MENGIKUTI TARIAN MAQOM-mu SENDIRI 

Jika melihat kajian sains, bahwa semua yang ada ini adalah hologram, dan ada penggerak yang tak terlihat dari semua realita ini…. Maka seringkali kita bertanya, jika bahkan terhadap gerak diri kita sendiri saja kita tidak ada kuasa, lalu adakah gunanya berdo’a? Toh semua yang akan terjadi tetaplah dalam gerak “divine planning” alias takdir. Sains membuktikan “divine planning” itu ada.

Pertanyaan itu, senada dengan pertanyaan seorang sahabat, yang menanyakan tentang takdir kepada Rasululllah SAW. Jika semua sudah tertulis, apakah kita pasrah saja? Rasulullah SAW menjawab, yang intinya adalah “jangan berpasrah saja”, tetaplah bergerak, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang tertulis baginya.[1]

Karena setiap orang ada “maqom”-nya sendiri. Peringkat, yang setiap peringkat keruhanian akan memberikan dampak yang berbeda-beda. Tetapi tak bisa dipukul rata.

Seorang guru memberikan contoh, paling tidak ada tiga sikap dalam menghadapi hidup: Berdo’a, pasrah saja, atau tak perduli sama sekali karena sudah tidak lagi terpandang pada masalah hidup.

Bagaimana harmoninya ini? Sedangkan Rasulullah SAW menyuruh jangan berpasrah, tetapi kok ada orang-orang yang berpasrah?

Jawabannya adalah tergantung seperti apa situasi batinmu saat itu.

Saya ceritakan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash[2] yang do’anya termasyhur sangat manjur. Orang-orang berdatangan padanya meminta didoakan agar sembuh penyakitnya, lalu orang-orang sembuh. Hingga seseorang bertanya heran kepada Sa’ad, kenapakah dia tidak berdo’a pada Allah agar matanya disembuhkan? (Sa’ad buta karena usia).

Lalu jawaban Sa’ad adalah ketentuan Allah yang berlaku padanya itulah yang lebih baik baginya.

Sa’ad, ada pada “maqom” berpasrah. Cirinya apa? Cirinya, saat ada ujian datang, di dalam hati sama sekali tidak ada gejolak. Yang ada di dalam hati hanya rasa tentram dan ingatan pada Allah. Maka…. Do’a tidak akan terzahir dari hati yang semacam begini. Yang terzahir adalah sikap ridho dan pasrah apapun yang berlaku.

Lain halnya, dengan seseorang yang saat ada masalah, masih gelisah. Masih ada gonjang-ganjing di hatinya. Maka, cara agar gonjang-ganjing itu malah menjadi jalan mendekat pada Tuhan, ya lewat do’a.

Berdoalah, maka DIA akan menjawabnya.

Dalam tataran yang lebih tinggi, dikatakan bahwa kita tergerak berdo’a itu pun karena DIA menzahirkan bukti bahwa DIA Maha Pemberi. Dalam pandangan yang lebih tinggi lagi, gerak do’a kita pun sudah dalam bingkai takdirNya.

Jadi tak usah pusing. Kita “menari” sesuai dengan peringkat maqom kita masing-masing. Dan dalam setiap kejadian dan peringkat maqom kita, selalu ada kesempatan untuk mendekat pada Tuhan.

Yang masih goyang, ya jadikan saja gonjang-ganjing ujian sebagai pintu mendekat pada Tuhan. Berdo’a dan minta tolong. Sampai kemudian akan ada bagian-bagian kehidupan yang semestinya orang biasa akan “goyang” kalau menghadapinya, tetapi kok ya kita santai-santai dan hati terasa tentram saja, maka itu penanda bahwa yang terzahir dari kita adalah sikap ridho pada kehidupan.

Pendek kata, seperti Rasulullah katakan pada Sahabat, just do sajalah….. setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang telah dituliskan untuk mereka.

Begitulah seorang sahabat Rasulullah tidak diperbolehkan mendermakan hartanya lebih dari sepertiganya, sedangkan Abu Bakar Shiddiq mendermakan seluruh hartanya tanpa ada sisa sedikitpun; dan boleh-boleh saja oleh Rasulullah SAW.

Tergantung konteks, dan tergantung “maqom” tidak bisa dipukul rata. [3]
—-
References:

[1] Para sahabat bertanya kepada Rasulullah n tentang masalah takdir yang sangat rinci.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2648) dari sahabat Jabir z. Suraqah bin Malik pernah bertanya kepada Rasulullah :

يَا رَسُولَ اللهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ، أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ. قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rasulullah, mohon berikan penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah n menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).

[2] Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash tiba di Makkah, ia dalam keadaan buta mata. Tetapi orang-orang berdatangan kepadanya untuk meminta didoakan. Sa’ad berdoa untuk kesembuhan berbagai penyakit. Beliau termasuk orang yang apabila berdoa dikabulkan Allah Ta’ala.

Pada suatu hari, Abdullah bin Saib berkata, “Ketika aku masih kecil, aku pernah dibawa kepada beliau. Aku memperkenalkan diri beliau pun mengenaliku. Ketika itu beliau berkata, ‘Apakah engkau orang yang mengajari bacaan al-Qur’an kepada penduduk Makkah?’ Aku menjawab, ‘Benar.’

Kemudian beliau menceritakan suatu kisah, hingga akhirnya aku bertanya kepada Sa’ad, ‘Wahai pamanku, engkau telah banyak mendoakan untuk kesembuhan orang, kenapa engkau tidak berdoa untuk dirimu, sehingga Allah menyembuhkan matamu?’

Sa’ad tersenyum sambil berkata, ‘Ketahuilah wahai anakku, bahwa ketentuan Allah Ta’ala yang berlaku atasku jauh lebih baik daripada penglihatanku’.” (Madarijus Salikin, 2/227.)

Dinukil oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim, dari ‘99 Kisah Orang Shalih’ (alsofwa.com)

[3] وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (maqom-maqomnya) sesuai dengan apa yang dikerjakannya (peranannya). Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

(Al An’am:123)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s