MENDULANG RASA

water-dropsDari mendengar ceramah Jum’at barusan, saya Kembali diingatkan akan sebuah kisah yang sangat masyhur tentang seorang penuntut ilmu yang selalu tertinggal.

Tersebutlah seorang anak yang belajar pada sebuah madrasah. Akan tetapi anak ini selalu tertinggal oleh rekan-rekannya yang lain.

Sempat putus asa, lalu sang anak memutuskan untuk pamit pada gurunya karena merasa bahwa dirinya tak berbakat.

Dalam kesedihan, seperginya dia dari madrasah itu, hari pun hujan. Lalu dia berteduh pada sebatang pohon. Berdoalah dia waktu itu, ya Tuhan…..ini nasib saya ini gimana?

Ndilalah…..Didekatnya ada sebuah akar pohon yang menjulur keluar dari sisi tebing, meneteskan satu demi satu butiran air. Butiran air itu menetes lalu meluncur sampai pada dasar tebing sebuah batu besar yang retak. Pada tengah retakan itu terpatri sebuah ceruk kecil tempat tetesan air hujan yang mengalir meniti akar pohon yang menjulur di pinggiran tebing tadi.

Sang anak pun kagum, dan tiba-tiba tercerahkan. “seperti batu inilah saya”, pikirnya. Sebuah batu yang demikian keras pun hancur oleh tetesan air yang sabar butir per butirnya, apatah lagi manusia, pasti akan menemukan jalan jika tekun dalam usahanya. Begitu fikirnya.

Singkat kata, sang anak yang putus asa akhirnya kembali ke madrasahnya, diterima oleh sang guru dan meneruskan belajarnya.

Kelak, sang anak menjadi seorang ulama besar. Konon sang anak akhirnya dijuluki “Ibnu Hajar” alias anak batu. Tetapi apakah sang Ibnu Hajar ini adalah Ibnu Hajar pengarang kitab Bulughul Maram itu, atau bukan, wallahualam. Barangkali bukan.

Tetapi pelajaran dari kisah itu, valid.

Sebagian menafsirkannya dalam konteks “ketekunan berbuah manis”. Tetapi saya melihatnya sebagai “pembacaan” terhadap tanda-tanda pada alam. Insight yang didapatkan karena “membaca” kehidupan.

Dalam pandangan yang lebih spiritual, saya rasa hampir seluruh “pujian” kepada Tuhan, adalah “membahasakan rasa” yang dialami saat menjalani konteks hidup tertentu.

Misalnya, saat mendapat kesulitan, maka ekspresi persandaran itu mewujud dalam bentuk amal. misalnya do’a ini

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat–Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dari–Mu). [1]

Atau saat mengalami hidup yang membuat kita bersyukur dan kagum

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Mahasuci Allah, aku memuji–Nya sebanyak bilangan makhluk–Nya, Mahasuci Allah sesuai keridhaan–Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy–Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat–Nya. [2]

Semuanya saya rasa adalah ekspresi rasa yang terkeluar dalam wujud pujian atau permintaan.

Nah….. Dalam kaitannya sebagai ekspresi rasa inilah, do’a akan keluar dari sesiapa saja yang membaca alam “sifat-sifat”. Iqra bismirabbika.

Kembali saya kutipkan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash. Orang yang sudah “tenggelam” dalam penyaksian. Dan ridho dalam segenap lakuan takdir. Maka meski dia buta, dia TIDAK berdoa meminta kesembuhan. Yang zahir padanya adalah ekspresi pasrah. Pasrah tersebab pengenalan akan takdir.

Tapi, level Sa’ad ini tak selalunya bisa dicontoh orang awam.

Itu sebab, banyak sekali do’a yang diajarkan Rasulullah. Karena tak semua orang bisa berdiam di maqom seperti sa’ad.

Jangan tengok do’a sebagai tekstual semata, tetapi pahamilah do’a sebagai ekspresi rasa yang terkeluar dalam bentuk amal.

Dalam kondisi seperti ini, akan sulit kita menahan doa untuk terzahir dari diri kita.

Ekspresi rasa ini hanya akan tertangkap jika membaca hidup ini. Seperti kisah tadabur-nya seorang santri yang mendapat insight dari melihat batu yang dihancurkan tetesan air tadi.

Tanpa “menikmati” kondisi dalam hidup, maka ekspresi rasa itu tak akan dapat. Sehingga do’a menjadi kering.

