KEMACETAN RASA SYUKUR


Perjalanan saya dari kantor ke rumah molor menjadi tiga jam, dari yang normalnya kurang dari satu jam. Luar biasa kemacetan Jakarta sore kemarin.

Hal ini dampak dari long weekend. Libur panjang karena hari senin tanggal merah. 

Liburnya menyenangkan, akan tetapi yang saya luput dari perhatian saya adalah bahwa tanggal merah senin itu, dalam rangka Maulid Nabi.

Lebih ingat liburnya ketimbang konteksnya. 

Saya jadi teringat kepengenan saya sejak dulu untuk bermimpi bertemu Rasulullah SAW tetapi belum pernah kesampaian. 

Saya sempat iri juga waktu berapa tahunan lalu mendengar cerita anaknya Ustadz Yusuf Mansur bermimpi bertemu Rasulullah SAW, diajak muterin rumah beliau SAW, dan diajarkan sebuah syair. 

Tak cuma Putrinya Ust Yusuf Mansur, banyak beberapa orang guru yang saya kenal, mereka bermimpi bertemu Rasulullah SAW. 

Setelah saya amati, orang-orang yang bermimpi bertemu Rasulullah SAW itu sangat besar cintanya kepada Nabi. 

Bagaimanakah cinta itu tumbuh? 

Menjalankan tuntunan, sudah barang tentu. Tetapi ternyata selain menjalankan apa yang dituntunkan Rasulullah SAW, menghargai Rasulullah SAW sebagai jalan rahmat mengalir untuk kita; itu juga sangat perlu. Jadi barangkali paham konteks.

Umpamanya ada seorang anak yang sekolah dalam segala keterbatasan ekonomi orangtuanya. Anak tersebut sangat rajin menjalankan segala aktivitas pembelajaran di sekolahnya dengan baik, itu tentu sudah benar. Tetapi yang lebih dari itu adalah sang anak juga harus mengerti bahwa menjalankan sekolah dengan baik adalah bentuk terimakasih dia pada orangtuanya yang dalam segala keterbatasan ekonomi tetap memperjuangkan sekolah anaknya.

Memahami aktivitas terbaik yang kita lakukan sebagai bentuk terimakasih juga pada orang yang menjadi jalan rahmat sampai ke kita.

Hal itu disebut rasa syukur. Syukur pada Tuhan, adalah juga syukur pada sesiapa yang menjadi jalan rahmat untuk sampai pada kita.

Disinilah yang mana saya perlu berbenah. Tentang adab belajar.

Seperti sang anak, yang rajin belajar tetapi jangan sampai lupa bahwa rajin belajar itu semestinya tak hanya dimaknai dalam konteks etos kerja, melainkan konteks terimakasih pada orang tua.

Begitu juga dalam peribadatan. Peribadatan yang banyak, juga rupanya harus ada semacam konteks terimakasih dan syukur untuk telah mendapatkan rahmat pengenalan akan Tuhan, lewat jalan Rasulullah SAW.

Hal seperti ini penghormatan yang lumrah dan wajar sekali saya rasa.

Dan banyak sekali fragmen dimana saya mendapatkan begitu banyak kepahaman baru dari guru-guru yang tak mau diri mereka ditonjolkan, akan tetapi justru ilmu dari merekalah yang menyadarkan bahwa jika saya semata belajar dan menggali ilmu saja tanpa ada semacam rasa terimakasih pada mereka-mereka yang mengajari itu; maka saya sudah kurang bersyukur.

Tetapi karena satu dan lain hal, seringkali ucapan terimakasih secara fisik tak mampu tersampaikan karena segala keterbatasan, maka biarlah lewat doa menjadi jalan penyambungnya.

Alloohumma sholli alaa sayyidina Muhammad. Wa alaa aalihi washohbihi ajma’iin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s