PAKEM DUNIA FISIKAL (2)

Hape saya dicuri…..kejadian ini saat sekitar tahun pertama saya kuliah. 13 tahunan lalu.
Itu hape pertama saya. Hape dengan layar biru dan berantena. Saya beli dari kiriman uang orangtua dan hasil tabungan. Tapi suatu hari hapenya hilang di rumah kontrakan saya sendiri. Betapa hati saya dongkol….Sedih….nelongso…..

Memang itu hanya hape second, tapi mengingat perjuangan orangtua dan susahnya mengumpulkan uang untuk membelinya, maka saya begitu marah.

Saya benar-benar kesal, sampai-sampai berapa lama hingga akhir kuliah setiap kali saya mengingat kejadian itu saya masih tidak bisa memaafkan pencuri itu.

Butuh waktu yang lama, hingga saya bekerja, dan bisa membeli hape sendiri saya masih belum bisa memaafkan pencuri itu. Hape penggantinya sudah bisa terbeli sejak lama, dan digantikan dengan yang lebih baik, tapi permaafan itu belum usai. 

Setelah mengkaji dan belajar spiritualitas islam, barulah saya bisa perlahan memaafkan kejadian masa silam itu. Sebagai bagian dari cerita hidup saja.

Setelah saya renungi, hal paling fundamen yang melatari segala sikap manusia adalah cara pandang. Ilmu yang didapat dari pengalaman hidupnya. Walhasil, untuk merubah sikap seseorang, cara paling tokcer adalah dengan menambahkan ilmu kepada orang tersebut, ilmu yang merubah cara pandang. Seperti kisah diatas.

Akan tetapi, kenyataan bahwa hal yang paling fundamen inilah yang harus diperbaiki; sering membuat saya alpa bahwa kapasitas setiap orang tidak sama. Dan tak semua orang siap untuk dirubah paradigmanya dalam memandang hidup; dengan seketika.

Akibatnya, seringkali jika berbicara dengan seseorang, atau dalam setiap jenak dimana saya mendengarkan cerita, maka saya seringkali pengen langsung membenahi cara pandang seseorang.

Dan ini keliru.

Analoginya misalnya saat anak saya yang masih TK menangis karena iri dengan asisten rumah tangga kami yang dibelikan baju baru oleh istri saya; akan sia-sia belaka jika kami langsung menyasar pada cara pandang. Menasihati anak kami yang menangis karena iri akan baju baru, bahwa manusia harus berbagi, adalah tak tepat konteks waktu.

Akan lebih menolong jika perhatiannya akan baju baru dialihkan dengan misalnya mainan atau ditampakkan baju yang dulu sudah pernah dibelikan atau jarang dia pakai. Dan bagian membujuk anak ini, saya kalah ahli dibanding istri saya. Saya selalu menyasar cara pandang, tapi selalu lupa konteks dan suasana.

Misalnya lagi…..tentang kemiskinan. 

Kemiskinan akan selalu ada sepanjang sejarah. Akan tetapi, betapa tidak eloknya jika ada orang yang butuh pertolongan, kita bukannya menolong akan tetapi kita malah sibuk menceramahi dengan harapan orang ini berubah mindset. Karena kita menyadari bahwa yang paling pokok adalah mindset. Maka gerak kita melulu menyasar mondset.

Misalnya mengajari bahwa kemiskinan adalah takdir, adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa diriNya-lah tempat bergantung, adalah cara DIA menampakkan cerita diriNya sendiri. Semua wacana filosofis itu benar adanya, dalam, betul dan sangat prinsipil…..tetapi, ketidak-arifan sayalah yang sering menyebabkan semua hal prinsipil menjadi tidak indah.

Seandainya ada orang yang membutuhkan pertolongan, jika kebetulan kita dianugerahi perangkat dan kemampuan menolong mereka secara fisikal, tolonglah mereka…..niscaya kita akan mendapatkan-Nya disisi orang-orang yang meminta tolong.

Jangan terbalik, ada orang yang butuh pertolongan, alih-alih bergerak dan menolong dalam peran kita di dunia fisikal; kita malah terburu-buru menceramahi orang tersebut dan menyuruhnya melihat “Tuhan” dalam keseharian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s