Satu hal yang saya amati, sangat membantu untuk mendapatkan “feel” atau “rasa” itu, adalah ilmu dan pengenalan akan Tuhan. Mengenal Allah, dan bagaimana kaitan antara Allah dan makhluknya.

Satu konteks “pembacaan” yang diajarkan seorang arif dan saya tertatih terapkan adalah belajar menyadari betul bahwa diri kita ini adalah “non existence”, kita, mereka, dan segala ciptaan hakikatnya tidaklah memiliki wujud sejati, yang sejati atau wajib wujudnya adalah Dzat-Nya, Divine Essence, realita Ilahiah yang diluar jangkauan perumpamaan manusia.

Sehingga lambat laun pengaturan Tuhan dalam hidup ini terasa nyata.

Memahami kajian ini sangat membantu mengubah cara pandang, sehingga rasanya tiap sisi hidup menghantarkan rasa-nya sendiri. Yang mau tak mau mewujud menjadi amalan yang sesuai konteks saat itu.


References

[1] HR. An–Nasa–i 575, al–Bazzar 3107 dan al–Hakim 1/545 dab Ibnus Sunni 48, lihat Shahiih at–Targhiib wat Tarhiib I/417 no. 661, hasan

[2] HR. Muslim no. 2726. Syarah Muslim XVII/44

*) Image sources

Iklan

KERAGAMAN DI DALAM KOSONG

atomic

Laptop yang sekarang saya pakai untuk mengetik ini, rasanya sungguh nyata dan real. Seluruh pengalaman indera saya membenarkannya, dari mata saya yang memandang, sampai jari-jemari yang bertelekan tuts keyboard yang saya sentuhi. Semuanya nyata. Tetapi…. Lewat sains-lah kita mengetahui bahwa bangunan kenyataan yang kita lihat setiap hari ini, dalam ukuran mikro, tidaklah lagi terlihat sebagaimana adanya.

Semakin ke dalam, semakin kecil dan halus, dan semakin hilang keragaman yang ada pada dunia yang terindera di luar.

Sebuah molekul air, H20 masih memiliki sifat-sifat air, seperti samudera luas. Tetapi kalau masuk lebih dalam lagi, atom H dan O masing-masingnya tidak lagi memiliki tabiat air.

Dalam atom H dan O kalau dipecah lagi tinggal elektron yang memutari intinya yaitu proton dan neutron. Dalam skala ini, keragaman atom H dan O bahkan hilang. Proton dan neutron atom H dan O adalah proton dan neutron yang sama.

Semakin ke dalam semakin hilang keragaman.
Antara inti atom proton dan neutron, lalu kulit elektron yang memutarinya itu, terbentang jarak yang begitu jauh, jarak yang tidak diisi apapun kecuali kekosongan. 99.99% atomic emptiness.

Dari sisi itu saja sudah banyak sekali yang merombak cara pandang. Bahwa secara sains saja, kita, anda, mereka, saya, pada jagad mikro tak ada beda sama sekali. Diri kita, yang seolah demikian real ini, secara sains kita ketahui rupanya 99.99%-nya adalah kekosongan alias atomic emptiness.

Ada satu yang menarik lagi, lewat kajian fisika terkini, fisika kuantum, bahkan unsur penyusun terkecil semua benda, yang selama ini kita kira adalah partikel padat begitu, elektron-elektron yang mengitari intinya itu, ternyata memiliki sifat gelombang, tak hanya sifat partikel. Dan satu kali dia muncul sebagai partikel, di kali lain dia menghilang, lalu muncul kembali, hilang kembali dengan misterius.

Pertanyaan besarnya adalah, What are we? Apa kita ini sebenarnya?

Stephen Hawkings mengatakan bahwa kita semua berada dalam “computer generated soap opera”, istilahnya dia begitu. Dunia kita yang begitu nyata ini, sebenarnya adalah hologram.

Coba lihat, jika gerak atom saja tidak pernah kita kontrol, apakah benar saat kita berjalan menuju kantor misalnya, itu benar-benar gerak kita berjalan menuju kantor? Maksudnya benarkah kita yang menggerakkan diri kita?

Sebuah gerak kita berjalan menuju kantor, dalam tataran mikro adalah gerak trilliunan atom, dan gerak atom adalah berarti juga gerak elektron yang memutarinya dalam 99.99% atomic emptiness itu. Dan jelas tak satupun gerak mikro itu yang kita kontrol.

Belum lagi kalau kita mengacu pada kenyataan bahwa ternyata unsur terkecil suatu benda itu, menurut sains, sudah tidak lagi partikel, sudah dualitas partikel dan gelombang, dan hilang-timbul-hilang-timbul seperti animasi.

