BAJU BESI DAN JALAN NAIK TURUN

Dalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, Imam Ghazali menceritakan bagaimana beliau berusaha mencari sebuah keyakinan yang kokoh, yang tidak akan ada lagi gundah sesudah itu. Keyakinan itu, adalah sebuah fase yang jamak kita kenal sebagai “Haqqul Yaqin”.
Dalam literatur spiritualitas islam, para arif membagi dua macam urutan perjalanan. Yang pertama adalah jalan mendaki. Dari bawah ke atas.

Yang kedua adalah jalan menurun, dari atas ke bawah.

Kalau kita tarik korelasinya dengan fase perjalanan yang lumrah, yaitu Ilmul Yaqin, lalu Ainul Yaqin, lalu Haqqul Yaqin….maka tahulah kita bahwa fase perjalanan keyakinan yang kita sering dengar itu adalah fase perjalanan pertama. Yaitu dari bawah ke atas. Dari yang pertamanya keyakinan karena seperangkat ilmu yang dipelajari / diketahui, lalu meningkat menjadi lebih yakin karena melihat sendiri / observasi (ainul yaqin), lalu sangat yakin karena mengalami sendiri realita itu (haqqul yaqin).

Semisal seseorang yakin ada kutub utara karena membaca, dilanjut dengan yakin karena dia melihat rekaman video atau mungkin dia naik pesawat di atas kutub utara, lalu dilanjut dengan super yakin karena dia pernah berkemah di kutub utara dan mencecap rasa dingin saljunya. Dari bawah, ke atas. Skema perjalanan dari dasar, merangkak naik pelan-pelan sampai mencapai derajat haqqul yaqin inilah yang oleh para arif disebut dengan salik. “pejalan ruhani”.

Namun…. Ada skema perjalanan terbalik. Yaitu orang-orang yang karena anugerah Allah, langsung mengalami sendiri derajat haqqul yaqin. Orang begini, istilahnya dia ditarik masuk ke dalam penyaksian. Sering diistilahkan sebagai “madjzub”. Kalau pakai analogi kutub utara, ibaratnya ada orang yang tinggal di sebuah desa yang tertinggal dari pengetahuan dunia luar, lalu tiba-tiba entah bagaimana ada satu orang yang terlempar ke kutub utara. Lalu dengan suatu cara tiba-tiba orang itu kembali lagi ke desanya. Orang itu, terhadap kutub utara, sudah mencapai derajat haqqul yaqin. Super yakin.

Tapi ada satu masalah, masalahnya adalah bagaimana orang ini menceritakan yang dia alami kepada khalayak di desanya yang sama sekali tak pernah tahu kutub utara? Orang ini, akan disalah pahami, jika kemudian dia tidak pandai menerjemahkan atau membahasakan apa yang dia alami ke dalam bahasanya “para pejalan”. Misalnya, dimulai dari dia harus mencari literatur dulu, barangkali peta-peta yang ada membahas kutub utaranya. Lalu, kemudian kalau bisa dia menemukan video mungkin. Dan seterusnya dan seterusnya, sehingga meskipun dia sendiri haqqul yaqin, tetapi dia bisa menyampaikan kepahamannya kepada orang lain lewat jalan ilmul yaqin. Lewat keilmuan yang valid.

Dalam spiritualitas islam, para salik meniti jalan yang lumrah lewat belajar, dan rajin beribadah sampai kemudian keyakinan meningkat. Sedangkan yang madjzub, karena anugerah Tuhan, mereka berada pada keyakinan yang begitu kukuh, tetapi untuk menyampaikan keyakinan itu kepada khalayak mestilah tidak bisa tidak mereka harus menguasai aspek keilmuan pada tangga yang dibawahnya.

Teringat kisah Ali Bin Abi Thalib r.a, yang baju besinya diambil oleh seorang yahudi. Dan Ali kemudian melaporkan ke hakim. Tetapi, Ali r.a. kalah dalam persidangan, karena beliau tidak mampu menghadirkan bukti otentik, baik itu dari sisi keilmuan wacana ilmul yaqin, atau dari segi bukti ainul yaqin, bahwa baju besi itu milik dia. Maka, Ali bin Abi thalib kalah dalam persidangan.

Begitulah fithrah dunia. Dunia, menghukumi berdasarkan bukti yang tampak mata. Dalam kata lain, dunia mengikuti pola perjalanan salik, dari bawah ke atas. Kerangka keyakinan disusun berdasarkan bukti wacana, lalu bukti yang tampak mata, dan dipuncaki dengan keyakinan yang super teguh hasil mengalami sendiri realita.

Apa implikasinya?

Dari sudut pejalan. Bagi para pejalan ruhani, satu-satunya cara mereka untuk menerima kebenaran adalah dengan cara ilmul yaqin. Rasulullah SAW bersabda, telah ditinggalkan untuk kita dua perkara, Al Qur’an dan Sunnah sebagai uji validitas wacana. Karena kita adalah seorang pejalan, maka cara keyakinan bersemayam adalah dari bawah ke atas. Cari wacana ilmu sebanyak-banyaknya, dan uji validitas. Ilmul Yaqin, sampai kemudian Allah sendiri yang akan menghantarkan kita pada derajat berikutnya.

Dari sudut orang yang madjzub. Satu-satunya syarat bahwa mereka boleh menyampaikan apa yang mereka alami kepada khalayak, menyampaikan ilmu dan keyakinan mereka pada khalayak, adalah dengan pola menurun. Mereka mengetahui sesuatu berdasarkan burhan, intuisi, petunjuk, kasyaf, dst….tetapi dalam menyampaikan kepada khalayak mestilah yang bersesuaian dengan ilmul yaqin. Wacana ilmu yang valid. Tanpa itu, maka penyaksian pada derajat haqqul yaqin tak bisa dibawa kepada khalayak, karena tak ada pendukung bukti otentik.

Sebagaimana kisah Ali tadi.

Harmoni akan terjadi, jika seorang salik, menjadi bestari dengan menyadari bahwa sangat banyak disekitar mereka orang-orang yang secara ruhani telah tinggi dan Allah pahamkan akan sesuatu, tetapi mereka tak punya kemampuan menyampaikannya dengan bahasa yang dimengerti awam. Maka tugas pejalan adalah belajar dari sekian banyak orang, dan menyaring dari siapapun saja, dengan wacana ilmu yang valid yang mereka pelajari.

Harmoni akan terjadi, jika seorang madjzub, menyampaikan apa yang dia alami, dengan bahasa wacana ilmu yang jamak dipahami orang-orang. Maka mengetahui banyak wacana, adalah sangat penting bagi seorang madjzub dalam polanya yang terbalik. Dari atas ke bawah.

Menjadi pahamlah kita, kenapa tak semua orang madjzub boleh menyampaikan. Karena, tak semua yang madjzub diberikan anugerah pula selain dari anugerah haqqul yaqin, tetapi juga anugerah untuk dipertemukan dengan dalil keilmuan yang menjelaskan mengenai apa yang dia alami.

Dalam Al Munqidz Min Ad Dhalal, Imam Ghazali berkata, salah satu anugerah itu adalah jika Allah SWT menuntunkan bertemu dengan golongan yang benar, dan dituntunkan pula bertemu dengan dalil yang benar.

Indah sekali cara Allah mengajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s