge yang kita paham dalam kapasitas sebagai “konsumen bijak” itulah ranah kita.

Kembali ke fisika quantum. Secara sederhana fisika quantum ditelurkan karena para ahli melihatbahwa teori fisika biasa tidak bisa lagi diterapkan untuk menganalisa tabiat partikel yang kecil-kecil, sub atomik. Karena pada tataran sub atomik, konon katanya partikel-partikel kecil itu tak bersikap sebagaimana hukum fisika untuk benda-benda ukuran besar.

Building blocks, atau penyusun terkecil dari segala yang kita lihat, dulunya kita kira partikel atau padatan, ternyata dalam waktu yang bersamaan, partikel padatan itu rupanya muncul dari ruang hampa yang tak diketahui. Elektron, bersifat dualitas sebagai partikel dan sekaligus sebagai gelombang. Muncul dan hilang dan muncul lagi dari ruang hampa.

Singkatnya, segala yang kita lihat ini, ilusi alias hologram saja.

Luar biasa bukan…bagaimana mungkin dunia yang begitu nyata ini ternyata hologram? Tapi begitulah adanya.

Betapa kemudian saya teringat kembali dengan bahasan para spiritualis islam mengenai hal ini. Bahasan mengenai eksistensi atau wujud. 

Segala yang ada di alam semesta ini, dikatakan bukan wujud yang sejati. Segala yang ada ini realita yang penuh kemungkinan fisikal ini ( mumkinul wujud) dimunculkan dari yang wajib wujudnya (wajibul wujud) yaitu Dzat-Nya yang laisa kamislihi syaiun. Yang tak serupa apapun.

Walhasil, betapa penemuan sains terkini semakin mengukuhkan bahasan para arifin. Bahwa Tuhanlah yang mulanya ada. DIA tak serupa dengan apapun, tak ada yang menyamaiNya. DIA ingin dikenali, maka kemudian DIA menzahirkan makhluk, dari DiriNya sendiri.

Segala wujud yang mungkin, muncul begitu saja dari realita ilahiah yang tak terjangkau persepsi manusia.

Akan tetapi, satu hal yang harus dipahami, banyak spiritualis yang sampai pada pengetahuan ini lantas mengira bahwa segala ciptaan di alam raya inilah DIA. DIA, memanifestasikan diriNya (tajalli) menjadi alam semesta. Ini keliru.

Seorang arif meluruskan, bahwa keseluruhan alam semesta ini, hanya setitik dibanding keMaha-Besarannya. Bergabung seluruh pepohonan menjadi pena, dan tinta diambil dari tujuh lautan, masih belum bisa merangkum ilmuNya.

Sehingga, memang benar bahasan saintifik bahwa segala realita yang mungkin ini, dimunculkan dari hakikat yang ilahiah yang tak terjangkau definisi manusia, akan tetapi, selamanya alam semesta bukanlah Tuhan, pun keseluruhan alam semesta digabung menjadi satu masihlah kecil dibanding KeMaha Besaran Tuhan. Dan Tuhan tak serupa apapun saja yang dipersepsikan manusia kepadaNya.

Tetapi dengan begini, menjadi teranglah bagi kita bahwa DIA Maha Meliputi. Meliputi ini tak semata dengan ilmuNya, akan tetapi dengan DzatNya, divine essence, realita ilahiah yang tak bisa didekati persepsi manusia yang seperti apapun juga.

DIA lebih dekat daripada urat leher.

Wallahualam

*) image sources

KEMACETAN RASA SYUKUR


Perjalanan saya dari kantor ke rumah molor menjadi tiga jam, dari yang normalnya kurang dari satu jam. Luar biasa kemacetan Jakarta sore kemarin.

Hal ini dampak dari long weekend. Libur panjang karena hari senin tanggal merah. 

Liburnya menyenangkan, akan tetapi yang saya luput dari perhatian saya adalah bahwa tanggal merah senin itu, dalam rangka Maulid Nabi.

Lebih ingat liburnya ketimbang konteksnya. 

Saya jadi teringat kepengenan saya sejak dulu untuk bermimpi bertemu Rasulullah SAW tetapi belum pernah kesampaian. 