Semua kenyataan yang mengejutkan itulah, yang membantu untuk mengerti maksud dari para arif, dalam pandangan spiritualitas islam, yang mengatakan bahwa semua ciptaan, benda-benda ini, tidak memiliki wujud sejati (non existence).

Semua apapun saja ciptaan, dizahirkan dari realita Ilahiah, yang tak terjangkau perumpamaan manusia. (Dzat-Nya).

dzat-Nya lah yang merupakan hakikat semua realita. Realita adalah sifat-sifat yang diselubungkan pada Dzat-Nya yang tiada perumpamaan. Tak mirip apapun. Diluar persepsi ruang waktu.

Banyak sekali hadits dimana Rasulullah SAW mengatakan “demi (Dzat) yang jiwaku berada dalam genggamanNya”.

Ok….untuk tak terlalu filosofis. apa gunanya mengetahui hal ini?

Dengan mengetahui hal ini, kita akan menjadi lebih yakin bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Tuhan.

Seorang Arif merumuskan urutan pola yang membantu kita untuk makrifat kepada Allah SWT. Dengan ilmu.

Yaitu mengenal Allah SWT. Mengenal pula bagaimana kaitan antara Allah SWT dan makhluk (agar tak jatuh dalam kekeliruan menyamakan Tuhan dan makhluk). Lalu mengenal bagaimana Allah SWT mengatur alam semesta lewat mekanisme Lauh Mahfudz. Yang mana pengenalan akan ini semua dapat membantu kita ridho terhadap kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup.

Menarik sekali. Dan InsyaAllah bermanfaat.


*) Image taken from this link

SPIRITUALITAS DIESEL

Jika ibarat mesin, jelas saya ini mesin diesel. Panasnya lama, hehehe.

Lama mengamati diri sendiri, saya jadi hapal sekali bahwa saya butuh waktu lebih lama dari rekan-rekan saya dalam menyelesaikan sesuatu. Saya butuh waktu lebih lama untuk bergerak.

Setelah saya renungi, ini sama sekali bukan karena saya tidak bisa bergerak cepat, tetapi “by nature” secara bawaan saya memang orang yang santai dan tidak menyukai tergesa-gesa.

Dulunya, sebelum mengenali pola pada diri sendiri semacam ini, saya sering merasakan penolakan. Saya menolak diri saya sendiri. Saya ingin lebih cepat dan cepat, sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang rekan, di awal masa kerja saya, dari dialah saya belajar mengenal dan menyiasati diri sendiri.

Rekan saya ini juga orang yang kurang lebih sama tipikalnya dengan saya. Santai, teratur, bertahap, tetapi untuk menyiasatinya maka dia memulai segala sesuatu lebih dahulu sebelum orang lain memulainya.

Ujian masih lama, dan dia sudah membuka buku sejak berapa minggu sebelumnya. Orang belum mulai dia sudah mulai. Orang sudah selesai, dia masih bekerja.

Selalu seperti itu sampai dia menjawab, ketika saya tanyakan “kenapa kamu begitu keras belajar terus?”. Dijawab olehnya sambil merendah, “aku tahu persis kapasitas diriku. Kalian bisa memahami sesuatu dengan cepat, sedangkan aku butuh waktu lama. Makanya aku harus memulai sesuatu lebih dulu, dan mengulang lagi sesuatu setelah orang lain usai.”

Luar biasa…..disana saya baru sadar bahwa hal ini begitu sederhana. Diawali dengan penerimaan diri, lalu berlanjut dengan pola menyiasati kekurangan diri.

Sejak itu,saya pun ikut belajar bahwa saya memiliki kekurangan, tetapi pengenalan akan kekurangan diri itulah yang menjadi awal kekuatan. Kalau kita tahu pola diri kita seperti apa, maka hal itu akan mempermudah kita bergerak sesuai dengan pola yang cocok untuk kita.

Ini sepenuh-penuhnya spiritual. Mengenal diri.

Seorang atasan di kantor saya sempat mewejang. Ada dua hal yang kita bisa lakukan dalam mengenali diri. satunya Self change, berikutnya adalah self awareness.

Ada pola-pola di diri kita yang masih bisa diubah, dengan paradigma baru, dengan pembiasaan yang baru, maka lama-lama pola baru terbentuk dan kita pun akan berubah (self change).

Dan ada satunya lagi yaitu self awareness. Self awareness ini adalah sepenuh-penuhnya “awas” terhadap kekurangan yang belum bisa kita ubah dari diri kita. Seperti cerita di atas tadi. Menerima, tetapi menyiasati.

