“OM TELOLET OM” DAN BAHAGIA YANG SPIRITUAL 


Lucu juga melihat fakta bahwa “Om Telolet Om” jadi terkenal dan viral sampai ke luar negeri. Berawal dari anak-anak di pinggiran jalan yang merasa terhibur dengan klakson Bus kota yang melintas, akhirnya setiap Bus melintas mereka meminta sang supir membunyikan klaksonnya, atau “telolet”, lalu mereka menari girang setelah klakson dibunyikan.

Betapa kebahagiaan itu begitu sederhana. Mendengar klakson bus saja, anak-anak itu bisa menari girang.

Dulu, saya sempat mengira bahwa kebahagiaan yang timbul dari hal-hal sederhana itu, kurang berkelas. Belakangan saya keliru.

Saya teringat sekitar sembilan tahun lalu sewaktu masih bekerja di pengeboran lepas pantai, dimana suatu ketika saya harus tidur di sebuah kapal. Bercanda dan bertukar cerita dengan para kru kapal. Menonton TV bersama. Waktu itu mereka menonton sebuah acara lawak yang dalam pandangan saya kala itu; begitu tidak berkelas.

Orang terpeleset, tertawa. Orang naik sepeda goyang goyang, tertawa. Bagi saya hal itu tak lucu.

Sampai beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari paradoks. Kebahagiaan yang saya anggap berkelas itu, misalnya komedi haruslah komedi situasi ala barat. Dan yang semisalnya. Adalah juga menjadi bukti bahwa kebanyakan orang terjebak dalam pemaknaan yang terlanjur rumit tentang bahagia.

Oleh orang-orang yang sederhana itu, kita diajari bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal yang kita anggap “receh”. Kalau anak-anak di pinggiran jalan, bisa begitu bahagia harinya dengan hanya mendengar suara klakson Bus, maka kita pekerja kantoran yang sulit menemukan bahagia harus berguru pada anak-anak itu.

Pada orang-orang yang sederhana, kita belajar bahwa bahagia bisa muncul dari hal yang remeh. 

Pada para arif, kita belajar bahwa cara pandang kita terhadap hiduplah yang menentukan apakah kebahagiaan bisa kita ekstrak dari keadaan hidup kita ataukah tidak.

Tersebutlah seorang guru yang arif, selalu tertawa melihat kejadian hidup yang dialami. Baik urusan pekerjaan yang berat dan rumit, atau sesuatu yang kita harusnya anggap masalah, dia malah tertawa. Orang-orang pun bingung. Usut punya usut, kenapa dia tertawa? Rupanya karena cara pandangnya sudah beda.

Baginya, semua kejadian hidup ini adalah senda gurau Tuhan belaka. Allah bersenda gurau lewat makhlukNya, dalam tema besar yaitu Allah hendak menceritakan diri-Nya.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa mengibadahi Tuhan itu maknanya adalah juga “mengenali-Nya”. Makrifat pada-Nya.

Dan keseluruhan kompleksitas hidup inilah yang jadi jalan untuk mengenali-Nya juga.

Satu-satunya tema hidup adalah itu, mengenali Tuhan.

Yang jadi persoalan adalah, jika kita selalu memandang hidup dalam kacamata yang murung. Bahagia kita menjadi sulit, karena pemaknaan yang kompleks terhadap bahagia.

Bahagia direduksi dari kekayaan batin menjadi melulu hal-hal kebendaan yang rumit. Nanti kita menjadi murung selalu.

Saya merenungi, apakah iya, Tuhan menciptakan kehidupan ini untuk dipandang dalam kacamata yang murung?

Jika perjalanan hidup adalah untuk mengenali-Nya, apakah ” murung” adalah kacamata yang benar untuk dipakai mengenali-Nya?

Kita jangan mengelirukan murung dengan tangisan. Suatu kali Rasulullah SAW juga menangis saat wafatnya putra beliau, Ibrahim. Lewat wejangan para ariflah saya baru paham bahwa yang ditangisi bukan kebendaan. Melainkan karena melihat kuasa Tuhan.

Walhasil, murung yang tak semestinya, murung karena kita sendiri memperumit makna bahagia, adalah kacamata yang sebisa mungkin jangan dipakai dalam memandang hidup.

Boleh menangis, tetapi karena terpandang akan pengaturan Tuhan.

Sebagaimana tertawa akan menjadi mudah, kalau melihat hidup juga sebagai gelar sandiwara Tuhan dalam menceritakan diriNya sendiri.

*) image from m.tempo.co

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s