Saya sempat iri juga waktu berapa tahunan lalu mendengar cerita anaknya Ustadz Yusuf Mansur bermimpi bertemu Rasulullah SAW, diajak muterin rumah beliau SAW, dan diajarkan sebuah syair. 

Tak cuma Putrinya Ust Yusuf Mansur, banyak beberapa orang guru yang saya kenal, mereka bermimpi bertemu Rasulullah SAW. 

Setelah saya amati, orang-orang yang bermimpi bertemu Rasulullah SAW itu sangat besar cintanya kepada Nabi. 

Bagaimanakah cinta itu tumbuh? 

Menjalankan tuntunan, sudah barang tentu. Tetapi ternyata selain menjalankan apa yang dituntunkan Rasulullah SAW, menghargai Rasulullah SAW sebagai jalan rahmat mengalir untuk kita; itu juga sangat perlu. Jadi barangkali paham konteks.

Umpamanya ada seorang anak yang sekolah dalam segala keterbatasan ekonomi orangtuanya. Anak tersebut sangat rajin menjalankan segala aktivitas pembelajaran di sekolahnya dengan baik, itu tentu sudah benar. Tetapi yang lebih dari itu adalah sang anak juga harus mengerti bahwa menjalankan sekolah dengan baik adalah bentuk terimakasih dia pada orangtuanya yang dalam segala keterbatasan ekonomi tetap memperjuangkan sekolah anaknya.

Memahami aktivitas terbaik yang kita lakukan sebagai bentuk terimakasih juga pada orang yang menjadi jalan rahmat sampai ke kita.

Hal itu disebut rasa syukur. Syukur pada Tuhan, adalah juga syukur pada sesiapa yang menjadi jalan rahmat untuk sampai pada kita.

Disinilah yang mana saya perlu berbenah. Tentang adab belajar.

Seperti sang anak, yang rajin belajar tetapi jangan sampai lupa bahwa rajin belajar itu semestinya tak hanya dimaknai dalam konteks etos kerja, melainkan konteks terimakasih pada orang tua.

Begitu juga dalam peribadatan. Peribadatan yang banyak, juga rupanya harus ada semacam konteks terimakasih dan syukur untuk telah mendapatkan rahmat pengenalan akan Tuhan, lewat jalan Rasulullah SAW.

Hal seperti ini penghormatan yang lumrah dan wajar sekali saya rasa.

Dan banyak sekali fragmen dimana saya mendapatkan begitu banyak kepahaman baru dari guru-guru yang tak mau diri mereka ditonjolkan, akan tetapi justru ilmu dari merekalah yang menyadarkan bahwa jika saya semata belajar dan menggali ilmu saja tanpa ada semacam rasa terimakasih pada mereka-mereka yang mengajari itu; maka saya sudah kurang bersyukur.

Tetapi karena satu dan lain hal, seringkali ucapan terimakasih secara fisik tak mampu tersampaikan karena segala keterbatasan, maka biarlah lewat doa menjadi jalan penyambungnya.

Alloohumma sholli alaa sayyidina Muhammad. Wa alaa aalihi washohbihi ajma’iin.

PAKEM DUNIA FISIKAL (2)

Hape saya dicuri…..kejadian ini saat sekitar tahun pertama saya kuliah. 13 tahunan lalu.
Itu hape pertama saya. Hape dengan layar biru dan berantena. Saya beli dari kiriman uang orangtua dan hasil tabungan. Tapi suatu hari hapenya hilang di rumah kontrakan saya sendiri. Betapa hati saya dongkol….Sedih….nelongso…..

Memang itu hanya hape second, tapi mengingat perjuangan orangtua dan susahnya mengumpulkan uang untuk membelinya, maka saya begitu marah.

Saya benar-benar kesal, sampai-sampai berapa lama hingga akhir kuliah setiap kali saya mengingat kejadian itu saya masih tidak bisa memaafkan pencuri itu.

Butuh waktu yang lama, hingga saya bekerja, dan bisa membeli hape sendiri saya masih belum bisa memaafkan pencuri itu. Hape penggantinya sudah bisa terbeli sejak lama, dan digantikan dengan yang lebih baik, tapi permaafan itu belum usai. 