Kita memeluk erat diri kita sendiri dengan penerimaan. Mengubah hal-hal yang bisa kita ubah, dan menyiasati hal-hal yang butuh tenaga ekstra dan tak selalu bisa kita ubah dalam waktu singkat.

Nah apa kaitannya dengan spiritualitas? Saya ingin kutipkan satu cerita dimana seorang sahabat mengadu pada Rasulullah SAW bahwa sahabat tersebut suka terhadap suatu kaum, tetapi untuk mengejar pencapaian amal golongan tersebut kok rasanya sulit sekali. Dijawab oleh Rasulullah bahwa seseorang akan membersamai siapa yang dia cintai.[1]

Dalam Futuh Al Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan untuk “berpuas hatilah dengan apa yang ada padaMu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu”. Barulah saya paham apa maksudnya. Maksudnya ialah, salah satu bentuk keridhoan terhadap takdir ternyata penerimaan sepenuh-penuhnya terhadap diri dan segala lebih kurangnya diri kita dan kondisinya saat ini.

Lalu lewat pengenalan akan diri itulah kita bergerak menuju kebaikan yang lebih lagi.

Ada hal-hal yang bisa mengalami perbaikan dalam tempo yang singkat. Ada hal-hal yang butuh waktu untuk berubah. Tetapi selama proses itu kita jalani dalam konsep penerimaan utuh akan keadaan, dan I’tiqad sepenuh-penuhnya untuk berjalan menuju kebaikan –seperti yang orang-orang shalih dan arif contohkan-, maka kata Rasulullah SAW, kita akan membersamai orang-orang yang kita cintai. InsyaAllah.
References
[1] Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar ia bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai suatu kaum, namun ia tidak bisa (meniru) amalan yang mereka lakukan?” beliau menjawab: “Wahai Abu Dzar, kamu akan bersama dengan orang yang kamu sukai.” Abu Dzar berkata, “Sungguh, aku menyukai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu bersama siapa yang kamu sukai.” Perawi berkata, (HR. Abu Daud 4461)

KONSISTEN MENYAPU HATI

Dulu saya waktu kecil sering diomelin sama Orang tua, karena malas menyapu rumah. Hahaha….. Bukan malas dalam artian tidak pernah, tetapi saya menyapu rumah dengan cara pandang bahwa dalam sehari harus sekali menyapu. Kalau orang tua saya berpandangan bahwa menyapu itu ukurannya apakah rumah sudah bersih atau belum? Kalau belum, ya sapu lagi.

Walhasil, saya merasa sudah menyapu, tapi berapa jam kemudian, atau sore harinya saya diminta menyapu lagi karena rumah sudah kotor, saya manyun. “Lho kan saya sudah menyapu tadi pagi?” protes saya.

Iya sudah menyapu, tapi itu kan tadi pagi. Sore sudah kotor lagi, ya berarti sapu lagi. Sesederhana itu.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, saya temukan bahwa konsistensi “menyapu hati” inilah yang kita perlukan. “menyapu hati” dalam bahasa para arif, disebut tazkiyatun nafs. Pembersihan jiwa.

Setidaknya ada dua metoda yang saya amati.

Metoda pertama, yaitu terus-terusan menelisik ke dalam diri, dan melihat kotorannya. Misalnya ada rasa kesal, ada rasa kecewa terhadap hidup, ada rasa marah pada keadaan, ada iri dan macem-macem….nah, itu semua adalah kotoran yang harus disapu. Maka kita sapu semua kotoran itu dengan berzikir, atau istighfar meminta ampun dan sebagainya.

Approach kedua, yang ini agak lebih filosofis sedikit. Yaitu alih-alih selalu mencari kotoran dalam dirimu, dan menyapunya agar bersih semula “rumahmu”, yang kita lakukan malah menyadari bahwa sebenarnya diri kita ini “non existence” alias tidak ada kewujudan.

Sebenarnya, kalau kajian secara psikologi sederhana sebatas pengetahuan yang saya pahami, “rasa diri” atau identitas kita itulah sesuatu yang masyhur disebut “ego”. “ego” itulah rumahnya. Tempat segala kotoran bisa melekat.

Nah…. Cara kedua ini, alih-alih selalu melihat ke dalam diri dan membuang kotoran dari dalam diri, kita malah membuang “rumah”nya kotoran itu. Yang kita buang adalah “rasa bahwa diri kita ini ada”. Ibarat, kalau rumahnya saja tidak ada, kotoran bagaimana bisa mengotori rumah?

