AMPUNAN YANG MENDAHULUI TAUBAT

Seorang pendosa bertanya pada Rabi’ah, “seandainya saya bertaubat, apakah Allah akan mengampuni saya?”.

Rabi’ah menjawab, “seandainya Allah mengampuni engkau, pastilah engkau bertaubat”.

Sudah lama saya mendengar kisah itu, dari seorang ustadz. Saya lupa tercantum dalam kitab apa dialog itu, tetapi maknanya valid. Yaitu cara arifin memaknai kaitan antara usaha dan hasil. Jika jamaknya orang memahami bahwa jika kita bertaubat maka Allah mengampuni, maka para arif memaknai bahwa ampunan itu mendahului taubat. Artinya, jika Allah mengampuni seorang hamba, maka hamba itu pastilah tertakdir bertaubat.

Ud’uni astajib lakum[1]. Berdoalah maka Aku akan mengijabah… oleh para arifin dimaknai sebagai “jika Allah ingin memberi, maka akan diturunkannya ilham sehingga sang hamba tergerak meminta”.

Keseluruhan kejadian hidup, oleh para arif, dimaknai sebagai cara Allah SWT menceritakan diri-Nya sendiri. Tidak ada konteks lain dalam hidup.

Allah mentakdirkan segalanya ini berlaku, dalam sebuah game-plan besar yaitu mengenalkan tentang diriNya. Maka pada sisi manusiawi, segala takdir yang SEDANG berlaku mestilah disikapi dengan sikap batin yang “mengandalkan” Allah untuk kembali kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu mentakdirkan orang itu beramal. (intinya adalah kita berupaya mengenal Dia lewat kejadian apapun).

Cara menyikapi dosa ternyata juga seperti itu. Dalam dunia ini, dualitas tergelar. Baik dan buruk. Dalam konteks mengenalkan tentang Tuhan, maka keburukan pun juga mengenalkan tentang Tuhan.

Masyhur kalimat “Laa Hawla Wa Laa Quwwata illa billah”.[2] Sebagian ulama menafsirkan sebagai tiada daya (berkebaikan), tiada upaya (menghindari kemaksiatan) selain dengan pertolongan Allah. Namun ada pula yang menafsirkan Hawla = daya di dalam batin, lalu Quwwata = daya secara fisikal. Yang manapun pengertian yang ditarik, jika dipandang dalam konteks DIA menceritakan DIRINYA sendiri, akan jelas bisa kita mengerti bahwa gerak-gerik batin kita, sampai aktivitas fisikal kita, semua dalam genggaman Allah SWT.

Satu syarahan seorang guru tentang DOSA. Yang beliau sampaikan itu baru sekarang saya mengerti bahwa sangat senada dengan maksudnya Ibnu Qayyim.

kata beliau kurang lebih: saat kita SEDANG berada pada kondisi berdosa, kita harus ingat bahwa hanya Allah semata yang bisa selamatkan kita. Karena dorongan hendak melakukan dosa itu pun sejatinya telah masuk dalam Qada dan Qadar-Nya. Maka menyikapinya adalah, kita “kembali” pada Allah, “mengingatNya” dan minta tolong Allah agar selamatkan kita dari dorongan berbuat dosa. Bukan mengandalkan kemampuan diri beramal semata-mata tetapi lupa menyandarkan amal pada pertolongan Allah.

Maka barulah dengan cara pandang seperti itu kita akan mengerti dialektika berikut ini, ada ayat yang mengatakan ini “Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. ” (Al-Takwir 28)…. tapi di sisi lain Allah mengatakan begini “Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali jika dikehendaki Allah. ” (Al-Insan 30)

Kita disuruh menempuh jalan lurus, lalu kita diberitahu bahwa tak akan mampu kalau tak Allah tolong.


[1] Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu ( QS Al mukmin 60)

[2] “Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s