Setelah mengkaji dan belajar spiritualitas islam, barulah saya bisa perlahan memaafkan kejadian masa silam itu. Sebagai bagian dari cerita hidup saja.

Setelah saya renungi, hal paling fundamen yang melatari segala sikap manusia adalah cara pandang. Ilmu yang didapat dari pengalaman hidupnya. Walhasil, untuk merubah sikap seseorang, cara paling tokcer adalah dengan menambahkan ilmu kepada orang tersebut, ilmu yang merubah cara pandang. Seperti kisah diatas.

Akan tetapi, kenyataan bahwa hal yang paling fundamen inilah yang harus diperbaiki; sering membuat saya alpa bahwa kapasitas setiap orang tidak sama. Dan tak semua orang siap untuk dirubah paradigmanya dalam memandang hidup; dengan seketika.

Akibatnya, seringkali jika berbicara dengan seseorang, atau dalam setiap jenak dimana saya mendengarkan cerita, maka saya seringkali pengen langsung membenahi cara pandang seseorang.

Dan ini keliru.

Analoginya misalnya saat anak saya yang masih TK menangis karena iri dengan asisten rumah tangga kami yang dibelikan baju baru oleh istri saya; akan sia-sia belaka jika kami langsung menyasar pada cara pandang. Menasihati anak kami yang menangis karena iri akan baju baru, bahwa manusia harus berbagi, adalah tak tepat konteks waktu.

Akan lebih menolong jika perhatiannya akan baju baru dialihkan dengan misalnya mainan atau ditampakkan baju yang dulu sudah pernah dibelikan atau jarang dia pakai. Dan bagian membujuk anak ini, saya kalah ahli dibanding istri saya. Saya selalu menyasar cara pandang, tapi selalu lupa konteks dan suasana.

Misalnya lagi…..tentang kemiskinan. 

Kemiskinan akan selalu ada sepanjang sejarah. Akan tetapi, betapa tidak eloknya jika ada orang yang butuh pertolongan, kita bukannya menolong akan tetapi kita malah sibuk menceramahi dengan harapan orang ini berubah mindset. Karena kita menyadari bahwa yang paling pokok adalah mindset. Maka gerak kita melulu menyasar mondset.

Misalnya mengajari bahwa kemiskinan adalah takdir, adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa diriNya-lah tempat bergantung, adalah cara DIA menampakkan cerita diriNya sendiri. Semua wacana filosofis itu benar adanya, dalam, betul dan sangat prinsipil…..tetapi, ketidak-arifan sayalah yang sering menyebabkan semua hal prinsipil menjadi tidak indah.

Seandainya ada orang yang membutuhkan pertolongan, jika kebetulan kita dianugerahi perangkat dan kemampuan menolong mereka secara fisikal, tolonglah mereka…..niscaya kita akan mendapatkan-Nya disisi orang-orang yang meminta tolong.

Jangan terbalik, ada orang yang butuh pertolongan, alih-alih bergerak dan menolong dalam peran kita di dunia fisikal; kita malah terburu-buru menceramahi orang tersebut dan menyuruhnya melihat “Tuhan” dalam keseharian.

PAKEM DUNIA FISIKAL

Jikalau kita zoom-in, yang manakah yang dikatakan manusia? Kita terdiri dari kumpulan sel….. Organ…..dari sisi biologi. 

Secara fisika, kita kumpulan atom yang kalau dibelah terus menjadi sesuatu yang tak lagi diketahui manusia.
Secara mikro, super mikro, maha mikro, manusia satu dan lainnya tak ada bedanya dengan gunung dan tetumbuhan. Sama-sama hologram yang tersusun dari gejala-gejala fisika yang sama.

Dalam hakikatnya, tak ada beda.

Akan tetapi, setelah menjelma ke dalam bentuk fisik, kesadaran filosofis bahwa manusia dan semua makhluk tak ada beda ini; harus tunduk pada tatanan alam fisikal. Anak-anak bayi makannya nasi tim, ga bisa makan steak barbeque. Seorang laki-laki kalau kebelet pipis harus masuk toilet umum laki-laki, ga bisa masuk toilet umum perempuan. Semuanya tunduk pada norma dunia fisikal. Begitu di alam fisikal, semua memainkan coraknya masing-masing.