Tentu itu ibarat saja, kalau dibayangkan beneran kan ya repot ga punya rumah. Hehehehe.

Tetapi, cara kedua ini sebenarnya kalau berhasil akan lebih permanen efeknya dibanding cara pertama.

Cara pertama, menuntut konsistensi untuk selalu melakukan proses tazkiyatun nafs selalu. Setiap hari. Karena dalam sehari barangkali kita bisa ratusan kali dikotori.

Cara kedua, menuntut kita untuk benar-benar paham bahwa yang kita kenal sebagai “diri kita” ini sebenarnya hanyalah kumpulan pengalaman hidup. Ianya tak benar-benar eksis. Agak sulit pada awalannya memang. Karena cara kedua ini butuh dilandasi ilmu alias pengetahuan supaya bisa membongkar paradigma lama bahwa kita ini “wujud”.

Bisa masuk lewat ranah psikologi… kenali betul-betul apa yang disebut ego itu. Ego itu kumpulan pengalaman hidup. Dibalik ego itu ada yang mengamati / consciusness.

Bisa masuk lewat ranah sains, tengoklah kajian fisika kuantum bahwa semua benda-benda ini yang tampak mata dan bisa diindera ternyata sebenarnya bukan realitas sejati. Semuanya hologram. Unsur penyusun segala benda-benda ternyata adalah sesuatu yang hilang timbul-hilang timbul keberadaannya. Bukan partikel padatan yang kita kira selama ini. Kita ada di dalam “drama”-Nya.

Atau bisa masuk lewat kajian para arif, bahwa segala sesuatu yang ada, hakikatNya adalah Dzat-Nya yang tiada umpama. Dzat-Nya yang tiada bisa didefinisikan itulah hakikat sejati segala sesuatu, sedangkan yang berbagai-bagai ini hanyalah tampilah sifat-sifat alias bungkus.

Jika ilmu sudah terpatri, maka kesadaran pelan-pelan bisa berubah. Oh iya ya…. Kalau begitu, kita ini sebenarnya sama dengan mereka, dengan segala makhluk yang lain, yaitu ciptaan-Nya dari hakikat Dzat-Nya yang tiada ada umpama.

Baru kemudian saat sudah perlahan hilang “rasa wujud”, penyakit-penyakit atau kotoran akan hilang juga secara otomatis.

Kalau cara pertama, setiap kali kita dikotori oleh penyakit-penyakit hati, kita langsung membersihkannya dengan peribadatan, istighfar, dan macam-macam.

Cara kedua, setiap kali kita dikotori oleh penyakit-penyakit hati, -kita tetap membersihkannya juga- akan tetapi sadari kembali bahwa saat penyakit hati datang itu juga pertanda bahwa kita sudah kembali “wujud” alias hidup dalam bingkai “ego”. “ego”nya ini yang harus dibuang, harus kembali menyadari hakikatnya kita ini tiada.

Susah-susah gampang memang. Yang penting konsisten.

Gagal….ulangi. gagal…..ulangi… sambil menyadari bahwa dalam jatuh-bangun itupun sudah masuk dalam “drama”Nya juga.

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah
 

MENGIKUTI TARIAN MAQOM-mu SENDIRI 

Jika melihat kajian sains, bahwa semua yang ada ini adalah hologram, dan ada penggerak yang tak terlihat dari semua realita ini…. Maka seringkali kita bertanya, jika bahkan terhadap gerak diri kita sendiri saja kita tidak ada kuasa, lalu adakah gunanya berdo’a? Toh semua yang akan terjadi tetaplah dalam gerak “divine planning” alias takdir. Sains membuktikan “divine planning” itu ada.

Pertanyaan itu, senada dengan pertanyaan seorang sahabat, yang menanyakan tentang takdir kepada Rasululllah SAW. Jika semua sudah tertulis, apakah kita pasrah saja? Rasulullah SAW menjawab, yang intinya adalah “jangan berpasrah saja”, tetaplah bergerak, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang tertulis baginya.[1]

Karena setiap orang ada “maqom”-nya sendiri. Peringkat, yang setiap peringkat keruhanian akan memberikan dampak yang berbeda-beda. Tetapi tak bisa dipukul rata.

Seorang guru memberikan contoh, paling tidak ada tiga sikap dalam menghadapi hidup: Berdo’a, pasrah saja, atau tak perduli sama sekali karena sudah tidak lagi terpandang pada masalah hidup.

