BERBAJU MAKNA

Dulu waktu kecil saya pernah menangis sesenggukan karena pengen nonton sinetron, tetapi lampu mati. Pemaknaan saya waktu kecil dulu, PLN adalah pembuat ulah yang mematikan listrik.

Setelah dewasa saya menertawai masa kecil saya sendiri betapa lucunya, tetapi dulu waktu masih kecil sensasi emosi dan perasaan sakit dan kecewa yang saya alami nyata adanya. 

Emosi yang kita rasakan, erat kaitannya dengan bagaimana kita memberi makna pada hidup.

Hujan bagi penjual cendol adalah musibah. Bagi petani adalah berkah. Hujan yang sama, moment yang sama, baju pemaknaan yang berbeda. Yang satu menangis, yang satu tertawa.

Sepanjang hidup, manusia ternyata belajar menemukan pemaknaan itu.

Satu kejadian yang sama, bisa ditengok lewat makna yang macam-macam. 

Biasanya, seseorang akan mulai mencoba melihat berbagai-bagai makna ini karena ujian hidup. 

Saat terbentur dengan ujian dalam hidup, orang berusaha keluar dari rasa sempit ujian dan masalah. Saat dia mencoba keluar itulah, mau tak mau dia akan menemukan cara pandang yang lebih dewasa dalam melihat masalahnya. Cara pandang berganti, realita emosi yang dialami akan berganti jua.

Misalnya sebuah kehilangan. Peristiwa kehilangan bisa dimaknai dengan berbagai-bagai jalan.

Bisa dimaknai sebagai sesuatu yang lumrah, karena toh kita masih punya banyak harta….maka kehilangan kecil menjadi tak terlalu berat.

Bisa dimaknai sebagai sesuatu yang “masih mending”, karena meskipun kita kehilangan sesuatu, toh kita tidak hidup semiskin orang-orang di pengungsian.

Bisa dimaknai lebih filosofis….misalnya bahwa apapun yang hilang pasti akan datang kembali gantinya meski dalam bentuk yang berbeda.

Bisa dengan berbagai-bagai pemaknaan.

Akan tetapi, dari seorang guru spiritualitas islam, saya belajar untuk selalu memandang kehidupan lewat pintu makna yang tunggal saja.

Apapun yang berlaku adalah lakonan-Nya atas Dzat-Nya sendiri, mengikut Lauh Mahfudz, yang ceritanya telah ditulisNya sejak kali pertama penciptaan. KUN. DIA menceritakan diriNya sendiri.

Lebih-lebih jika menilik kajian fisika kuantum. Bahwa segala yang wujud ini, sejatinya hanyalah hologram, yang muncul dari hakikat sesuatu yang tak diketahui oleh para saintis. 

Akan sulit mempercayai hal ini tanpa didukung data saintifik. Atau pengalaman ruhani para Arif.

Orang-orang Arif mengatakan, segala yang ada ini tak memiliki wujud sejati.

Sifat wujud ini tidak lain selain Dzat-Nya: Muhammad Said Ramadhan Al Buti, Keyakinan Hakiki, 110 (1996).

Itulah Baju makna yang dipakai para arif.

Seorang Arif mengatakan, dengan mengenakan “baju makna” itu, kelak dampak gelombang takdir tidak mengombang-ambingkan kita.

Bagi saya pribadi, mempelajari banyak model pemaknaan akan hidup, dapat memper-arif penyampaian keluar, karena memahami wacana yang luas. 

Tetapi untuk latihan pribadi, kedalam, ternyata harus selalu melatihkan pemaknaan yang dalam tadi, yang tunggal, bahwa semua yang wujud ini tidak memiliki eksistensi sejati. Dia muncul dari realita ilahiah yang laisa kamislihi syaiun. Tiada umpama.

PR pribadi adalah perlahan meninggalkan pemaknaan yang lain, dan beralih ke satu-satunya pemaknaan itu. Itulah pemaknaan tunggal yang selalu dilatih. 

Akan tetapi. sebagai kontribusi aktif kita pada masyarakat dan khalayak, kita menyampaikan sesuai dengan tangga kepahaman orang masing-masing. Karena tak semua orang siap dibawa pada jenjang kepahaman dan pemaknaan yang berpuluh anak tangga bedanya dengan baju makna yang sedang mereka pakai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s