Sespiritual apapun seseorang, setinggi apapun kepahamannya akan spiritualitas, dalam dia bergerak di dunia fisikal ini dia akan mengikuti pakem syariat.

Ibnu qayyim al jauziyah mengatakan dalam salah satu tulisan beliau tentang takdir, yang kurang lebih maknanya adalah “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum”.

Sespiritual apapun pada dalamannya, saat didunia fisikal dia akan tetap menyebut baik pada kebaikan dan menyebut buruk pada keburukan……sesuai dengan kepahaman dan maqomnya masing-masing. 

Walhasil…..memiliki corak, atau memiliki sikap di dalam dunia fisikal adalah fithrah. Karena mau tak mau seseorang akan bergerak sesuai dengan syariat peran yang dia lakoni. 

Saya keliru, untuk dahulunya telah mengira bahwa kepahaman spiritualitas yang dalam akan mengakibatkan seseorang menjadi super toleran dan pembiaran…..ternyata setelah direnungi, Rasulullah SAW tetap mengajarkan kebaikan dan memberitahu mana yang buruk. Sebagai syariat untuk bergerak di dunia fisikal. Tetapi dalam bergerak, kita memahami bahwa sejatinya sama saja kita dan mereka, tetapi game plannya begini…..maka kita harus ikut peranan masing-masing. Dan berbuat kebaikan sebanyak-banyak yang “ditakdirkan” bagi kita.

Wallahualam

AMPUNAN YANG MENDAHULUI TAUBAT

Seorang pendosa bertanya pada Rabi’ah, “seandainya saya bertaubat, apakah Allah akan mengampuni saya?”.

Rabi’ah menjawab, “seandainya Allah mengampuni engkau, pastilah engkau bertaubat”.

Sudah lama saya mendengar kisah itu, dari seorang ustadz. Saya lupa tercantum dalam kitab apa dialog itu, tetapi maknanya valid. Yaitu cara arifin memaknai kaitan antara usaha dan hasil. Jika jamaknya orang memahami bahwa jika kita bertaubat maka Allah mengampuni, maka para arif memaknai bahwa ampunan itu mendahului taubat. Artinya, jika Allah mengampuni seorang hamba, maka hamba itu pastilah tertakdir bertaubat.

Ud’uni astajib lakum[1]. Berdoalah maka Aku akan mengijabah… oleh para arifin dimaknai sebagai “jika Allah ingin memberi, maka akan diturunkannya ilham sehingga sang hamba tergerak meminta”.

Keseluruhan kejadian hidup, oleh para arif, dimaknai sebagai cara Allah SWT menceritakan diri-Nya sendiri. Tidak ada konteks lain dalam hidup.

Allah mentakdirkan segalanya ini berlaku, dalam sebuah game-plan besar yaitu mengenalkan tentang diriNya. Maka pada sisi manusiawi, segala takdir yang SEDANG berlaku mestilah disikapi dengan sikap batin yang “mengandalkan” Allah untuk kembali kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu mentakdirkan orang itu beramal. (intinya adalah kita berupaya mengenal Dia lewat kejadian apapun).

Cara menyikapi dosa ternyata juga seperti itu. Dalam dunia ini, dualitas tergelar. Baik dan buruk. Dalam konteks mengenalkan tentang Tuhan, maka keburukan pun juga mengenalkan tentang Tuhan.

Masyhur kalimat “Laa Hawla Wa Laa Quwwata illa billah”.[2] Sebagian ulama menafsirkan sebagai tiada daya (berkebaikan), tiada upaya (menghindari kemaksiatan) selain dengan pertolongan Allah. Namun ada pula yang menafsirkan Hawla = daya di dalam batin, lalu Quwwata = daya secara fisikal. Yang manapun pengertian yang ditarik, jika dipandang dalam konteks DIA menceritakan DIRINYA sendiri, akan jelas bisa kita mengerti bahwa gerak-gerik batin kita, sampai aktivitas fisikal kita, semua dalam genggaman Allah SWT.