Bagaimana harmoninya ini? Sedangkan Rasulullah SAW menyuruh jangan berpasrah, tetapi kok ada orang-orang yang berpasrah?

Jawabannya adalah tergantung seperti apa situasi batinmu saat itu.

Saya ceritakan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash[2] yang do’anya termasyhur sangat manjur. Orang-orang berdatangan padanya meminta didoakan agar sembuh penyakitnya, lalu orang-orang sembuh. Hingga seseorang bertanya heran kepada Sa’ad, kenapakah dia tidak berdo’a pada Allah agar matanya disembuhkan? (Sa’ad buta karena usia).

Lalu jawaban Sa’ad adalah ketentuan Allah yang berlaku padanya itulah yang lebih baik baginya.

Sa’ad, ada pada “maqom” berpasrah. Cirinya apa? Cirinya, saat ada ujian datang, di dalam hati sama sekali tidak ada gejolak. Yang ada di dalam hati hanya rasa tentram dan ingatan pada Allah. Maka…. Do’a tidak akan terzahir dari hati yang semacam begini. Yang terzahir adalah sikap ridho dan pasrah apapun yang berlaku.

Lain halnya, dengan seseorang yang saat ada masalah, masih gelisah. Masih ada gonjang-ganjing di hatinya. Maka, cara agar gonjang-ganjing itu malah menjadi jalan mendekat pada Tuhan, ya lewat do’a.

Berdoalah, maka DIA akan menjawabnya.

Dalam tataran yang lebih tinggi, dikatakan bahwa kita tergerak berdo’a itu pun karena DIA menzahirkan bukti bahwa DIA Maha Pemberi. Dalam pandangan yang lebih tinggi lagi, gerak do’a kita pun sudah dalam bingkai takdirNya.

Jadi tak usah pusing. Kita “menari” sesuai dengan peringkat maqom kita masing-masing. Dan dalam setiap kejadian dan peringkat maqom kita, selalu ada kesempatan untuk mendekat pada Tuhan.

Yang masih goyang, ya jadikan saja gonjang-ganjing ujian sebagai pintu mendekat pada Tuhan. Berdo’a dan minta tolong. Sampai kemudian akan ada bagian-bagian kehidupan yang semestinya orang biasa akan “goyang” kalau menghadapinya, tetapi kok ya kita santai-santai dan hati terasa tentram saja, maka itu penanda bahwa yang terzahir dari kita adalah sikap ridho pada kehidupan.

Pendek kata, seperti Rasulullah katakan pada Sahabat, just do sajalah….. setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang telah dituliskan untuk mereka.

Begitulah seorang sahabat Rasulullah tidak diperbolehkan mendermakan hartanya lebih dari sepertiganya, sedangkan Abu Bakar Shiddiq mendermakan seluruh hartanya tanpa ada sisa sedikitpun; dan boleh-boleh saja oleh Rasulullah SAW.

Tergantung konteks, dan tergantung “maqom” tidak bisa dipukul rata. [3]
—-
References:

[1] Para sahabat bertanya kepada Rasulullah n tentang masalah takdir yang sangat rinci.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2648) dari sahabat Jabir z. Suraqah bin Malik pernah bertanya kepada Rasulullah :

يَا رَسُولَ اللهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ، أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ. قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rasulullah, mohon berikan penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah n menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).

[2] Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash tiba di Makkah, ia dalam keadaan buta mata. Tetapi orang-orang berdatangan kepadanya untuk meminta didoakan. Sa’ad berdoa untuk kesembuhan berbagai penyakit. Beliau termasuk orang yang apabila berdoa dikabulkan Allah Ta’ala.

Pada suatu hari, Abdullah bin Saib berkata, “Ketika aku masih kecil, aku pernah dibawa kepada beliau. Aku memperkenalkan diri beliau pun mengenaliku. Ketika itu beliau berkata, ‘Apakah engkau orang yang mengajari bacaan al-Qur’an kepada penduduk Makkah?’ Aku menjawab, ‘Benar.’

Kemudian beliau menceritakan suatu kisah, hingga akhirnya aku bertanya kepada Sa’ad, ‘Wahai pamanku, engkau telah banyak mendoakan untuk kesembuhan orang, kenapa engkau tidak berdoa untuk dirimu, sehingga Allah menyembuhkan matamu?’

Sa’ad tersenyum sambil berkata, ‘Ketahuilah wahai anakku, bahwa ketentuan Allah Ta’ala yang berlaku atasku jauh lebih baik daripada penglihatanku’.” (Madarijus Salikin, 2/227.)

Dinukil oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim, dari ‘99 Kisah Orang Shalih’ (alsofwa.com)

[3] وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (maqom-maqomnya) sesuai dengan apa yang dikerjakannya (peranannya). Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

(Al An’am:123)

“OM TELOLET OM” DAN BAHAGIA YANG SPIRITUAL 


Lucu juga melihat fakta bahwa “Om Telolet Om” jadi terkenal dan viral sampai ke luar negeri. Berawal dari anak-anak di pinggiran jalan yang merasa terhibur dengan klakson Bus kota yang melintas, akhirnya setiap Bus melintas mereka meminta sang supir membunyikan klaksonnya, atau “telolet”, lalu mereka menari girang setelah klakson dibunyikan.

Betapa kebahagiaan itu begitu sederhana. Mendengar klakson bus saja, anak-anak itu bisa menari girang.

Dulu, saya sempat mengira bahwa kebahagiaan yang timbul dari hal-hal sederhana itu, kurang berkelas. Belakangan saya keliru.

Saya teringat sekitar sembilan tahun lalu sewaktu masih bekerja di pengeboran lepas pantai, dimana suatu ketika saya harus tidur di sebuah kapal. Bercanda dan bertukar cerita dengan para kru kapal. Menonton TV bersama. Waktu itu mereka menonton sebuah acara lawak yang dalam pandangan saya kala itu; begitu tidak berkelas.

Orang terpeleset, tertawa. Orang naik sepeda goyang goyang, tertawa. Bagi saya hal itu tak lucu.

Sampai beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari paradoks. Kebahagiaan yang saya anggap berkelas itu, misalnya komedi haruslah komedi situasi ala barat. Dan yang semisalnya. Adalah juga menjadi bukti bahwa kebanyakan orang terjebak dalam pemaknaan yang terlanjur rumit tentang bahagia.

Oleh orang-orang yang sederhana itu, kita diajari bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal yang kita anggap “receh”. Kalau anak-anak di pinggiran jalan, bisa begitu bahagia harinya dengan hanya mendengar suara klakson Bus, maka kita pekerja kantoran yang sulit menemukan bahagia harus berguru pada anak-anak itu.

Pada orang-orang yang sederhana, kita belajar bahwa bahagia bisa muncul dari hal yang remeh. 

Pada para arif, kita belajar bahwa cara pandang kita terhadap hiduplah yang menentukan apakah kebahagiaan bisa kita ekstrak dari keadaan hidup kita ataukah tidak.

Tersebutlah seorang guru yang arif, selalu tertawa melihat kejadian hidup yang dialami. Baik urusan pekerjaan yang berat dan rumit, atau sesuatu yang kita harusnya anggap masalah, dia malah tertawa. Orang-orang pun bingung. Usut punya usut, kenapa dia tertawa? Rupanya karena cara pandangnya sudah beda.

Baginya, semua kejadian hidup ini adalah senda gurau Tuhan belaka. Allah bersenda gurau lewat makhlukNya, dalam tema besar yaitu Allah hendak menceritakan diri-Nya.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa mengibadahi Tuhan itu maknanya adalah juga “mengenali-Nya”. Makrifat pada-Nya.

Dan keseluruhan kompleksitas hidup inilah yang jadi jalan untuk mengenali-Nya juga.

Satu-satunya tema hidup adalah itu, mengenali Tuhan.

Yang jadi persoalan adalah, jika kita selalu memandang hidup dalam kacamata yang murung. Bahagia kita menjadi sulit, karena pemaknaan yang kompleks terhadap bahagia.

Bahagia direduksi dari kekayaan batin menjadi melulu hal-hal kebendaan yang rumit. Nanti kita menjadi murung selalu.

Saya merenungi, apakah iya, Tuhan menciptakan kehidupan ini untuk dipandang dalam kacamata yang murung?

Jika perjalanan hidup adalah untuk mengenali-Nya, apakah ” murung” adalah kacamata yang benar untuk dipakai mengenali-Nya?

Kita jangan mengelirukan murung dengan tangisan. Suatu kali Rasulullah SAW juga menangis saat wafatnya putra beliau, Ibrahim. Lewat wejangan para ariflah saya baru paham bahwa yang ditangisi bukan kebendaan. Melainkan karena melihat kuasa Tuhan.

Walhasil, murung yang tak semestinya, murung karena kita sendiri memperumit makna bahagia, adalah kacamata yang sebisa mungkin jangan dipakai dalam memandang hidup.

Boleh menangis, tetapi karena terpandang akan pengaturan Tuhan.