Satu syarahan seorang guru tentang DOSA. Yang beliau sampaikan itu baru sekarang saya mengerti bahwa sangat senada dengan maksudnya Ibnu Qayyim.

kata beliau kurang lebih: saat kita SEDANG berada pada kondisi berdosa, kita harus ingat bahwa hanya Allah semata yang bisa selamatkan kita. Karena dorongan hendak melakukan dosa itu pun sejatinya telah masuk dalam Qada dan Qadar-Nya. Maka menyikapinya adalah, kita “kembali” pada Allah, “mengingatNya” dan minta tolong Allah agar selamatkan kita dari dorongan berbuat dosa. Bukan mengandalkan kemampuan diri beramal semata-mata tetapi lupa menyandarkan amal pada pertolongan Allah.

Maka barulah dengan cara pandang seperti itu kita akan mengerti dialektika berikut ini, ada ayat yang mengatakan ini “Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. ” (Al-Takwir 28)…. tapi di sisi lain Allah mengatakan begini “Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali jika dikehendaki Allah. ” (Al-Insan 30)

Kita disuruh menempuh jalan lurus, lalu kita diberitahu bahwa tak akan mampu kalau tak Allah tolong.


[1] Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu ( QS Al mukmin 60)

[2] “Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386)

BAJU BESI DAN JALAN NAIK TURUN

Dalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, Imam Ghazali menceritakan bagaimana beliau berusaha mencari sebuah keyakinan yang kokoh, yang tidak akan ada lagi gundah sesudah itu. Keyakinan itu, adalah sebuah fase yang jamak kita kenal sebagai “Haqqul Yaqin”.
Dalam literatur spiritualitas islam, para arif membagi dua macam urutan perjalanan. Yang pertama adalah jalan mendaki. Dari bawah ke atas.

Yang kedua adalah jalan menurun, dari atas ke bawah.

Kalau kita tarik korelasinya dengan fase perjalanan yang lumrah, yaitu Ilmul Yaqin, lalu Ainul Yaqin, lalu Haqqul Yaqin….maka tahulah kita bahwa fase perjalanan keyakinan yang kita sering dengar itu adalah fase perjalanan pertama. Yaitu dari bawah ke atas. Dari yang pertamanya keyakinan karena seperangkat ilmu yang dipelajari / diketahui, lalu meningkat menjadi lebih yakin karena melihat sendiri / observasi (ainul yaqin), lalu sangat yakin karena mengalami sendiri realita itu (haqqul yaqin).

Semisal seseorang yakin ada kutub utara karena membaca, dilanjut dengan yakin karena dia melihat rekaman video atau mungkin dia naik pesawat di atas kutub utara, lalu dilanjut dengan super yakin karena dia pernah berkemah di kutub utara dan mencecap rasa dingin saljunya. Dari bawah, ke atas. Skema perjalanan dari dasar, merangkak naik pelan-pelan sampai mencapai derajat haqqul yaqin inilah yang oleh para arif disebut dengan salik. “pejalan ruhani”.

Namun…. Ada skema perjalanan terbalik. Yaitu orang-orang yang karena anugerah Allah, langsung mengalami sendiri derajat haqqul yaqin. Orang begini, istilahnya dia ditarik masuk ke dalam penyaksian. Sering diistilahkan sebagai “madjzub”. Kalau pakai analogi kutub utara, ibaratnya ada orang yang tinggal di sebuah desa yang tertinggal dari pengetahuan dunia luar, lalu tiba-tiba entah bagaimana ada satu orang yang terlempar ke kutub utara. Lalu dengan suatu cara tiba-tiba orang itu kembali lagi ke desanya. Orang itu, terhadap kutub utara, sudah mencapai derajat haqqul yaqin. Super yakin.

Tapi ada satu masalah, masalahnya adalah bagaimana orang ini menceritakan yang dia alami kepada khalayak di desanya yang sama sekali tak pernah tahu kutub utara? Orang ini, akan disalah pahami, jika kemudian dia tidak pandai menerjemahkan atau membahasakan apa yang dia alami ke dalam bahasanya “para pejalan”. Misalnya, dimulai dari dia harus mencari literatur dulu, barangkali peta-peta yang ada membahas kutub utaranya. Lalu, kemudian kalau bisa dia menemukan video mungkin. Dan seterusnya dan seterusnya, sehingga meskipun dia sendiri haqqul yaqin, tetapi dia bisa menyampaikan kepahamannya kepada orang lain lewat jalan ilmul yaqin. Lewat keilmuan yang valid.