Sebagaimana tertawa akan menjadi mudah, kalau melihat hidup juga sebagai gelar sandiwara Tuhan dalam menceritakan diriNya sendiri.

*) image from m.tempo.co

BERBAJU MAKNA

Dulu waktu kecil saya pernah menangis sesenggukan karena pengen nonton sinetron, tetapi lampu mati. Pemaknaan saya waktu kecil dulu, PLN adalah pembuat ulah yang mematikan listrik.

Setelah dewasa saya menertawai masa kecil saya sendiri betapa lucunya, tetapi dulu waktu masih kecil sensasi emosi dan perasaan sakit dan kecewa yang saya alami nyata adanya. 

Emosi yang kita rasakan, erat kaitannya dengan bagaimana kita memberi makna pada hidup.

Hujan bagi penjual cendol adalah musibah. Bagi petani adalah berkah. Hujan yang sama, moment yang sama, baju pemaknaan yang berbeda. Yang satu menangis, yang satu tertawa.

Sepanjang hidup, manusia ternyata belajar menemukan pemaknaan itu.

Satu kejadian yang sama, bisa ditengok lewat makna yang macam-macam. 

Biasanya, seseorang akan mulai mencoba melihat berbagai-bagai makna ini karena ujian hidup. 

Saat terbentur dengan ujian dalam hidup, orang berusaha keluar dari rasa sempit ujian dan masalah. Saat dia mencoba keluar itulah, mau tak mau dia akan menemukan cara pandang yang lebih dewasa dalam melihat masalahnya. Cara pandang berganti, realita emosi yang dialami akan berganti jua.

Misalnya sebuah kehilangan. Peristiwa kehilangan bisa dimaknai dengan berbagai-bagai jalan.

Bisa dimaknai sebagai sesuatu yang lumrah, karena toh kita masih punya banyak harta….maka kehilangan kecil menjadi tak terlalu berat.

Bisa dimaknai sebagai sesuatu yang “masih mending”, karena meskipun kita kehilangan sesuatu, toh kita tidak hidup semiskin orang-orang di pengungsian.

Bisa dimaknai lebih filosofis….misalnya bahwa apapun yang hilang pasti akan datang kembali gantinya meski dalam bentuk yang berbeda.

Bisa dengan berbagai-bagai pemaknaan.

Akan tetapi, dari seorang guru spiritualitas islam, saya belajar untuk selalu memandang kehidupan lewat pintu makna yang tunggal saja.

Apapun yang berlaku adalah lakonan-Nya atas Dzat-Nya sendiri, mengikut Lauh Mahfudz, yang ceritanya telah ditulisNya sejak kali pertama penciptaan. KUN. DIA menceritakan diriNya sendiri.

Lebih-lebih jika menilik kajian fisika kuantum. Bahwa segala yang wujud ini, sejatinya hanyalah hologram, yang muncul dari hakikat sesuatu yang tak diketahui oleh para saintis. 

Akan sulit mempercayai hal ini tanpa didukung data saintifik. Atau pengalaman ruhani para Arif.

Orang-orang Arif mengatakan, segala yang ada ini tak memiliki wujud sejati.

Sifat wujud ini tidak lain selain Dzat-Nya: Muhammad Said Ramadhan Al Buti, Keyakinan Hakiki, 110 (1996).

Itulah Baju makna yang dipakai para arif.

Seorang Arif mengatakan, dengan mengenakan “baju makna” itu, kelak dampak gelombang takdir tidak mengombang-ambingkan kita.

Bagi saya pribadi, mempelajari banyak model pemaknaan akan hidup, dapat memper-arif penyampaian keluar, karena memahami wacana yang luas. 

Tetapi untuk latihan pribadi, kedalam, ternyata harus selalu melatihkan pemaknaan yang dalam tadi, yang tunggal, bahwa semua yang wujud ini tidak memiliki eksistensi sejati. Dia muncul dari realita ilahiah yang laisa kamislihi syaiun. Tiada umpama.

PR pribadi adalah perlahan meninggalkan pemaknaan yang lain, dan beralih ke satu-satunya pemaknaan itu. Itulah pemaknaan tunggal yang selalu dilatih. 

Akan tetapi. sebagai kontribusi aktif kita pada masyarakat dan khalayak, kita menyampaikan sesuai dengan tangga kepahaman orang masing-masing. Karena tak semua orang siap dibawa pada jenjang kepahaman dan pemaknaan yang berpuluh anak tangga bedanya dengan baju makna yang sedang mereka pakai.