Dalam spiritualitas islam, para salik meniti jalan yang lumrah lewat belajar, dan rajin beribadah sampai kemudian keyakinan meningkat. Sedangkan yang madjzub, karena anugerah Tuhan, mereka berada pada keyakinan yang begitu kukuh, tetapi untuk menyampaikan keyakinan itu kepada khalayak mestilah tidak bisa tidak mereka harus menguasai aspek keilmuan pada tangga yang dibawahnya.

Teringat kisah Ali Bin Abi Thalib r.a, yang baju besinya diambil oleh seorang yahudi. Dan Ali kemudian melaporkan ke hakim. Tetapi, Ali r.a. kalah dalam persidangan, karena beliau tidak mampu menghadirkan bukti otentik, baik itu dari sisi keilmuan wacana ilmul yaqin, atau dari segi bukti ainul yaqin, bahwa baju besi itu milik dia. Maka, Ali bin Abi thalib kalah dalam persidangan.

Begitulah fithrah dunia. Dunia, menghukumi berdasarkan bukti yang tampak mata. Dalam kata lain, dunia mengikuti pola perjalanan salik, dari bawah ke atas. Kerangka keyakinan disusun berdasarkan bukti wacana, lalu bukti yang tampak mata, dan dipuncaki dengan keyakinan yang super teguh hasil mengalami sendiri realita.

Apa implikasinya?

Dari sudut pejalan. Bagi para pejalan ruhani, satu-satunya cara mereka untuk menerima kebenaran adalah dengan cara ilmul yaqin. Rasulullah SAW bersabda, telah ditinggalkan untuk kita dua perkara, Al Qur’an dan Sunnah sebagai uji validitas wacana. Karena kita adalah seorang pejalan, maka cara keyakinan bersemayam adalah dari bawah ke atas. Cari wacana ilmu sebanyak-banyaknya, dan uji validitas. Ilmul Yaqin, sampai kemudian Allah sendiri yang akan menghantarkan kita pada derajat berikutnya.

Dari sudut orang yang madjzub. Satu-satunya syarat bahwa mereka boleh menyampaikan apa yang mereka alami kepada khalayak, menyampaikan ilmu dan keyakinan mereka pada khalayak, adalah dengan pola menurun. Mereka mengetahui sesuatu berdasarkan burhan, intuisi, petunjuk, kasyaf, dst….tetapi dalam menyampaikan kepada khalayak mestilah yang bersesuaian dengan ilmul yaqin. Wacana ilmu yang valid. Tanpa itu, maka penyaksian pada derajat haqqul yaqin tak bisa dibawa kepada khalayak, karena tak ada pendukung bukti otentik.

Sebagaimana kisah Ali tadi.

Harmoni akan terjadi, jika seorang salik, menjadi bestari dengan menyadari bahwa sangat banyak disekitar mereka orang-orang yang secara ruhani telah tinggi dan Allah pahamkan akan sesuatu, tetapi mereka tak punya kemampuan menyampaikannya dengan bahasa yang dimengerti awam. Maka tugas pejalan adalah belajar dari sekian banyak orang, dan menyaring dari siapapun saja, dengan wacana ilmu yang valid yang mereka pelajari.

Harmoni akan terjadi, jika seorang madjzub, menyampaikan apa yang dia alami, dengan bahasa wacana ilmu yang jamak dipahami orang-orang. Maka mengetahui banyak wacana, adalah sangat penting bagi seorang madjzub dalam polanya yang terbalik. Dari atas ke bawah.

Menjadi pahamlah kita, kenapa tak semua orang madjzub boleh menyampaikan. Karena, tak semua yang madjzub diberikan anugerah pula selain dari anugerah haqqul yaqin, tetapi juga anugerah untuk dipertemukan dengan dalil keilmuan yang menjelaskan mengenai apa yang dia alami.

Dalam Al Munqidz Min Ad Dhalal, Imam Ghazali berkata, salah satu anugerah itu adalah jika Allah SWT menuntunkan bertemu dengan golongan yang benar, dan dituntunkan pula bertemu dengan dalil yang benar.

Indah sekali cara Allah mengajar.